"Ibu!". Panggil Karin kepada wanita yang berjalan menghampirinya.
Masih tampak jelas sisa-sisa kecantikannya di balik gamis lusuh yang ia kenakan, gamis merah yang warnanya kian pudar karena terlalu sering dicuci dan dipakai, kerudungnya panjang hingga menutupi kedua lengannya.
Wanita itu tersenyum dengan senyum yang sangat meneduhkan, Karin merebahkan kepala di pangkuannya. Wanita yang Karin panggil Ibu itu mengusap rambut Karin dari kepala hingga ujung rambutnya, setiap belaiannya penuh kasih sayang.
Anak laki-laki itu datang berlari menuju Karin, memeluknya tanpa aba-aba.
"Sekarang bapak udah gak ada, kita tinggal bertiga". Wajahnya menengadah menatap Karin penuh sendu.
Karin merengkuh tubuh kecilnya, menyandarkan kembali ke dalam pelukannya. Ibu yang berada di sampingnya pun ikut memeluk mereka berdua.
Anak laki-laki ikut melepaskan dirinya dari pelukan Karin.
"Kak, Kakak gak boleh nangis ya, Kakak jangan sedih kalo sekarang Rai pergi nyusul bapak". Ia tersenyum, namun senyumnya itu justru membuat d**a Karin sesak, hatinya terasa sakit sekali.
Perlahan Rai melepaskan tangan kirinya, matanya menatap Karin yang tak sanggup berbicara. Tangan kanannya masih memegang lengan Karin yang Karin genggam dengan erat, ia tak mau melepaskannya. Saat itu Karin seperti tak punya kekuatan, tangan Rai terlepas begitu saja, Rai berjalan mundur masih menatap Karin dengan tersenyum kemudian ia berbalik, terus berjalan dan hilang dalam kabut.
"Rai!". Teriak Karin. Ia bermimpi.
Karin berada di kamarnya, napasnya berat, ia mengusap peluh yang mengucur dari dahi sampai ke lehernya. Karin mengambil hape yang tergeletak di laci samping tempat tidurnya.
02.36. Tertera di layar hapenya. Karin mengusap wajahnya sampai ke kepala, mencengkram rambut bagian atasnya.
"Rai! jadi nama adikku Rai?!". Bisiknya sendiri, lalu kupingnya kembali berdenging, rasa sakitnya menjalar hingga ke kepalanya, nyeri hebat seperti ini semakin sering ia rasakan.
Karin mencari tasnya, mengambil obat pereda nyeri di dalamnya kemudian minum dengan air di gelas di atas meja yang memang sudah ia siapkan sebelum tidur tadi.
Obat itu resep dari dokter Maher yang diberikan seusai Karin melakukan terapi minggu kemarin. Dika menyarankan Karin berkonsultasi juga pada Maher tentang sakit kepalanya karena hanya Psikiater seperti Maher yang bisa meresepkan obat. Obat itu kini selalu berada di dalam tas Karin, ia bawa ke mana pun karena nyeri kepalanya sering muncul tiba-tiba. Menurut Maher itu efek dari operasi otak yang ia jalani ditambah terapi yang juga mengharuskan otaknya bekerja lebih untuk mengingat.
Karin keluar dari kamarnya, menuju kamar mandi mengambil wudhu. Ia ingin bercerita dan berkeluh kesah dengan Tuhannya.
***
Matahari semakin meninggi, Arya masih berada di kamarnya, melihat jam di depannya, jam delapan lewat lima menit, seharusnya ia sudah rapi dan segera berangkat menuju kantornya namun hari ini ia malas sekali. Arya pun kembali menarik selimutnya.
Semalam ia habis berpesta menemani ayahnya menjamu tamunya, beberapa rekan bisnisnya datang bersama wanita-wanita cantik yang menghibur mereka. Sungguh suasana yang sangat membosankan bagi Arya, ia selalu merasa malas dan muak dengan suasana seperti itu, berada di antara orang-orang yang tersenyum palsu, berlagak baik namun di belakang tetap menjadi kompetitor yang saling menjatuhkan, pengejar kesenangan duniawi, Arya benci semua itu namun ayahnya selalu bilang, "Ini demi kelancaran bisnisnya" dan Arya hanya bisa pasrah mengikuti semua keinginan ayahnya itu.
