Saya Nggak Janji

1014 Words
Sebelah tangan Analis yang bebas mendorong pintu kamar. Sembari menenteng tas mahal di tangan kirinya, Analis perlahan masuk. Dan pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sosok Doma yang tengah berbaring di atas ranjang. Analis meletakkan tasnya ke atas meja nakas sebelum membawa bokongnya duduk di tepi ranjang. Analis menaikan selimut yang Doma kenakan agak lebih tinggi. Dipandanginya wajah lelaki itu, kemudian Analis menarik napas panjang. Karena lelaki ini, Analis harus pulang lebih cepat dari jadwal yang mereka tentukan. Mana bisa dia liburan dengan tenang kalau Doma saja susah dihubungi. Suamimya memang cuek, tetapi mengabaikan pesannya adalah sesuatu yang jarang dilakukan Doma. Jelas saja Analis khawatir. Perasaannya mengatakan agar dia cepat pulang dan melihat suaminya. Dan benar saja, begitu dia sampai rumah, dia menemukan Berin ada di rumah Doma. Sedang duduk sendirian di sofa ruang tamu. Tadi adalah kali pertama mereka bertemu setelah Analis mengakui statusnya sebagai istri Doma.... Analis menarik napas lagi, lebih panjang dan berat, kemudian mengembuskannya perlahan. Diam-diam dirinya merasa bersalah. Dia, Metya dan kedua temannya pergi berlibur tanpa mengajak Berin. Bukan maksud Analis sengaja. Hanya saja, hubungan mereka sedang canggung. Analis cuma takut ditolak saja. Bagaimanapun, dia sudah membuat Berin kecewa karena mengetahui kalau dirinya-lah istri Doma selama ini. Kepala Doma bergerak bersamaan jari-jari tangannya yang digenggam Analis. Perempuan itu tersadar, dia terlalu banyak melamun. Analis menegakkan badan, bersiap menyambut Doma yang sepertinya akan membuka matanya. "Pak Doma, ini saya...," bisik Analis pelan. Doma membuka kedua matanya. Walau belum sepenuhnya kesadarannya kembali, tapi Doma bisa melihat wajah Analis secara samar. Lelaki itu balas menggenggam tangan istrinya, sebelah tangannya lagi terangkat kemudian memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. "Pak Doma mau minum?" tanya Analis. Doma memberikan isyarat tidak. Matanya kembali memejam. Ia berharap ia tidak bermimpi Analis ada di depannya sekarang. Perlahan, Doma menarik Analis lebih mendekat kepadanya. Membawa kepala perempuan itu untuk ia peluk. Doma kembali memejamkan matanya dan tertidur. Analis mendongak, memandangi Doma beberapa detik lantas menyadari kalau suaminya tidur kembali. Analis melingkarkan tangannya ke punggung Doma, sesekali menepuk punggung Doma lembut. *** Analis memutuskan untuk di rumah saja selama Doma masih sakit. Sampai jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Doma belum bangun juga sejak semalam. Doma hanya bangun sebentar kemudian menariknya untuk berbaring di samping lelaki itu sambil dipeluknya Analis. Entah sadar atau tidak, tapi yang jelas Analis sangat bahagia. Ia sedang sibuk di dapur untuk memasak makanan kesukaan Doma. Dibantu oleh Mbok, Analis menyiapkan bahan-bahannya. Memotong sayuran dan meracik bumbunya sendiri. Ia tahu jika menarik perhatian Doma adalah hal yang sulit. Untuk membuat lelaki itu menoleh kepadanya sedikit saja, Analis harus memiliki kesabaran yang ekstra. Ia tidak bisa cuma berjuang mendekati lelaki itu. Maka dari itu, Analis mencari tahu apa yang disukai Doma. Salah satunya tentang makanan. Analis akan membuat Doma jatuh cinta padanya lewat keterampilan memasaknya. Apalagi di saat Doma sedang sakit begini, Analis akan memanjakan lidah lelaki itu dengan memasak makanan yang enak. Analis tidak akan membuatkan bubur—karena jelas tidak akan menggugah selera orang yang sedang sakit. Biar sakit, harus tetap makan makanan yang enak. "Pak," sapa Mbok saat melihat Doma berada di dapur. Doma mengisyaratkan kepada Mbok agar keluar dapur. Mbok mematuhinya. Perlahan wanita itu meninggalkan kedua majikannya. Terkadang Mbok penasaran bagaimana hubungan kedua majikannya itu. Doma selama ini sangat kaku dan jarang berbicara kecuali hal penting saja. Berbeda dengan Analis, istri Doma. Analis lebih banyak berbicara dan mudah bergaul bersama siapa pun. Mbok saja dibuat heran. Analis lebih dulu mengajaknya berbicara, terkadang malah bercanda. Sangat berbeda sekali dengan tuannya itu. "Mbok, boleh minta tolong ambilin kecap manis, nggak?" Analis sibuk mengaduk ayam dalam penggorengan. Analis meraih botol kecap manis yang disodorkan. Rupanya ia belum menyadari kalau orang di belakangnya bukan Mbok, melainkan Doma, suaminya. Doma memerhatikan Analis yang sedang memasak. Karena terlalu fokus, perempuan itu bahkan tidak menyadari keberadaannya. Ia maju beberapa langkah sehingga jarak di antara keduanya sangat dekat. Jika saja Analis membalikkan badan, maka bisa dipastikan kepala Analis akan menubruk dadaa Doma. Yang dilakukan Doma selanjutnya cukup membuat Analis tersentak. Gerakkan tangannya sedang mengaduk ayam kecap di dalam penggorengan jadi berhenti. Analis terdiam mirip patung. "Mbok—" Analis menelan kembali kata-katanya kala mendengar seseorang mendengkus di telinganya. Benar, bukan Mbok ternyata yang memeluknya. "Kamu pikir Mbok yang lagi peluk kamu?" bisik Doma di telinga Analis. Analis sontak menolehkan kepalanya ke belakang hanya sepintas. Begitu kepalanya kembali menghadap ke dinding dapur, Analis membungkam bibirnya sendiri. Ada keajaiban apa sampai Doma memeluknya seperti ini? Untuk pertama kalinya! Apa Analis sedang bermimpi? "Aduh!" Analis bahkan mencubit pipinya sendiri. Benar, Analis tidak bermimpi kali ini. Bukan juga khayalannya. "Ternyata saya nggak mimpi," bisik Doma lagi. Analis mematikan kompor terlebih dahulu sebelum memutar badan sepenuhnya. Kini ia dan Doma berdiri saling berhadapan. Doma meletakkan kedua tangannya melingkari pinggang kecil Analis. "Harusnya saya yang bilang gitu ke Pak Doma," balas Analis sambil mencebikkan bibirnya. Doma mengerutkan dahinya. "Pak Doma tiba-tiba peluk saya kayak tadi. Saya kira saya lagi mimpi!" Doma tidak bisa menahan senyum gelinya. "Saya bahkan pernah cium kamu duluan, An. Kenapa cuma saya peluk kamu kayak tadi, kamu kira itu cuma mimpi?" Kedua pipi muncul semburat merah. Doma menunggu jawaban Analis. Tiba-tiba saja istrinya yang pemberani iti terlihat menciut. "Pak Doma jangan diingetin yang itu," pintanya. "Tiba-tiba banget ciumnya. Saya kan kaget! Sama kayak barusan juga," dumelnya. Doma mengeratkan pelukannya. Analis sontak mendongak, jujur saja, sekarang ia tidak bisa bernapas dengan baik hanya karena Doma memeluknya seerat itu. "Biar kamu nggak kagetan lagi kalau saya peluk atau cium, saya harus apa?" tanya Doma. Pertanyaan Doma sontak membuat Analis menjadi kikuk. Perempuan itu sampai mengusap belakang lehernya. "An?" tegur Doma. "Hmm...," gumam Analis. "Tolong buat saya terbiasa kalau gitu." Analis membalas pelukan Doma dengan melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya. "Pak Doma harus sering-sering peluk sama cium saya. Supaya saya nggak kaget lagi karena udah terbiasa." Doma mengusap puncak kepala Analis. Ia mencium kening perempuan itu. "Kayak gini?" "Iya." Analis mengangguk penuh semangat. "Setiap pagi, mau Pak Doma menjelang tidur atau mau masuk kantor kalau perlu." Doma mengangguk-angguk. "Oke." "Nggak boleh ingkar janji?" peringat Analis. "Saya nggak sedang janji. Saya akan membiasakan mulai dari sekarang," jawab Doma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD