Kepalanya berdenyut keras dan membuatnya untuk tidur lebih awal. Athala sebetulnya butuh rileksasi melihat keadaanya sendiri yang cukup tertekan. Cuma ia tahu, orang tuanya selalu posesive bila ia keluar malam. Entah, takut pulang kemalaman atau apapun itu. Mereka akan mengizinkan didepan teman-temannya, tapi ketika ia sudah pulang. Maka, ia akan dihujani celoteh dan diperlakukan bagai pembantu.
Athala sering bergumam memanjatkan mantranya untuk menenangkan diri. Hanya ia sendiri yang bisa mengontrol emosinya, ia harus bisa mendominasi fikiran positif dibanding sisi negatif.
Kali ini Athala tinggal dirumah sendiri. Tapi tiba-tiba, HPnya berbunyi menandakan ada seseorang yang menelfon. Nampak hanya nomor HP yang tertera di layar HPnya, namun ia cukup tahu kalau nomor itu milik Raga.
"Ngapain ini orok nelfon gue malem-malem?”Gumamnya sebelum mengangkat telefon.
"Halo. "
"Halo, apaan nying? Tumben nelfon gue? "Tanya Athala yang ditanggapi kekehan dari seberang telfon.
"Iseng aja. Lo lagi sibuk gak? "
"Lo kira gue kaya elo?, malem kerja, pagi bangke. Lo lagi suwung kan? gak kaya biasanya nelfon gue. Mana cabe-cabean lo?"
"Hahaha, tai-tai aja. Abisnya temen lo gue telfon gak diangkat, gue chat gak dibales. Emang gue salah apa sih sama dia? "Athala memijit keningnya sambil menggelengkan kepala.
"Tau-tau adanya BEGO. Ya, lo sih dinasehati selalu gak didengerin. Padahal Resya itu udah berjuang mati-matian sama lo, berusaha rubah lo jadi manusia yang lebih baik. Tapi apa nyatanya? Lo tetep aja sama. Menurut lo apa gak Capek? "Nampak dari sebrang telfon seseorang dengan suranya yang ngebass mencoba menghela nafas.
"Gue pengen nanya, kenapa lo mau ngangkat telfon dari gue. Sedangkan masih ada kegiatan lain yang mesti lo kerjain. Misalnya tugas matematika? "Athala terdiam dengan ucapan Raga. Ia bingung harus menjawab apa.
"Karena lo temen gue, ya... Secara harfiah lo nganggep apa enggak. Tapi, gue gak pernah beda-bedain temen. Karena apa? Karena setiap manusia itu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. "
"Gue salut sama lo. Lo itu polos, baik. Ya, hati-hati aja diperalat sama orang. Gue boleh minta tolong gak sama lo? "
"Apapun kalo gue bisa, lo gausah sungkan-sungkan sama gue. Gue juga pengen kalian itu akur lagi."
"Gue bakal cantumin nama lo di daftar paling atas. "
"Atas apaan emang? "
"JIDAT LU! "
"Oh... BTW bantuin lo apa? "
"Selesain masalah gue sama Resya, lo tau kan gue emang salah, gue juga takut kalo dia marah. "Mendadak Athala tertawa meledak, sedangkan Raga tengah memasang wajah datar dari seberang telfon.
"Huahahahahaha, gue gak salah denger kan? Lo takut sama Resya? Ya tuhaaaaan.... Badan lo itu lebih tangguh, lebih tinggi, sixpack. Takut sama cewek yang tingginya 160 centi? Are you kidding me? "
"Terus aja ketawa. Gue lebih kenal Resya dibanding elo, gue juga lebih tua dari elo. Ya, menurut gue sih, seenggaknya lo berubah. Jangan kekanak-kanakan mulu. Apa sampek dewasa lo bakal kaya gini? "Mendengar perkataan Raga membuat Athala semakin tertohok. Raga punya jiwa yang dewasa lain dengan teman sebayanya.
"Gue bisa berubah kok pasti seiring berjalannya waktu, entah dalam jangka waktu yang lama ataupun singkat, gue bakal berubah. "
"Mau sampek kapan? Apa lo jadi air terjun yang selalu turun kebawah tanpa ada pergerakan keatas? Atau lo mau jadi aliran air yang selalu nerima semua dampak dari habitat-habitat baru disetiap perjalanan lo? "
Jleeeeb...
Athala merasakan sesak yang mendalam didadanya, ia memejamkan matanya membenarkan perkataan Raga.
"Thanks, lo udah sadarin gue."
"No problem, gue kan temen lo. Jadi sebagai temen, kita harus saling tolong. Kaya gue sekarang lagi laper, dirumah lo ada apaan, Thal? "
"Ada pintu, tembok, jendela. Emak gue lagi di Malang, Ga. Gue cuma dijatah mie instan. Lagian lo mana tahu rumah gue? "Hela berat Athala.
"Hehehe, enggak tapi gue bakal lacak di Google map. BTW, lo gak tidur? Kan udah malem besok sekolah. Tugas matematika lo selesai apa belum? "
"Huwahahaha, Ga. Kaya gak kenal gue aja. Gue anti ngerjain tugas matematika, gue sebenarnya udah ngantuk. Tapi, nemenin lo aja. "
"Oh, yaudah tidur aja. Besok kita lanjutin. Bay, Thal. Good night. "
"Hmmm". Athala memutuskan untuk segera tidur agar ia bisa bangun pagi dan membuat sarapan sendiri karena orang tuanya tidak berada dirumah.
Pagi harinya, Athala berangkat pagi mencari turunan tugas matematika. Setelah lama berkutat, datanglah Resya yang seperti biasa menyerngit heran.
"Ngapain lo? "
"Ngerjain PR matematika. Emang lo udah? "
"Udah, nanti gue salin buku punya lo. Yang rajin ya ngerjainnya... Angkanya yang jelas. "
"Bangsat! Bawel lo. "
Resya terkikik melihat reaksi Athala. Tiba -tiba, pandangan mereka berdua terarah melihat kedatangan Raga yang seperti biasa. Langkah gemulai, tampang minta ditabok (kata Resya) dan penampilan yang cool.
Braaaaak.
Buku ditutup oleh Athala. Nampak Resya yang terkejut memandangnya lalu menyerngit.
"Kenapa lo? "
"Lo tahu gak, kemarin malem gue ditelfon sama Bangke gila tuh. "Ucap Athala sambil menunjuk Raga yang juga tengah memandang mereka. Sedangkan Athala yang ketahuan memandanginya, menyengir.
"Serius? Kenapa? Gue kemarin juga gitu. Dispam sama ditelfon, tapi gak pernah gue bales. Gue udah males. Katanya janji mau berubah, nyatanya? Basi. "Athala mengangguk dan kembali berkutat dengan tugasnya setelah guru matematika datang. Lain dengan Resya yang semakin mengerutkan kening.
"Masih ada lain waktu, sekarang belum saatnya. "Batin Athala.
Bel istirahat berbunyi. Hanya rombongan Athala cs yang selalu keluar lebih dahulu. Athala sangat menyukai eskrim capucino kantin dan tak pernah melewatkannya, bahkan sehari bisa menghabiskan 2 cup.
"Eh, lo tadi belum cerita. "Tagih Resya pada Athala. Sedangkan gadis itu tengah mencoba membuka bungkus coklat lalu membuangnya sembarangan di anak tangga tanpa dosa.
Blettttakkk...
"Anjing Gila! Apaan sih gong? "Ucap Athala sambil berjalan menuju kelas dan mengusap kepalanya.
"Athala...... "Teriak teman Athala yang lain dibelakang. Gadis itu hanya memutar tubuhnya menoleh kearah orang yang memanggilnya lalu mengedikkan bahunya acuh.
"Ya, gini. Punya temen abstrak, kaya sekolah punya nenek moyang lo aja. "Desah Resya.
Athala berlari setelah sampai kekelasnya lalu kembali didekat Resya dan sedikit berbisik, "Whatever, lo kalo ngomong yang santai aja. Gausah desah gitu. "
Bugh.
Satu bogeman mendarat dilengan Athala, dia sangat senang sekali menggoda Resya.
"Lo kebanyakan baca konten dewasa. Anjir, beruntung banget punya muka polos lo. Gak ada yang nyangka ternyata bangsati juga. "Cibir Resya pada Athala yang tengah terkekeh melihatnya.
"Sssttt, jangan keras-keras nanti didenger anak-anak. Pamor gue bakal jatuh. "
Athala memang dikenal salah satu most wanted disekolah. Ia mempunyai pesona yang tak kalah dengan most wanted lainnya. Banyak cowok yang tak tanggung -tanggung mendekatinya. Dari siswa yang good boy sampai bad boy serta kalangan playboy sekalipun.
Rambutnya yang panjang bergelombang, matanya yang hazel, tubuhnya yang langsing dan tinggi bak model, juga kulitnya yang mulus. Serta, keramahan dan loyal dalam bersosialisasi dengan sekitarnya. Namun sama sekali tak mengubah status jomblo happy miliknya.
Athala tengah duduk dihadapan Raga saat ini ketika Resya tengah sibuk rapat dengan guru ketrampilan. Sedangkan hari ini mereka dalam keadaan jam kosong.
"Gimana? "Tanya Raga dengan posisi menghadap lawan bicaranya yang sama-sama duduk diatas meja.
"Sabar dulu ya, Ga. Pelan-pelan. Bikin orang kembali percaya setelah dihianati itu susah. "
"Thanks ya, BTW lo mau ikut gue ngopi gak pulang sekolah? "Ajak Raga, namun keduanya jadi menoleh kearah siswi-siswi yang riuh meneriaki mereka berdua.
"Gak, biarin aja. Kalo udah Capek, bisa berhenti sendiri kok. "Ucap Athala datar.
"Gebetan lo gimana? "Tanya Raga. Ya, semua orang tahu kalau Athala memiliki gebetan lain kelas. Anggota band yang manis dan juga diidolai para siswi. Lebih tepatnya gitaris, namun juga terkenal badboy.
"Gue sama dia itu cuma sahabatan, lainnya mungkin nganggepnya beda. Males gue harus ngomong satu per satu. Gue paling gak suka adu bacot. Gue lebih suka aksi. "Jawabnya diikuti anggukan Raga.
"Nanti malem ada ekstra disekolah. Lo ikut? "
"Iya, gue ngisi acaranya juga. Yaudah kalo gitu, nanti dilanjutin lagi. "Jawab Athala setelah Resya datang memandangi mereka berdua.
"Dugong.... Temenin gue ke Kamar Mandi yuk. "Teriak Athala turun dari meja dan berlari kearah Resya, sedangkan gadis yang dipanggilnya menyerngit heran.Keduanya kini berjalan menuruni tangga. Resya menandang Athala penuh selidik.
"Tadi kalian ngomong apaan? "Athala menghela nafasnya berat.
Sambil menjawab, "lo mau gak maafin Raga. Kalo udah angkat tangan bantuin dia, gue yang minta tolong ke elo. Bantuin gue ngarahin Raga kejalan yang benar. Kita nanggung bareng-bareng. Gue mohon, Res... "Resya mulai mengangguk paham. Ia nampak berfikir sejenak.
"It's okay, gue paham. Gue udah maafin kok. Sekarang buruan, gue tungguin disini. "Ucap Resya sambil menunjuk toilet.
"Maksud gue kamar mandi lurus belok kiri. Yok"
"Anjing, kantin dong. "Ucap Resya sambil menepuk jidat dan mulai menyusul langkah kaki Athala.
Kali ini sekolah Athala sedang menggelar ekstra malam yang menampilkan drama Ramayana. Athala yang menjadi penyanyi sedang duduk bersantai bersama temannya tarik suara bernama Nuri. Ia sedang berbincang berdua, hingga handphone Athala berdering menampilkan notifikasi tanda chat masuk.