Trauma

1903 Words
Jarum jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Analis terbangun dalam kondisi wajah dan leher dibasahi keringat dingin. Sontak saja perempuan itu menarik ujung selimut dan meremasnya kuat. Barusan... dia bermimpi buruk. Sangat mengerikan juga menyedihkan. Semenjak kepulangannya ke Indonesia, Analis mengalami mimpi buruk hampir di setiap malam. Dan yang aneh, mimpi itu selalu sama. Seperti diulang terus menerus hingga membuat Analis mengalami kesusahan setiap kali akan memejamkan matanya. Alasan di balik keinginannya tidur di kamar Doma, salah satunya adalah ini. Mimpi buruk Analis berangsur-angsur berkurang kala dirinya tidur di samping Doma. Mimpi itu seperti takut datang karena Analis tidak tidur sendirian lagi. Sebelah tangan Analis tanpa sengaja menyenggol ponsel di atas bantal. Dilihatnya panggilan yang masih berlangsung. Analis meraih benda persegi itu, bergumam kepada dirinya sendiri. Apa Doma lupa mematikan teleponnya? Atau laki-laki itu belum tidur? Analis mengusap wajahnya kasar. Berkali-kali dia menepuk dadanya sembari mengatakan bahwa itu hanyalah mimpi. Kejadian itu tidak terjadi sungguhan. Tapi entahlah, kenapa mimpi itu selalu datang setiap kali Analis tidur sendirian? Perempuan itu mengarahkan ponselnya ke telinga, dia hanya ingin mengatakan segala unek-uneknya lewat telepon. Entah sudah tidur atau belum, Analis tetap ingin menceritakan mimpi buruknya kepada Doma. Dia hanya ingin berbagi, dan sekadar memberitahu bahwa dirinya juga bisa takut. "Saya mau jujur sama Pak Doma." Analis menggigit bibir bawahnya. "Selama saya pulang ke Indonesia, saya mengalami mimpi buruk yang seperti diulang-ulang setiap harinya." Di seberang telepon tampak sunyi. Tidak ada tanda-tanda suara Doma mau pun dengkuran laki-laki itu. "Setiap kali saya ingin cerita, saya ragu. Jadi saya urung," ujar Analis. "Tapi... Pak Doma tahu nggak? Mimpi itu nggak pernah muncul lagi setiap kali saya tidur sama Pak Doma. Saya nggak pernah mimpi buruk saat Bapak tidur di samping saya." Analis meringis pelan sebelum menambahkan kata-katanya. "Maaf ya, Pak. Selain saya ingin kita makin dekat, saya jadi memanfaatkan Bapak. Karena adanya Pak Doma di samping saya, mimpi itu nggak pernah datang lagi. Saya bisa tidur tanpa ketakutan." Analis menarik ponselnya. Dan panggilan masih berlangsung walaupun dirinya tidak mendapatkan respons dari Doma. "Malam ini mimpi itu tiba-tiba datang lagi, Pak. Saya takut! Mimpi itu kayak nyata. Seperti... itu gambaran masa lalu saya yang paling menakutkan." Analis memberi jeda sebentar untuk mengambil napas. Karena mimpi tersebut, Analis seringkali merasakan sesak di dadanya. "Pak, saya takut." Analis bergumam parau. "Pak Doma, itu bukan saya, kan?" Sementara itu, hanya berjarak dari dua kamarnya, seseorang memegangi ponsel milik Doma. Seseorang itu mendengar semua cerita Analis. Walaupun tampak tenang, seseorang itu merasakan ada keanehan pada hubungan Doma dan perempuan itu. Ada apa ini? Atau sang anak sedang menyembunyikan sesuatu darinya? *** Belum pernah Analis segugup ini. Duduk di depan keempat temannya. Sebentar lagi dia akan membuat pengakuan. Khususnya pada Berin. Sungguh, Analis tidak bermaksud membohongi atau mempermainkan perasaan Berin. Tadinya dia ingin merahasiakan status pernikahannya sampai waktu yang tepat, baru setelah itu dia akan megakui. Bahwa selama ini, Analis telah menikah sejak umurnya tujuh belas tahun. Bagaimana tanggapan mereka nantinya? Apakah teman-temannya akan memberi tanggapan positif atau justru sebaliknya? Jika memang begitu, Analis sudah siap apa pun konsekuensinya. Setelah menikah pun mereka tidak tinggal bersama. Melainkan Doma mengirimnya ke sebuah sekolah asrama perempuan sampai lulus. Setiap liburan tiba, Analis jarang pulang ke rumah laki-laki itu. Hanya sesekali saja. Itu pun sangat sulit menemukan Doma di rumahnya sendiri. Bersekolah asrama nyatanya belum cukup. Bahkan setelah dirinya dinyatakan lulus, Doma mengirimnya ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Doma tidak pernah menyentuhnya. Sama sekali. Bahkan duduk sebelahan saja hampir tidak pernah. Biasanya mereka akan duduk saling bersebrangan atau dari ujung ke ujung. Hanya saja sekarang Analis berinisiatif membuat Doma terbiasa dengan kedekatan mereka. Seperti mulai tidur di kamar yang sama, dan kemajuannya adalah, mereka tidak lagi tidur saling memunggungi. Bagi Analis, itu sudah seperti keajaiban. "Tegang amat kayak mau minta restu lo," celetukan Ilana memecahkan keheningan. Metya, orang pertama yang tahu kalau Analis sudah menikah, hanya mendengus sembari menggelengkan kepalanya. Analis meremas kesepuluh jarinya gelisah. Beberapa kali mereka menemukan Analis menarik napas panjang dan berat seolah akan mengatakan sesuatu yang serius. Tentang apa? Pikir Ilana dan lainnya. "Sebentar lagi aku mau nikah..." Metya memekik, "Loh! Bukannya udah?!" Jelas saja Ilana, Devina dan Berin mengarahkan pandangannya ke arah Metya yang kini membungkam bibirnya dengan wajah terkejut. Dia keceplosan. Bodoh. Akh, sialan. "Lo mau nikah? Tiba-tiba banget?" komentar Devina heran. "An, lo nggak lagi hamil, kan?" celetuk Ilana. "Kapan, An? Lo nggak pernah ngenalin cowok ke kita-kita. Selama ini juga, lo selalu nolak perasaan orang yang suka lo." Berin menyahut, kemudian menambahkan, "Jadi, cowok mana yang berhasil bikin lo jatuh cinta?" Metya jadi ikut berdebaran rasanya. Berin tidak tahu saja kalau laki-laki yang telah membuat Analis jatuh cinta adalah Doma. Mandala Domani. Laki-laki yang juga disukai Berin beberapa tahun terakhir. Kepala Metya bergerak miring, mendesis kebingungan. Yang harus dicap merebut, harusnya siapa? Berin, atau justru Analis sendiri? Ah, terserah. Metya jadi ikut pusing! "Aku mau jujur dulu sama kalian. Jadi, dengerin baik-baik. Jangan sampai ada yang nyela cerita aku." Analis menatap temannya satu per satu. "Sebenarnya, aku udah nikah dari pertama masuk sekolah. Tunggu! Jangan disela dulu, please!" potong Analis saat Devina akan membuka mulutnya. "Ya, aku udah bohongin kalian. Tapi sumpah, aku nggak bermaksud apa-apa selain menjaga privasi aku dan suami aku juga. Aku nggak mau orang-orang jadi kepikiran aneh-aneh." "Kenapa mikir aneh-aneh?" tanya Ilana. Analis ragu-ragu menjawabnya. "Karena... suami aku lima belas tahun lebih tua." "Hah?" Ilana terbengong. "Gimana, An?" sambar Devina lalu membungkam mulutnya sendiri. "Kok, bisa lo nikah sama aki-aki, sih? Kenapa juga mau? Apa jangan-jangan lo korban pelecehan, dan lo dinikahi sebagai bentuk tanggung jawab?" Analis menggeleng cepat. "Nggak. Bahkan kita nggak pernah bersentuhan sama sekali. Malah sampai hari ini." Di akhir kalimatnya, Analis memelankan suaranya. "Tapi dia baik sama lo, kan?" tanya Berin memastikan. Kepala Analis terangguk. "Banget. Kalian jangan khawatir dia nggak baik." "Terus, kenapa lo bilang mau nikah ke kita?" Devina membawa kedua tangannya ke atas meja dan melipatnya. Analis pun menjelaskan pelan-pelan. "Saat itu usia aku masih tujuh belas tahun. Kita nikah secara siri. Dan beberapa hari yang lalu, dia bilang mau meresmikan pernikahan kita dan menggelar pesta pernikahan juga." Teman-temannya menarik napas sesaat, menggeleng kebingungan mendengarkan penjelasan Analis. Bagaimana bisa Analis menyembunyikan status pernikahannya selama ini? Pantas saja Analis sangat tertutup mengenai laki-laki. Ternyata ini alasannya. "Ada satu lagi yang mau akui ke kalian," ujar Analis. "Apa lagi, An? Lo jangan bikin kita jantungan ya." Ilana mencebikkan bibirnya. "Sebenarnya...," gumam Analis ragu-ragu. "Istrinya Mandala Doma, itu aku...." *** "Lo nggak usah pikirin Berin, deh! Satu atau dua hari dia balik lagi." "Dia kelihatan kecewa banget. Aku keterlaluan nggak, sih?" Metya mendelik. "Ya nggak lah. Kan, Doma emang suami lo. Keterlaluannya di mana?" Analis dirundung rasa bersalah atas pengakuannya kemarin. Di balik berita bahagianya yang akan meresmikan pernikahannya, ada Berin yang harus patah hati setelah tahu kalau laki-laki idamannya ternyata suami teman baiknya sendiri. Setelah mengakuinya kepada keempat temannya. Suasana berubah hening. Bahkan Ilana dan Devina yang seringkali heboh ketika menanggapi sesuatu, kedua perempuan itu langsung diam, dan sontak menatap Berin yang bungkam dalam sekejap. Analis gugup setengah mati. Bahkan lebih gugup saat Doma mengajaknya pergi ke rumah orang tua laki-laki itu. Walaupun Analis siap menerima konsekuensinya, tetap saja rasanya berat jika Berin akan marah dan kemungkinan paling buruk, tidak mau berteman lagi dengannya. Berin diam, Berin bungkam, lalu tersenyum tipis. Entah apa arti dari senyumannya itu. Analis dan lainnya tahu kalau Berin adalah seorang perempuan pendiam serta tenang. Terbukti, ketika fakta itu dijabarkan oleh Analis sendiri, Berin masih tenang. Namun setelahnya, perempuan itu menyambar tas lalu berpamitan pulang. "Akh!" Analis mengerang panjang, menundukkan kepalanya. "Aku lebih suka Berin marah aja. Tapi setelah itu kita baikan." Metya meraih gelas jusnya dari atas meja. "Berin marah, sedih, kecewa karena lo baru jujur itu hal lumrah. Nggak ngajak ngomong lo dalam waktu lama juga hal wajar. Lo tinggal nunggu nih, sampai kapan Berin bisa marahan sama lo." "Tetap aja aku nggak enak." Analis menelungkupkan kepalanya ke meja. "Jangan-jangan setelah ini dia nggak mau temanan lagi sama aku!" Metya tertawa, kemudian menyahut, "Itu namanya hidup. Ada saatnya lo berada di fase lo harus milih yang mana." "Berin temen aku, Met," gumam Analis gelisah. "Dan Doma, suami lo." Metya menyahut santai. "Emang lo rela ngasih Doma ke Berin biarpun dia temen lo?" Analis menggeleng lesu. Ditepuk-tepuknya punggung tangan Analis sembari tersenyum. "Bertahun-tahun lo sembunyiin pernikahan lo. Sekarang udah saatnya orang-orang tahu. Jangan sembunyiin apa pun lagi setelah ini. Lo harus bahagia pokoknya!" "Makasih ya, Met. Lo bikin gue jadi lebih tenang." Analis balas menepuk punggung tangan Metya. "Eh! Lo balik naik apa? Gue lihat tadi lo naik taksi ke sini. Atau gue antar aja ke kantor lo?" tawar Metya. Analis mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu menggeleng. "Aku dijemput kok. Setelah dari sini, aku mau fitting baju pengantin." "Sama Doma?" tebak Metya. "Iya." Analis menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. *** Dari kejauhan, Doma melihat Analis baru saja keluar dari sebuah ruangan. Yang anehnya, ruangan yang sama yang dituju Doma. Laki-laki itu mengangkat tangannya, mengamati arloji yang melingkar. Doma segera bersembunyi di balik dinding rumah sakit ketika dirasanya Analis sedang berjalan ke arahnya. Perempuan itu menenteng tas hitamnya di tangan, melangkah sedikit cepat sembari bermain ponsel. Sosok Analis menghilang di balik pintu lift. Doma mengamati lift cukup lama sampai monitor di atas menunjukkan lift membawa Analis turun. Doma keluar dari tempat persembunyiannya, lantas pergi menemui seorang psikiater. "Hai. Selamat siang!" sapa perempuan berjas putih dari dalam ruangan. Doma mengangguk sebagai balasan sapaannya. Perempuan itu mempersilakan Doma duduk di kursi seberang. "Apa kabar, Dom?" tanya si perempuan dengan senyum lebar. "Setelah berbulan-bulan absen buat terapi, kamu datang lagi." Bagi Doma, ini seperti sebuah sindiran. Namun Doma tidak peduli. Kedatangannya kemari bukan untuk mendengarkan sindiran si psikiater. Toh, selama absen terapi, Doma memang sangat sibuk menangani sejumlah kasus. "Okay. Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan? Atau melanjutkan terapi kamu yang sempat tertunda beberapa bulan terakhir?" tanyanya, seolah sangat antusias. Doma teringat keluarnya Analis dari ruangan ini. Untuk apa perempuan itu datang kemari? "Perempuan tadi... untuk apa kemari?" "Ya?" Seorang psikiater yang sebut saja bernama Rinjani, dua tahun lebih tua dari Doma sedang mengernyitkan dahinya bingung. "Perempuan... yang mana?" tanya Rinjani. Pasalnya ada banyak perempuan keluar masuk ruangannya. Selain pasien, asisten serta staf rumah sakit pun seringkali mengunjungi ruangannya. "Apa dia pasien Anda juga?" tanya Doma lagi. Rinjani mengingat-ingat siapa saja perempuan yang masuk ke ruangannya selain asisten juga staf. Rinjani memutar kursinya, memiringkan kepala sembari mengingat nama-nama orang yang ditemuinya barusan. "Oh..." Rinjani menjentikkan kedua jarinya. "Namanya Analis. Ya, pasien baru saya. Dia juga teman baik adik ipar saya, Metya. Kenapa, Dom? Kamu kenal?" "Dok." Rahang Doma mengeras. Kelima jarinya mengepal kuat. Rinjani menemukan keanehan pada Mandala Domani. Semula yang tenang, kini berubah seakan panik. Bahkan Rinjani menemukan perubahan mata Doma yang memerah. "Dia orangnya...." Doma bergumam dengan napas tertahan. "Analis orang yang sama yang saya ceritakan. Untuk apa dia ke sini?!" Rinjani sempat bingung. Namun, begitu Doma mengulang kata, "Perempuan itu." Rinjani mulai memahami dan menemukan alasan perubahan emosional Doma hanya dalam beberapa detik saja. "Dokter." Doma menengok ke arah pintu. Di tengah kepanikan yang memburu, ruangan Rinjani diketuk dari luar. Itu suara Analis. Perempuan itu mengetuk beberapa kali izin meminta masuk. "Dokter, saya masuk ya." Rinjani mengarahkan pandangannya kepada Doma yang semakin panik. Doma menunjukkan tanda-tanda yang bisa saja memancing traumanya seketika. Suara ketukan dari luar, suara Analis, lalu... gagang pintu yang ditarik menandakan seseorang akan masuk ke ruangannya. Dan jelas, itu Analis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD