Emotional

991 Words
Dering HP membuyarkan kegiatan Athala bermain catur. Ia melihat notifikasi yang masuk dari Resya dan teman-teman lainnya di grup. Ia menaruh kembali HPnya lalu melanjutkan kegiatan dengan menulis di diary. Dear diary, Tawa mereka menghuni rumah sepi. Ku sendiri meringkuk diri, tak terasa airmataku jatuh tepat dipipi. Mengingat memori hitam-kelabu. Jika pada kenyataannya jadi dewasa itu begini, tak akan ku minta jadi seperti ini. Aku masih membutuhkan timangan bunda, Bodoh. Mau mau patahkan tangan bundamu? Egois sekali. Biarkan mereka bahagia, apa kurang taburan uang padamu? Hingga kau masih tak terima. Athala menutup bukunya dan menutup mulutnya rapat-rapat. Ia menghadap kearah cermin kamarnya. Ia berteriak dalam hatinya, seiring air mata yang terus mengalir. Sesak memenuhi dadanya, tubuhnya melemas seketika. Otot lehernya mengencang seakan kerasnya jeritan dalam hatinya. "Bu, ibu bikin sarapan apa? "Tanya Athala yang sudah siap dengan seragamnya. "Ibu gak bikin sarapan buat kamu, Thal. Ibu puasa nazar buat kamu menang lomba. " Mendengar penuturan ibunya, hatinya mulai menghangat. Ia bertekad akan bertempur mati-matian untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa ia patut dibanggakan. Athala berangkat ke sekolah dengan riang, senyum selalu terpancar dari raut wajahnya. Ia duduk diantara teman-teman perempuannya dan ikut berbincang-bincang. Tiba-tiba seorang gadis melewati kerumunan Athala. Pandangan Athala tak lepas pandangan dari gadis yang tengah membawa papan catur. Dia berlari kearah kerumunan teman-temannya yang tak lain adalah kelas tetangga sebelahnya. "Oiiii... Gue menang.... "Teriaknya nyaring hingga membuat Athala keringat dingin. "Gue bisa gak ya? "Batinnya berkecil hati. "Thal, tanding lo kapan? "Tanya Zahwa temannya yang memasang tampang mengejek. Ia tahu bahwa Zahwa lebih pintar darinya dan mungkin Zahwa lebih jago darinya. "Em.. Besok gue tanding guys, waktunya sama kaya futsalnya kita. So, gue gak bisa suporterin anak cowok. "Ucap Athala menyesal, ia sangat ingin sekali melihat pahlawan-pahlawan kelasnya bertanding. Kelasnya terkenal dengan jawara futsal yang paling disegani. Mengalahkan mereka adalah keajaiban tuhan, begitu ucap sebagian orang. Ditambah pemainnya yang tampan dan cekatan dan ketua timnya yang tangguh dan sulit dilumpuhkan. Sedangkan kipernya yang begitu handal, menjaga gawang mati-matian dengan segenap jiwa dan raga. "Hahaha, menang-is.... "Lanjut gadis tadi memecah konsentrasi kerumunan Athala. Athala menggigit kukunya gugup. "Kalo dia aja kalah, gue kayak apa? Apa musuhnya tangguh-tangguh? "Pasrah Athala. "Tenang, Thal. Lo pasti bisa, semangaaaat... Sori kalo kita gak bisa dukung lo, cuma doa kita selalu menyertai lo. "Ucap teman-teman perempuannya. Yah, setidaknya dia sudah bertekat maju mati-matian esok. Dia memang tidak mengharapkan ditemani oleh teman-temannya karena takut memecah konsentrasinya. "Gue padahal pengen banget liat anak-anak tanding futsal. " "Hahaha, gue dong enak. Gausah mikir, kayu dipikir. Tenang Thal, kita gak salahin lo kalo kalah,yang penting lo udah usaha."Ucap Zahwa yang dilirik Athala tak suka.Athala hanya tersenyum dan mengangguk. Ia menantikan esok hari dengan belajar dan latihan dengan giat. Hingga hari yang ditunggunya Tiba, hari ini pertandingan kelas Athala akan dimulai dalam waktu yang bersamaan dengan tempat yang berbeda. Athala menaiki tangga menuju arena tandingnya, ia meneguk ludahnya Susah payah melihat banyaknya orang yang saling duduk berhadapan, baik putra maupun