03 | THE LITLLE GIRL

1167 Words
HAL pertama yang Emily lihat setelah keluar dari pintu kamar mandi adalah punggung tegap Dapper yang berdiri membelakanginya. Pria bersetelan jas berwarna abu-abu itu berbalik saat menyadari keberadaan Emily. Di bawah tatapan sepasang mata cokelat Dapper, Emily memutuskan masuk kembali ke dalam kamar mandi—setidaknya sebelum tangan Dapper lebih dulu menahan daun pintu. “Lepaskan! Mau apa kau kemari!” ketus Emily sembari berjuang menahan pintu agar tidak terbuka semakin lebar, dia tidak akan membiarkan Dapper dengan mudah menangkapnya. Berbeda dari Emily yang terlihat sangat berusaha hingga berkeringat, Dapper nampak santai bahkan hanya dengan hentakan satu tangan saja pria itu sudah mampu membanting pintu kamar mandi hingga sepenuhnya terbuka. Bahu Emily melorot tanda menyerah. Sia-sia melawan seorang pria, kekuatan mereka memang diciptakan jauh lebih besar dari seorang wanita, dalam urusan melindungi, it’s fine... itu hebat, tapi kalau untuk urusan menyerang..., piss off! Itu namanya sewenang-wenang. “Kembalilah ke tempat tidur, kita bicara di sana!” perintah Dapper sementara Emily melayangkan pandangan curiga. “Kenapa kita bicara di tempat tidur?” Emily bertanya tak habis pikir. Membicarakan tempat tidur bersama Dapper entah mengapa membuat Emily sedikit takut. Meski hanya pernah bertemu satu kali—itupun saat mereka melakukan kencan one night stand, tapi dari situ Emily dapat langsung tahu bagaimana ahlinya Dapper dalam mengikat setiap wanita hanya dengan menggunakan pesona yang ia miliki. Pesona antimainstream yang patut Emily hindari. “Maksudku kamu, Emily. Keadaanmu masih belum sembuh total dan aku tidak mungkin melakukan pembicaraan bersama orang sakit dengan cara berdiri...” Pipi Emily merona menahan malu, dia terlalu parno sampai berpikiran yang aneh-aneh. Dapper pun nampak sangat menikmati saat mentertawakan pertanyaan Emily tersebut. “...apalagi di depan kamar mandi seperti ini.” Dapper lanjut berbicara sambil geleng-geleng kepala. “Katakan dalam waktu lima menit, aku mengantuk dan harus tidur,” kata Emily setelah dia sampai di atas ranjang, tengah berbohong dengan berpura-pura menguap lebar. Tapi bukan Dapper namanya kalau sampai mau mengalah, “Baiklah, kita bisa berbicara sambil tiduran kalau begitu.” Melihat tubuh Dapper bangkit dari kursi di sebelah tempat tidur, Emily lantas panik lalu menjulurkan kedua tangan menginstruksikan supaya Dapper kembali duduk. Emily dapat bernapas lega lagi ketika Dapper menurut. Penipu berengsek ini, bisa-bisanya Emily kalah dari dia. Lain kali dia harus membalas semua perbuatan Dapper ini, terkutuklah kau wahai pria tampan beranak satu! “Kamu sudah bertemu dengan putriku kan? Namanya Chloe Mackton.” Ketika Dapper mulai terlihat serius membicarakan putrinya, Emily menjawab hanya dengan anggukan kepala tanpa embel-embel yang lain karena takut memecahkan keseriusan pria tersebut. “Dia berkeras menganggap kamu adalah ibu kandungnya.” “Mungkin karena kamu lebih dulu memengaruhinya,” sahut Emily kesal. Salah satu alis Dapper terangkat ke atas, “Aku tidak pernah mengatakan apapun tentang seorang wanita di depan Chloe kecuali saat ia bertanya tentang ibunya.” Dapper balas membantah dengan tenang. “Oh ya?” Emily membuang wajah ke arah jendela. Lantas darimana anak itu bisa menganggap dia ibu kandungnya sedangkan mereka baru bertemu saat Emily dan Dapper tidak sengaja bertemu di depan restoran dalam hitungan detik beberapa hari lalu. Yang kemudian, entah datang dari mana dan dengan siapa, kemarin Chloe tiba-tiba masuk ke ruangan Emily sambil memanggilnya mommy. Plis deh, tidak ada anak kecil yang tiba-tiba memanggil seorang wanita ‘mommy’ tanpa suatu alasan. Chloe pasti telah mendengar atau melihat suatu hal yang membuat ia salah mengartikan siapa Emily, dan siapa lagi kalau bukan dari ayahanda Chloe sendiri. “Kenapa aku harus memengaruhinya?” Pertanyaan Dapper berhasil membuat Emily bungkam. Benar juga..., kenapa Dapper melakukan itu? Emily kembali menatap Dapper sambil mengerjapkan mata dua kali. Dia tidak berpikir Dapper sedang menyukainya, bukan? Kenapa juga ia sangat yakin jika Dapper yang memengaruhi Chloe agar menganggap Emily sebagai ibunya. Siapa Emily hingga Dapper ingin dia mendapat gelar ibu dari putrinya. “Daddy... Mommy.” Panggilan bernada imut berasal dari pintu kamar inap yang tidak mereka berdua sadari telah terbuka. Memunculkan sosok Chloe yang menggendong boneka beruangnya di sana. Keheningan antara Emily dan Dapper pun terselesaikan berkat kedatangan gadis kecil itu. “Chloe..., apa yang kamu lakukan di sini sayang?” tanya Dapper sambil melangkah mendekati Chloe diambang pintu. Dapper menggendongnya kemudian berjalan ke sofa. “Marry bilang kemarin kamu juga ke sini tanpa seizin Daddy,” kata Dapper lagi setelah tubuh mereka jatuh di atas sofa dengan posisi Chloe duduk dipangkuannya. Senyuman di bibir merah alami Chloe sama sekali tidak memudar. “Aku hanya ingin bertemu Mommy,” jawab Chloe sebelum turun dari pangkuan Dapper untuk menghampiri Emily. “Mommy setuju tidak akan meninggalkan kita lagi Dad,” ujar Chloe begitu sampai di sebelah ranjang Emily. Mendengar ucapan Chloe, Dapper otomatis menatap wajah Emily curiga. Sedangkan Emily yang melihat tatapan tajam pria itu segera memalingkan wajah menatap Chloe yang sekarang naik ke atas kursi hendak ke tempat tidur. Melihat kesusahan gadis itu akibat membawa boneka, Emily lantas menggendong Chloe hingga sampai dipangkuannya dengan mudah. Perbuatan yang sebenarnya sedikit menyakiti bagian luka Emily tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin membiarkan Chloe jatuh hanya karena ingin didekatnya. “Iyakan Mom? Mommy akan tinggal bersama kita kan?” Chloe bertanya lagi dengan semangat, Emily jadi agak ragu untuk menolak permintaan anak itu. “Chloe, aku memang membiarkanmu menganggapku sebagai ibumu, tapi aku tidak bisa tinggal dengan kalian.” Emily berkata takut-takut jika saja perkataannya menyakiti hati Chloe. “Tapi kemarin Mommy bilang tidak akan meninggalkan aku dan Daddy,” desak Chloe dengan bibir mengerucut kesal. Emily terkekeh melihat ekspresi lucu gadis itu. “Tapi Ch—” “Jangan meminta hal yang tidak bisa tante ini lakukan Chloe. Kau membuat dia merasa bersalah.” Ucapan Dapper memotong perkataan Emily. Pria itu berjalan mendekati ranjang untuk mengambil Chloe dari pangkuan Emily. Mata Chloe mulai berkaca-kaca, “Tapi Daddy hiks...” ucapan Chloe terputus akibat menangis, Emily jadi tidak tega melihat anak itu sekarang. “...ini pertama kali aku melihat Daddy menatap seorang wanita seperti saat Daddy bercerita tentang mommy padaku. Daddy menyelamatkannya dari penjahat dan Daddy juga sangat khawatir saat penjahat itu melukai Mommy. Aku pikir hiks... aku pikir dia memang Mommy Chloe... huaa...” Tangisan Chloe semakin mengeras diakhir cerita mengharukan yang sudah dia ceritakan. Membuat Emily tak kuasa menahan air mata hingga akhirnya ikut-ikutan menangis. “Hiks... kau memang Daddy yang buruk Dapper!” umpat Emily sambil berusaha menghapus bulir-bulir air mata yang terus keluar dengan deras. Dapper melongo menatap Chloe dan Emily yang kompak menangis. Kepala Dapper berdenyut akibat mendengar sahut-menyahut suara isak tangis mereka yang seolah memenuhi setiap sudut ruangan. Dapper bisa gila kalau mereka berlama-lama seperti ini. “Baiklah-baiklah!” Dapper meletakkan Chloe di sofa, kemudian berbicara sambil berdecak pinggang di hadapannya. ”Dia adalah mommymu, kau boleh memilikinya...” Tubuh Dapper berbalik menghadap Emily. “...dan kau! Aku janji tidak akan membuat anakku menangis lagi, oke?” “Jadi sekarang... BERHENTILAH MENANGIS SEBELUM SUARA KALIAN MEMBUATKU MENGGILA!” Dibentak-bentak Dapper bukannya merasa baikan justru membuat suara tangis dua perempuan berbeda usia itu mengencang. Dapper pun mengacak rambut dengan frustasi, hampir benar-benar mendekati gila. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD