Analis bersiap tidur. Perempuan itu bahkan sudah berbaring dan menarik selimutnya hingga sebatas d**a. Namun suara berisik yang berasal dari ruang kerja Doma membuatanya urung tidur.
Disibaknya selimut lantas menurunkan kedua kakinya. Suara berisik yang didengarnya seperti suara Doma. Seperti berteriak, tetapi kenapa kedengarannya mirip orang yang sedang bermimpi buruk? Apa Doma ketiduran di ruang kerjanya?
Analis mendorong masuk pintu ruang kerja suaminya. Di sana, dia mendapati Doma ketiduran dalam posisi duduk, sementara kepalanya menelungkup ke atas meja. Seperti dugaannya tadi, Doma mengigau. Laki-laki itu sedang bermimpi buruk, mungkin.
Maka ditepuknya punggung Doma beberapa kali. Doma mengerang, bergumam tidak jelas. Analis setengah membungkuk, memanggil Doma berulangkali dengan suara lebih tinggi.
"Pak Doma? Pak!"
Mandala Domani gelagapan. Wajahnya tampak shock begitu kedua matanya terbuka lalu memandangi ke sekitarnya. Napas Doma tersenggal, seolah dirinya telah berlari dari tempat jauh tanpa beristirahat.
"Bapak mimpi buruk? Bentar, biar saya ambilin air minum."
Analis mengurungkan niatnya pergi kala Doma memegangi pergelangan tangannya kemudian menggeleng pelan. Analis berjalan lebih dekat, memberanikan diri mengusap rambut Doma lembut.
Untuk beberapa saat Doma terdiam dengan kepala menunduk dalam. Analis masih mendengar napas Doma yang tersenggal, namun tidak separah tadi. Suaminya kenapa? Atau mungkin tebakannya benar? Doma baru saja bermimpi buruk?
"Pak." Analis setengah membungkuk. Tangan kirinya masih dipegangi Doma. Entah sadar atau tidak, Analis memilih bungkam dan membiarkan laki-laki itu memeganginya. "Kita pindah ke kamar aja ya?"
Kali ini Doma mendongak lalu menganggui patuh. Analis hendak melepaskan tangannya, namun Doma justru mengeratkannya. Perempuan itu jadi berjalan sambil digandeng Doma sampai keduanya berbaring di atas ranjang.
Diliriknya Doma diam-diam, lantas membuang pandangannya ke arah lain. Sesungguhnya Analis dibuat kebingungan dengan laki-laki ini. Semenakutkan apa mimpi buruknya tadi sampai tangannya tidak mau dilepas? Apa Doma bermimpi dikepung alien? Atau zombie?
"Sampai kapan Bapak mau pegangin tangan saya?" tanya Analis ragu-ragu.
Doma menoleh ke arahnya. "Kenapa? Kamu nggak suka?"
"Bukan gitu." Analis cepat-cepat mengelaknya. "Tangan saya keringetan banget sekarang. Emang Bapak nggak risi?"
Doma tidak ingin ada perdebatan malam ini. Mungkin saja perempuan itu tidak nyaman karena tangannya sejak tadi dia pegangi tanpa lepas sama sekali.
Analis merasakan ranjangnya bergerak. Ternyata Doma berbaring miring menghadapnya. Analis meneguk ludahnya susah payah. Sungguh, dirinya selalu gugup ditatap seperti itu oleh suaminya sendiri.
"Kamu punya rasa takut? Saya lihat, semakin kamu dewasa, kamu jadi lebih berani."
Analis ikut berbaring miring. Keduanya saling berhadapan. Analis canggung mulanya, namun tidak lagi setelah mendengar pertanyaan Doma.
"Saya udah kebal." Analis mendengus kecil. "Lagipula saya punya Bapak yang bakal jagain saya."
Doma memejamkan matanya. Laki-laki itu sempat menyunggingnya senyum tipis begitu Analis menjawab pertanyaannya.
"Kamu udah nggak butuh saya lagi."
"Kenapa gitu? Jangan sok tahu, Pak! Jelas saya pengin dijagain terus sama Pak Doma. Kan, Pak Doma suami saya! Beda lagi kalau suatu hari kita cerai," celoteh Analis terlalu santai. "Semisal hari itu benar datang, berarti hari itu juga saya nggak boleh berharap apa pun tentang Bapak. Kuat nggaknya, bisa bertahan atau nggak, saya bertanggung jawab atas diri saya sendiri."
"Kenapa kamu selalu membahas soal perceraian?" tanya Doma, menatap Analis lurus. "Padahal kita cuma nikah siri. Lama kita menikah, kita belum punya bukunya."
"Intinya?" sambar Analis.
"Kita bisa cerai lebih mudah," sambung Doma tenang.
"Jadi, Bapak setuju kalau kita berpisah suatu hari nanti?" tanya Analis meragu. "Bapak nggak mau belajar mencintai saya dulu?"
Doma menarik napas panjang. Sepasang matanya terbuka lebar. "Kamu mau ajarin saya?"
"Ya?" Analis membeo.
"Saya nggak punya pengalaman apa-apa tentang perempuan. Walaupun saya jauh lebih tua dari kamu, saya nggak mengerti cara menyampaikan perasaan ke pasangan seperti apa."
Pipi Analis bersemu. Wajahnya menghangat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut seorang Mandala Domani. Apa dia sedang bermimpi? Tidak. Ini nyata. Bahkan di hadapannya sekarang, Doma sedang tersenyum kepadanya.
"Atau kita perlu meresmikannya? Kita perlu mendapat buku nikah dan menggelar pesta pernikahan di gedung, mungkin?"
"Pak...," gumam Analis takjub. Dia berharap apa yang didengarnya adalah nyata.
"Maaf." Doma meraih tangan Analis untuk digenggamnya. "Kamu harus menunggu selama ini."
Analis ingin menangis detik itu juga. Doma mengatakanya sangat tulus. Dan, ini bukan mimpi semata. Ini nyata.
Doma bisa melihat kebahagiaan di mata Analis. Perempuan itu menangis lalu tersenyum lebar. Doma mengusap punggung tangan Analis dan balas tersenyum kepada perempuan itu.
Entah benar atau tidak keputusannya ini. Mungkin ini akan sedikit ekstrem. Menyembunyikan rahasianya dengan menawarkan sebuah pernikahan yang sah—bukan hanya di mata agama saja. Tapi juga di mata hukum.
Dengan mendekati Analis, Doma jadi tahu apa saja yang dikerjakan perempuan itu. Dia juga bisa mengalihkan apa yang menjadi perhatiannya atas kasus yang sedang dipelajari Analis diam-diam di belakangnya.
***
"Orang tua Bapak masih ada semua?"
"Hmm."
Analis memandangi pagar rumah dari dalam mobil. "Kenapa baru ngasih tahu?" tanya Analis dengan nada protes.
Doma membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil terlebih dahulu lantas disusul oleh Analis. Sebelum masuk ke sana, perempuan itu tampak ragu-ragu. Dia baru mengetahui kalau kedua orang tua Doma bahkan masih hidup dan tinggal di kota lain.
Setelah keduannya yakin akan meresmikan pernikahan mereka dalam waktu dekat, Doma mengajak Analis bertemu dengan orang tuanya. Mulanya perempuan itu mengiakan ajakan Doma tanpa bertanya lebih dahulu kenapa laki-laki itu mengajaknya sampai pergi ke luar kota. Di tengah perjalanan, Doma baru memberitahu jika kedatangan mereka ke kota itu untuk menemui orang tua Mandala Domani untuk meminta restu.
Kedua tangan Analis berkeringat, dingin, dan perasaan gugup yang menjadi satu. Doma berjalan mendahuluinya mendekati pintu sampai seorang wanita menyapa Doma penuh semangat. Diajaknya mereka masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil seseorang yang dipanggilnya Ibu.
"Ma," sapa Doma membungkukkan badannya lalu mencium punggung tangan sang Mama.
"Kamu pulang, Dom." Wanita itu menepuk-nepuk bahu Doma. Pandangannya beralih kepada Analis yang tiba-tiba kikuk. "Ini siapa? Cantik banget. Pacarnya Doma, ya?"
"Calon istri aku, Ma," jawab Doma.
Raut wajah mamanya berubah sumringah. Analis tersenyum canggung lalu meraih tangan wanita itu untuk diciumnya, dan tidak lupa menyapa orang tua Doma dengan nada lembut.
"Kedatangan kita ke sini bukan cuma sekadar jenguk Mama sama Papa aja." Doma melirik Analis yang menunduk malu. "Sekalian minta restu. Aku sama Analis mau nikah, Ma."
"Yang benar?" Kedua mata sang Mama kian berbinar. "Ayo duduk. Kita ngobrol di dalam. Bentar, Mama buatin minuman ya."
Sang Mama terlihat sangat antusias. Analis mengusap tengkuknya salah tingkah. Tidak dia kira kalau reaksi mamanya Doma akan seantusias ini. Tadinya Analis kira akan menemukan kendala atau perdebatan alot antara Doma dan orang tuanya yang tiba-tiba datang meminta restu. Ternyata tidak. Itu hanya khayalan Analis saja. Sepertinya dia terlalu banyak bergaul dengan Metya sampai jadi berlebihan begini.
"Mama saya baik. Kenapa kamu setegang itu?" tegur Doma.
"Itu mamanya Bapak. Gimana sama Papa dan keluarga lain? Kalau ada yang nggak suka sama saya, gimana?"
"Kita tetap nikah," sahut Doma.
Analis mendengus pelan. Laki-laki ini terlalu santai dan tenang menghadapi sesuatu. Sampai meminta restu begini, Doma tidak kelihatan gugup mau pun gelisah seperti dirinya.
"Kalian nginep, kan?" seru mamanya sembari menenteng nampan. Analis beranjak dari sofa lalu mengambil alih nampan dari tangan wanita itu. "Makasih ya. Kamu orang yang cekatan ternyata. Cocok sama Doma," candanya, kemudian terkekeh.
"Kita pulang besok pagi, Ma. Aku sama Analis harus kerja."
"Nggak bisa lebih lama, Dom? Kamu jarang pulang ke rumah selama ini," gumam mamanya sedih.
"Hmm, Tante," Analis memanggil wanita itu canggung. "Lain kali, kita pasti sering datang kemari. Saya janji bakal paksa Pak Doma jenguk keluarga kalau perlu."
Wanita itu tertawa menanggapi kata-kata Analis. "Terima kasih ya... Analis."
***
"Bapak udah tidur?"
"Belum. Kenapa?"
"Saya maunya pindah ke kamar Bapak. Tapi baru ingat kalau kita lagi di rumah orang tua Pak Doma."
"Kamu takut tidur sendiri?"
"Ya nggak. Tapi udah biasa tidur sama Bapak, sih."
Analis mengirim balasan pesan Doma kemudian berbaring miring sambil menunggu respons laki-laki itu. Analis menguap, menutup bibirnya menggunakan kelima jarinya.
Dia dan Doma tidur di kamar terpisah. Mereka berdua memang berniat menginap semalam di rumah orang tua Doma. Karena tidak ada satu pun dari keluarga laki-laki itu bahwa mereka sudah menikah—walaupun siri, mereka jelas mengatahui jika Doma dan Analis belum menikah. Statusnya masih dianggap calon.
Analis berbaring gelisah di ranjangnya. Pandangannya beralih ke sana kemari lalu mengembuskan napas. Belum lama tidur di kamar yang sama dengan Doma, sekali berpisah kenapa rasanya jadi aneh. Padahal selama ini mereka cuma tidur. Ya, tidur selayaknya orang normal. Tapi rasanya seperti ada yang kurang melihat sisi ranjangnya kosong tidak berpenghuni.
"Cepat tidur. Besok pagi kita harus kembali. Selamat malam..."
Perempuan itu menarik napas kecewa. Ditunggu-tunggu pesannya sejak tadi, balasan Doma justru mengecewakan. Analis bangun dan duduk bersandar ke kepala ranjang. Ditarik kedua kakinya yang semula berselonjor, kini dia tekuk kemudian menggelamkan wajahnya di sana.
"Jangan tidur dulu, Pak. Saya nggak bisa tidur."
Entah dibalas atau tidak, Analis mengirim sebuah pesan kepada Doma. Berharap laki-laki itu mau menemaninya hingga bisa tertidur.
"Saya ngantuk, Analis."
"Tapi saya nggak bisa tidur. Ini bukan kamar saya."
"Kalau begitu, kenapa kamu bisa tidur nyenyak di kamar saya selama ini?"
Analis mencebikkan bibirnya. Doma benar-benar tidak peka terhadap perempuan ya. Bagaimana bisa laki-laki itu menanyainya dengan pertanyaan barusan?
"Tolong lebih peka, Pak. Terima kasih!"
Dia hendak meletakkan ponselnya ke atas meja nakas, namun urung karena ponselnya kembali berdenting tanda sebuah pesan masuk.
"Lalu saya harus apa? Atau perlu saya bernyanyi untuk kamu?"
Perempuan itu terbahak. Walaupun balasan Doma jelas kelihatan kesal, tetapi rasanya geli sekali membayangkan laki-laki itu mendelik ke arahnya.
Analis menurunkan selimutnya. Bersiap membalas pesan Doma. Analis mengetika sebuah balasan seperti, "Ide bagus! Ayo nyanyi sekarang!" Dan dengan jahilnya, Analis mengalihkan dari saling berkirim pesan, menjadi sebuah panggilan telepon ke nomor laki-laki itu.