Bab 12 : Ingatan yang terus berulang

4798 Words
Tepat pukul tujuh Karin melangkahkan kakinya keluar gerbang kost, ada motor sport merah terparkir di sana. "Kayak kenal". Seru Karin mengamati motor itu. "Pagi Karin". Sapa Rangga ramah dengan senyum yang lebar. Karin berbalik ke arah suara orang yang menyapanya. Seketika Rangga terpana melihat Karin yang berada di depannya kini, ia mengenakan gamis warna peach dengan pita di kiri kanannya juga kerudung coklat segi empat yang ia selempangkan ke bahunya menggunakan bros, menutupi dadanya. Karin juga memakai sepatu sneakers putih garis pink dan ransel kecil di punggungnya. Penampilan Karin yang berhijab seperti ini bak bidadari yang turun dari langit di mata Rangga. Karin mengibaskan tangannya ke wajah Rangga yang bengong. Rangga tersadar. "Kamu cantik banget Rin pake hijab begini". Rangga memuji. "Saya kan sekolah di pesantren masa gak pake hijab". Jawabnya sedikit tersipu, baru kali ini ada seorang laki-laki memujinya. "Oh ya, koq kamu tau saya tinggal di sini? Terus ngapain pagi-pagi kamu udah ke sini?". Heran Karin melihat Rangga sepagi ini sudah berada di depan kostnya. "Ah iya, saya tau alamat kamu dari Kak Melda dan sekarang saya mau nganterin kamu ke sekolah?". Rangga menjawab satu-satu pertanyaan Karin. "Ngapain sih repot-repot, kan saya bisa jalan sendiri". "Kamu kan belum tau pasti alamatnya di mana, apalagi ini hari pertama nanti bisa telat loh. Udah naik, saya anter". Rangga menyerahkan helm pada Karin. "Tapi tadi kamu ke mana? Koq cuma ada motornya". Tanya Karin sebelum ia naik ke motor Rangga. Rangga nyengir. "Laper, makan nasi uduk dulu di situ". Ia menunjuk nasi uduk Bu Heni. "Eh kamu udah sarapan belum? Mumpung masih ada waktu, jam sembilan kan masuknya?". "Udah, saya udah sarapan. Jalan aza sekarang". Pinta Karin. Dengan senang hati Rangga membonceng Karin, sudah lama dia memang ingin seperti ini, berdua naik motor dengan gadis yang ia suka. *** Rangga memarkirkan motornya tepat di depan 'Pesantren Darul Falah'. "Ini dia Rin sekolahnya, saya dulu juga sekolah di sini. Sekarang sepi karena sekolah umum libur, santrinya ada di pondok semua, gak jauh koq dari sini sekitar 500 meter. Coba kamu ke sini, tuh keliatan kan?". Rangga menunjukkan pesantrennya. Karin menjinjitkan kakinya, terlihat bangunan bertingkat dan kubah masjid di sampingnya. "Iya keliatan". Jawab Karin sembari menghalangi matanya yang terkena sinar matahari. "Nanti kamu masuk aza, ruangannya paling kiri untuk Paket C". "Ya udah kalo gitu saya masuk aza ya sekarang, makasih ya Ga". "Sama-sama, tapi saya mau minta sesuatu boleh?". Kepala Rangga sedikit menunduk seperti menahan malu. "Memangnya mau minta apa?". Karin merasa aneh dengan sikap Rangga itu. "Mulai sekarang bilang aku kamu aza ya, rasanya terlalu kaku kalo bilang saya. Biar lebih akrab lagi". Rangga nyengir. "Oh itu, iya boleh". Karin pun hendak berbalik. "Eh tunggu". Tahan Rangga. "Apa lagi?". Karin membalikkan badannya kembali menghadap Rangga. "Nanti pulangnya a-aku jemput ya, kamu tunggu di sini". Rangga mengucap aku dengan terbata, masih merasa kagok. "Iya, saya eh maksudnya aku masuk dulu". Karin pun salah mengucap. Keduanya pun berpisah. ** Karin masuk ke ruangan yang ditunjukkan Rangga, ia tidak ikut karena di sana khusus untuk perempuan/santriwati, laki-laki dilarang masuk. Kelas masih sepi karena memang jam belajarnya dimulai pukul sembilan sampai pukul tiga, jam dinding di kelas menunjukkan sekarang jam delapan. Kaki Karin menapaki lantai di ruang kelas itu satu persatu, ia berkeliling meraba meja dan kursi yang ada di sana, menarik napas dalam lalu memejamkan matanya seakan menikmati udara di dalam kelas itu. Hal seperti ini yang ia inginkan sedari dulu, duduk belajar di kelas, kembali mengenyam pendidikan. Ia tak menyangka keinginannya terwujud sekarang. Ada rak buku di pojok ruangan, Karin melihat-lihat buku yang ada, mengambil salah satunya lalu mulai membaca. Sepuluh menit berlalu namun belum ada yang datang juga, Karin menaruh kembali buku yang ia baca lalu merapikan taplak meja berwarna merah maroon dengan motif batik di meja guru. Mengibaskannya dari debu kemudian menatanya kembali. Dua orang perempuan yang terlihat usianya di atas Karin masuk. "Assalamu'alaikum, saya Karin murid baru di sini". Karin terlebih dahulu memperkenalkan diri, kalau dengan sesama perempuan dia memang lebih berani. Kadua perempuan itu menjawab salamnya dan menyebut nama mereka, Mariam dan Ulfa. Dari mereka Karin tahu kalau jumlah murid di kelas ini sekarang ada delapan orang, dulu ada sepuluh namun yang tiga sudah lulus terlebih dahulu. Kejar paket C ini memang sama dengan sekolah umum, ditempuh selama tiga tahun namun bila ada yang bisa mengikuti ujian lebih awal maka bisa ditempuh dalam dua tahun bahkan ada yang pernah hanya satu tahun. Untuk murid-muridnya rata-rata berumur 22-25 tahun, lagi-lagi Karin menjadi yang termuda. Ada dua orang ustadzah yang mengajar di kelas ini, Ustadzah Anna dan Ustadzah Nurul. Kemudian murid-murid yang lain mulai masuk dan terakhir datang Ustadzah Nurul tepat jam sembilan. Pelajaran hari ini dimulai dengan Karin yang memperkenalkan diri, ia tidak ingat bagaimana dulu dia bersekolah namun kini Karin jadi tahu beginilah rasanya, ia sedikit gugup tapi kebahagiaannya mengalahkan semua itu. Pelajaran pertama hari ini Bahasa Inggris, membuat Karin tambah semangat. Tak terasa adzan dzuhur berkumandang, waktunya istirahat dan diwajibkan untuk sholat berjamaah terlebih dahulu. Sebelum keluar Ustadzah Nurul memanggil Karin. "Karin, mulai besok kamu pakai seragam ya. Seragam kemeja putih dan rok panjang hitam, juga kerudungnya hitam seperti teman-teman yang lain. Tapi kalo belum punya bisa pakai gamis bebas dulu seperti ini". Ujar Ustadzah Nurul. "Baik Ustadzah, saya usahakan besok pakai seragam". Karin pun pamit terlebih dahulu menuju masjid. Enam jam berlalu begitu saja, sudah jam tiga dan Ustadzah Nurul mengakhiri pelajaran hari ini, ia memberi salam dan keluar lebih dulu diikuti dengan murid-murid lainnya, hanya Karin yang tetap tinggal di kelas, rasanya ia betah di dalam sini, membuka buku pelajarannya lagi dan mengulangnya kembali sampai terdengar adzan ashar, ia baru keluar dari kelas. Hape Karin berdering, tak lama mati. Ia mencoba menyalakannya kembali namun tak bisa. "Astaghfirullah, semalem kan aku lupa nge-charge, berarti lowbat". Karin memandangi benda pipih di tangannya itu. 'Tin!' Suara klakson mengagetkan Karin. Mobil biru yang sangat ia kenal, kaca jendelanya mulai terbuka, Arya muncul dengan senyum manis yang menghiasi wajah tampannya. Poni rambutnya dibiarkan terurai tidak seperti tampilan ketika ia ke kantor yang disisir rapi dengan gel rambut. Pantas saja semalam Arya ingin tahu di mana Karin sekolah ternyata dia memang sudah berniat menjemputnya. "Koq diem aza? ayo masuk". Ajaknya pada Karin yang masih berdiri. Sebenarnya Karin ragu, apa ia harus ikut dengan Bossnya ini karena selama ini Arya selalu mengajaknya ke tempat-tempat yang tak pernah ia duga walaupun pada akhirnya ia senang namun kali ini rasanya ia malas kalau harus mengikutinya. 'Tin!' Suara klakson mobil Arya kembali mengagetkan Karin. "Malah ngelamun, ayo!". Nada suaranya kini bagai perintah. Akhirnya Karin pun masuk ke dalam mobil Arya. "Tapi Pak, saya mau cari seragam buat besok". Karin takut kali ini Arya akan membawanya lagi sesuka hatinya. "Oke, kamu mau beli di Mall mana?". "Mall? bukan Pak, saya mau beli di pasar aza yang jauh lebih murah". Hanya anggukan yang Arya lakukan kemudian melajukan mobilnya. *** Karin mengarahkan Arya ke pasar dekat kostnya, biar lebih gampang pulang pikirnya. Arya memarkirkan mobil di depan pasar, mobil Porsche biru berpintu dua milik Arya menjadi pusat perhatian banyak orang karena sangat kontras dengan mobil-mobil minibus yang terparkir di sana. Apalagi ketika Arya keluar membuat kaum hawa tak bisa mengalihkan pandangan mereka. Karin merasa canggung ketika semua mata tertuju padanya. Ia pun berjalan lebih cepat, enggan berdekatan dengan Arya. Sikap Karin membuat Arya geli, lucu sekali ada gadis yang justru risih berjalan dengannya. Karin mulai mencari toko pakaian seragam sekolah dan kantor, memilih-milih yang kira-kira cocok menurutnya, terutama harganya. Ia membandingkan tiap harga toko yang satu dengan lainnya. Pilihannya jatuh pada rok rempel yang terpajang di depan sebuah toko dan ketika ia tanya, harganya 65 ribu, lebih murah dari beberapa toko sebelumnya yang rata-rata mematok harga 80 ribu. Kemudian Karin pun memilih kemeja putih polos lengan panjang seharga 50 ribu, juga mengambil kerudung segi empat warna hitam yang paling murah 20 ribu. Totalnya 135 ribu, Karin membuka dompetnya, untung ia punya uang simpanan 100 ribu hasil menyimpan upah dari orang-orang kantor, biasanya memang dia kumpulkan selama seminggu untuk tambahan kebutuhannya sehari-hari. Arya datang menarik tangan Karin yang hendak membayar. "Bu, belanjaannya tambah ya, masing-masing jadi dua pasang". Pesan Arya pada pemilik toko sembari menyerahkan tiga lembar uang seratus ribu. "Pak Arya, ini kan belanjaan saya. Kenapa Bapak yang bayar?". Suara Karin setengah berbisik, ia malu kalau harus berdebat di depan umum seperti ini. Arya mendekat ke arah Karin, ikut berbisik. "Udah, kamu diem aza". "Ih si eneng beruntung banget punya pacar udah ganteng, baik lagi". Ucap pemilik toko itu sambil memasukkan belanjaan Karin ke dalam plastik. "Bu-bukan...". Karin hendak menyangkal namun Arya langsung menariknya keluar, mengambil barang yang sudah terbungkus rapi lalu mengucapkan terima kasih. "Harusnya Bapak gak usah ikut, tunggu saja di mobil, kan saya yang mau belanja". Kini Karin merasa menyesal mengajak Arya ke pasar. "Jadi saya seperti supir gitu yang cuma nunggu di dalam mobil?". Sengit Arya. "Ya-ya kenapa Bapak jemput saya ke sekolah kan saya gak minta". Karin tak mau kalah. Arya berjalan terlebih dahulu kemudian menghalangi langkah Karin. "Saya baru tau ternyata kamu bawel juga ya, tukang ngomel. Saya pikir kamu gadis pemalu yang gak banyak omong". Arya memangku tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sikap saya kan tergantung sikap Bapak terhadap saya". Kali ini Karin berani menjawab lagi, ia pun heran dengan perubahan sikapnya ini. Arya diam menyaksikan Karin yang menghentakan kakinya sendiri, seperti kesal. Ya, Karin kesal dan benci pada dirinya sendiri yang tidak seperti dirinya lagi. "Udah mending sekarang cari minuman yang seger, tenggorokan saya kering berdebat sama kamu". Arya menarik tangan Karin tanpa peduli pada Karin yang terus berontak. Keduanya telah masuk ke sebuah ruko di dalam pasar, memesan dua porsi es teler. Karin yang melihat ada steker meminta izin mengisi baterai hapenya, untung chargernya selalu ada di dalam tasnya. "Sebenarnya saya mau bilang ini daritadi?". Ucap Arya memulai pembicaraan. "Apa?". Tanya Karin kasar, mukanya masih cemberut. "Kamu semakin cantik pakai hijab". Arya jujur dari hatinya yang terdalam. Pipi Karin memerah, hari ini dua laki-laki memujinya namun entah mengapa pujian Arya jauh lebih membuat ritme jantung Karin tak beraturan, berdebar-debar. Sebenarnya dia memang sudah ada niat untuk berhijab, banyak belajar juga dari Intan tapi ia tak mau berhijab karena pujian orang-orang, biarlah nanti saat ia sudah memantapkan hati. Karena tak ada reaksi dari Karin, Arya pun lanjut bertanya. "Oh ya, kamu sudah tau arti bunga Hyacinth?". Karin mengangguk. "Permintaan maaf". Jawabnya pendek. "Iya, maaf kalo saya sudah membuat kamu kesal. Pasti kamu berpikir saya aneh, nanti baik tapi tiba-tiba berubah dingin dan acuh, ya kan?". Nampaknya Arya paham isi hati Karin. Memang benar seperti itu, setelah memaksa Karin pulang bareng dengannya, Arya terlihat seperti tidak pernah mengenal Karin. Jangankan menyapa, untuk membalas senyumnya pun tidak, bahkan setiap Karin mengantar minuman ke ruangannya pun tak pernah ia menoleh dan tak ada ucapan terima kasih seperti biasanya. "Karena memang saya harus menjaga jarak dengan kamu, menghindari omongan yang tidak benar dari