Aku bergeming, pun bingung menjawab pertanyaannya. Sesekali melirik ke Dion yang akhirnya sadar juga. Ia dibantu duduk oleh Fany, kemudian bertanya ada apa. Kami masih berada di halaman rumah kosong itu. Kondisi yang gelap dan sunyi membuatku semakin merinding. "Udah, nanti aja di rumah Fany ceritain. Gimana kondisi kamu? Masih kesakitan?" tanyaku. "Lumayan, Mbak. Ayo, deh kita pulang. Serem banget di sini," jawabnya sambil memeluk Fany. "Mana ada suara burung gagak pula," timpal Fany. "Kalau kata ibuku, suara burung gagak pas malem itu pertanda ada yang mau meninggal." "Hush! Serem banget dah!" protesku lalu bersiap-siap pergi dari sana. Mobil kulajukan dengan kecepatan sedang, pun mereka berdua sedang mengobrol karena takut Dion diganggu lagi. Aku yang pusing setengah mati ka

