“SELAMAT datang!”
Emily terkejut saat mendapat perayaan kecil-kecilan dari Chloe dan tiga orang wanita yang Emily yakini pekerja di rumah Dapper. Hari ini Emily dinyatakan sembuh dan boleh meninggalkan rumah sakit. Sesuai perjanjian Dapper pada Chloe, pria itu mengizinkan Emily tinggal di rumah mereka.
Anak perempuan itu rupanya sangat antusias mendapat kedatangan Emily hingga memberi surprise pada wanita itu waktu pertama kali Emily membuka pintu.
“Ayo masuk Mom! Akan aku tunjukkan kamar Daddy, mommy akan tidur di sana kan.”
Pernyataan Chloe barusan sukses membuat Emily melebarkan mata, “Apa! Ka-kamar..., Dapper?” Mata Emily melirik ke arah Dapper yang berdiri di sampingnya.
Pria itu nampak sama sekali tidak keberatan dan malah cengar-cengir kesenangan. Emily jadi sebal karena Dapper tidak berusaha menolaknya.
“Tidak Chloe. Mommy akan tidur di kamar yang lain, tidak bersama Daddymu.” Emily sengaja menekan nada suaranya supaya Dapper dapat tersadar kalau Emily tidak akan mau tidur dengan dia lagi.
Chloe terlihat kebingungan, “Kenapa Mom? Bukankah seharusnya suami dan istri tidur di kamar yang sama?”
Emily meringis, kenapa anak itu menyebut dia dan Dapper sebagai suami-istri. Emily sedikit tidak terima mendengar itu.
“Chloe.” Emily merengek. “Kami bukan pasangan suami-istri. Aku hanya mommymu, bukan istri dari Daddymu. Mengerti?” Emily berjongkok di hadapan Chloe yang tetap memasang wajah tidak paham. “Kenapa begitu?” Chloe balik bertanya dengan polos.
Emily dibuat frustasi, “Karena—”
“Jangan kamu pikirkan Chloe, daddy dan mommy akan tidur bersama,” tukas Dapper seraya ikut berjongkok di sebelah Emily menghadap putrinya.
“Apa kau bilang!” suara Emily meninggi sambil menatap Dapper tidak percaya.
Dapper mengulas senyum lalu mengacak pelan rambut Chloe, “Mommy baru keluar rumah sakit, jadi dia harus segera istirahat, oke?” Chloe mengangguk riang.
“Tidak, kamu harus menje... Aaa Dapper! Apa yang kau lakukan!” Emily memekik kaget ketika Dapper tiba-tiba memanggulnya bak sekarung beras dan membawanya menaiki tangga.
“Lepaskan aku, dasar berengsek! Aku tidak mau tidur denganmu lagi!” Emily berusaha melepaskan diri dengan cara mencakar, memukul juga menendang tubuh Dapper, kericuhan yang menimbulkan perhatian Chloe beserta ketiga pembantunya.
“Daddy menyukai Mommy kan?” Chloe terkekeh melihat pemberontakan Emily yang tak kunjung berhenti meskipun mereka hampir sampai menaiki tangga.
Marry, baby sitter berusia 50 tahunan itu ikut tertawa melihat tingkah majikannya dengan mommy baru Chloe. “Ya Chloe, daddymu terlihat sangat menyukainya.”
••••
Dapper menghela napas melihat Emily mengurung diri di kamar mandi sudah lebih dari tiga jam semenjak mereka sampai di kamar tadi akibat marah.
“Aku sudah berjanji tidak akan membuat anakku menangis lagi. Jadi aku terpaksa melakukan ini.”
Dapper mencoba menjelaskan sembari mengetuk pintu kamar mandi, berharap Emily keluar dan tidak mengamuk akibat masalah ini lagi.
Sedangkan Emily yang duduk bersandar di dahan pintu nampak murung. Justru karena tidak ingin melihat Chloe menangis Emily ingin jujur pada anak itu.
Emily tidak mau Chloe salah paham menganggap dia sebagai istri Dapper dan ibu kandungnya, wanita itu takut... suatu saat nanti ketika Chloe sudah dewasa ia akan kecewa karena tahu Emily berbohong.
Meski sebenarnya itu tidak penting bagi Emily mengingat dia dan Chloe tidak terlibat hubungan apapun. Namun sebagai seorang wanita yang kelak akan menjadi ibu, menurut Emily itu penting.
Melukai dan mengecewakan hati seorang anak yang telah menganggapmu sebagai ibu selama ini, tidak bisa, Emily tidak sanggup bila itu benar-benar terjadi.
Emily menutup wajah dengan kedua tangan. “Jangan khawatir! Malam ini aku akan tidur di sofa, kamu tidur saja di ranjang. Aku janji tidak akan macam-macam.”
Dapper berusaha bersikap lembut agar Emily luluh. Bisa gawat kalau sepanjang hari Emily mengurung diri di sana tanpa makan atau minum, lebih parah lagi kalau misal Chloe bertanya di mana Emily.
Ceklek.
Wajah Dapper berbinar antusias mendengar pintu kamar mandi terbuka. Hanya sedikit, dan wajah Emily separuh terlihat di dalam. “Kau janji tidak akan berbuat macam-macam?” tanya Emily, dingin.
Dapper tergelak sekilas kemudian nampak berpikir, “Aku tidak bisa menjamin karena tubuhmu terlalu menggairahkan, tapi untuk hari ini kurasa pengecualian. Hei-hei, tunggu!” Dapper menahan pintu ketika Emily kembali mau menutupnya.
“Baiklah-baiklah, aku tidak akan macam-macam padamu,” tegas Dapper. Emily menyipitkan mata tidak percaya, “Janji?”
Dapper menggaruk pelipis dengan bimbang, “Janji. Kecuali kau juga menginginkannya...”
Emily mendesis kesal setelah memutuskan keluar dari dalam kamar mandi. “Itu tidak mungkin terjadi,” bantah Emily sementara Dapper menyeringai.
“Kamu jelas-jelas menyukai tubuhku malam itu.”
“DIAM!” sahut Emily dengan tatapan tajam.
Dapper terkekeh, “Kenapa? Itu fakta, kamu bahkan berkali-kali meminta dimasuki...”
Emily spontan menutup telinga lalu berlari melewati Dapper yang terus membual tentang adegan-adegan percintaan mereka yang terakhir kali. “Emily, hei! Kamu mau ke mana sayang?” panggil Dapper ketika Emily berlari keluar kamar menuju tangga.
“Jangan panggil aku sayang berengsek! Kamu bukan orang yang aku sayang, begitu juga sebaliknya!” kecam Emily sebelum melangkah menuruni tangga.
Dapper berlari kecil menyusul Emily, “Hei tunggu! Bagaimana kalau aku benar-benar menyayangimu? Apa itu berarti aku boleh memanggilmu sayang?” Dapper tidak bosan terus menggoda Emily.
“Dalam mimpimu!”
Samar-samar Dapper mendengar suara Emily dari atas tangga. Lewat sini Dapper bisa melihat Emily berjalan menuju dapur meski ekspresinya meyakinkan sekali jika wanita itu sedang kebingungan ingin pergi ke mana.
Dapper tertawa pendek mengingat tingkah lucu Emily yang mudah marah hanya karena rayuan Dapper, wanita pertama yang bukannya luluh, tapi justru merasa marah.
••••
Suasana rumah terasa jauh berbeda dari yang biasanya akibat kehadiran Emily di sana, lebih ramai dan menyenangkan.
Sama seperti malam ini, Emily dengan semangat mengajak Chloe bermain kejar-kejaran, di saat ibu-ibu lain menyuruh anaknya belajar atau bermain menggambar dan mewarnai, Emily justru mengajak Chloe kejar-kejaran yang dia namai permainan polisi-polisi gila.
Dinamakan polisi-polisi gila karena tugas pemain adalah menjadi polisi dan orang gila. Disebut polisi gila karena tindakan mereka yang bukannya menangkap perampok atau penjahat, malah menangkap orang gila, maka kesimpulannya polisi itu ikut-ikutan gila.
“Eh orang gila! Jangan kabur!”
Dapper tersedak makanan ketika tiba-tiba Emily dan Chloe masuk ke ruang makan. Yang membuat sebal nih, pekikan orang gila dari mulut Emily yang terang-terangan menunjuk Dapper padahal orang yang sedang ia kejar adalah Chloe.
“Dasar polisi gila payah! Ayo-ayo, kejar aku lebih dekat!”
Double sial, bukan cuma Emily tapi Chloe juga. Anak perempuan itu menunjuk Daddy-nya saat berkata polisi gila payah padahal yang sedang mengejarnya adalah Emily. Dapper seketika marah, mereka berdua ini kenapa cepat sekali akrab hingga membentuk komplotan antiDapper begini.
“Hahaha!”
“Hahaha.”
Tak memedulikan wajah kesal Dapper, Chloe dan Emily terus berkejaran mengelilingi meja makan di mana Dapper duduk seorang diri di sana. Pria itu mendapat undangan meeting mendadak jadi harus buru-buru pergi siang tadi hingga baru lima belas menit yang lalu Dapper pulang dan membuat dia terlambat makan malam bersama Chloe dan Emily.
“Pergilah! Kalian mengganggu acara makanku!” decak Dapper, ia sangat kesal karena selain lapar, Dapper juga baru makan dua suap dan mereka sudah datang merecoki.
“Biar Mommy menyuapimu Dad! Hari ini pertama kalinya Mommy menyuapiku juga,” ungkap Chloe, berlari ke samping Dapper duduk.
“Tertangkap!” Emily yang tidak mendengar percakapan sepasang anak dan ayah itu tiba-tiba menangkap tubuh Chloe sambil memeluknya. “Iya kan Mom?” pertanyaan Chloe tersebut menimbulkan kernyitan di dahi Emily.
“Apa?”
“Berhasil menangkapku. Iya kan?” Chloe memancing Emily menjawab iya padahal dia memerlukan jawaban iya untuk hal yang lain. Dan karena tidak tahu apa-apa, Emily menjawab polos, “Iya!”
“Yess... Mommy bilang iya! Dia mau menyuapimu Dad.”
Mata Emily melotot, “Maksudmu? Aku berkata iya karena—”
“Baiklah, suapi aku, cepat!” Dapper memotong alasan yang hendak Emily ucapkan seraya menyodorkan sendok ke depan Emily.
Emily merespon dengan diam. “Ayolah Mom. Kau sudah bilang iya, tidak boleh ada penolakan.” Emily menyipitkan mata menatap kesal Chloe yang pintar sekali mengelabuinya. Dia pasti menduduki ranking pertama di sekolah mengingat betapa cerdas Chloe memanipulasi keadaan.
Dengan amat sangat terpaksa, Emily pun mengambil sendok tersebut kemudian menyendokkan sedikit nasi dan ikan, selebihnya berisi sambal. “Kau mau membunuhku?” Dapper berdecak marah.
Emily tersenyum miring, “Jangan banyak bicara, cepat buka mulutmu!”
Kepala Dapper menggeleng lalu mendorong mundur sendok yang Emily sodorkan. Wanita di samping Dapper itu mendengkus, lalu pura-pura memasang wajah sedih ke arah Chloe. “Chloe... daddy tidak mau mommy suapi.”
Alarm peringatan berbunyi di otak Dapper, tapi pria itu malah ingin tertawa melihat ekspresi baby face Emily sekarang.
“Daddy! Tidak baik menolak inisiatif baik dari orang.” Chloe berkata memarahi daddy-nya.
Dapper pun tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menerima suapan Emily. Dan demi Tuhan... sambal ini pedas sekali.
Wajah Dapper memerah menahan pedas sementara Emily berlari menuangkan segelas air sebelum kembali dan menyodorkan gelas tersebut tepat di depan mulut Dapper hingga pria itu langsung menyeruputnya.
“Damn! Ini panas, kau itu benar-benar...” Dapper tak habis pikir wanita ini kembali mengerjai dia untuk yang kedua kali.
Selain sambal, Emily sengaja memberi dia air hangat yang memperparah keadaan lidahnya yang sukses terbakar.
Chloe dan Emily tertawa terpingkal-pingkal begitu melihat Dapper berlari ke wastafel untuk berkumur. Pria itu juga membuka lemari pendingin dan meneguk sebotol air mineral di sana.
Setelah cukup membaik, Dapper berbalik menghampiri mereka dengan garang. Karena takut Chloe dan Emily ikut membalikkan badan kabur. Naas, ketika Chloe berhasil keluar dengan selamat, kaki Emily justru terbentur kursi dan mengakibatkan wanita itu jatuh ke lantai.
Emily menoleh dan melotot ketika jarak Dapper hanya selisih dua langkah di belakangnya. “Chloe tolong mommy!” jerit Emily sambil berusaha berdiri namun gagal dan malah terjatuh lagi.
“Maaf mommy! Ini waktunya Chloe belajar...”
Sial! Samar-samar Emily bisa mendengar teriakan Chloe yang sengaja tidak mau menolongnya.
“Tidak bisa melarikan diri Nona?” ejek Dapper yang kini berdiri menjulang di depan Emily. Mampus, inilah akhir riwayat seorang Emily Portman.
BERSAMBUNG...