"Mas, Mas Arya gak keluar? apa semuanya baik-baik saja?". Suara Pak Akbar di balik kamar Arya.
"Saya baik-baik aza Pak, cuma saya malas datang ke kantor hari ini. Bapak tolong bilang Lala untuk cancel dan tunda semua jadwal saya hari ini". Perintah Arya masih di balik selimutnya.
Tak ada jawaban, hanya terdengar langkah kaki Pak Akbar yang semakin menjauh.
Sementara di kantor berlangsung kegiatan seperti biasa, Karin sibuk di pantry membuat pesanan minuman. Melda datang menyomot biskuit yang ada di piring kecil di atas nampan. Karin menepuk tangannya.
"Satu doang Rin, gak bakal ketauan". dan biskuit itu sudah mendarat di mulutnya.
"Punya orang kak, gak boleh asal ambil begitu". Ketus Karin.
"Punya Bu Diana kan? iya entar gue bilang kalo biskuitnya gue makan atu". Melda nyengir. Karin hanya bisa melototi Melda.
"Eh Kak, maaf ya bukan aku mau ikut campur, cuma Kakak ngerasa gak sih kalo Riki tuh mata duitan? tadi pagi juga aku liat dia ke sini cuma mau minta uang buat beli pulsa kan?". Karin yang tadi kebetulan tak sengaja mendengar obrolan Riki yang datang pagi ini menemui Melda.
"Oh itu, maklumin aza Rin. Dia lagi nganggur sekarang, dia kan Designer grafis selama ini cuma kerja freelance, belum dapet proyek lagi. Tapi sekarang sih dia lagi ngelamar-ngelamar di kantor gitu biar punya kerjaan tetap". Melda terlihat sangat membela Riki.
"Ya tapi menurutku gak pantes Kak cowok kayak gitu, kesannya dia terlalu morotin kakak". Karin mengeluarkan unek-uneknya selama ini, apapun reaksi temannya ini Karin sekarang merasa jauh lebih lega setelah mengutarakan semuanya.
"Jangan mikir kayak gitu ya?! gue sama Riki udah sepakat berbagi, siapa yang punya dia yang ngasih. Selama ini gue juga ikhlas koq ngasihnya tanpa paksaan dan Riki juga udah janji kalo dia udah dapet kerja pasti dia berbagi juga". Penjelasan Melda masih tak masuk akal bagi Karin.
"Kakak percaya? Kakak yakin kalo Riki pasti begitu?. Tanya Karin ragu.
"Ahh lo tuh masih kecil, belum pernah ngerasain pacaran pula gak bakal ngerti soal komitmen atau kesepakatan pasangan. Udah ya gue gak mau bahas soal ini lagi, intinya lo jangan berpikir yang negatif tentang Riki". Tegas Melda sebelum pergi meninggalkan Karin.
Karin sudah menebak, pasti Melda akan bereaksi seperti ini. Ucapan seperti apapun tak akan mempan pada orang yang tengah dimabuk asmara.
***
Arya asyik memberi makan ikan hias peliharaannya, ia menikmati hari bolosnya sambil mendengarkan lagu favoritnya yang disambungkan ke speaker besar di ruang santainya itu. Ia memutarnya keras-keras, tak ada siapapun di rumah pikirnya. Pak Akbar masuk mengecilkan volume musiknya, seketika Arya menoleh.
"Ada apa Pak?". Tanyanya melihat mimik Pak Akbar yang panik.
"Tadi manager kantor telpon katanya urgent, Mas Arya harus segera datang ke kantor". Pak Akbar menyampaikan pesan dari telpon yang baru dia terima.
"Ada masalah apa?". Arya penasaran.
"Nanti saya ceritakan di jalan saja Mas, sebaiknya kita segera berangkat". Secepatnya Pak Akbar keluar menyiapkan mobil.
Di mobil Pak Akbar menceritakan bahwa suku cadang yang dikirim dari pabrik hari ini tidak sesuai dan pihak pabrik tidak ada yang mau bertanggung jawab, mereka beralasan semua barang yang dikirim sudah sesuai dengan permintaan perusahaan. Mereka mengambil jalan keluarnya dengan mengadakan rapat dengan atasan mereka langsung makanya Arya pun diminta datang untuk segera menyelesaikan masalah ini.
Sesampainya di kantor Arya langsung menuju gudang, ia mengecek barang-barangnya. Ada orang-orang pabrik di sana, Arya pun mulai berbicara dengan mereka.
Di sebelah gudang tersebut merupakan gudang perlengkapan, Karin masuk ke sana untuk mengambil sabun cuci piring dan juga pewangi lantai untuk dia mengepel, ternyata Rangga mengikutinya dari belakang.
"Rin!". Seru Rangga memanggil Karin.
"Eh Rangga, kamu perlu apa? biar saya ambilin sekalian".
"Gak, saya cuma mau nyampein kabar gembira buat kamu". Terlihat sekali wajahnya gembira.
"Apa itu?". Tanya karin penuh antusias.
"Minggu ini kamu sudah bisa masuk kelas". Ucap Rangga penuh senyum.
"Serius?". Karin berjalan mendekati Rangga.
Rangga mengangguk senang. Reflect Karin memeluk Rangga sambil berteriak dan kakinya berloncatan, membuat Rangga ikut loncat bersamanya.
Di sebelah ruangan Arya mendengar keributan itu, ia yang tengah berbicara serius jadi terganggu. Kemudian ia berjalan mencari arah suara berisik tersebut, ada lorong yang menyatukan kedua gudang tersebut. Arya kaget ketika melihat pemandangan di depannya kini, Karin dan Rangga tengah berpelukan.
"Apa-apaan ini? apa yang kalian lakukan di sini?". Teriak Arya mengagetkan mereka berdua.
Karin melihat Arya kemudian menatap Rangga, lengannya masih mengalung di leher Rangga, buru-buru ia lepaskan.
"Maaf Pak, maaf . Ini tidak seperti yang Bapak bayangkan". Pekik Karin.
"Kalian berdua di gudang sepi ini, berpelukan. Sepertinya saya sudah tidak perlu penjelasan apa-apa lagi". Arya terlihat menyeramkan ketika marah.
"Pak, sekali lagi saya minta maaf. Ini di luar dugaan Bapak, mana mungkin kita berbuat yang macam-macam di ruangan yang penuh CCTV seperti ini. Tolong Bapak kasih kami kesempatan untuk menjelaskan semuanya". Ucapan Rangga membuat amarah Arya sedikit mereda.
"Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat tapi sebaiknya kalian bisa memberi penjelasan yang logis nanti. Karena kalo tidak, saya tidak segan-segan mengeluarkan kalian berdua". Mata Arya memerah dan tangannya menunjuk kepada kedua karyawannya itu.
Rangga menenangkan Karin yang sedari tadi sudah gemetaran.
"Kamu jangan khawatir, kita pasti bisa selesain ini semua. Kita gak salah".
Arya keluar dari gudang menuju mobilnya.
"Pak, kita langsung ke pabrik. Saya mau selesaikan semua masalahnya di sana". Perintah Arya pada pak Akbar lalu mereka pergi dengan mobilnya. Arya merasa kini ia punya alasan untuk meluapkan segala emosinya.
***
Udara siang hari ini terasa panas sekali, Maher melajukan mobilnya pelan, Intan yang duduk di sebelahnya menurunkan kaca mobil, memanggil tukang es cendol yang berjalan agar menepi. Lalu Maher memarkir mobil di depan toko yang tutup, memesan dua gelas es cendol.
"Ini sudah kantor polisi yang ke lima kita datangi tapi gak ada hasil. Gak ada informasi kecelakaan yang melibatkan Karin di tahun 2018 bahkan sampai 2020". Maher menyeruput es cendolnya.
"Menurut kamu kita harus cari ke mana lagi ya Her?". Intan bertanya sembari mengaduk es cendolnya agar larut dengan gula.
"Kalo kata kamu Karin cuma kenal Bu Winda pemilik kostnya, mungkin kecelakaan itu terjadi di sekitar sana". Maher memikirkan segala kemungkinan.
"Iya bisa jadi sih, kita cari daerah sana ya". Pinta Intan.
"Oke tapi kalo belum dapet info apapun jangan dipaksain ya, kamu juga kan harus kerja, gak mungkin jadi sering bolos kayak gini".
Intan mengangguk mengerti.
Tugas Intan yang mencari informasi kecelakaan mobil yang dialami Karin membuatnya nekad bolos kerja hari ini, untung Maher sedang tidak ada jadwal praktek sehingga bisa menemaninya. Intan memang sangat bersemangat, ia ingin segera menemukan keluarga Karin.
Intan menggelengkan kepalanya ketika membuka pintu mobil Maher, ia baru saja keluar dari kantor polisi, wajahnya terlihat kecewa.
"Sudah dua kantor polisi di sini tapi hasilnya sama. Aku harus ke mana lagi ya? harus gimana?". Intan bertanya namun matanya tetap melihat ke bawah, ia menunduk lesu.
"Gak usah terlalu kecewa gitu, yang penting kan kamu udah berusaha. Mungkin bukan sekarang, lain kali kita cari lagi ya, sementara ini kita pikirin dulu langkah selanjutnya harus cari ke mana dan di mana lagi". Hibur Maher.
Hape Maher bergetar, ada panggilan masuk. Ia menjawabnya.
"Tan, ternyata ada pasien aku yang majuin jadwal, harusnya besok tapi ternyata besok dia mau keluar kota jadi minta hari ini. Aku harus ke klinik sekarang juga". Kata Maher setelah menutup telponnya.
"Ya udah kalo gitu, aku boleh ikut kamu lagi? sekalian aku mau ngobrol sama Dika tentang pencarian aku hari ini".
Maher hanya mengangguk, lalu menjalankan mobilnya.
Sesampainya di Klinik Intan bergegas ke ruangan Dika. Intan mengetuk pintu dan ia dipersilahkan masuk.
"Maaf Dik, seharian ini saya sudah cari ke kantor polisi tapi tidak ada hasil. Tidak ada informasi apapun mengenai kecelakaan mobil yang Karin alami". Intan berbicara dengan nada sedih.
Dika hanya diam mendengarkan namun otaknya terus berpikir.
"Bisa jadi kecelakaan itu tidak dilaporkan sehingga tidak ada catatan apapun di kepolisian tentang kecelakaan yang dialami Karin itu". Tutur Dika setelah ia memikirkannya sejenak.
"Lalu? bagaimana kita dapat informasi mengenai keluarga Karin?". Intan tak ingin menyerah.
"Saya akan terus mencarinya di rumah sakit, sudah saya coba memang tapi baru beberapa dan belum ada hasil. Ada baiknya kita fokus mencari di rumah sakit dulu karena tidak mungkin kecelakaan yang melibatkan satu keluarga begitu tidak dibawa ke rumah sakit". Jelasnya panjang lebar.
"Terima kasih atas bantuan anda, sekarang biar ini menjadi urusan saya saja karena untuk mencari informasi ke rumah sakit lebih mudah saya yang lakukan karena saya punya koneksi". Lanjut Dika lagi.
"Saya justru yang harus berterima kasih kalo begitu, bagaimana saya harus membalasnya, saya... ". Intan sangat terharu sehingga ia menjadi kesulitan berkata-kata.
Dika tersenyum menampakkan kedua lesung pipinya, sungguh manis sekali kali ini Intan melihatnya, ternyata Dika bisa tersenyum tulus bukan senyum yang dipaksakan lagi seperti sebelumnya.
"Karin itu pasien saya, sudah tugas saya berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhannya". Dika membenarkan letak kacamatanya yang sedikit turun.
"Terima kasih". Ucap Intan masih penuh haru.
***
"Karin tunggu, gue boleh minta tolong?". Melda menghentikan langkah kaki Karin yang hendak pulang.
"Minta tolong apa Kak?".
"Riki telat jemput gue, dia abis interview kerja, kantornya jauh dan sekarang kejebak macet jadi please temenin gue ya". Melda memelas.
Karin melihat jam tangannya, sudah jam setengah enam.
"Kenapa gak telpon Bang Fajar? nanti tinggal bilang Riki kalo Kak Melda pulang duluan". Saran Karin, ia sudah merasa lelah hari ini apalagi tadi ada masalah dengan Arya, pikirannya sedang kacau sekarang.
"Kan gue bukan mau pulang, kita janji mau makan bareng. Kalo gak ada janji sih, gue udah balik sendiri daritadi". Terang Melda membuat Karin mengiyakan permintaannya dan mereka berdua menunggu di pos satpam.
"Loh, kalian masih di sini?". Tanya Arief keluar dengan motornya.
"Ayo Mel, saya anter pulang kan kita searah". Lanjutnya lagi.
"Dih, siapa yang mau pulang bareng lo. Pake motor butut kayak gitu lagi". Cibir Melda.
Karin menyenggol Melda, matanya melotot.
"Ya udah kalo gak mau, saya duluan ya. Yuk Karin". Ucap Arief pamit.
"Iya Mas, ati-ati ya". Karin melemparkan senyumnya.
"Kak Melda jangan gitu donk, bilang aza kalo gak mau tapi gak usah pake ngehina gitu". Karin kesal dengan sikap Melda.
"Ya kalo gak digituin dia bakal tetep maksa, kayak gak tau si Arief aza gimana". Justru Melda yang kini lebih kesal.
Mereka berdua jadi saling diam, sibuk dengan hapenya masing-masing. kemudian bergantian ke mushola karena takut Riki datang kalau harus berbarengan.
Satu jam berlalu, Riki pun datang, ia menyapa Karin sebentar lalu menyuruh Melda segera naik motornya.
"Makasih ya Rin". Ucap Melda lalu pamit.
Karin menatap keduanya, rasanya seperti tak serasi. Riki yang kecil kurus dan Melda yang tinggi besar untuk ukuran perempuan bahkan lebih tinggi Melda dibanding Riki.
"Lebih serasi sama Mas Arief". Batin Karin.
Halte bus sudah mulai sepi, tempat duduk di dalam bus pun banyak yang kosong karena jam pulang kantor sudah lewat, perutnya keroncongan. 'sebaiknya aku mampir beli makan dulu deh nanti', niatnya dalam hati.
***
"Bravo... Bravo!". Pak Harsya bertepuk tangan, kedatangannya mengagetkan Arya.
"Papa? ngapain di sini?". Arya sedikit heran.
"Loh, memang gak boleh Papa dateng ke rumah anaknya sendiri?". Ia malah balik bertanya.
"Bukan gitu, tapi aku pikir Papa udah balik sekalian anter tamu Papa ke bandara tadi". Arya yang berpikir ayahnya sudah pulang hari ini. Pak Harsya memang tinggal di luar kota karena kantornya di sana yang dijadikan kantor pusat.
"Tadinya begitu tapi Papa dapet kabar kalo hari ini kamu berhasil menyelesaikan masalah dengan pihak pabrik. Mereka itu sekali-kali memang harus digertak agar tidak selalu semena-mena, agar lebih bertanggung jawab atas kesalahan yang sebenarnya mereka perbuat". Ada rasa bangga dari ucapan Pak Harsya itu.
"Aku bersikap seperti itu karena memang mereka yang salah tapi kalo ternyata kita yang salah, sudah seharusnya kita yang meminta maaf. Begitu saja, simple". Arya merasa tak ada yang perlu dibanggakan atas sikapnya tadi.
"Bagaimanapun itu yang jelas Papa ke sini mau mengucapkan selamat, kamu mulai bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di kantor". Terlihat sekali kalau Pak Harsya senang saat ini.
"Bagaimana kalo kita merayakannya dengan pesta lagi? malam ini klien Papa mengundang kita ke hotel dan ada putri Pak Mentri yang waktu itu sempat dekat sama kamu". Serunya penuh harap agar Arya mau ikut.
"Pesta? lagi? gak cukup kemarin malam? lama-lama sesak aku kalo harus menjalani hidup seperti ini". Arya melengos dengan muka kesal, ia mengambil kunci mobilnya, entah ia akan ke mana yang jelas ia perlu udara segar sekarang.
Ia tak menghiraukan lagi teriakan ayahnya yang memanggil-manggil namanya.
Arya terus berkendara tanpa tujuan, baru ia sadari dia melewati jalan arah tempat tinggal Karin.
"Kenapa aku ke sini?". Ia bertanya sendiri.
Sepintas lalu ia melihat sosok Karin duduk di tenda nasi goreng. Arya memundurkan mobilnya, menurunkan jendela mobilnya.
"Karin!". Teriak Arya setelah ia memastikan kalau yang ia lihat benar Karin.
Karin mencari suara orang yang memanggil namanya. Ia melihat Arya tersenyum di dalam mobil birunya sambil melambaikan tangan.
"Kebetulan saya juga lagi laper". Ucapnya begitu turun dari mobil dan menghampiri Karin.
"Kamu makan sini juga kan?". Tanya Arya kemudian.
"Gak Pak, saya mau dibungkus aza". Memang begitu niat Karin dari awal.
"Udah di sini aza bareng saya. Pak, nasi gorengnya gak jadi dibungkus ya, makan sini sama tambah satu lagi, gak pedes". Pesannya kepada penjual nasi goreng.
"Maaf Pak, bukannya tadi siang Bapak marah ya sama saya? Soal itu...".
"Gak perlu kamu jelasin lagi, laki-laki itu sudah jelasin semuanya sama saya tadi di kantor".
"Laki-laki? maksudnya Rangga?".
"Iya, begitu saya kembali ke kantor, dia langsung maksa menemui saya, sepertinya dia tidak mau kamu terlibat masalah. Dia baik banget ya sama kamu?". Pertanyaan Arya mengandung curiga.
Karin hanya mengulum senyumnya, ia tak menjawab pertanyaan Arya.
"Oh ya katanya kamu mau mulai sekolah lagi?!". Arya sudah tahu semuanya dari Rangga.
"Iya, mulai minggu ini saya sudah bisa masuk sekolah, saya seneng banget mendapat kabar itu tadi jadi saya bereaksi seperti itu tanpa bisa saya kontrol". Jelas Karin lagi walaupun mungkin Rangga sudah menjelaskan semuanya.
"Saya paham kalo begitu, kadang saya juga tidak bisa kontrol semua tindakan saya seperti...". Ucapan Arya terhenti.
Karin menatapnya serius seakan menantikan kelanjutan ucapan Arya.
"Ah sudahlah, makanannya sudah jadi, ayo makan". Ajaknya ketika dua piring nasi goreng sudah tersaji di meja mereka.
**
"Ikut saya sebentar ya". Pinta Arya ketika mereka berdua sudah duduk di dalam mobil.
Karin menatap jam tangannya sudah pukul sembilan lewat sepuluh menit.
"Ini kan sudah malam Pak, memang mau ke mana?". Tanya Karin bingung.
Arya tersenyum dalam hatinya, baru kali ini dia bertemu dengan gadis yang menganggap jam sembilan sudah malam. Selama ini dalam hidupnya jam dua belas baru dikatakan malam, begitulah kehidupan glamour penuh dengan pesta.
"Sebentar aza, deket juga koq tempatnya dari sini". Arya tancap gas.
Sekitar lima belas menit mereka berkendara, Arya meminta Karin turun dan mengajaknya masuk ke toko bunga.
"Mau apa Pak ke sini?". Karin mencoba bertanya karena sedari tadi Arya hanya diam mengelilingi toko itu, melihat semua bunga yang ada di sana.
"Saya suka aza lihatnya karena mereka cantik". Jawab Arya seraya menatap Karin.
"Bapak sama anak sama ternyata, sama-sama penyuka bunga". Gumam Karin dalam hatinya.
"Memang kamu gak suka?". Tanya Arya yang melihat ekspresi wajah Karin yang biasa saja.
"Gak, saya gak suka bunga". Karin menggeleng.
"Karena pada akhirnya mereka layu, saya gak suka melihat itu". Lanjut Karin yang tatapannya entah ke mana.
Arya menyunggingkan senyumnya.
"Memang seperti itu, setiap yang hidup pasti layu dan mati. Manusia juga seperti itu, lantas kamu gak suka kalo manusia menua lalu mati?". Arya balik bertanya.
"Entahlah, mungkin karena saya tidak suka perpisahan. Benci melihat kita yang pada akhirnya harus merelakan sesuatu itu pergi". Karin termenung, semua yang ia ucapkan mengalir begitu saja.
Karin menoleh pada Arya yang tak bersuara seperti sedang meresapi segala ucapan Karin.
"Ah maaf Pak, saya jadi ngelantur. Kadang suka error begini, ngaco". Karin memukuli kepalanya sendiri.
Arya mengusap kepala gadis yang tingginya hanya sebatas dadanya ini, mengacak rambutnya sebentar kemudian melepaskan senyuman hangat yang membuat Karin terkesima dan menelan ludahnya serasa habis memakan makanan yang manis, begitulah rasanya bila senyuman Arya ini dapat dimakan.
"Saya ada bunga untuk kamu". Arya berjalan mengambil bunga yang tangkainya dipenuhi kelopak bunga yang melipat berwarna biru keunguan.
"Tolong buat bouquet bunga ini ya". Pintanya pada petugas toko.
Setelah jadi, Arya menyerahkan bouquet bunga itu kepada karin.
"Namanya bunga Hyacinth, kamu bisa searching arti bunga itu nanti". Arya membukakan pintu mobilnya agar Karin segera masuk.
Kali ini Arya mengantarnya sampai ke depan gerbang kostnya, tadinya Karin hendak meminta turun di depan jalan seperti waktu itu namun sudah hampir jam sebelas, ia merasa takut bila harus berjalan sendiri akhirnya ia pun menurut ketika Arya mengantarnya sampai ke depan kostnya.
"Boleh saya tau di mana kamu sekolah?". Tanya Arya sebelum Karin turun dari mobilnya.
Karin membuka tasnya, mengambil dompet dan mengeluarkan kartu nama lalu menyerahkannya pada Arya.
Karin pamit keluar dari mobil Arya, menatap sebentar kepergian Arya kemudian berjalan masuk ke kamarnya. Di taruhnya bunga pemberian Arya di atas meja. Karin membuka hapenya mengetik nama bunga itu.
Karin kesulitan mengetiknya, namanya sangat susah. 'Hiyacin' Karin mengetiknya tapi salah dan terbaca di layar hapenya 'mungkin yang anda maksud Hyacinth'. Karin mengKlik tulisan itu. Muncul gambar bunga yang sama persis dengan bunganya. Karin mengetik lagi 'arti bunga hyacinth' lalu tertulis 'permintaan maaf, meminta pengampunan dari seseorang yang pernah anda sakiti perasaannya'.
"Jadi Pak Arya meminta maaf, dasar ribet bilang aza langsung pake bunga segala". Karin senyum-senyum sendiri.
Karin beranjak dari kursi menuju kasurnya, ia ingin segera merebahkan seluruh tubuhnya namun kepalanya terasa nyeri lagi dengan suara yang berdenging begitu keras, sangat menyiksanya belum sempat ia meraih botol obatnya tiba-tiba...
Karin berada di ruangan seperti rumah sakit, Karin mengitari setiap sudut di ruangan itu ada vas bunga di sana dengan bunga yang nampaknya tak asing lalu ia melihat seseorang tergeletak di ranjang tempat tidur dengan selang infus dan perban di kepalanya. Perlahan ia mendekatinya, wajah itu, wajah ibunya. Karin meraih tangannya, mendekati wajahnya pada ibunya yang seakan hendak berbicara.
"Kamu harus kuat, hiduplah dengan baik". Suaranya sangat lemah namun jelas terdengar oleh Karin.
"Ibu!". Suara karin parau, tak lama mata ibunya tertutup rapat tapi senyumnya masih melekat di bibirnya.
Karin membuka matanya, sepertinya ia bermimpi lagi. Tapi tunggu! ini mimpi atau sebuah kenangan?
Karin melihat bunga yang ia simpan di atas meja tadi. Bunga itu, bunga yang sama yang barusan ia lihat ada di alam bawah sadarnya.
"Apa ini? kenapa bunga itu muncul tadi? apa aku memang sudah pernah melihat bunga itu sebelumnya atau karena sedari tadi aku melihat bunga itu sehingga masuk ke alam bawah sadarku?". Segudang pertanyaan kini meneror dirinya.
***
Bersambung ke Bab 12.