Anugerah ataukah Musibah?

889 Words
----------------- Jordan beserta anak dan istrinya mengambil sebua rumah KPR. yang letaknya tidak jauh dengan rumah kontrakan yang ditempati sekarang. Mereka tak ingin terus menerus tinggal di rumah kontrakan. Jordan berpikir jika biaya yang dikeluarkan untuk mengontrak rumah dengan mencicil rumah tiap bulannya sama, maka akan lebih baik jika mengambil rumah sekalian.Namun demikian, rumah perum rata-rata dapurnya belum dibangun sehingga Jordan dan Kirei harus membangunnya sendiri. "Sayang, mulai minggu depan akan ada tukang bangunan yang akan membangun dapur rumah kita. Oleh karena itu, kita harus persiapkan segalanya," ucap Jordan menjelaskan. "Iya, Mas. Itu nanti tukangnya dikasih makan nggak?" tanya Kirei. "Kasih aja sehari dua kali. Kasihan," jawab Jordan. "Baiklah, berarti aku harus masak untuk mereka biar lebih irit karena kalau beli sudah pasti boros." ---------------- Seminggu kemudian .... Tukang bangunan telah melaksanakan tugasnya. Untuk mengirit biaya, Kirei sengaja memasak sendiri di dapur tanpa bantuan dari siapa pun. Kirei memasak untuk dua belas orang pekerja. Kirei harus pintar-pintar membagi waktu dan uang dalam hal ini. Tiga hari sudah terlewati. Kirei masih antusias dan semangat dalam memasak. Kebetulan Zidan juga tidak rewel tiga hari ini. "Permisi ... Bu!" teriak seorang lelaki di luar. Kirei mengernyitkan kening. Siapa gerangan yang datang pagi-pagi begini? Padahal, dia sedang repot di dapur. "Iya, sebentar." Kirei mematikan kompor dan bergegas menuju depan rumah. "Ada apa, Mang?" tanya Kirei kepada laki-laki yang ternyata adalah tukang bangunan yang bekerja di rumahnya. "Maaf, Bu. Saya ke sini mau ambil rokok," jawab tukang bangunan bernama Usep tersebut. Kirei mengernyitkan kening. "Rokok? Rokok apa Mang?" "Kemarin Pak Jordan janji mau ngasih kami rokok hari ini, Bu," jawab Mang Usep. "Oh, begitu, ya, Mang? Yasudah nanti saya telepon dulu suami saya, ya, Mang. "Iya, Bu. Kalau gitu saya pamit kembali bekerja. Maaf sudah mengganggu ya, Bu." Mang Usep kembali ke rumah yang sedang dibangunnya. Kirei masuk ke dalam rumah dan menyambar benda pipih di atas meja. Jemarinya memijit tombol angka dengan lincahnya. ********** Di kantor .... Jordan terlihat kesal. Pekerjaan yang menumpuk seolah tak ada habisnya. Belum lagi mendapat tekanan dari atasan harus menyelesaikan laporan secepat mungkin. KRIIING ... KRIIING .... "Halo, Ma, ada apa?" Jordan mengangkat telepon. "Iya, halo, Pa. Papa katanya mau beliin rokok buat tulang bangunan? Tapi, kok, belum beli? Tadi tukang bangunannya ke sini. Minta sama Mama," cerocos Kirei. "Kurang ajar! Hal sepele seperti itu aja sampai telepon ke sini. Nanti, tau!?" bentak Jordan. DEG! Jantung Kirei rasanya seperti berhenti mendadak. Ia tak menyangka jika Jordan membentakmya. Selama ini, Jordan tidak pernah berkata kasar pada Kirei. Namun, mengapa hari ini Jordan begitu kasar. "I-iya ... maaf." Kirei mematung setelah sambungan telepon terputus. Air matanya tiba-tiba meluncur yanpa dikomando membasahi pipi. Sakit. Sakit yang ia rasakan. Sesak rasanya. Kemudian Kirei tersadar. Ia menyeka air mata di pipi dan kembali menuju dapur untuk memasak. Menu terakhir yang Kirei buat adalah sambel. Inilah favorit setiap orang. Gak ada sambel, makan gak nikmat. Namun, saat Kirei hendak mengulek sambel itu, bau tak sedap menguar, menyeruak menusuk indra penciuman Kirei. Kirei berlari ke kamar mandi dan .... "Hueek ... hueeek." Kirei muntah-muntah di kamar mandi. Ia rasanya tak kuat menahan aroma yang keluar dari sambel. Aneh. Padahal, selama ini ia sangat suka pada yang namanya sambel. Kirei kembali ke dapur dan menyelesaikan pekerjaan yang tesisa. ******** Para tukang bangunan menyantap hidangan yang telah dimasak oleh Kirei. Sementara itu, Kirei mengunjungi rumah tetangga. Ngobrol di sana dengan sang empunya rumah. "Aku tadi masak sambel kok mual ya?" ucap Kirei pada mama Nayla. "Muak gimana maksudnya?" tanya mama Nayla. "Ya, mual aja pokoknya. Baunya gak enak banget," jawab Kirei. Mama Nayla tersenyum tipis. "Tespek sana! Udah ditespek belum?" " Kok tespek, sih?" "Ya, aku sih feelingnya hamil." ucap mama Nayla cekikikan. "Ah, ga mungkin." ******** Semburat senja berwarba jingga menampakkan keindahannya. Semua tukang telah pulang ke rumah masing-masing. Kirei dan Zidan pun telah membersihkan diri. Mereka tampak segar sore ini. Jordan pun telah pulang ke rumah dengan membawa rokok yang dijanjikan untuk para pekerja. Keesokan harinya .... Seperti biasa, Kirei memasak untuk makan para tukang. Kebetulan hari ini Jordan libur sehingga dapat mengawasi kinerja para tukang dan ikut serta membangun rumahnya sendiri. Kirei di dapur mulai merasa pusing dan mual. Namun, ingin rebahan pun ia tahan. Saat pusing dan mual melanda, ia pun terungat akan ucapan mama Nayla. Kirei bergegas mencari tespack yang pernah ia beli di lemari. Dengan hati was-was, Kirei memeriksa dirinya sendiri. Dua garis merah terpampang dengan jelas di tespack. Kirei tercengang. Bagaimana mungkin ia hamil sedangkan dia sendiri memakai KB? Kirei berjalan menuju rumah yang sedang di bangun. Ia pun menghampiri Jordan. "Pa, sini dulu deh!" pinta Kirei. "Apa, Ma?" Jordan berjalan ke arah Kirei. Kirei memberikan tespack dengan dua garis merah itu kepada Jordan "Apa ini, Ma? Kamu hami?" tanya Jordan. "I-iya,Pa." Jordan membopong tubuh Kirei kemudian menciumi kening istrinya. "Sujud syukur, Ma. Papa bahagia banget. Rezeki ini namanya. Jordan terlihat sangat bahagia. Sementara Kirei tidak. Kirei berpikir jika ini bukan waktu yang tepat untuk hamil karena mereka sedang mengeluarkan banyak uang untuk pembangunan rumah. Setelah mengetahui Kirei hamil, Jordan jadi tambah perhatian. Kondisi Kirei yang tidak kuat pada bau aroma masakan, membuat mereka harus menyewa seseorang untuk membantu memasak untuk para pekerja. Kehamilan Kirei ini merupakan sebuah anugerah bagi Jordan, tetapi musibah bagi Kirei. Jika Kirei hamil anak kedua. Lantas, bagaimana nasib Zidan kedepannya? Apakah akan lebih baik ataukah bertambah buruk? Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD