Devano

752 Words
"Hehehe, ayuk. Bentar gue ganti baju dulu. "Ucap Fafa setelah melihat penampilan Athala yang sangat cantik dengan balutan dress berwarna biru laut itu. Athala dan Fafa keluar dari Mansion menggunakan mobil Lamborghini putih tulang koleksi Athala. Semua menatap takjub mobil tersebut, melongo. Apabila mereka juga tahu siapa yang menyetir kendaraan berkisar 60 Milyar itu. "Thal, mobil lo bagus banget, pasti mahal. Tuh, banyak orang yang ngelihatin. "Tunjuk Fafa disamping kemudi lewat kaca. "Ck, lo dari dulu sampek sekarang itu masih sama aja ya, sama-sama kudet. Ya jelas pada ngelihatin lah, secara mobil yang kita pake ini mobil termahal nomor 2 didunia. "Ucap Athala gemas. "Se-serius? Lo gak bahong? "Tanya Fafa gemetar merasakan jok super nyaman. Athala hanya mengangguk dan terus berkonsentrasi. "Uang yang gue kasih kenapa gak lo beliin mobil? " "Gak, gue belum butuh mobil. Gue mau kasih ke ortu gue buat bangun rumah mewah dan kebutuhan mereka. "Athala hanya mengangguk. Ia juga melakukan hal yang sama dengan Fafa. Memberikan semua keuangan di Butiknya kepada kedua orang tuanya, lain dengan pekerjaan meretasnya untuk membeli segala kemewahan. Athala dan Fafa yang sudah menjelajahi Mall terbesar di Paris. Berkali-kali mereka berdecak kagum dibuatnya. "Thal, emang lo mau beli apa sih? " "Softlens buat mata gue yang rabun, pakaian-pakaian baru, make up, sama terakhir Salon. Gue yang traktir. "Fafa kembali melongo. Kepalanya terus menggeleng tak percaya. "Lo sejak kapan rabun? Ini serius gue dibelanjain? " "Ck, udah lama cuma sebelah kiri aja. Gue serius mau traktir, kan lo saudara gue. Apa aja boleh lah. " "Serius? Makasih... Lo emang the best, Thal. "Setetes air matapun mulai turun dipipi Fafa. Sekali lagi Athala berdecak melihat sahabatnya sedari dulu ini. "Yaelah, gausah baper gitu. Lebay deh. " Fafa mulai mengangguk dan berjalan bersama Athala menyusuri Mall terbesar itu. Athala hanya membeli softlens, dan make up. Sedangkan Fafa ia belikan pakaian, sepatu, perhiasan, dan make up. "Gue mau beli rambut pasangan, temenin yuk. " "Hah? Buat apa? " "Udah....gausah bawel... Abis gitu kita ke Salon terus makan...." "Yaudah cus, ngapa gak bilang dari tadi. " "Hemmm, giliran makan aja Nomor 1” Dari sisi lainnya, nampak dua pria tampan dan gagah memasuki area Mall. Ketampanannya yang mampu membius siapa saja yang dilewatinya. Semua gadis terperosok dengan pesonanya. Pria berbadan tegap dengan jasnya yang rapi. Salah satu dari mereka adalah orang terkaya nomor 1 di Paris. DEMIAN LUXURIOUS DEVANO. Siapa yang tak kenal Devano? Pria tampan yang mengisi majalah dan surat kabar. Usianya yang terbilang masih muda, 27 tahun sudah mampu membangun beberapa hotel berbintang, Mall, pabrik industri, dan memiliki perusahaan DLD corp. Namun dibalik itu semua, Devano adalah ketua mafia terbesar klan Zemun, mengalahkan klan lainnya. Atau biasa disebut Mr. Lux. Ia mempunyai anak buah yang setara dengan tentara perang dan badan intelejen. Wajahnya yang tampan bak dewa Yunani, tanpa ada celah sedikitpun. Rahang yang tegas, bibir yang kissable, kornea mata sebiru laut asli. Serta tubuh yang sispack membuat siapa saja rela menjadi jalangnya. Langkahnya yang mantap menyusuri area Mall, memantau setiap cara kerja bawahannya. Tak jarang membuat semua pengunjung di Mall gagal fokus. "An, perkembangan yang terus melonjak ini harus kau atasi. Perbanyak karyawan dan tentunya profesional. "Ucapnya kepada laki-laki tampan dibelakangnya tanpa menoleh sedikitpun. Tatapannya menelisik setiap sudutnya begitu tajam, hingga membuat para wanita yang ada panas-dingin. "Ck, iya. Anda sengaja ya ngajak saya kesini? "Tanya Anthonio kaki tangan Denvano. Umurnya hanya terpaut 3 tahun lebih tua. "Aku sudah lama kesepian, An. Semua wanita disini sama. Lihat mereka, mereka mengincar harta, manja, dan lemah. Kau tahu bagaimana nasibnya jika memiliki kekasih seorang bos mafia? Tidak ada waktu untuk manja, atau mati saja."Ucap Devano beriringan dengan Anthonio. Devano memperlakukan Anthonio dengan baik, seperti teman. Bukan pembantu atau bawahan. Itulah sebab Devano sangat dihargai dan disegani orang-orang. "Lalu, bagaimana gadis yang menjadi kriteriamu itu, apa sudah kau temukan? “Devano hanya menggeleng sambil memperlihatkan smirknya. "Belum, yang pasti dia berbeda dari yang lain. Dia berani, tidak memandang dari harta, tangguh, sikapnya berlainan dengan gadis lainnya. Karakternya melebihi diriku. " "Hahaha, ada-ada saja kau. Adakah orang yang dinginnya, cueknya, intimidasinya melebihi dirimu? Ck, ada-ada saja. Dan kuat? Masih adakah wanita seperti itu? Sudah, pupus saja kau. "Ledek Anthonio yang membuat Devano bersungut-sungut. Ia berbalik menghadap pria yang sekarang membeku. Matanya menusuk tajam hingga membuat lawan bicaranya tertunduk. Bruuuuuuk..... Tepat ketika ia berbalik untuk kembali berjalan, ia menubruk seorang gadis. Ia menatap diam, sedangkan gadis berambut coklat itu menunduk menatap makanannya yang jatuh akibat ulah Devano. Devano menatap teman gadis itu yang memekik girang menatapnya. Ia memutar kepala jengah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD