"Eh?" Aku terdiam begitu mendapati Alvaro yang sedang berdiri di depan meja rias. Ia puj terkejut dan buru-buru menyembunyikan sesuatu. Sedikit curiga, tapi ia langsung tersenyum mendekatiku. "Fany-nya masih mandi, Mbak, hehe. Tadi aku iseng liat-liat foto di sini," katanya. "Kenapa harus nunggu di kamar? Ini kamar perempuan, lho," sinisku. Tiba-tiba Fany datang, masih memakai jubah mandi dan handuk di kepala. Ia pun terkejut melihat kedatanganku dan pria di hadapannya itu. "Lho, Al? Bukannya tadi gue suruh lo nunggu di sofa luar, ya? Kenapa malah masuk? Butuh sesuatu?" tanya Fany yang membuat Alvaro panas dingin. "Eh? Ng–nggak, Fan. Gue tadi cuma pengen liat aja kamar lo. Rapi banget soalnya," jawab Alvaro beralasan. Aku mendengkus kasar, seratus persen tak percaya. Pasti ia ad

