Transform

963 Words
Sekarang berbeda, ketika semua anggota keluarga tertawa. Aku hanya diam dan memutar bola mata. Atau aku sengaja menggigit dinding mulutku supaya tidak tertawa. Memang menyakitkan, tapi setimpal. Kuliah, seperti yang ku inginkan. Tidak ada satupun laki-laki yang mau mendekatiku. Tatapan tajam menusuk, aura dingin serta muka datar. Orang tuaku? Berkali-kali mempertanyakan kenapa sikapku berubah drastis. Sama sekali tidak ada senyuman yang mengembang dibibirku. Tapi itu setimpal. Hatiku sudah sekeras batu, Cinta? Aku sudah tidak mengerti arti kata Cinta. Its bullshit word for me. Kata-kata romantis yang keluar dari bibir laki-laki manapun, terasa begitu menjijikan. Apa aku kelainan? Tidak! Aku masih bisa menilai rata-rata orang tampan dan jelek. Aku sudah berubah sekarang, gak ada Athala yang cengeng, gak ada Athala yang lemah, gak Ada Athala yang ceria, gak ada Athala yang bawel dan cerewet.Yang ada hanya Athala yang dingin, tatapan menusuk bagai elang, aura intimidasi, dan hati batu. Aku hidup bagai robot, kuliahku di UI dan masih bergelut dengan IPS, pendidikan. Ya, aku mengubur cita-citaku sebagai desaigner apapun yang berhubungan dengan menggambar demi ibuku. Ia ingin aku bekerja mulia tanpa memandang upah. Sebelum bergulat dan cekcok dengan mereka, akhirnya aku pamit meninggalkan rumah demi menuntut ilmu. Aku meninggalkan notice sebelum pergi. Aku masih ingat isinya, Aku yang cari uang mulai sekarang. Berubahlah untuk menghargai dan mendukung apapun yang adik lakukan meskipun nampak mustahil. Itu tidak akan membuat semangatnya mati. Dan jika aku yang egois, tidakkah kalian yang lebih egois karena selalu aku yang salah dimata kalian. Aku sama sekali tak pernah mendengar kata maaf terlontar dibibir kalian. Kalian masih sama, manusia. Punya salah bukan hanya kami saja. Namun orang tua juga bisa salah. Jadi kumohon, hanya itu saja. Aku sayang kalian. Aku berkuliah ditemani kedua temanku yang ingin menjadi dokter dan statitiska. Aku selalu belajar giat dengan mereka, kimia, senyawa, listrik, dan lainnya. Untuk apa? Satu tujuanku tanpa diketahui mereka. Aku ingin merakit bom. Selain itu, aku juga ingin sekali membuat lightsaber. Hanya ada di film action dan aku ingin mewujudkannya. Memang membutuhkan banyak uang, oleh sebab itu aku mulai meretas rahasia milik negara. Aku menjual soal UN dengan harga fantastis, aku tidak main-main. Kerjaku sangat mulus, dan pelangganku sangat puas. Aku juga akan membangun Butik setelah kuliah dan akan semakin mengembangkannya hingga menjamah bagian Eropa. Perancis, Italia, dan Inggris. Bukan dengan pemandangan eksotis ataupun menara Eiffel. Tapi destinasiku hanya satu, mencari Backmarket. Ya, pasar gelap terbesar di Perancis. Aku ingin merancang busana bukan seperti superhero biasa. Aku akan membuat busana anti peluru dan anti pedang. Mustahil! Bagiku tidak karena aku belum memulainya. Dan kemungkinan, bahannya hanya akan dijual di Blackmarket. Teman? Aku tidak tahu Raga dimana, Resya? Bahkan dia sama-sama menghilang tanpa jejak. Katanya, ia akan kuliah di UGM. Tapi, yasudah. Aku tidak begitu antusias dengan yang lain. Terutama mereka yang alim bangsati. Sungguh, aku ingin membungkam mulut mereka dengan segepok uang. Bicara soal uang, aku terkadang kualahan sendiri untuk membuangnya. Terkadang aku sedekahkan dengan panti asuhan dan terkadang aku tabung untuk keperluanku. Aku punya dua ATM dan kartu kredit. Yah, lumayan meski penampilan sederhana tapi siapa sangka. ATM yang satu untuk aku bersekolah dan hidup dan satunya lagi untuk mewujudkan mimpiku. Dari egois, setidaknya aku punya obsesi dan kemauan yang kuat. Peretas? Jangan remehkan keahlianku ini. Aku semakin jago meretas segalanya. Aku bisa tersenyum dengan ini semua. Begitu bahagia bisa bermain dengan agen polisi yang bodoh. Dari kumpulan uangku yang semakin menggunung padahal nampak pengangguran, aku membuangnya untuk membeli Mansion di Perancis. Memang kecil namun sesuai persyaratan ku, Minimalis dan halaman belakangnya yang mampu menampung koleksi mobil. Aku membeli beberapa mobil. Hanya 3, tak banyak tapi cukup menguras uangku yang menggunung selama ini. Koenigsegg CCXR Trevita, mobil termahal dan tercepat didunia mencapai 64 M, mobil silver asal Swedia dengan kecepatan 0-100KM/jam dalam waktu 2,9 detik dengan top speed 410 KM/jam. Lamborghini Veneno, mobil tercepat dan termahal kedua didunia, mobil putih tulang seharga 60M. Mampu melesat 100KM/jam dalam waktu 2,7detik. Dan yang terakhir koenigsegg Regera. Mobil seharga 26,7M. Melaju cepat hingga 93mph/150KM sampai 155mph/250KM dalam waktu 3,1 detik. Memang tidak semahal Lycan hyperspot seharga 45,3M dan melesat dengan waktu 2,7detik, dilapisi benang emas dan berlampukan berlian. Tapi, koenigsegg Regera dibentuk khusus sebagai megacar(Raja jalanan) melebihi mesin Ferarri La Ferarri. Tidak ada yang tahu semua yang aku miliki apalagi kedua orang tuaku. Aku tinggal menunggu semester terakhir dan lulus. Penampilanku sama tidak ada yang berbeda. Cukup lebih kejam saja kedengarannya. Aku akan pulang kerumah sebulan sekali dan menginap hanya sehari karena alasan kerja. Sudah berjalan sebulan lamanya, Butik yang aku kembangkan sendiri telah menyebar luas keselurus Indonesia. Dan esok aku akan terbang ke Perancis untuk pagelaran busana-busana terbaik karyaku. Bukan hanya itu, aku juga ingin merasakan Mansion yang sudah aku bangun disana. Aku memberikan amanah kepada sahabatku semenjak SMP yang sudah aku anggap sebagai saudara kembar jauh bernama Fafa. Ia mengabdi kepadaku demi menghidupi keluarganya dan juga ingin merasakan dunia luar. Aku katakan ia adalah asisten setiaku, semua yang ada di mansion dia yang mengurusnya. Dan hubunganku tetap sama, saudara. Bersyukur karena tuhan ada dipihakku dan mewujudkan semua impianku. Tentang teman... Aku sama sekali tidak begitu peduli, namun aku juga bertanya-tanya, bagaimana mereka semua. Aku telah memutuskan tidak pernah hadir dalam reuni manapun. Karena aku percaya, orang terdekat biasanya akan membuatmu jatuh. So, aku akan menjauh dari mereka. Toh aku bukan Athala yang dulu. Author pov Athala tengah berdiri di depan bangunan yang Indah. Paris, ia sudah menapakkan kakinya dinegeri ini. Senyum puas menatap mansion hasil jerih payahnya sendiri, seakan semua kerja kerasnya terbayarkan. Pandangannya menelisik kesamping karena mendengar suara dari satpam bertubuh kekar dan cukup tampan. "Ada yang bisa dibantu nona? "Athala hanya menggeleng dengan wajah datar dan membuka pintu gerbang yang menjulang kokoh dihadapannya. Tangannya tercekal oleh satpam penunggu rumahnya. Oh, great. Dia menggeleng tak percaya melihat apa yang dilakukan penjaga mansionnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD