Doi :
Aku udah dateng lho? Jadi cari makannya?
Athala nampak clingukan mencari sosok pria yang ia nantikan.
"Lo dimana sih, Ang? "Balas Athala.
Doi :
Dimana mana ada, buruan latihannya. Gue tinggal pulang nih.
Athala semakin kelabakan mencari keberadaan pria itu. Namun pandangannya terkunci melihat samping kanannya. Sosok pria yang manis tengah duduk menantinya. Mereka saling melempar senyum dan mengirim chat. Setelah selesai latihan, Athala mencari Angga kepenjuru sekolah. Tapi malah menemukan Yoga dan Raga yang tengah duduk di gazebo.
"Lah, ngapain kalian kesini? "
"Nyari momok. "Jawab Yoga sambil cengengesan bak orang berkebutuhan khusus.
"Momok? "Tanya Athala kebingungan.
"Hantu. Biasa Yoga kan jomblo, terpaksa gandengan sama mbak kunti. "Jawab Raga singkat dan datar, diangguki paham Athala.
"Ga, lo bawa charger gak? HP gue lowbat. "Tanya Athala pada Raga.
"Bawa, nih. "Sambil menyerahkan charger ditangan Athala. Namun tangan gadis itu digenggamnya, Athala berontak dan menarik tangannya. Seketika ia terdiam melihat sosok yang dicarinya melihat adegan pegang tangan dengan Raga, cowok paling badboy disekolah. Ia segera berlalu dan menghampiri Angga, temannya. Mereka akhirnya berbincang-bincang hingga Angga memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Perasaan Athala berkecamuk memikirkan kelakuan Raga padanya, ia takut kalau Angga beranggapan yang tidak -tidak.
Keesokan harinya, Athala kembali bersekolah. Ia melihat Raga dan menghampirinya. Semua siswi nampak berpandangan buruk dengan kedekatan keduanya.
"Nih, gue balikin charger punya lo. Tugas wali kelas udah lo kerjain? Udah ditagih tuh. Kaya orang banyak utangnya aja. "Ucap Athala sambil terkikik, sedangkan Raga tengah menatap bingung. Athala menyodorkan bukunya dihadapan Raga. Pria itu menatapnya tambah bingung.
"Tinggal lo tumpuk. "
"Gue gak ngerjain ini. "
"Diem, gausah banyak Tanya. Dan gausah pake wajah tolol. Gue yang kerjain. Tinggal lo tumpuk."
Raga membalikkan bukunya dan mendapati nama yang tertera dibuku tugasnya, Reza Raga G. Dari luar dan dalam terlihat masih baru. Namun sudah terisi angka-angka yang rapi.
Saat guru matematika datang, Athala memberikan ia jempol dan kedipan mata lalu kembali kebangkunya.
"Lo ngerjain tugasnya Raga? "Tanya Resya memastikan. Lain halnya dengan Athala yang mengangguk.
"Setidaknya mencegah dia didepak dari sekolah kan kasihan. Gue bakal berusaha mati-matian bantuin dia, gue udah janji. "
"Setidaknya biarkan dia berusaha, kalau dibuat enak. Dia kapan punya kerja keras hasil usahanya sendiri? "Athala mengangguk dan melihat kedepan, nampak Raga yang berjalan ke meja guru dan memberikan tugasnya dihadapan guru tersebut.Para siswa yang masih terbengong, sedangkan pak gurunya yang melotot kearahnya. Nampak acuh ia berjalan santai kembali ke bangkunya.
"Thal, gue titip beliin air mineral 1 ya? "Pinta Raga pada Athala yang sedang berjalan kearah pintu untuk beristirahat.
"Okey. "Ucapnya singkat, padat, dan jelas sambil tersenyum ramah pada Raga sebelum lenyap.
"Res, jangan cemburut aja. Kenapa sih lo? Kurang baca konten dewasa ya lo? "Tanya Athala polos dihadapan Resya yang sedang memasang muka serius.
“Eh, Thala. Cewek yang lagi deket sama Raga itu kan? "Ucap seorang gadis lain kelas yang secara terang- terangan menyindirnya.
Athala hanya diam dan melirik mereka sebentar lalu pergi, lain dengan rombongan Angga yang mulai menghindari kontak dengan Athala. Athala hanya mengedikkan bahunya acuh, toh Angga bukan siapa-siapanya. Lagi pula Angga juga cowok Yang sering menggoda gadis cantik lain disekolah. Athala memang menyukai sosok Angga sebagai figur yang dikaguminya. Namun teman-teman lain menafsirkannya berbeda. Ia sama sekali tak pernah membalas ucapan orang-orang yang selalu menyindirnya. Ia lebih suka diam dan beraksi ketimbang kebanyakan bacot.
"Nama lo Bella kan? "Tanya Resya yang tak kalah sengitnya. Resya sosok yang berani menantang, mulutnya yang terkenal pedas seperti cabe kering.
"Napa? Lo belain anak lo ini? "Tunjuk Bella pada Athala. Athala yang sedari diam kini mulai tersulut emosi menatap keduanya adu mulut dengan sengit di bawah tangga. Matanya mulai memerah dan dadanya mulai tak beraturan.
Bugh.
Satu hantaman mengenai samping kepala Bella. Athala meninju dinding sebagai tanda peringatan, ia memojokkan gadis itu yang sekarang tengah terdiam ketakutan.
"Untung posisi lo ada disekolah, kalo bukan disini. Udah gue remukin leher lo. "Ucap Athala sakrastik dengan masih bernafas tak beraturan.Semua terdiam, Resya membulatkan matanya melihat Athala yang sedang menghantam tembok.
"Gu-gue cu-cuma bercanda kok. "Ucap Bella tergagap. Athala tersenyum sinis dan tertawa sumbang, suaranya terdengar dingin hingga semua yang menatapnya gemetar.
"Sekali lo ganggu gue, gue bolong pala lo. "Ucap Athala meninggalkan tangga diikuti Resya.
Mereka berdua berjalan beriringan nampak canggung. Resya benar-benar tidak menyangka kalau Athala yang lemah lembut, pendiam dan juga lucu itu bisa dingin bahkan menakutkan. Sedangkan Athala yang masih sibuk mengatur emosinya. Tangannya masih terkepal.