Pertandingan

1116 Words
Mereka tampak siaga, saling mengamati gerakan lawan. Menimbang nimbang gerakan yang akan dilakukan, gerakan yang mungkin melumpuhkan musuh lebih dahulu. Tapi dari awal pertandingan mereka tampak tidak seimbang. Yang bertanding adalah seorang lelaki besar, tinggi dan tegap sedangkan Yuara Weng, lawannya, kecil mungil dan nampak seperti boneka porselen yang bakal hancur dengan sedikit kekuatan. Tatapan laki-laki itu diartikan Yuara sebagai tatapan mengajak. Laki-laki itu mungkin berfikir bisa mengalahkannya dengan mudah. Badannya tentu lebih besar dan lebih kokoh dibandingkan Yuara, ia juga pasti juga dilatih secara pribadi oleh Ma Dong Seok. Laki-laki itu membiarkan Yuara maju terlebih dahulu, dengan santai ia menangkis dan menarik tangan Yuara. Tapi, ia tidak benar-benar akan memukulnya. Kenyataan ia diremehkan membuat adrenalin Yuara meningkat pesat, naik tiga kali lipat. Dengan emosi yang pecah dan berantakan, kini sosok itu malah terlihat seperti Oliver Prasetyo. Oliver Prasetyo yang tersenyum, Oliver Prasetyo yang mengelus rambutnya... Oliver Prasetyo yang menyeringai. Sialan. Bayangan Oliver Prasetyo yang pergi dengan sahabatnya malah memenuhi kepalanya. Membuat Yuara ingin melakukan apa saja untuk menghilangkannya. Kali ini giliran laki-laki itu mengayunkan tangan ke arah Yuara. Namun, ia dapat mengelak dan menarik tangan laki-laki itu. Reflek ia memukul perutnya dengan siku, kemudian mengunci dan menjatuhkannya. Mereka berdua sama-sama terjatuh dengan posisi Yuara berada di atas, dan posisi itu membuat sesuatu menyesakkan celana laki-laki itu dan Yuara menyadari itu. Mata besar Yuara melebar karena terkunci dalam tatapan mata laki-laki itu. Sedang jantungnya berdetak tidak pada waktunya. Tatapan sepersekian detik yang mampu membuat Yuara lumpuh sesaat dan sesuatu yang mengeras di bawah sana. Cepat-cepat Yuara berguling ke samping, lalu berdiri setelah ia sadar sepenuhnya. Para pria nampak mengeliling ring dan bersorak. Sedangkan laki-laki itu bangkit dari lantai dan berdiri kesal. "Aku ternyata terlalu memandang remehmu" dengus lelaki itu. Beberapa menit selanjutnya mereka bertanding dengan serius. Saling memukul, menangkis, mencengkram dan saling menjatuhkan. Laki-laki itu mencengkeramnya dengan kuat, lalu mengangkat tubuh Yuara dan mendorongnya ke sudut ring. Mata Yuara mendapatkan tatapan yang sama dari laki-laki itu lagi, dalam dan tak terbaca. Tapi tidak berlangsung lama sebab secara tiba-tiba Pelatih Ma Dong-Seok telah berada di antara mereka. Yang langsung membuat keduanya menatap bertanya. Sedang para pria yang mengelilingi ring bersorak kecewa. "Ada telepon penting untuk anda Nona Lee" bisik Pelatih Ma. "Nona lee, tuan Xu, ayah anda perlu bicara dengan anda sekarang" tambah Sekretaris Min di belakang Yuara dengan penekanan. Kim Hyun So merasa kesal dan mau tak mau bersamaan dengan kagum. Gadis itu dengan cepat melepas pelindung kepala dan babat tangannya “Kenapa paman katakan pada ayah aku ada disini?” omelnya dengan cepat dan menjerit kecil “Dia akan membakarku hidup-hidup karena berada di sini” walaupun mengomel Ia tetap menerima ponsel dari laki-laki yang dipanggilnya dengan sebutan paman itu. Hal pertama yang ia lakukan setelah menerima ponsel itu adalah mengatur nafas, bersiap-siap dengan wajahnya yang nampak tegang. Lalu mulai berbicara dalam bahasa asing dengan pasif. Kim Hyun So memang tidak mengerti dengan apa yang keluar dari bibir mungil tapi penuh milik wanita itu, tapi ia bisa merasakan bahwa gadis itu tengah memohon dengan wajah cemas. Suaranya juga jelas sekali gemetaran. Ia seperti menjelaskan sesuatu yang rumit. Tak berselang lama ia mengembalikan ponsel kepada laki-laki tadi dengan mengerang dan mendesah beberapa kali “Tamatlah aku” katanya panik. Setelah bersalaman dengan Kim Hyun So, dan saling membungkuk hormat, ia pergi dengan tergesa-gesa. Tergopoh-gopoh laki-laki tadi dan Ma dong seok menyamai langkahnya yang cepat dan ringan. Setelah kembali dari mengantar kepergian gadis kuncir kuda, eh, maksudnya gadis kuda versi Kim Hyun So, pelatih pribadi berotot Ma Dong Seok melempar minuman ion kepada Kim Hyun So yang duduk sendiri di kursi tempel dipinggir “Aku tidak percaya akulah yang melatihmu” katanya. Sedang dalam nada bicaranya terkandung olokan. "Aish, sialan. Semua ini gara-gara kau, sialan" gerutu Kim Hyun So kepada pelatih Ma tampak kesal "Jika tingkat kegantenganku berkurang, dan ada rumor buruk tentangku, kau adalah orang pertama yang akan kubunuh” Meski barusan mengancam, Kim Hyun So dengan senang hati menerima minuman yang di sodorkan pelatih Ma Dong Seok dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih menyisakan hangat sentuhan jabatan gadis tadi. “Apa dia gadis sungguhan?” desahnya sambil membuka penutup kaleng, sehingga menimbulkan bunyi mendesis “Tidak. Tidak mungkin. Dia pasti kuda yang menyamar" Jawabnya sendiri sendiri sambil memperhatikan telapak tangannya, bahkan tanpa ia sadari apalagi Ma Song Seok senyum kecil terbit di wajahnya "Aish. Semua ini gara-gara kau, kalau saja kau tidak menghentikan pertandingan, aku sudah pasti mengalahkannya” “Aigoo, kau menyalahkanku. Padahal kau sendiri yang lembek” bela Ma Dong Seok atas dirinya sendiri yang merasa tertindas oleh kata-kata Kim Hyun So “Terus saja salahkan aku” Kim Hyun Soo meneguk minumannya dan air yang mengaliri tenggorokannya membuatnya menjadi lebih tenang “Kau yang melatihnya?” Tanyanya ringan. Jika ia mau jujur pada diri sendiri, gadis mungil bermata besar, berwajah seperti boneka barusan telah menarik perhatiannya. Hanya saja egonya sebagai laki-laki yang terluka karena dikalahkan seorang wanita menyangkal ketertarikannya. Kim Hyun So dan pelatih Ma Dong Seok sudah berteman sejak SMA, ketika tahu pelatih Ma kembali ke korea dan menjadi pelatih pribadi, Kim Hyun So adalah orang pertama yang mendaftarkan diri. “Dia? Siapa?” Ma Dong Seok mengerutkan kening kurang mengerti “Aaahh, dia? Gadis kuda barusan? Tidak. Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak tahu dia siapa” jelasnya jujur. Tapi Kim Hyun So tidak mudah percaya begitu saja, ia bahkan menyipitkan matanya menyelidik “Kau pasti mengejekku, kan? katakan padaku, Dia pasti pacarmu dari Amerika, kan?" tuduh Kim Hyun So setengah bergurau "Logatnya aneh sekali. Ayo jujur padaku. Pasti pacarmu. Jujurlah padaku” ia bahkan berdiri dan mengedipkan sebelah matanya lalu menggamit sebelah tangan pelatih Ma Dong Seok dengan gemulai manja, tapi tentu saja tidak terlihat seperti b*****g “Aku akan merahasiakan dari istrimu” lanjutnya merayu agar pelatih Ma Dong Seok buka suara. Pelatih Ma bergeming, dan memandang ke sekeliling ruangan “Lepaskan tanganku!" Balas laki-laki berotot itu setengah berteriak. Mereka tidak cuma berdua di gym yang besar itu, bisa-bisa anak asuhnya yang lain berfikir yang tidak-tidak padanya. "Cukup kau saja yang di katakan gay, aku tidak” Mendengar ocehan Pelatih Ma Dong Seok, Kim Hyun So langsung melayangkan tinjunya, tapi Pelatih Ma bisa menghindar dengan sigap dan berlari menjauh sebelum Kim Hyun So menghabisinya. Rumor tentang Kim Hyun So yang sedikit menyimpang memang pernah muncul kepermukaan, apalagi untuk seorang laki-laki muda dan sukses seperti Kim Hyun So, banyak yang ingin tahu tentangnya. Tapi tak ada yang pernah mengatakan langsung didepan wajahnya, kecuali pelatih Ma yang memang sangat dekat dengannya. Mereka lalu kejar-kejaran seperti anak kecil di antara barisan treadmill, saat Kim Hyun So berhasil mendapatkan Pelatih Ma, ia tidak buang-buang waktu, langsung menendang p****t Pelatih Ma main-main.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD