Penghisap Darah

1613 Words

"Hayo, kenapa melamun?" tegurnya yang membuatku tersentak. "Gak papa. Heran aja, tumben jadi bijak." Ia pun berdecak sebal. "Dari dulu Mas bijak, kamunya aja yang bandel. Jarang mau denger kata-kata Mas," ucapnya lalu membuang muka. "Haha, iya maaf. Mas `kan tau sendiri, dari dulu aku keras kepala. Ibu aja nyerah ngadepin aku." Malam itu, segala hal kami bahas, bahkan hal-hal sepele yang tidak diperhatikan. Gelak tawa kami sampai di kamar Ibu, hingga ia bangun dan menegur kami. Aku hanya bersembunyi di balik tubuh Mas Arif, sedangkan ia mati-matian dimarahi Ibu. Setelahnya, ia marah-marah ke aku. "Oh, iya. Mas udah chat Mbak Titin itu. Besok kebetulan dia mau ke rumah orang tuanya. Jadi, bisa sekalian mampir ke sini," ucap Mas Arif. "Hah? Serius?" Aku pun jingkrak-jingkrak baha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD