"Chef? Are you ready? "Tanya Athala semakin licik, diangguki Resya.
Langkah keduanya menghampiri gerombolan sambil membuka wadah snack teman-temannya lalu memakannya.
"Dasar tukang palak. "Umpat Ayu geram pada keduanya. Sedangkan yang diumpat malah cengengesan.
"Adegan berbahaya, jangan sekali-kali meniru kecuali dibawah pengawasan orang dewasa. "Peringat Athala ditertawai Resya.
Hari ini hari dimana sekolah Athala merayakan ulang tahunnya. Program yang dijalankan adalah lomba karnaval. Tiap kelas diharuskan menyiapkan stand bazar dan parade kostum. Sudah hampir seminggu mereka bekerja dari petang ke petang. Lapar tak mereka hiraukan, uang harus tandas, dan tenaga yang terus tercurah.
"Hueeee... Lapeeer... "Rengek Athala pada Resya yang tengah sibuk memasang hiasan pada kostum pria.
"Gue juga laper nyet, mau gimana lagi. Kerjaan masih banyak. "
"Nyari bakso yuk. "
"Tapi habis ini gue pulang ya, nyari bahan. "Ucap Resya diangguki Athala.
Pada akhirnya, mereka berdua pamit untuk mencari makan. Setelah Resya pulang, kini Athala yang disibukkan dengan agenda kostum. Athala yang terpilih sebagai pendesain kostum dibawah pengawasan Raga selaku senior dan Aidan selaku ketua kelasnya.
"Yu, gue masih lapeeeer...."Rengek Athala pada Ayu.
"Dari tadi dialog lo gaada yang lebih faedah selain LAPER? " Bukan Ayu, tapi Ragalah yang mencibirnya.
"Gue laper gaa... Gapunya uang. "Rengeknya didekat Raga dan mencolek cat pada pria itu.
"Ish, gue kadang gak makan sehari aja masih hidup. Nih!"Merasa terganggu dengan sikapnya, Raga melemparkan uangnya kepada Athala diikuti wajah Athala yang tolol.
"Apa?! Gue kan cewek...."
"Laperkan? Sana beli. "Athala mengangguk dan nyengir kehadapannya. Ia mengguncang tubuh pria itu sambil mengoceh nyaring.
"Beneran? Makasih.... Makasiiih..."
"Diem bawel, sana. "
"Iya, maacih Raga.... AYUUUU TEMENIN GUE CARI MAKAN... "
"BACOT, budeg gue. Itu mulut apa selangk*angan?!"
"Astopilloh, Raga. Jaga mulut kamu nak, gak baek didenger orang. "Gaya kaget berlebihan Athala sambil masang tampang watados.
Kini Athala sampai kembali kesekolah setelah lama membeli makanan. Namun, nampak mendung menyelimuti gedung sekolah. Semua siswa nampak gusar memandang langit yang mulai menggelap. Hembusan angin yang dingin menusuk tulang, membuat Athala memeluk tubuhnya erat. Seperti kegian yang selalu ia lakukan. Yaitu memalak. Athala mengambil roti goreng milik temannya yang memang khusus dibelikan untuk dibagi.
Athala mengunyah sambil merilekskan otaknya. Baru habis setengah, Raga menyerobot makanannya dan langsung memasukkan kedalam mulut pria tersebut. Terus menerus hingga ia kenyang sendiri makan. Raga lebih suka makan apapun dari serobotan dari pada mengambilnya langsung. Dan yang paling ia favoritkan adalah milik Athala, karena gadis itu sama sekali tak mempermasalahkan sikapnya.
Suasana mulai mendingin kala petang menjadi malam, semua nampak lelah dengan pekerjaan mereka. Raga yang paling berperan aktif, tanpa lelah memberi intruksi pada teman-temannya sekaligus motivasi.
Athala yang tengah menunggu Resya dihari terakhir mereka lembur. Esok adalah hari dimana pesta akan digelar, Athala yang sudah lelah tidak fokus menyetir hingga membuat motor milik Resya mengerem mendadak.
"So-sori.. Gue gak fokus. "Ucap Athala pada Resya. Sedangkan gadis diboncengannya hanya diam.Suara sesegukan dari belakang, membuat Athala naik pitam. Entah kenapa melihat sahabatnya, Athala tak tega dan selalu berhasil kambuh. Ia menggebrak setir dan mengegas kuat-kuat hingga motor melesat tak terkendali.
"Udah ya, Res.. Jangan nangis... Kalo lo nangis itu buktiin kalo lo lemah. "Semangat Athala yang sudah menguasai emosinya dengan cepat.
"Nanti kalo mau naik kekelas kita ke toilet dulu yuk. "Pinta Resya diangguki Athala. Athala yang bersikap baik-baik saja nyatanya tidak.
Setelah masuk keruangan kelasnya yang masih rusuh, membuatnya naik pitam. Matanya memerah, rahangnya menegang keras, otot lehernya kaku, dadanya memompa cepat dan kepalanya berdenyut keras. Semua siswa menatapnya heran. Sedangkan Resya yang sudah menagis ditenangkan oleh Irfan.
"Kenapa Res? "
"Gue capeek, Fan. Lihat yang lain semua udah selesai, kita? Kita belum jadi apa-apa"
"Lo capek? Kita juga capek Res, lo gausah mikirin dalem-dalem. Ada kita, lo gak kuat kan? Mending lo pulang, besok lo yang jaga stand kan? "Bujuk Irfan lembut penuh perhatian mengadap Resya yang tengah menangis dengan posisi kakinya yang berjongkok. Resya menggeleng dan bersikukuh pada keputusannya.
"Gue gak mau egois, anak-anak juga butuh gue. Kalo pun gue tidur, gue gak bisa tenang. Gue pasti kefikiran, Fan. "
“Yaudah, lo boleh nemenin anak-anak. Asal lo jangan nangis lagi. "Ucap Irfan diangguki Resya dan mulai membawanya masuk ke kelas.
Lain dengan Athala yang sudah menghabiskan 2 botol air mineral untuk mengguyur kepalanya yang terasa akan pecah.Tangannya terus meremas botol, menggebrak pintu, dan memukul tembok berkali-kali untuk meluapkan emosinya. Tangannya yang sedari tadi berkedut, membuatnya frustasi dan lemas.
Asmara, salah satu teman Athala yang menjadi maskot itupun membawa Athala masuk dan mendudukkannya bersandar meja sambil menyelimutinya. Ia memberikannya air minum dan roti untuk mengisi tubuhnya yang lemas.
"Thal, lo pulang ya? Badan lo gak kuat, lo kecapean. Jangan dipaksa. "
"Gak papa, cuma gue terguncang aja. Gue mau keluar sebentar. "Ucap Athala menuruni tangga yang sunyi dan gelap. Ia menyalakan sepuntung rokok dan mulai gemetar memeganya. Lalu mulai rileks bersamaan dengan asap yang keluar dari mulutnya.
"Drama queen, eh? "Cibir suara bass dibelakangnya. Ia merasa ada laki-laki tengah duduk disampingnya yang juga mengepulkan asap rokok.
"Gak, baik banyak ngerokok. "Ucap Raga ditatapi jengah Athala karena pria itu datang hanya bertelanjang dada dan nenyapirkan jaletnya dipundak.
"Dikiranya jaket cuma pajangan? Pundak cantolan? Bener-bener batu ni anak. Dingin begini gak kerasa"batin Athala memandangnya.
"Tau apa lo, gue capek, Ga. "
"Lo gak lihat gue? Gue lebih capek, Thal... Kenapa lo ngeyel banget, pliss lo jangan tambahin beban temen lo.
"Maaf, gue salah. Gue gak kontrol. "
"Ikut gue yuk, balapan. Mau? "Tanya Raga ragu-ragu. Ia tidak tahu mau bagaimana lagi membujuk Athala.
Gadis itu mengangguk dan ikut Raga ke arena balapan liar. Riuh semua orang dengan motornya masing-masing. Athala mengikuti Raga menghampiri sosok pria dengan motor mahalnya. Athala hanya memandang pria itu jengah tanpa rasa ketertarikannya. Mereka saling berjabat tangan, sesekali pria itu mengerling kearah Athala.
"Ga, cantik. Gimana kalo kita balapan. Kalo gue yang menang, cewek lo buat gue. Kalo gue yang kalah... Motor baru gue buat elo."Athala menyerngit tak setuju. Hatinya menjerit mendengar pria dihadapannya.
"Sori, dia bukan salah satu cabe-cabean koleksi gue, dia sohib gue. Gue gak akan biarin siapapun sakitin dia, termasuk lo! "
"Widiiiih... Temen, apa temen? Atau.. Lo takut kalah sama gue, secara motor gue mahal, dan skill gue yang TOP. "
"Cih, tanding aja, Ga. Sumpel tu mulutnya yang kayak air comberan. "Sengat Athala yang sudah terpancing emosi.
"Lo-lo serius? "Tanya Raga kaget. Athala mengangguk dan memperbolehkan Raga untuk bertanding melawan pria songong dihadapannya. Memang tampan, tapi kelakuannya yang minus.
Pergulatan sengit dijalanan membuat para penonton dan pembalap lainnya fokus pada arena. Disana Raga dan Rivalnya tengah memacu kendaraanya didetik-detik terakhir. Merasa tau apa yang selanjutnya terjadi, Athala segera menelfon seseorang dengan geram.