Leon sekarang duduk di bangsal nya di temani oleh teman-teman nya yang baru saja datang. Mereka asik berbincang-bincang.
"Leon lo tau, semenjak lo engga masuk Chika selalu nanyain lo."
"Nanya gimana?" Tanya Leon
"Nanyain lo kemana kok engga masuk, terus nanyain kabar lo," ucap Reza
"Gue ngerasa Chika itu suka sama Leon deh," ucap Gibran. Semua nya memusatkan perlihatan ke Gibran.
"Bener juga ... tapi, gue engga suka dia," ujar Leon.
Semua teman-teman nya diam. "Yaudah, kita pulang dulu, cepat sembuh ya bro!" Leon menganguk. Satu persatu teman-teman pulang.
Kini hanya tersisa Leon dan Gibran di sini. Gibran mengatakan akan menginap, menemani Leon.
"Engga pulang lo Bran?"
"Engga, gue nginep di sini. Jagain lo," ucap Gibran
"Lo ngira gue anak kecil apa, gih pulang!"
"Engga Leon, udah lo diam aja! Istirahat sono!"
Leon berdecak lalu mengangkat selimut hingga d**a nya, lalu tertidur membelakangi Gibran.
"Engga capek apa lo, berusaha luluhin mbak lo? Ck!"
===
Seperti biasa, Jena tengah berkumpul bersama kedua teman nya, yang tak lain adalah Ariel dan Nana. Mereka sedang membahas tentang Tama dan kawan-kawan—seperti biasa nya.
"Jen, kayak nya overthink lo kemarin bener deh. Gue juga ngerasa mereka kayak gitu. Jujur capek!" Ucap Ariel
Jena dan Nana diam sambil menatap satu sama lain, seperti nya sedang ada masalah antara Ariel dan Ares. "Ares kenapa riel?"
"Habis berantemlah mereka biasa," celetus Nana. Jena langsung menatap Nana tajam. "Gue lagi engga ngomong sama lo na ... biar Ariel jawab dulu, lo diam dulu dah," Nana hanya menyengir. Jena lalu mengalihkan pandangan nya ke Ariel.
"Kenapa?"
"Ares engga pernah jawab telfon. Terus gue cari di kampus nya, dia selalu engga ada. Kemarin ada cewek yang ngechat gue, ngaku-ngaku kalau Ares tunangan nya ..."
"Hmm ... emang lo yakin dia tunangan nya Ares? Engga kan... yaudah tunggu jawaban dari Ares aja, langsung ke orang nya. Udah lo kasih tau ke Ares kan?"
Ariel menggeleng. "Telfon aja engga di angkat, gue cari ke rumah nya—rumah sepi." Jena menghela napas
"Udah lo percaya aja ke mereka," ucap Nana.
"Lo engga khawatir bakal di ghosting Na?" Tanya Ariel
"Hmm ..."
"Hati-hati aja Na... ok?" Nana mengangguk.
"Terus lo gimana Jen, masih memperlakukan Leon kayak dulu?" Seketika Jena diam membungkam. Dengan ragu ia mengangukkan kepala nya.
"Gue engga ngerti dah apa yang ada di fikiran lo, sampai lo se jahat itu..." Jena diam, jika sedang seperti ini—tanda nya Ariel sedang dalam mood yang tidak baik.
"Jangan bahas dia! Gue engga mood asli dah... masih mau tetap bahas? Gue cabut!" Ariel tertawa remeh mendengarnya. "Silahkan cabut, terbuka lebar kok."
Jena tak main-main dengan perkataan nya, ia beneran pergi dari tempat itu. Sedangkan Ariel dan Nana yang sedang melihat punggung Jena saat sudah menjauh.
"Jena keras kepala, susah ngomong sama orang berkepala batu," ucap Ariel. Nana menganguk mendengar ucapan Ariel.
===
Pemakaman, di sini lah tempat nya Jena sekarang. "Dek, mbak datang lagi!" sapa Jena ke salab satu batu nisan yang bertuliskan 'jendral' disana.
"Adek kesayangan mbak, mbak mau nanya, mbak terlalu kasar ke Leon engga sih? lagian masa dia ngegantiin posisi kamu, mbak engga suka—" Jena menjeda ucapan nya, ia menghela napas lalu melanjutkan ucapan nya. "Mami sekarang malah lebih sering bela Leon dari pada mbak."
"Yaudah itu aja cerita mbak, dadahh Jendral!" Jena menyiram batu nisan tersebut, lalu pergi dari pemakaman itu.
Tadi ia sempat mendapat telfon dari dokter, bahwa Leon sudah boleh pulang ke rumah. Jadi sekarang Jena sedang di perjalanan untuk menjemput Leon. Jika tidak karena mami nya, mana mau Jena melakukan nya.
Sesampai nya Jena di sana, ia dapat melihat Leon tengah duduk di bangsal tempat tidur nya sambil menatap ke arah jendela.
"Teman lo mana?"
Leon kaget saat mendengar suara Jena, yang terkesan tiba-tiba. "Tadi pulang, ibu nya nyuruh pulang..." balas Leon
"Yaudah, buru! Gue engga suka nunggu." Jena lalu pergi ke ruangan dokter terlebih dulu, sedangkan Leon berjalan perlahan menuju parkiran.
Saat sampai di depan pintu rumah sakit, Leon tak sengaja bertemu dengan Chika. "Leon!" Chika menghampiri Leon, "Leon lo sakit apa?"
"Lo tau kan? Kenapa nanya lagi?" Chika menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Ohh iya! Aku di sini mau jenguk oma aku."
"Maaf, tapi gue engga nanya."
Chika diam, dia dalam hati, gadis itu sedang menahan kekesalan nya terhadap Leon.
Tanpa mereka sadari, ada Jena yang baru balik dari ruangan dokter tengah memperhatikan mereka. Jena mendengar percakapan antara Leon dan Chika, hingga ia tak sadar sudah menguyingkan senyuman.
"Leon cepat masuk mobil!" Jena ke luar dari tempat ia bersembunyi lalu menyuruh Leon untuk masuk ke dalam mobil.
Leon menganguk, lalu berjalan perlahan menuju mobil, tapi lagi-lagi Chika datang... ia menawarkan diri untuk membantu Leon berjalan menuju mobil.
"Leon, sini aku bantu jalan sampai ke mobil."
"Makasih ya, tapi gue bisa jalan sendiri ke mobil ... dah Chika!" Leon mempercepat langkah nya menuju mobil, walau ia harus menahan sedikit sakit. Hingga sampai di mobil, ia langsung duduk disana.
Mobil langsung jalan, tetapi selama perjalanan Jena maupun Leon tidak ada yang membuka percakapan.
Bahkan sampai di rumah, Jena langsung masuk ke dalam rumah. Ia tidak membantu Leon membawa barang.
Ia masuk ke dalam rumah, ternyata tidak ada orang—selain Jena dan diri nya. Seperti nya mami sedang pergi menemui papi. Leon langsung masuk ke dalam kamar.
===
Tengah malam, tiba-tiba saja Jena terbangun karena kelaparan. Tapi mami belum pulang, ia tidak bisa masak, selain mie. Tapi tidak ada mie di lemari penyimpanan.
Di kulkas hanya tersisa beberapa sayuran dan daging, tetapi Jena tak bisa memasak nya. Saat di dapur, Jena di kejutkan dengan tepukkan di bahu nya.
"Mbak lagi ngapain?" ucap orang tersebut, yang tak lain adalah Leon.
"Lo ngagetin aja!"
"Mbak laper? Mau Leon masakkin engga?" Jena mengeleng, ia menolak tawaran Leon. Padahal sebenarnya perut nya sangat lapar.
"Engga!"
"Yakin? Kalau laper bilang aja, biar Leon masakkin." ucap Leon
"Ga,"
"Aduh mbak, sok-sok an nolak. Leon tau loh, itu perut mbak usah kelaparan. Yaudah Leon masakkin aja," Leon mulai mengambil bahan makanan di kulkas, lalu tangan nya mulai beraksi menyiapkan hidangan yang sederhana untuk Jena.
Sedangkan Jena hanya memperhatikan Leon sedang masak, ini seperti sedang melihat sang suami yang sedang memasakkan istri yang ngidam di tengah malam. Hahaha
Jena langsung menggeleng, lalu menghilangkan pemikirian seperti itu.
Tak lama setelah itu, masakkan Leon jadi. Leon memghidangkan nya ke piring, lalu memberikan nya pada Jena.
"Ini mbak, kalau engga enak bilang aja mbak ..."
Jena menarik piring itu, lalu memakan nya. "Enak mbak?"
"Biasa aja," Leon menghela napas, lalu tersenyum setelah nya.
###
jangan lupa follow akun ini ya ^^
happy reading