orang-orang kantor". Pantas saja semenjak itu orang-orang kantor menatapnya tak biasa dan sering berbisik ketika ia lewat atau masuk ke ruangan mereka. "Iya lah Pak, masa seorang petugas cleaning service diantar pulang sama direkturnya, naik mobil mewah pula". Karin tahu pasti pikiran orang-orang kantor kini. "Ya begitu maksud saya yang tidak bisa dikontrol, saya juga tidak mengerti kenapa saya melakukan itu, entahlah kalo dipikir-pikir saya juga pusing". Arya menunduk seraya mengusap-usap kepalanya. "Jujur saya tersiksa kalo harus bersikap cuek sama kamu, mungkin bila saya bisa bersikap masa bodo, saya tidak akan pernah perduli pandangan atau pendapat orang-orang kantor atau siapa pun itu". Karin mematung, tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana merespon perkataan yang lebih seperti ungkapan hati ini menurutnya. 'Apa artinya Pak Arya suka sama aku? Ah, gak mungkin Karin, jangan konyol'. Dalam hati Karin berdebat. Hape Karin yang sedang di-charge berbunyi, panggilan dari Rangga, Karin mengangkatnya. "Kamu di mana Rin? Saya nunggu daritadi di depan sekolah?". Suaranya terdengar cemas. 'Astagfirullah, kenapa aku lupa janji pulang sama Rangga'. Karin mengusap wajahnya dan membatin. "Ya Allah, maaf Ga, aku lupa". Jawabnya penuh sesal. "Tadi aku telpon kamu minta tunggu karena ban motor aku bocor tapi hape kamu mati dan baru aktif sekarang". "Iya, hape aku lowbat. Maaf banget ya". "Terus sekarang kamu di mana? Aku masih di depan sekolah". Karin melirik Arya yang sepertinya mendengarkan percakapannya itu. "A-aku... Aku udah pulang. Jadi sekarang kamu pulang aza ya". Karin berbohong, ia takut Rangga sakit hati bila tahu sekarang ia bersama Arya. Dia tak ingin menyakiti perasaan orang yang sudah membantunya dapat bersekolah ini. "Oh syukurlah kalo gitu, besok aku jemput lagi ya". "Eh gak usah, kan sekarang aku udah hapal jalannya. Lagi pula aku udah janji sama temen. Iya, aku ada janji juga soalnya". Karin beralasan, ia memang tipe orang yang tidak suka merepotkan. "Oh, ya udah kalo gitu". Suara Rangga lemas, sepertinya ia kecewa. Panggilan berakhir. "Kenapa kamu bohong?". Arya langsung bertanya. "Gak enak aza Pak, soalnya tadi pagi saya janji pulang bareng sama dia". Wajah Karin terlihat merasa bersalah. "Kamu suka ya sama dia?". Arya memang ingin tahu hubungan keduanya. "Gak Pak, untuk saat ini saya cuma fokus kerja sama sekolah. Rangga itu seperti penolong bagi saya, dia juga kan rekan kerja saya". "Sepertinya dia yang suka sama kamu, kalo begitu bagaimana?". Arya masih penasaran. "Gak Pak, gak mungkin lah". "Kenapa? Koq kamu berpikir begitu?". "Sebenarnya Rangga itu anak keluarga berada, dia juga seorang mahasiswa, dia kerja cuma cari pengalaman aza. Jadi gak mungkin orang seperti dia suka sama saya yang seperti ini". "Memang kamu seperti apa? Menurut saya tidak ada yang salah sama kamu, kamu cantik, baik, pekerja keras dan sepertinya kamu juga orang yang bersemangat mengejar cita. Saya jadi tambah kagum sama kamu yang mau sekolah lagi karena memang tidak ada kata terlambat dalam mencari ilmu". Arya benar-benar sedang memuji Karin. "Tapi saya ini miskin, tidak berpendidikan, tidak punya keluarga bahkan saya tidak ingat keluarga saya". Kalimat terakhir ia ucapkan sangat pelan hingga Arya pun tak mendengarnya. "Jangan terlalu merendah seperti itu, saya rasa orang lain pun tidak ada yang berpikir seperti kamu, itu cuma anggapan kamu saja". "Ya intinya tidak ada kelebihan pada diri saya, jadi menurut saya, Rangga dengan saya itu bagai langit dan bumi. Beda jauh". Sejujurnya Karin sedang membandingkan dirinya dengan Arya. "Kalo saling suka, perbedaan itu tidak akan ada artinya". Arya seakan membicarakan dirinya sendiri. "Cerita seperti itu cuma ada di sinetron-sinetron aza Pak, pada kenyataannya, hal itu mustahil". Karin tetap teguh pada pendapatnya. "Gak ada yang mustahil di dunia ini, mungkin memang tidak banyak tapi menurut saya pasti ada". Arya pun tetap pada keyakinannya. "Memang Bapak pernah liat ada kisah nyata seperti itu?". Pertanyaan Karin menohok Arya. "Belum tapi mungkin...". "Tuh kan. Udah lah, emang semua itu cuma ada dalam dongeng". Karin memotong ucapan Arya, ia pun merapikan tasnya hendak pulang. "Loh, kamu mau ke mana?". Tanya Arya melihat Karin yang sudah berdiri. "Mau pulang lah Pak". Pertanyaan yang aneh pikirnya. Arya mengikuti Karin dari belakang, melihat Karin yang berbelok bukan ke arah tempat parkir. "Kamu mau ke mana? Parkirannya kan lewat sini". Tunjuk Arya yang masih di belakang Karin. "Saya bisa pulang sendiri Pak, ini kan sudah dekat kost saya. Cuma naik angkot sebentar". Ucap Karin tanpa ragu. Arya melesat menghampiri Karin lalu menarik paksa tangannya lagi, membawanya masuk ke dalam mobilnya. "Dasar pemaksaan". Sungut Karin ketika ia sudah duduk di mobil Arya. Tak sampai lima menit mereka sudah tiba di kost Karin. "Sebenarnya saya tidak suka Bapak membelikan seragam saya tapi bagaimanapun juga saya ucapkan terima kasih. Makasih banyak Pak untuk hari ini". Ucap Karin sebelum ia keluar dari mobil. "Saya juga minta maaf kalo kamu tidak suka sama sikap saya. Gak tau kenapa saya senang kalo bersama kamu, kamu itu seperti sesuatu yang baru di dalam hidup saya". Arya berbicara tanpa melihat Karin, ia menunduk. 'Kan Karin, kamu cuma dijadikan kesenangan buat dia. Gak mungkin direktur tampan seperti dia suka sama karyawan cleaning service di kantornya. Jangan mimpi!". Batin Karin berteriak. Karin hanya mengulum senyumnya, ia keluar dari mobil. "Besok kamu gak dijemput Rangga kan? Berarti besok saya yang jemput kamu". Teriak Arya keluar dari mobilnya menatap Karin yang berjalan masuk ke gerbang kostnya. Seketika Karin membalikkan badannya, matanya membulat, mulutnya terbuka. "Saya artikan itu sebagai tanda setuju". Arya nyengir lalu masuk ke dalam mobilnya dan segera tancap gas. Karin hanya bisa menghentakan kedua kakinya, mengepalkan tangan kanan dan kirinya. "Ugh... Dasar orang aneh!". Teriak Karin kesal. *** Lina dan Irma masuk ke kamar Karin memberi selamat pada Karin karena sudah mulai bersekolah hari ini. Lina bahkan memesan makanan lewat ojek online, sebagai bentuk perayaan katanya. Kost semakin sepi hanya tersisa tiga penghuni itu, mereka berusaha setiap malam berkumpul seperti ini agar suasana di kost tetap terasa hangat dan ramai walaupun pada kenyataannya tidak bisa mereka lakukan setiap hari, selalu ada saja yang berhalangan, entah Lina yang harus lembur, Irma yang sibuk belajar kelompok dan Karin yang suka tak terduga diajak Arya pergi. "Akhirnya ya Rin kamu bisa sekolah lagi". Irma turut senang. "Aku juga seneng banget begitu dapet kabar itu, pokoknya selamat ya Rin. Semangat terus sampai lulus". Lina mengajak bersulang dengan minuman soda kaleng masing-masing. "Aamiin! iya Alhamdulillah, aku juga gak nyangka ternyata cita-cita aku terwujud". Seru Karin dengan senyum yang terus melekat. "Beruntung banget kamu bisa kenal cowok sebaik dia, kamu jadian ya sama dia?". Irma yang memang sudah tahu tentang Rangga menggoda Karin. "Dih, apaan sih Ma. Dia emang baik orangnya dan kebetulan kan Kakaknya donatur di pesantren itu". "Tuh kan udah kaya, baik, ganteng, kurang apa lagi coba?". "Loh, emang kamu kenal Ma?". Tanya Lina heran. "Tadi pagi ketemu pas sarapan nasi uduk Bu Heni". Jawab Irma membuat Karin dan Lina membulatkan mulut mereka manggut-manggut. "Dah pacarin aza!". Irma seperti memaksa. "Gak lah, atau mau aku kenalin ke kamu?". Karin balik menggoda. "Ehem... boleh juga". Dehem Irma berlagak menaikan kerah bajunya. "Heh! inget ya pesan Mami. Irma gak boleh pacaran sampe lulus kuliah". Lina bercanda memperagakan Ibunda Irma. "Aduh ampun bu, iya bu maaf". Irma bersimpuh di pangkuan Lina membuat ia geli dan semuanya pun tertawa. "Udah-udah tawa mulu, nanti ke berisikan tetangga". Ucap Lina mengakhiri candaan mereka. "Eh ngomong-ngomong ini Bu Winda gak mau nambah penghuni apa? sepi amat cuma tiga makhluk di sini". Irma mulai mengalihkan pembicaraan. Lina menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bu Winda pernah cerita dia masih trauma sama kasus Sari jadi dia gak mau terima orang baru dulu katanya". Terang Lina yang memang pernah mengobrol mengenai penghuni kost dengan Bu Winda. "Iya tuh Iptu Nila Sari". Irma membusungkan dadanya berlagak seperti Sari yang ternyata seorang Polwan. "Eh kamu dapet kabar lagi gak dari Mbak Sari?". Tanya Irma pada Karin yang jadi terdiam. "Eng-gak, kayaknya gak perlu juga. Udah ya jangan bahas itu, aku masih rada trauma diinterogasi sama dia selama lima jam". Karin menghembuskan napasnya berat, ia mengingat kembali peristiwa waktu itu. "Eh iya loh, bikin rusak suasana aza". Lina pun jadi malas membahasnya. Karin mulai merasakan nyeri kepala lagi, ia sempat memejam-mejamkan matanya menahan sakit. Lina yang melihatnya menjadi khawatir. "Eh Rin, kamu sakit?". Lina segera mendekati Karin. "Iya sekarang suka tiba-tiba nyeri, kata dokter efek dari operasi aku tapi kalo udah minum obat juga langsung sembuh koq". Jawab Karin tak mau membuat teman-temannya ini khawatir. "Minum obatnya ya, ada di mana?". Irma pun mulai panik. "Itu di tas". Tunjuk Karin. Irma menyiapkan obat dan air minum, Karin meminumnya segera. "Ya udah kalo gitu kamu istirahat ya, sini aku bantu ke kasur". Lina menuntun Karin berbaring, menutupinya dengan selimut seperti yang ia biasa lakukan pada keponakannya. Sementara Irma membereskan bekas makan mereka, keluar terlebih dahulu membuang sampah. "Kita balik ya Rin, kalo perlu apa-apa telpon aza". Ucap Lina kemudian menutup pintu kamar Karin. Baru saja Karin mencoba memejamkan matanya, mimpi itu datang lagi. Mimpi yang sama, terus berulang. *** Sepuluh menit yang lalu Karin baru saja selesai menelpon Intan, memintanya memberi tahu Dika agar memundurkan jadwal terapinya. Mulai minggu ini dan seterusnya Karin meminta terapinya dimulai pukul empat sore, selepas ia pulang sekolah. Entah kebetulan seperti apa, sekolah Karin jaraknya ternyata tak jauh dari klinik. Karin yang sudah paham menggunakan aplikasi ojek online sudah mengeceknya, dari sekolah ke klinik hanya perlu waktu sepuluh menit jadi dia sudah berencana mulai sekarang dia ke klinik naik ojek online, tak perlu merepotkan Intan lagi, itu membuatnya senang namun tetap ada yang membuatnya sedih, kini ia harus mulai mencari tambahan pendapatan karena pengeluarannya sekarang juga bertambah untuk ongkos pulang pergi ke sekolah dan tentunya ke klinik. Sampai sekarang Karin masih memikirkan, pekerjaan sampingan apa yang bisa dia lakukan sepulang bekerja. Karin sampai lupa waktu karena terlalu banyak berpikir. "Ya ampun, udah hampir jam delapan, aku bisa telat". Karin yang baru tersadar setelah melihat jam gegas keluar, terburu-buru ia berjalan tanpa sadar mobil Arya sudah ada di depannya kini. "Kamu kenapa baru keluar? saya sudah nunggu satu jam di sini". Seru Arya ketika menurunkan kaca mobilnya. Tak ada pilihan lagi kini bagi Karin, bila harus naik kendaraan umum sudah dipastikan dia akan telat, ia tak mau begitu, tak enak rasanya jadi murid baru tapi sudah datang telat. Karin masuk ke mobil disambut dengan senyum kemenangan Arya. Ia merasa menang karena kali ini Karin masuk ke mobilnya tanpa ragu. "Kamu cocok pakai seragam begitu". Arya mencoba mengawali percakapan, sejak tadi Karin hanya diam melamun karena memang ia masih memikirkan tentang mencari tambahan pendapatan. "Karin!". Suara Arya lebih tinggi karena Karin tak bereaksi apapun. "Ah iya Pak, sudah sampai ya?". Ia celingukan. "Kamu ini kenapa? daritadi melamun. Belum. Kita belum sampai, masih jauh". Arya melirik Karin sekejap kemudian fokus kembali melihat jalan di depannya. "Eng-gak Pak, gak pa-pa". Karin menyandarkan tubuhnya seperti mencoba melepas bebannya namun itu membuat Arya curiga, pasti ada yang Karin risaukan. "Kamu harus fokus dulu belajar hari ini Karin, soal masalah yang ada bisa dipikirkan lagi nanti". Tekad Karin begitu ia sampai di sekolah. Arya masih menatap Karin yang sudah berjalan semakin menjauh masuk ke ruang kelasnya, bahkan tadi dia hanya menundukkan kepalanya kemudian keluar begitu saja dari mobil tanpa mengucapkan apapun. "Kenapa dia? tidak biasanya seperti itu?". Sikap Karin membuat Arya bertanya-tanya. ** Ustadzah Anna yang baru datang langsung meminta para murid pindah ke ruangan komputer, jadwal pertama hari ini ternyata pelajaran komputer. Ustadzah Anna memang khusus mengajar komputer, olahraga atau penjaskes dan matematika, mata pelajaran lain selebihnya oleh Ustadzah Nurul. Untuk pertama kalinya Karin melihat komputer, bukan hanya melihat kini ia akan menggunakannya. Selama ini dia belajar menggunakan laptop Irma, hampir sama memang namun Karin tetap terkesima pada benda dengan layar lebar di depannya ini. Karin cukup cepat belajar untuk ukuran pemula, tak sia-sia ternyata selama ini belajar bareng Irma, ia dengan mudah memahami semua penjelasan Ustadzah Anna, membuat Karin beberapa kali mendapat pujian dari gurunya itu. Selesai pelajaran komputer, semua kembali ke ruangan kelas lagi untuk belajar pelajaran agama dengan Ustadzah Nurul sampai waktu istirahat nanti. Karin menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas memakan mie rebus yang ia pesan dari warung di depan sekolah bersama beberapa teman kelasnya yang lain. Hape Karin berbunyi, notif chat masuk, Karin membacanya. Pesan dari Intan. [Rin, aku udah telpon Dika dan Alhamdulillah dia setuju memundurkan jadwal terapi kamu] [Hari ini kamu bisa datang langsung tanpa re-schedule dulu] [Kebetulan selama ini setiap jam empat jadwalnya kosong jadi bisa langsung diisi sama kamu] Begitu isi chat dari Intan, betapa Karin sangat bersyukur. Sepertinya Tuhan memudahkan segala urusannya terutama bila berkaitan dengan sekolahnya ini. Sejenak Karin merasa tenang dan tidak terlalu memikirkan masalah yang sejak pagi tadi mengusik pikirannya. Sore pun tiba, Karin berhasil fokus mengikuti semua pelajaran sampai akhir, selesai sudah kegiatan belajar hari ini, ada beberapa PR yang harus dikerjakan dan dikumpulkan minggu depan. Karin segera memesan ojek online ke klinik yang jaraknya sekitar 3 km dengan ongkos empat belas ribu. ** Tak sampai sepuluh menit Karin sudah tiba di depan klinik, mungkin karena hari libur jadi jam sore seperti ini jalanan lancar tanpa kemacetan yang berarti. Karin langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Dika. Harum dari lilin aroma terapi begitu menusuk hidung Karin ketika ia membuka pintu. Tak disangka Dika turut memberinya selamat ketika mereka sudah duduk berhadapan. Intan memang memberi tahu bahwa Karin sekolah kembali sehingga harus mengubah jadwal terapinya dan untuk mempersingkat waktu karena semakin sore jadwal Dika memang semakin padat, Dika pun mempersilahkan Karin duduk di sofa seperti biasa. Karin menarik napas dan menghembuskannya secara teratur kemudian mulai masuk ke alam bawah sadarnya. Sama seperti sebelumya ingatan itu yang terus muncul. Rai yang memeluknya lalu pergi menghilang bersama kabut, juga ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit mengucapkan pesannya. Bergantian terus seperti itu dan semakin cepat. "Rai pergi nyusul Bapak ya Kak". "Kamu harus kuat". Suara itu silih berganti bergema memekakan telinga Karin dan akhirnya dia tersadar. "Bagaimana sekarang, ada yang sudah kamu ingat?". Tanya Dika setelah membantu Karin bangun. "Sebenarnya sudah dari minggu kemarin saya melihat kenangan itu dan sekarang pun sama, seperti itu terus tidak berubah dan hanya itu-itu saja". Sejujurnya Karin kecewa, ia ingin bisa mengingat lebih banyak lagi. "Sabar, semuanya butuh proses. Begitu pun dengan memori kamu yang harus membukanya kembali sedikit demi sedikit. Lalu bisa kamu ceritakan apa saja yang kamu lihat?". Karin mulai menerangkan semuanya kepada Dika, jelas tanpa ada yang terlewat. "Jadi adik kamu namanya Rai dan ibu kamu ada di rumah sakit?". Tanya Dika setelah mendengar semuanya. Karin mengangguk. "Sebenarnya saya memang sedang mencari informasi di beberapa rumah sakit mengenai keluarga kamu, Intan juga sudah mencari di kantor-kantor polisi tapi tidak ada hasil dan jujur saya juga belum dapat informasi apapun tapi kamu tenang saja saya akan terus berusaha. Setidaknya sekarang sudah dipastikan bahwa pencarian di rumah sakit itu benar karena ibu kamu yang sudah jelas berada di rumah sakit dan akan lebih mudah mencari datanya setelah kamu ingat sekarang adik kamu bernama Rai". Karin masih menunduk lemas. "Tetap semangat ya, jangan putus asa. Terus berusaha agar ingatan kamu pulih dengan sepenuhnya. Saya berharap kamu bisa berkumpul lagi dengan keluarga kamu". Dika menghibur. Karin mulai mengangkat kepalanya menatap kepada Dika dengan tatapan mata yang berbinar-binar. "Apa mungkin keluarga saya masih hidup?". "Ya, masih ada kemungkinan seperti itu". "Lalu bagaimana dengan Rai yang selalu bilang akan menyusul bapak dan menghilang, juga ibu saya yang menutup mata setelah menyampaikan pesannya". Nyatanya Karin ragu bila keluarganya masih hidup. "Secara tersirat memang mereka sepertinya sudah tiada tapi kita kan tidak ada yang tau pasti. Tidak ada salahnya juga kalo kita tetap mencari mereka, pasti kamu mau tau juga kan kuburan mereka seandainya benar mereka sudah tiada?". Ucapan Dika kini menusuk hati Karin, perih sekali rasanya tapi dia harus belajar menerima kenyataan bila memang seperti itu adanya. Keluar dari ruangan Dika, Karin melihat sosok Arya tengah menulis sesuatu di meja resepsionis, buru-buru ia tutupi wajahnya dengan tas ransel dan berjalan menunduk, langkahnya cepat. Saat ini ia sedang tidak mau bertemu dengan Bossnya itu, sudah sampai di depan pintu keluar klinik, ia berhenti sejenak. "Aman". Karin menarik napas lega, sepertinya ia berhasil menghindar. Karin mulai berjalan kembali namun di depannya ada yang menghalangi. Ia mulai mengangkat wajahnya, seketika ia lemas, membuang napasnya cepat. Ternyata Arya sudah berdiri di depannya. "Kamu kenapa? sengaja menghindari saya?". Arya merasa kesal. Karin membenarkan posisi tubuhnya, berdiri tegak, memasang wajah pura-pura. "Eng-gak koq Pak, kata siapa? buat apa juga saya menghindari Bapak". Karin mencoba tertawa-tawa kecil tapi terlihat sangat dipaksakan. "Ini apa?". Arya mengenyahkan ransel Karin yang tadi digunakan untuk menutupi wajahnya. "Kamu pikir saya tidak akan mengenali kamu dengan seragam yang mencolok seperti ini". Bentak Arya, membuat Karin memandangi dirinya sendiri hingga ujung kaki. 'Iya, bener juga. Kenapa kamu bodoh banget sih Rin!'. Kesalnya dalam hati. Karin menggigit bibirnya, menutup matanya rapat-rapat seraya menunduk, ia malu ketahuan Arya seperti ini. Arya sebenarnya menahan tawa melihat sikap Karin yang seperti itu namun ia ingin mengerjai Karin, berpura-pura masih kesal dan marah. "Kamu kenapa begitu? takut saya paksa untuk pulang bareng lagi?". Karin tak berani menjawab, ia masih tertunduk dengan badannya yang sedikit bergoyang-goyang maju mundur, persis anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya. "Jawab!". Teriak Arya masih pura-pura marah. "Kenapa Bapak ada di sini juga sih?". Karin merasa diintimidasi oleh Arya. "Kamu lupa? ini kan tempat pengobatan saya juga". 'Astaga Karin! kenapa kamu jadi semakin bodoh'. Jerit Karin dalam hatinya lagi. Karin semakin salah tingkah, ia benar-benar malu saat ini hingga tak sangup lagi menatap wajah Arya. "Ketik nomer hape kamu di sini". Perintah Arya memberikan hapenya kepada Karin. Karin yang masih menahan malu hanya bisa menuruti perintah Arya, ia menekan angka-angka yang merupakan nomer hapenya, mengembalikan hape Arya setelah ia selesai menekan tombol save. "Lain kali saya akan chat atau telpon kamu dulu, jadi kamu tidak merasa terpaksa jalan dengan saya". Ucap Arya sembari melihat layar hapenya, memastikan Karin sudah save dengan benar nomer hapenya. Arya pun memiringkan badannya, memberikan jalan pada Karin, dengan cepat Karin berlari menjauh, ia sudah tidak kuat menahan rasa malunya. Kini Arya tak sanggup menahan tawanya, ia tergelak sendiri, Karin selalu berhasil membuatnya senang. *** Bersambung ke Bab 13.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD