Bab 13 : Tentang Intan

4460 Words
"Kamu kenapa sih Rin? akhir-akhir ini banyak ngelamun, ada masalah apa? apa kamu ada masalah di sekolah?". Tanya Rangga saat menghampiri Karin di ruang istirahat. "Ah, gak koq. Sekolahku baik-baik aza". Karin menggeleng namun raut wajahnya masih terlihat bingung. "Kamu gak usah bohong, muka kamu tuh gak bisa dibohongin, pasti ada masalah. Ayo cerita". Rangga memaksa. Rupanya Karin tak pandai menyembunyikan isi hatinya, Rangga melihat dengan jelas segala kerisauan yang tergambar di wajahnya. Keuangannya semakin menipis, padahal sudah beberapa hari ini ia berusaha berhemat dengan jarang makan malam bahkan ia lewatkan juga sarapannya, hanya makan siang di tempat kerja dan hari ini ketika Melda mengajaknya membeli makan pun ia malas sekali, sungguh pikirannya saat ini sudah menyita napsu makannya. 'Krucuk!' Suara perut Karin yang keroncongan terdengar jelas. Karin memalingkan wajahnya. "Memalukan". Batinnya. Rangga yang hendak tertawa mencoba menahannya, ia tahu pasti Karin sangat malu, kemudian memberikan tempat makan yang sedari tadi sudah dia bawa. Rangga memang berniat memakan bekalnya di ruang istirahat ini. "Ini, kamu makan aza. Biasa Kakakku bawain bekal, kayak anak TK ya? tapi mau gimana lagi setiap pagi mau berangkat, tempat bekal ini udah masuk ke tas aku". Ucapnya penuh senyum. "Tapi kamu juga kan belum makan". Karin menolak. Tangannya di tarik Rangga, tempat bekal itu kini sudah berada di tangan Karin. "Udah gak usah jaim, kalo laper ya harus makan, kita makan berdua kalo kamu keberatan". Karin nurut, ia membuka kotak berwarna biru dan kuning itu. Kotak biru berisi nasi dan irisan buah melon sedangkan kotak kuning berisi lauknya, ada ayam asam manis dan tumis buncis. Porsinya banyak bila hanya untuk satu orang. "Tuh kan banyak banget, mana bisa aku makan sendirian". Ucap Rangga yang baru tahu juga isi bekalnya. "Kakakku kadang sengaja bawain banyak, katanya biar bisa dibagi-bagi sama temen-temen, dan hari ini aku bagi sama kamu. Ayo makan". Ajak Rangga. Karin menyediakan piring dan juga sendok untuk mereka berdua. "Aku gak usah pake sendok, pake tangan lebih nikmat". Ujar Rangga sembari menyuap nasi dengan tangannya. Karin tersenyum, sama seperti dirinya yang memang lebih suka makan langsung dengan tangan, pakai sendok bila makan makanan yang berkuah saja. Selesai makan, mereka berdua mencuci piringnya. Tak ada orang lain lagi yang masuk ke ruangan itu, semua mencari makan di luar. Nikmat sekali rasanya Karin makan hari ini, jarang sekali ia menikmati masakan rumahan seperti ini. Paling sesekali dibawakan makanan ke kost oleh Bu Winda dan itu pun sudah lama sekali terlebih setelah Siska di panti rehabilitasi, ia sudah lama tak membagi makanan ke penghuni kost. "Nah sekarang kamu cerita, ada masalah apa?". Rangga masih penasaran, ia tahu pasti Karin sedang ada masalah. "Itu, sebenarnya aku mau cari kerja sampingan tapi masih bingung harus kerja apa?". Akhirnya Karin berterus terang. Sebenarnya bisa saja ia meminta bantuan Rangga untuk mengantar jemputnya sekolah juga maminta Intan mengantar jemputnya ke klinik, pasti mereka berdua pun tak ada yang keberatan sehingga ia tak perlu keluar uang namun Karin bukan orang seperti itu. Sungguh tak tahu malu bila ia melakukannya. Rangga mengangguk paham, jadi itu yang dipikirkan Karin selama ini. "Memangnya gaji kamu...". Rangga tak melanjutkan ucapannya, kalau Karin seperti ini sudah pasti dia memang sedang membutuhkan tambahan, Rangga memahaminya. "Gini aza, nanti aku bantu cari info kerjaan ya, kebetulan aku juga banyak kenalan. Kalau ada, langsung aku kabarin ke kamu". Lagi-lagi ucapan Rangga menyejukan Karin, sepertinya dia benar-benar malaikat penolong baginya. "Aku ngerepotin kamu terus ya Ga". Karin tertunduk lesu. "Gak lah, aku bantu kamu selagi aku bisa, gitu aza. Udah ya aku keluar dulu tadi ada beberapa titipan orang kantor yang harus aku beli". Rangga pun keluar meninggalkan Karin sendiri. Karin menatap punggung Rangga yang kini sudah menghilang dari pandangannya, rejeki memang tak selalu berupa uang, memiliki teman yang baik seperti Rangga merupakan rejeki yang sangat Karin syukuri. *** Suara mobil berhenti di depan rumah Intan, seorang pria membawa kotak kue turun, ia mengetuk pintu dan mengucap salam. "Maher!". Sambut Intan setelah membuka pintu. "Wah, kamu udah rapi. Nenek sama Kakek mana?". Matanya mencari ke dalam rumah. "Kakek belum pulang, masih di toko. Nenek ada di dalam, ayo masuk". Intan mempersilahkan Maher masuk, ia pun duduk di sofa ruang tamu itu. "Bentar ya, aku panggil nenek dulu". Intan keluar diikuti neneknya dari belakang, Maher pun berdiri, salim kepada nenek Intan. "Ini nek, ada titipan dari Mami". Maher menyerahkan kotak kue yang ia bawa. "Duh, kamu yang ulang tahun koq malah kita yang dikasih hadiah". Ucap Nenek Intan sungkan. "Maher kan bukan anak kecil lagi nek, pake hadiah segala. Mami tau Maher mau jemput Intan makanya dia langsung titipin itu buat Nenek sama kakek, kebetulan hari ini Mami buat bolu pandan kesukaan Kakek". "Iya Mami kamu masih inget aza. Oh ya gimana kabar orang tua kamu? semenjak pindah dari sini cuma lebaran aza ketemunya, bilang lebih sering main ke sini". "Mami sama Papi sehat, iya nanti Maher sampaikan pesannya". "Udah maghrib tuh, nenek sholat dulu ya". Pamit nenek Intan. "Iya nek, Maher juga pamit ke masjid dulu. Tan, aku sholat dulu ya". Maher pun keluar. "Ehem!". Nenek berdehem mengagetkan Intan yang masih memandangi Maher keluar pintu. "Diliatin terus, kamu juga senyum-senyum aza semenjak Maher datang tadi. Kenapa? sekarang bukan sekedar temenan lagi?". Nenek seperti tahu perasaan Intan. "Ih nenek apaan sih". Intan tersipu malu. "Nenek setuju kalau kamu sama Maher, keluarga kita kan saling kenal. Apalagi nenek sudah kenal dia dari kecil, lagipula kamu juga udah dewasa, sudah waktunya mikirin nikah". Ucap nenek tanpa basa-basi, ia memang sedikit cemas belakangan ini karena usia cucunya yang dua tahun lagi menginjak 30 tahun namun belum memiliki pasangan. Intan tak pernah mengenalkan lelaki manapun kepada keluarga, hanya Maher satu-satunya lelaki yang dekat dengannya, sedari dulu. Ucapan nenek membuat Intan terdiam sejenak. "Apa mulai sekarang aku harus bicara serius sama Maher? tapi apa dia punya perasaan yang sama ke aku?". Intan mulai ragu. "Tapi kalo gak sekarang, sampai kapan aku pendam terus perasaan ini tanpa kejelasan? benar kata nenek, usiaku sekarang harus sudah memikirkan soal nikah, harus memulai hubungan yang serius. Sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk bicara dengan Maher, aku juga perlu kepastian dan aku berharap dia memiliki perasaan yang sama denganku". Batin Intan terus berbicara. Usai sholat maghrib, Maher pamit kepada nenek dan juga kakek yang baru datang, ia meminta izin membawa Intan ke rumahnya untuk makan malam bersama kedua orang tuanya sebagai perayaan ulang tahunnya. "Her, aku kasih hadiahnya sekarang aza. Ini buat kamu". Intan memberikan kotak kado kepada Maher setelah mereka masuk ke dalam mobil. "Apaan sih Tan, pake kado segala. Tapi makasih ya, aku terima". Maher mengambil hadiah dari Intan dan menaruhnya hati-hati di bangku belakang. "Harus diterima, kalo gak, aku gak mau temenan lagi sama kamu". Intan memasang muka masam. "Siapa yang mau temenan sama kamu, aku maunya...". Maher berhenti bicara. "Apa? koq gak dilanjutin?". Intan menarik lengan Maher agar Maher berbalik dan melihatnya. "Eng-gak, gak jadi. Jalan sekarang ya, Mami sama Papi udah nungguin". Maher pun menjalankan mobilnya, fokus menyetir tak memperdulikan Intan yang terus bertanya-tanya, ingin tahu maksud bicaranya tadi. ** Satu jam akhirnya mereka sampai, jarak rumah Intan dengan Maher memang jauh sekarang. Keluarga Maher dulu sengaja pindah agar lebih dekat dengan kampus Maher juga klinik yang mereka buka, klinik itu memang sudah dibuka sejak Maher masih kuliah, dulu ibunya yang menjalankannya karena ibunda Maher juga seorang Psikolog namun setelah Maher mulai praktek di sana, ia berhenti, memilih menghabiskan waktunya di rumah. Kedatangan Intan disambut hangat oleh kedua orang tua Maher, Intan menyalami mereka dan berpelukan dengan ibunda Maher, Intan memang sudah dianggap seperti putri mereka sendiri apalagi Maher anak satu-satunya. Intan membantu ibu Maher menyiapkan makanan dan menyajikannya di meja, mereka mulai makan bersama dengan sesekali mengobrol santai. Intan memang sudah tak canggung dengan keluarga Maher, ia selalu melemparkan senyumnya dan penuh canda tawa. Setelah makan dan membantu membereskan semuanya, Intan diajak Maher keluar, duduk di halaman depan rumahnya, menatap bulan yang berukuran penuh, sangat indah bulan purnama kali ini di mata Intan karena dia memandangnya berdua dengan Maher hingga angin dingin yang menerpa tubuhnya pun tak ia rasakan. "Tan, kamu inget gak kita udah kenal berapa lama?". Tanyanya memulai pembicaraan Intan yang sedari tadi menatap langit pun kini mengalihkan pandangannya kepada Maher yang duduk tepat di sampingnya. "Berapa tahun ya?". Bola matanya memutar ke atas, ia berpikir. "kalo kenal mungkin dari lahir karena rumah kamu kan dulu sebelahan sama rumah nenek tapi kalo deket sih waktu kita SMP, sejak aku pindah ke rumah nenek karena ibuku sakit-sakitan dan akhirnya meninggal". "Lama juga ya?! Ada lima belas tahun lebih". Maher mencoba menghitung. Intan tak menjawab, hanya mengangguk kecil. Ia mulai merasakan perutnya melilit, nasi briyani yang dimasak ibu Maher malam ini sangat pedas membuat ia mulas tapi ia coba menahannya karena takut merusak suasana kalau ia harus pamit ke kamar mandi sekarang juga. "Aku seneng banget bisa sahabatan selama ini sama kamu, kalo diinget-inget kita juga jarang berantem ya? paling cuma salah paham sebentar habis itu baikan lagi". Maher mengenang persahabatan mereka. "Iya". Jawab Intan pendek, mengusap peluhnya yang mulai menetes karena menahan mulas. "Aku kagum sama kamu, kamu gadis yang paling pintar dulu di sekolah selalu bikin aku semangat bahkan ketika kamu ditinggal ibu kamu lalu ayah kamu juga yang akhirnya pergi, kamu kuat menghadapi itu semua". Maher memuji Intan dengan menatap tajam kepadanya. "Itu karena ada nenek sama kakek yang menguatkan aku juga kamu yang selalu ada buat aku". Intan balik menatap Maher. Ketika mereka bertatapan, jantung Intan berdebar-debar sepertinya ia sudah tidak bisa menutupi lagi perasaan cintanya kepada Maher namun isi perutnya pun kini ikut bergejolak, rasa mulasnya semakin menjadi. "Tan, aku mau jujur sama kamu. Aku sudah lama menyimpan perasaan ke kamu, aku gak mau kita sahabatan seperti ini terus, aku mau hubungan kita lebih serius. Bahkan aku sudah berpikir untuk secepatnya melamar kamu". Maher berbicara sambil sedikit tertawa karena sebenarnya ia menahan malu ketika mengungkapkan isi hatinya itu, ia takut kalau Intan tak membalas perasaannya dan menganggapnya sebagai teman saja selama ini walaupun kenyataannya mereka punya rasa yang sama. Sungguh ucapan Maher membuat Intan melayang, ia bahagia ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan namun ia tak bisa segera menjawabnya karena sudah tidak sanggup menahan sakit perutnya lagi. "Maaf Her, bukan maksud aku mau merusak suasana tapi aku harus ke kamar mandi sekarang juga". Intan memegangi perutnya sedikit meringis. "Oh iya, ya udah cepet kamu masuk sana". Maher cukup kaget melihat wajah Intan yang menahan mulas. Intan berusaha secepatnya selesai di kamar mandi, ia ingin segera mengungkapkan isi hatinya juga agar Maher tahu bahwa ia memiliki perasaan yang sama. Keluar dari kamar mandi, Intan melewati kamar orang tua Maher lagi, kali ini pintunya sedikit terbuka. Terdengar suara orang tua Maher yang seperti berdebat. Intan mencoba acuh, ia melangkahkan kakinya namun terdengar namanya disebut, seketika ia berhenti dan mendekati kamar itu. Ia tak berniat menguping namun pembicaraan orang tua Maher terdengar jelas membicarakan dirinya, cukup lama Intan mematung, kini ia sudah mendengar semuanya, air matanya menetes tak bisa ia tahan, membungkam mulutnya yang kini mulai mengeluarkan suara isakan. Gegas ia mengambil tasnya yang ada di ruang tamu, keluar dari rumah Maher begitu saja. Maher yang melihat Intan berlalu melewatinya seketika mengejarnya, Intan terus berlari tak peduli teriakan Maher memanggil-manggil namanya. Maher berhasil menyusul Intan, menarik tangannya. "Kamu kenapa Tan? ada apa?". Tanya Maher penuh kebingungan, ia melihat manik sedih di mata Intan. Tak ada jawaban, Intan melepas paksa tangannya dari genggaman Maher. Intan melambaikan tangannya, mencari taksi. Taksi berwarna biru berhenti tepat di depannya, Intan pun segera naik dan taksi pun melaju meninggalkan Maher yang diliputi kebingungan. *** Tiga hari sejak kejadian itu, Maher benar-benar tidak dapat menghubungi Intan. Telponnya tak pernah diangkat bahkan direject, chatnya pun tak pernah centang biru yang artinya tak pernah ia baca. Kemarin Maher mendatangi rumah Intan, hanya bertemu neneknya, ia bilang Intan tak ada di rumah padahal jelas Maher melihat sepeda motor Intan ada di garasi. Malam kejadian pun Maher berbohong kepada kedua orang tuanya, ia mengatakan Intan terburu-buru karena ada masalah di tempat kerja hingga tak sempat pamit kepada mereka. Entah mereka percaya atau tidak yang penting Maher ingin orang tuanya berpikir mereka selalu baik-baik saja. Malam ini Maher termenung di kamarnya, terus menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sehingga Intan bersikap seperti itu. Ditatapnya hadiah pemberian Intan yang sudah ia buka, empat buah baju batik dan tiga buah kemeja yang semuanya dia suka. Intan memang selalu tahu apa yang ia perlukan dan ia suka sehingga dengan sikap Intan yang seperti ini sangat membuat ia takut, takut kalau Intan marah besar dan menjauh darinya. Ia tak mau kehilangan Intan, wanita yang ia cintai sekaligus sahabat kecilnya itu. "Apa pernyataan aku sama dia salah? apa mungkin dia marah karena aku ungkapin isi hatiku?". Semua pertanyaan yang ada semakin membuatnya pusing tak karuan. Maher mencoba menelpon Intan kembali, berdering tapi tak diangkat, ia mencoba lagi, kali ini panggilannya langsung ditolak, Maher tetap berusaha namun kini nomernya tidak aktif. "Arghh!". Maher menjerit kesal, ditendangnya tempat sampah di samping meja kerjanya. Ia benar-benar merasa kalut, selama berteman baru kali ini Intan bersikap seperti ini padanya dan itu membuatnya sangat frustasi. "Seharusnya kalo dia gak suka, bilang aza. Kalo dia marah, ngomong, bukan kayak gini". Ia meninju tembok di depannya, segala kekesalannya ia tumpahkan di sana. Kembali Maher menatap hapenya, ia teringat Karin. Dicarinya nomer telpon Karin yang sebelumnya memang sudah dia simpan di kontaknya. "Assalamu'alaikum Karin. Sorry ganggu ya?". Tanya Maher ketika telponnya diangkat. "Maaf ini siapa?". Karin balik bertanya karena ini merupakan panggilan dari nomer baru yang tidak ia kenal. "Saya Maher, ada sesuatu yang mau saya tanyakan tentang Intan". Lanjut Maher mengutarakan niatnya. "Oh dokter Maher, ada apa dok sama Kak Intan?". Tanya Karin lagi yang merasa ada yang aneh, pasti terjadi sesuatu sehingga dokter Maher sampai menelponnya. "Sudah beberapa hari saya tidak bisa menghubungi Intan. Kamu tau kabar Intan?". "Kak Intan sepertinya baik-baik aza dok, siang ini saya ketemu di apotiknya tapi cuma sebentar, beli obat untuk orang kantor". Jawab Karin jujur. "Syukurlah kalo dia baik-baik aza, saya bisa minta tolong?". Maher berhenti menunggu jawaban Karin. "Tolong apa dok?". "Tolong kamu tanya Intan kenapa dia terus menghindari saya? kalo saya ada salah, saya minta maaf tapi jangan bersikap seperti ini. Maaf ya Rin, sebenarnya saya juga malu meminta bantuan begini sama kamu tapi saya bingung harus minta tolong sama siapa lagi, temen dekat Intan yang saya kenal kan cuma kamu". "Ah iya dok gak pa-pa, saya gak keberatan koq. Secepatnya saya sampaikan pesan dokter sama Kak Intan. Apa ada yang mau disampaikan lagi?". "Eng-gak, cukup itu aza. Kalo ada kabar dari Intan tolong segera kabarin saya ya. Makasih ya Rin sebelumnya, maaf mengganggu". "Baik dok". Telpon pun ditutup setelah Maher dan Karin saling mengucapkan dan menjawab salam. Karin terdiam sesaat, memikirkan apa yang sudah Intan lakukan sehingga membuat dr. Maher seperti putus asa tadi. Karin berniat menelpon Intan namun ia lihat di layar hapenya sudah jam sepuluh, ia takut mengganggu bila malam-malam begini harus menelpon Intan, 'baiknya besok pagi saja', Karin pun mengurungkan niatnya. *** Karin mengetuk pintu ruangan Arya, seperti biasa kegiatan pagi harinya mengantar minuman untuk direkturnya ini. Karin melangkah masuk setelah dipersilahkan oleh Arya tadi. Arya sibuk di depan laptopnya tanpa menghiraukan Karin. "Tunggu!". Seru Arya memanggil Karin yang sudah pamit. Arya membuka laci mejanya dan mengeluarkan sesuatu, sebuah tas karton berwarna merah kini ia genggam. "Ambil ini". Perintahnya tanpa bergeser dari kursinya. "Apa ini Pak?". Karin meraba tas karton itu. "Sudah bawa saja dan ingat, sembunyikan! jangan sampai ada yang lihat kamu keluar dari sini membawa itu". Arya berbicara tanpa menatap Karin, matanya masih tertuju pada layar laptopnya. "Baik Pak, terima kasih. Permisi". Karin tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membantahnya, kalaupun ia menolak pasti lebih panjang ceritanya. Sebelum keluar, Karin melipat bagian atas tas karton itu mendekapnya di depan dadanya lalu ia tutupi dengan nampan yang ia bawa. Sesampai di pantry, ia mencari plastik untuk memasukan tas karton merah itu lalu dengan cepat berlari keluar menuju ruang loker, memasukannya ke dalam lokernya kemudian bergegas kembali bekerja. "Merepotkan sekali". Karin merasa seperti seorang penjahat yang sedang menyembunyikan barang terlarang. Kenapa setiap berkaitan dengan Arya, dia merasa terjebak dalam situasi yang membuatnya kesal namun tetap tidak bisa ia pungkiri terkadang Arya pun membuat dia bahagia. Siapa yang tidak senang bisa mengenal pria seperti Arya namun ia sadar diri bila harus mengharapkan kedekatan yang lebih, sangat konyol rasanya bila seorang Direktur tampan dari keluarga kaya raya dan berpendidikan mempunyai hubungan dengan gadis petugas cleaning service yang hidup sebatang kara dan tak berpendidikan seperti dirinya. Membayangkannya saja sudah membuat dia geli, Karin mentertawakan hidupnya sendiri. Jam istirahat Karin membuka hapenya ada pesan baru masuk dari nomer yang tidak dia kenal. [Maaf tadi sikap saya seperti itu, kamu pasti paham] [Setelah saya pikir, saya belum sempat memberikan hadiah sebagai ucapan selamat untuk kamu yang kembali bersekolah] [Semoga kamu suka hadiahnya] Sudah pasti itu pesan dari Arya, Karin menjadi penasaran apa hadiah dari Arya tadi namun ia melihat sekitarnya, banyak sekali orang lalu lalang dan pasti akan menimbulkan kecurigaan bila sekarang ia melihat hadiah itu. Karin pun hanya menatap kembali layar hapenya, membaca ulang pesan dari Arya, ah ya dia belum save nomer Arya itu. 'Pak Arya'. Karin mengetik nama untuk kontak Arya namun ia hapus, terlalu biasa pikirnya. 'Direktur tampan-ku'. Karin tertawa sendiri ketika mengetiknya, ingin ia hapus namun tak jadi, biarlah tak akan ada orang yang melihat hapenya juga. "Karin!". Tepuk seseorang dari belakang. Karin menengadah ternyata Melda "Kenapa Kak?". Karin melihat Melda mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. "Bagi tugas ya, orang-orang kantor banyak yang pesen makanan. Lo tolong beliin obat-obatan, kan lo udah biasa ke apotik. Nih daftarnya". Melda menyerahkan selembar kertas. "Oh, ok!". Mereka berdua berjalan keluar menuju tujuan masing-masing. Sepertinya bulan ini memang musim penyakit, banyak karyawan yang terkena demam juga flu dan batuk. Silih berganti dan saling menular, hingga hari ini banyak yang menitip obat dan juga vitamin kepada Karin. Ia sudah berada di apotik, membaca pesanan dan mengambil dan memasukannya satu persatu ke dalam keranjang. Seperti biasa Meta kasir apotik itu menyambut Karin ramah. "Banyak yang sakit ya Rin di kantor?". Tanyanya dibalik masker yang ia gunakan. "Iya, makanya banyak yang titip obat-obatan". Karin mengalihkan pandangannya ke keranjang yang ia bawa, yang sudah terisi banyak obat. "Intan juga lagi sakit tuh, makanya hari ini gak masuk". Ucap Meta sembari scan belanjaan Karin. "Sakit apa Mbak? Koq aku gak tau?". Karin kaget mendengar kabar itu. "Belum tau, cuma tadi pagi chat. Bilang hari ini gak masuk karena gak enak badan". Terang Meta kemudian. Karin pun berniat sepulang kerja nanti akan menjenguk Intan. Sekalian menyampaikan pesan dokter Maher. *** Rumah Intan hanya melewati 2 kali pemberhentian bus kalau dari tempat kerja Karin lalu cukup menyebrang dan masuk ke dalam kompleknya yang hanya lima menit berjalan kaki. "Assalamu'alaikum". Karin mengucap salam, tak ada sahutan hingga ketiga kalinya baru pintu rumah dibuka. Nenek Intan menyambutnya penuh senyum. Karin menyalaminya. "Eh Karin, lama gak ketemu. Ayo masuk". "Makasih nek, nenek apa kabar?". "Alhamdulillah baik, kamu langsung ke kamar Intan aza ya, Intan gak keluar kamar dari pagi". Ada raut sedih di wajah nenek. "Iya nek, saya permisi". Karin melangkah masuk menuju kamar Intan. Karin mengetuk pintu kamar lalu membukanya, terlihat Intan sedang membaca buku di atas bantal di kasurnya. Intan menoleh dan menutup buku yang ia baca. "Eh Karin! duduk sini". Pintanya pada Karin yang masih berdiri. Karin pun menghampirinya, duduk berderetan dengan Intan. "Aku dapet kabar katanya Kakak sakit? Kenapa Kak?". "Gak pa-pa cuma agak pusing, butuh istirahat aza". Karin terus memandangi Intan, sepertinya ada masalah dan pasti berkaitan dengan dokter Maher. Intan hanya diam, tatapan matanya kosong, ia lebih banyak tertunduk. "Kak, Kak Intan ada masalah apa?". Karin mendekat dan merangkul Intan. Seketika Intan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Karin, ia memang sedang butuh seseorang untuk menumpahkan segala kesedihannya itu. Karin mengusap lembut rambut Intan yang sedang tidak berhijab itu, rambut lurus di bawah bahu itu terasa kusut, mungkin seharian ini Intan pun enggan untuk sekedar menyisirnya. Mulai terdengar suara isak tangis, Karin sudah terbiasa dengan Intan yang begini. Bila Intan ada masalah ia selalu menangis dipelukan Karin kemudian Karin akan membiarkannya sampai mereda lalu Intan pun akan menceritakan semua masalah yang menjadi sumber kesedihannya. Sama seperti sekarang, Karin menunggu hingga Intan berhenti menangis dengan sendirinya. Karin mengambil tissu setelah Intan selesai menangis dan lepas dari pelukannya. Intan menyeka air mata dan air yang keluar dari hidungnya dengan tissu yang diberikan Karin. "Kenapa ya Rin, apa yang dialami ibu aku harus aku alami juga". Akhirnya Intan mulai berbicara. "Memangnya apa yang terjadi Kak?". "Waktu aku makan malam sama keluarga Maher, orang tuanya ternyata...". Intan kembali sesegukan. Benar ternyata kalau Intan ada masalah dengan dokter Maher, pantas saja dokter Maher sampai harus menelponnya. "Ada apa sama orang tua dokter Maher?". Tanya Karin yang tak kunjung mendengar kelanjutan cerita Intan. "Orang tuanya, terutama ibunya gak setuju Maher sama aku. Dia gak mau kalo aku sampai serius sama Maher". "Kakak tau dari mana memangnya?". Intan mulai bercerita dari awal ia mendengar percakapan orang tua Maher. "Kenapa begitu sih Mih?". Tanya ayah Maher ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar. "Papi gak liat sikap Maher sama Intan? Mami gak suka!". Ketus ibu Maher. "Memang ada yang salah? Mereka kan sudah temenan sejak kecil, gak ada yang aneh menurut papi". Ayah Maher masih bingung, tidak mengerti sikap istrinya ini. "Ya mami maunya mereka tetap temenan aza, gak lebih. Jangan sampai mereka punya hubungan yang serius". "Kenapa? Mereka sudah sama-sama dewasa, wajar kalo saling tertarik sekarang". "Papi nih, Intan itu siapa? Dia berbeda sama kita. Mami mau Maher nikah sama perempuan yang satu bangsa dengan kita". Tegas ibu Maher. "Ya Allah mih, kita tinggal di sini juga sudah dari kecil, bahkan Maher saja lahir di sini. Apa bedanya kita dengan orang asli sini?". Ayah Maher tak mengerti jalan pikiran istrinya. "Beda lah pih, walaupun keluarga kita sudah lama menetap dan tinggal di sini tapi darah kita murni keturunan arab, tidak ada campuran. Baik dari keluarga papi juga mami gak ada yang menikah dengan bangsa lain dan mami mau mempertahankan itu". Ibu Maher teguh dengan prinsipnya. "Mih, jangan kolot seperti itu lah. Zaman sudah berbeda, jangan suka memaksakan kehendak. Biar Maher yang memilih dan menjalankan hidupnya sesuai keinginannya. Sudah cukup kamu dulu memaksanya untuk pilih jurusan kuliah seperti keluarga besarmu. Sekarang untuk urusan pasangan biar dia saja yang tentukan". "La pih, la. Mami mau jodohkan Maher segera sebelum mereka berdua punya hubungan serius". Tandas ibu Maher. Ayah Maher hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, kalau untuk urusan prinsip, istrinya ini memang susah, tak ada tawar menawar. Semua percakapan itu yang Intan dengar dan juga lihat dari balik pintu kamar orang tua Maher yang memang sedikit terbuka. Karin mendengar semua cerita Intan dengan seksama, sekarang ia paham kenapa Intan sedih seperti ini dan menghindari dokter Maher. Cintanya kini harus terhalang oleh restu ibunya. Persis seperti almarhumah ibunya yang sampai meninggal pun tak dianggap oleh keluarga ayahnya. "Tapi apa perlu Kakak juga menghindari dokter Maher?". Tanya Karin setelah mendengar cerita Intan. "Iya, harus. Aku gak mau meneruskan hubungan sama Maher, padahal...". Intan berhenti bicara, ia tersenyum sinis. "Apa?". Karin ingin tahu. "Padahal malam itu Maher ungkapin perasaannya dan punya rencana buat ngelamar aku. Ternyata dia juga punya perasaan yang sama tapi disaat aku tau, kenyataannya malah seperti ini. Hehh...! lucu". Intan membuang napas kasar, ia tertunduk dan segera mengangkat wajahnya cepat agar air matanya tak kembali menetes, hidungnya memerah, ia menahan tangisnya lagi. "Apa sebaiknya Kakak jalanin saja dulu sama dokter Maher karena jujur semalem dia telpon aku nanyain kabar Kakak, sepertinya dia cemas karena Kakak terus menghindari dia dan dia juga minta maaf kalo ada salah". Karin menyampaikan semua pesan Maher. Intan tersenyum sinis kembali. "Aku gak mau bernasib sama kayak ibuku, aku tau bagaimana penderitaan dia. Sepertinya untuk berteman pun sekarang sulit dan aku gak bisa, jadi lebih baik aku menjauh dari Maher, mungkin sebentar lagi aku juga blok nomernya supaya dia gak bisa hubungin aku lagi". Sebenarnya berat sekali Intan mengucapkan kalimatnya itu, persahabatan selama lima belas tahun lebih ternyata harus kandas seperti ini dan justru setelah mereka saling jatuh cinta. Kenyataan ini sangat melukai hatinya. Karin menatap Intan penuh rasa iba, traumanya yang hidup terasing dalam keluarga ayahnya sendiri tak bisa dia hilangkan begitu saja sehingga ketika ibu Maher yang tak setuju padanya tentu membuka kenangan buruknya lagi. Intan memang sudah berjanji tak akan pernah bertahan atas nama cinta seperti yang dilakukan ibunya dulu, di saat orang yang kita cintai pun tak bisa membela, tak mampu berbuat apa-apa dan pasrah pada perlakuan keluarga besarnya. Karin memeluk erat Intan, ia turut merasakan sakit hatinya Intan. Betapa terlukanya ia kini. Cinta yang sudah lama ia pendam ternyata mendatangkan luka. "Sabar ya Kak, semoga kalian berdua dapat jalan yang terbaik". Ucap Karin sebelum akhirnya ia pamit pulang. *** Karin sudah berada di kamarnya, ia baru selesai mengirim pesan pada Intan. Memberitahunya bahwa ia sudah sampai di kost dengan selamat, waktu pulang tadi Intan memang memintanya untuk segera mengabari bila sudah sampai, Intan khawatir melihat Karin yang harus pulang larut karena dirinya. Karin teringat hadiah dari Arya, karena fokus pada Intan, ia sampai melupakannya tadi. Perlahan ia buka tas karton berwarna merah itu. Ternyata isinya berbagai macam alat tulis, sangat lengkap dengan bentuk yang lucu-lucu membuat Karin senang melihatnya dan yang paling dia suka, map binder dengan sampul tebal seperti dompet, berwarna peach dengan motif tangkai-tangkai bunga yang indah. Sepertinya Arya tahu warna favorit Karin itu. Hapenya berdering, 'Direktur tampan-ku' memanggil, begitu tulisan di layar hapenya. Karin menjadi senyum sendiri membacanya. "Kenapa kamu tidak kasih kabar mengenai hadiah saya tadi?". Tanyanya di balik panggilan telepon itu. "Kabar? maksudnya bagaimana Pak?". Karin tidak mengerti maksud ucapan Arya. "Kamu suka tidak?". "Oh, iya saya suka. Terima kasih ya Pak". "Syukurlah". Nada suara Arya terdengar senang. Hape Karin bergetar, ada notif masuk. Arya pun merasakannya. "Sepertinya kamu sibuk padahal sudah malam begini. Ya sudah saya cuma mau tau itu saja". Kini suaranya berubah kesal, seperti tidak suka. Karin hanya diam, tak bisa menjawab lagi. "Koq diam? Karin?". Tanyanya memastikan Karin belum mematikan telponnya. "Iya Pak". "Selamat malam, selamat beristirahat". Suaranya lembut, kemudian menutup telponnya. Ucapan terakhir Arya membuat Karin terlena namun ia tidak suka pada sikap Arya yang mudah berubah-ubah, sama seperti sekarang. Berapa detik yang lalu dia terkesan kesal namun sebelum menutup telponnya justru ia lemah lembut, benar-benar pria paling aneh yang ia kenal tapi entah mengapa dia tetap suka. Karin membaca pesan yang masuk ketika tadi Arya menelpon, pesan dari Rangga. [Rin, ada kabar baik buat kamu] [Besok aku jelasin sekalian anter kamu sekolah] [Selamat malam] "Kabar baik apa? apa mungkin tentang kerjaan sampingan itu? semoga saja". Harap Karin. Karin merebahkan tubuhnya di kasur, menarik tangannya ke atas, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku kemudian menutupi wajahnya dengan selimut, ia tersenyum bahagia. Dua pria itu kini mengisi hari-harinya dengan penuh warna. *** Bersambung ke Bab 14.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD