"Lo, lo gak papa kan, Thal? "Tanya Resya hati-hati. Athala menghembuskan nafasnya berat, tangannya sudah mulai mengendur namun matanya masih memerah.
"Gini ya Res, gue mau jujur sama lo. Gue punya penyakit depresi, dan itupun gue udah nahan supaya yang lain gak tahu, cuma kadang gue gak kontrol. Entah lo mau temenan sama gue lagi apa enggak, itu keputusan lo. "Ucap Athala tenang menghadap Resya sepelan mungkin agar teman sekelasnya tidak mendengar pembicaraan mereka berdua. Awalnya, Resya nampak syok mendengar penuturan Athala, gadis yang biasanya periang dan suka usil itu mempunyai masalah kejiwaan?
"Gue mau kok, Thal. Gue nerima lo sebagai sahabat gue apa-adanya. Gue bahkan seneng kalo lo mau terbuka sama gue, gue bahkan janji buat bantu lo sembuh atau lebih baik dan tetap menjaga rahasia lo. "
"Thanks, lo emang the best."Ucap Athala dengan pandangan kosong.
"Thal, emang kenapa lo bisa kena penyakit itu? "Tanya Resya tak enak.
"Perubahan secara spontan atau mungkin mendadak. Dan gue masih beradaptasi sedikit kesusahan. Bisa juga waktu itu gue banyak fikiran ataupun tekanan. "
"Maksud gue asal mulanya gimana? "
"Ooh... Perbedaan perlakuan gue sama adek gue, gue tau gue egois, gue udah berusaha merubah sikap gue. Tapi terkadang perlakuan mereka bikin gue gak tahan. Mereka terlalu over dan kolot, sering juga kebanyakan fikiran karena tugas menumpuk atau ekstra lain dalam satu waktu. "Ucapnya Athala diangguki Resya.
"Emm... Lo pernah ke BK? "Tanya Resya hati-hati. Athala menyerngitkan keningnya antara bingung dan tidak suka. Ia mengangkat sebelah alisnya, kenapa ia tidak mencobanya?
"Gue masih belum siap, lo tahu gue orangnya tertutup. "Ucapnya Athala diangguki Resya.
"Kita coba dulu yuk, besok gimana? "
"Yaudah. "Athala tengah berfikir keras, ia bimbang harus bagaimana esok dihadapan guru BK-nya. Ia menghembuskan nafasnya berat dan menyibukkan diri dengan bermain internet belakangan ini. Apa yang ia kerjakan? Membajak akun orang lain.
Selain itu, ia juga mulai suka menulis puisi. Ia berharap suatu saat nanti ia bisa menyanyikan puisi buatannya. Menurutnya puisi karya Athala adalah puisi yang penuh akan teka-teki, kata-katanya yang Indah dan tersirat banyak makna. Ia tak ingin dipaksa untuk berkarya, hanya ia akan berkarya untuk meluapkan segala rasa dan emosinya. Memang kebanyakan dari karyanya bertema kesedihan dan keterpurukan. Tapi, memang begitulah.
Keesokan harinya, Resya dan Athala benar-benar mendatangi ruang BK tanpa sepengetahuan teman-temannya. Dihadapan mereka sudah dinanti guru perempuan berkaca mata. Resya mulai membantu mengutarakan masalah Athala. Sedangkan gadis itu tengah berkeringat dingin memilin seragamnya. Hanya lewat pandangan mata, Athala mulai menangis dan bergerak untuk mengutarakan semua unek-uneknya selama ini.
"Saya punya orang tua, dulunya saya selalu dimanja dan perhatian. Tapi semakin lama, mereka bersikap kasar. Kata-katanya yang menyayat, perlakuan yang bagai pembantu. Tak sekalipun selalu dihargai, seakan saya dimata mereka itu salah. Disaat semua anak bisa merasakan dunia luar, saya hanya bisa membayangkannya. Rasanya bagai hidup sendiri dan diasingkan. Hanya uang, yang mereka beri. Begitu tawa mereka berasal dari kelakuan adik saya, maka saya merasa saya hanya memberikan beban bagi mereka. Dewasa itu berat, saya selalu bersikap kanak-kanakan agar rasa sakit itu terasa manis. Tapi tidak dimana saja. Pasti mendapat cibiran. Mereka yang selalu disekelilingku, tak pernah bisa menyembuhkan lukaku. Saat mereka tertawa, aku ikut tertawa. Namun dihati nampak kosong. "
Setelah semua peristiwa yang ia jalani dan belakangan ini membuatnya depresi berat. Guru itupun mulai menyimpulkan, "Kamu itu gadis yang, maaf dibilang egois. Benar? Kamu tidak melihat beberapa kasih sayang dan pengorbanan kedua orang tuamu bukan? "
Setetes air mata berjatuhan, penampilan Athala kini sudah berantakan. Mata sembab, seragam basah, hidung merah. Ia mulai mengangguk setuju dan ada yang tidak.
"Ibu malahan sering kasar sama anak ibu kalo lagi salah, tapi ibu selalu minta maaf sama dia. Mungkin itu yang kamu harapkan? "Athala mulai mengangguk dan meratapi nasibnya yang memiliki orangtua kolot, over, dan keras. Ia selalu yang dianggap salah, dan mereka selalu benar.
“Ada kalanya mereka lelah dan meluapkan rasa kesalnya padamu. Tapi ingatlah nak, semua itu untuk kamu. Berfikirlah positif, dan jangan terlalu banyak beban. Apa kamu mau terus-terusan depresi? "Athala hanya menggeleng.
"Kamu lihat teman kamu, apa menurut kamu ia hidup selalu bahagia. Mungkin kamu tak tahu karena dia menutupinya agar semua orang tidak tahu, bisa jadi masalah kamu itu lebih ringan dari masalah yang ia hadapi. Jadi, bangunlah nak. Syukuri apa yang ada. Lihatlah perjuangan ayahmu dalam bekerja. Dan biasakan dekat dengan tuhan ya nak."Athala mulai mengangguk dan selalu mengulang-ulang kata guru BK bagai kaset rusak. Ia mulai menyeka airmata dan izin pergi kekelas. Ia mulai membasuh air matanya lalu ikut Resya berjalan naik. Semua siswa nampak menatapnya bingung.
"Lo abis nangis lagi, Thal? "Athala hanya menggeleng dan tersenyum. Resya yang tengah terdiam bingung ingin menjawab apa.
"Gue cuma ngantuk aja. Gue boleh bolos gak sehari... Aja, gue capek. "Minta Athala pada Resya dan diangguki setuju.
"Gak papa tidur aja dipangkuan gue. "Athala terbaring dipangkuan Resya, rambutnya dibelai halus. Semua teman yang menatapnya menyerngit heran dan bertanya-tanya. 15 menit Athala diam dengan posisinya. Ia tidak tidur, hanya ketika ia lelah dengan semua yang dideritanya. Ia butuh melepaskannya sejenak kan?
Athala terbangun dengan wajah yang sama, sembab. Ia terbangun mendapati suasana kelas yang sepi karena jam istirahat. Ia berjalan keluar dari kelasnya dan mulai membaur dengan semuanya.
"Lo tadi abis nangis kan, Thal? "Athala hanya tersenyum dan menggeleng ketika temannya bertanya, dengan dialog yang sama. Ia menatap lurus kearah Ayu dan temannya sebangku berjalan kearah kelas sambil meminum minumannya.Tangannya terlentang menahan dua orang tersebut sambil menyengir. Sedangkan keduanya menatap jengah.
"Sari bawa es Capucino ya? "Tanya Athala memasang wajah polos. Tanpa ba-bi-bu, Athala memasang muka seimut mungkin.
"Minta ya... "Diangguki lawannya lalu meraih minuman dan mulai mencicipinya.
Sedangkan Resya yang barusaja keluar dari kelas menatap teman-temannya yang berjajar rapi duduk dikursi panjang sambil bergosip dan makan camilan. Athala menghampirinya dengan senyum smirk andalan mereka.