Back To Indonesia

700 Words
"Kami sangat berhutang Budi pada nona Athala yang sudah mau menyelamatkan perusahan dan rela mengorbankan nyawanya. Kami sungguh berduka atas meninggalnya nona Athala. "Ucap Athala dengan gayanya yang baru. Ia sama sekali tak melepas masker hitamnya dengan kacamata besar dan kepangan rambut pirangnya. Keadaan rumahnya begitu dramatis. Ibunya berkali-kali histeris dan terjatuh pingsan sesekali berteriak memanggil namanya. Athala sudah tak kuasa melihat ibunya yang begitu tersiksa. Ayahnya yang terkenal dingin itu menitikkan air matanya. Athala izin pada D. Evil untuk menjernihkan fikirannya dan akan kembali setelah pemakaman. Semua alumni berkumpul melayat kerumahnya. Ia sangat merindukan kehangatan dari orang yang sangat ia sayangi. Ia kecil, suka dan duka ia jalani bersama mereka. Airmatanya sudah tak bisa terbendung lagi. Ribuan kata maaf terus terucap dihatinya. Sesak, Rasanya begitu sesak. Ia sudah melupakan penyakitnya. Namun semuanya kembali seperti semula. Ia ambruk, tubuhnya bergetar hebat. Kakinya begitu lemas, ia menjerit kesakitan seperti yang ia dulu lakukan. "Apa ada kabar baru, An? "Tanya Devano setelah ia datang. Anthonio bergetar dan bibirnya langsung kelu. "Ya. Apa kau mendengar kabar tentang kebakaran dan pembunuhan dihotel di pusat kota?"Ucapnya tertunduk lesu hingga membuat Devano menyerngit heran. "An, aku menanyakan kabar Athala. Aku sudah tahu berita itu, aku tidak begitu tertarik." "Jasad itu milik Rezita Serena Athala desaigner asal Indonesia yang hari ini sudah diterbangkan ke Indonesia. "Devano terkejut seakan dunia runtuh. Dadanya bergemuruh dan memasang senyum mautnya yang seketika membuat Anthonio panas dingin. "Kau bercanda? "Tanya dingin Devano yang hanya digelengi Anthonio. Braaak Meja dibanting Devano dengan kuat. Ia menggelengkan kepalanya dan matanya yang tiba-tiba memanas. "Kenapa secepat itu? Aku yakin ia masih ada. Selagi jantungku bertalu memanggil namanya. Ia masih ada. Aku akan temukan pembunuhnya. "Ucap Devano menatap jendela rumahnya dan memunggungi Anthonio. "Wajahnya sudah tak bisa dikenali. Cukup beberapa bukti milik korban, dan beberapa teka-teki yang tersemat. " "AKU AKAN MEMBUNUHNYA AN! DIA AKAN MATI! MATI! "Anthonio bergetar tak karuan. Kakinya melemas seketika. Pria dihadapannya ini lebih muda namun auranya begitu menakutkan. Cocok dengan Athala yang misterius. "Kau pasti terlibat di tempat kejadian kan? "Tanya Raga pada Athala yang sudah mengontrol emosinya dan segera kembali ke kediamannya. Ia begitu merindukan sosok pria tampan dihadapannya. Begitu berubah. Pria itu yang dulu dikenal playboy dan badboy sekarang terlihat lebih berkharisma dan dewasa. Dibalik kacamatanya yang tebal, sorot akan kerinduan memancar dimatanya. "Kenapa kau menuduhku? "Tanya Athala yang kini pembicaraan mereka didengar semua seisi rumah. "Karena kau misterius. Bayangkan kau melayat dengan terus memakai masker wajah. Dimana sopan santunmu? Dan logat Indonesimu begitu fasih."Ucap sakras Resya yang sekarang juga terlihat sudah berbeda. Wanita anggun yang sangat ia rindukan bagai seorang kakak. Matanya memerak menahan airmata yang keluar. Ia menatap Resya yang terlihat sembab menangisi korban pembunuhan. "Maaf, tapi kalian akan terganggu bila aku melepas masker ini dan aku memang berasal dari Paris, tapi aku dilahirkan di Indonesia. Bagaimana aku melupakan tanah kelahiranku? Aku sahabat Athala juga. Ia yang sudah memiliki firasat, langsung menjual rumahnya dan isinya padaku. Ia juga mempercayakan padaku."Lirih Athala yang mendapat cibiran. Athala sudah tak kuat melihat tatapan benci dari kedua sahabatnya. Ia melepas maskernya dan memperlihatkan bekas sobekan dari mulut hingga hampir ke telinga. Semua yang melihatnya shock dan membulatkan matanya. Athala kembali memasang maskernya dan meminta maaf pada keluarganya sendiri. "Bagaimana itu terjadi? "Tanya ibu Athala. "Orang yang sama, tapi ia begitu misterius. Aku bangun dan merasa itu mimpi, tapi sayatannya begitu nyata dikegelapan. " "Aku masih merasa Athala hidup."Ucap Raga dingin seraya terus menunduk. Ia menyempatkan kerumah Athala karena tidak bisa meminta maaf padanya. "Hati seorang ibu tak bisa dibohongi. "Ucap ibu Athala yang setuju ucapan Raga. "Aku tau itu. "Batin Athala. "Sudahlah bu, ikhlaskan dia. Biarkan dia tenang disana. "Ucap ayah Athala. "Aku merasa menyesal.... "Ucap Fafa yang keadaannya paling kacau karena dialah yang bersama Athala di jam-jam terakhir. "Aku akan mencari pembunuh itu dan membuat perhitungan. Athala, aku takkan membiarkan semua terjadi padamu, aku berjanji. Reza Raga Greisenda berjanji hanya untukmu!! Kau dengar Athala!!! " "Ga? Lo suka sama Athala? "Tanya Resya hingga membuat seisi ruangan tak percaya. "Kau masih sama menyukai Raga, dia tidak akan mungkin menyukai sahabatnya sendiri. Banyak gadis yang salah mengartikan perilaku Raga. Raga tak mungkin menyukaiku. Hubungan kita memang erat bagai seorang adik-kakak. "Batin Athala terdiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD