"Duh ... ternyata bener. Jadi, gimana cara usirnya, Bu?" Kami disuruh menunggu di luar, membiarkan Ibu dan Fany di kamar berdua. Aku bersedekap d**a sambil bersandar di dinding. Menunggu Ibu keluar yang ternyata lumayan lama. Aku sampai bosan berdiri di sini. Mas Arif pun mengajakku keluar sambil menunggu kabar dari Ibu. Sambil bercerita, sedikit menyenggol permasalahan Fany. Ia cukup terkejut begitu mengetahui bahwa Fany disukai jin. Sesuatu yang baru baginya, agak tak percaya. Apalagi jika sampai mencelakai. Namun, aku balik menceritakan kisah gadis yang kemarin dikisahkan oleh Ibu. Gadis desa yang menjadi rebutan, tapi tidak ada satu pun lelaki yang mampu menikahinya. Bukan karena harta atau kepintaran, tapi pasti calon pengantin laki-laki itu mendapat kesialan. "Kasihan juga. Ke