putri. Ia juga melihat temannya menjadi panitia. Mereka saling sapa, namun Athala nampak canggung dan gusar. Sejak tadi ia berkeringat dingin melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan. Ia bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Linda. Ia juga salah satu jawara catur dan sering mengikuti perlombaan mewakili sekolahnya tingkat SMP dulu. Lawan mereka cukup berat, kelas IPA jurusan Axelerasi. Namun dengan usaha dan doa, pada akhirnya Athala keluar terlebih dahulu setelah berhasil mengalahkan lawannya. Ia menanti teman barunya bernama Linda. Ia juga keluar menyusul Athala dengan wajah yang berbinar. Athala tersenyum kepadanya dan mengajaknya melihat pertandingan futsal. Athala pulang kerumah dengan wajah bahagia yang terpancar meski sedikit lelah memutar otak habis-habisan. Dan masih ada waktu satu hari lagi menuju final. Ia sungguh tak menyangka bisa sejauh ini. Teman -temannya juga sedang berkonsentrasi pada perlombaan futsal. Karena memang futsal kelas mereka juga lolos final. "Bu...Athala masuk final.... "Teriaknya bahagia. "Yang bener? "Ucap ibunya memastikan sedangkan ayahnya yang nampak tak percaya dengan prestasi anaknya. "Yah, esok ajari aku yaa.... Aku mohon... " "Hmmm, baiklah. " Athala sangat bersemangat dilatih ayahnya. Serius, berfikir keras, ia tanpa lelah berlatih seharian penuh. Seakan esok hari adalah pertempuran antara hidup dan mati. Kelas Athala menghadapi pertempuran sengit. Yang pada akhirnya, futsal mereka harus mendapat juara harapan 1. Sedangkan Athala kini berhadapan dengan kawannya Linda, sehingga mereka menjadi lawan. Akhirnya Athala kalah dironde kedua, konsentrasinya terpecah sehingga ia mendapat juara harapan 1. Ia menghela nafasnya berat untuk pulang menuju rumahnya. "Bu, maafin Athala ya. Athala kalah di final. "Ucapnya setelah menghadap kedua orang tuanya. "Gak papa, Thal. Ibu sudah bangga kamu lolos masuk final. Mungkin kamu sudah lelah. "Ucap ibu Athala menyemangati, Athala mengangguk meski berat hati. Ia kembali menuju kamarnya dan berkumpul bersama dunianya, satu-satunya hal yang bisa membuatnya Moody seketika. Athala sangat menyukai hal-hal yang berbau desain. Ia juga memiliki hobi yang berkaitan dengan kelincahan tangan. Sayang sekali Athala dibatasi dalam keluar rumah. Ia selalu mencari kesibukan lain dengan menulis novel remaja, sedangkan buku bacaannya tentang action. Dia sangat mengidolai figur Mafia dalam novel. Ia juga berharap bisa bergabung atau mengabdi pada salah satu Mafia, meski tahu hidup seorang Mafia sangatlah sulit untuk dijalani. "Novel lagi, novel lagi. Gak ada kegiatan yang lebih bermanfaat apa?! "Sentak ibu Athala mengagetkan. "Ini cuma iseng bu, dari pada bete dirumah. "Hela nafas berat Athala. "Emang dengan novel bisa keluarin uang? Enggak kan? Maanfaatnya apa, Thal... Ibu capek selalu nasehatin kamu, udah dewasa bukannya makin sadar kewajiban. Malah tambah teledor. Gimana nantinya kalau sudah berumah tangga?! " "Maaf, bu. Nanti Athala beres-beres rumah. "Ucapnya berat melihat ibunya yang sudah keluar dari kamarnya. "Desain salah, nulis novel gak ada gunanya, melukis dikata kaya anak TK. Terus gue harus gimana? Masa remaja gue gini amat. Gue gak akan dendam sama mereka gimanapun sikapnya, cuma gue bisa belajar dari mereka. Gue akan lebih terbuka sama mereka. Cukup gue yang ngerasain orang tua kolot, gue tau mereka itu sayang. Cuma terlalu over. "Cicitnya kecil menyemangati dirinya sendiri yang sedari tadi dadanya terus memompa cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD