Gue Cuma Kecewa

1181 Words
Apa yang dilakukan Analis. Semua pergerakkan perempuan itu tidak luput dari sepasan mata Mandala Domani. Istrinya kelihatan gelisah, atau memang sedang ada masalah yang tidak diketahui Doma? Rasanya tidak. Analis selalu bercerita kepadanya. Kecuali yang satu itu. Tentang kasus yang dipelajari Analis diam-diam. Entah kenapa, saat ia tanya, Analis justru memberikan jawaban yang berbeda. "Ada masalah?" tanya Doma tanpa basa-basi. Ia bukan tipikal orang yang suka basa-basi. Doma akan menanyakannya secara langsung kepada yang bersangkutan. Lagi pula, melihat Analis banyak diam begini sama sekali bukan gayanya—setelah pulang dari Inggris lebih tepatnya. Analis—berusia tujuh belas tahun dan Analis versi dewasa sangat berbeda. Tidak hanya dari penampilannya saja. Tetapi cara bicara, cara menatap lawan bicaranya, termasuk sikapnya pada Doma. Doma belum bisa melupakan apa yang dilakukan Analis saat mereka bertemu kembali. Ketika Analis pulang dari Inggris, Doma memang tidak sempat menjemput istrinya. Ia hanya mengirim seorang supir. Untuk pertama kalinya Analis mencium pipinya—di depan seorang klien. Doma sampai mematung. Walau hanya ciuman di pipi, tapi rasanya itu masih aneh. Doma bahkan belum siap dengan perubahan diri Analis yang sangat kontras. Dari perempuan yang pemalu, tiba-tiba berubah menjadi sangat agresif. Bahkan ya, Analis menantangnya. Jika dalam waktu satu tahun Analis tidak bisa membuat Doma jatuh cinta, Analis akan meminta cerai darinya. Doma tidak habis pikir. Karena sampai kapan pun, Doma tidak akan menceraikan Analis apa pun alasannya. Analis tidak kunjung menjawab pertanyaan Doma. Perempuan itu sibuk memandanginya ponsel, kemudian mendengkus pelan. Doma menyentuh pergelangan tangan Analis sehingga perempuan itu tersentak kaget. "Pak Doma." Analis sontak menoleh ke samping. "Kamu kenapa?" tanya Doma lebih lembut. "Saya tanya kamu dari tadi. Kenapa nggak dijawab?" Bukannya menjawab, Analis malah menarik napas panjang. Kepalanya masih menoleh ke samping, tempat Doma duduk di kursi kemudi. Sejujurnya Analis penasaran kenapa bisa Berin menemukan suaminya pingsan. Kenapa kebetulan sekali? Ada banyak orang di dunia ini, kenapa harus Berin yang menemukan suaminya? Ah, tidak. Analis menggelengkan kepalanya. Ia teringat pesan Berin sebelum pergi kemarin. Berin mengatakan bahwa perempuan itu tidak akan merebut suaminya. Bahkan Analis telah mengenal lama sosok Berin. "Pak," panggil Analis. Tatapan kedua matanya terlihat memelas. "Hmm..." Doma menoleh. "Pak Doma sadar nggak kalau ada yang naksir Bapak selama ini?" "Gimana?" tanya Doma bingung. "Ada yang naksir Pak Doma, tahu!" "Masa? Ada yang naksir saya?" Doma kelihatan tidak percaya kata-kata Analis. Sebal. Itu yang Analis rasakan. Bisa-bisanya Doma masih bertanya ada orang yang menyukainya? Jelas saja ada! Analis yakin di luaran sana ada yang menargetkan suaminya—untuk digoda. Hanya saja cuma Berin yang ketahuan. Itu pun karena teman Analis. "Ada." Analis mulai uring-uringan. "Orangnya cantik lho, Pak," ujarnya, melempar tatapannya sinisnya ke jendela. Bibirnya yang kecil komat-kamit. Entah siapa yang paling membuatnya kesal. Berin atau justru Doma? "Terus?" Tanggapan Doma hanya itu. Ya, apa lagi memangnya? Doma pikir sudah menjadi hak orang lain untuk menyukai dirinya atau lelaki lainnya. Bagaimana caranya agar Doma bisa membuat perempuan itu tidak menyukainya? Menghentikan Analis saja ia tidak bisa. Pada akhirnya menyerah juga. Doma tidak bisa mengatur perasaan seseorang. Yang bisa menghentikannya hanya orang itu sendiri. Asal Doma tidak berpaling ke perempuan yang menyukai dirinya—selain Analis. Doma rasa itu bukan masalah besar. "Memang siapa orangnya?" Pada akhirnya Doma bertanya. Analis itu aneh. Perempuan itu sendiri yang mengatakan, tapi Analis juga yang kesal. "Berin." Analis menoleh lagi padanya. Satu jarinya menunjuk ke Doma kemudian mengatakan, "Pak Doma pasti kenal, kan? Jujur aja! Saya tahu Pak Doma selama ini kenal sama perempuan yang namanya Berin! Asal Bapak tahu ya. Berin itu temen saya waktu sekolah asrama!" *** Analis sungguhan ngambek. Cuma karena Doma menjawab, "Ya." Ketika ditanya apakah Doma mengenal perempuan bernama Berin, kemudian Analis memberitahu kalau Berin adalah temannya saat sekolah asrama dulu. Doma akan menjawab jujur saat Analis menanyainya. Memangnya kenapa? Mana mungkin Doma mengelak bilang tidak kenal? Kalau Analis sendiri sudah tahu jawabannya, kenapa harus bertanya lagi? Sejak dibahasnya Berin di dalam mobil tadi, Analis tidak mengiriminya pesan satu kali pun. Padahal kebiasaan Analis yang suka mengganggunya lewat telepon atau spam chat. Astaga. Sepertinya Doma mulai terbiasa dengan yang satu itu. Terbukti saat Analis tidak mengirim spam chat, Doma jadi kepikiran. "Pak Doma pulang aja duluan. Saya mau ketemu sama orang." Itu pesan yang dikirim Analis. Doma tidak tahan juga kenapa Analis tidak mencoba menghubunginya. Untuk pertama kalinya Doma mengirim pesan lebih dulu kepada istrinya. "Orang siapa?" balas Doma. "Rahasia." Analis membalas pesannya sangat singkat. Doma tidak membalasnya lagi. Percuma saja dibalas kalau Analis sendiri masih kesal padanya. Terkadang perempuan itu aneh. Mereka bertanya dan lelaki menjawab, seharusnya para perempuan memberikan apresiasi kepada suaminya yang menjawab jujur. Bukannya malah ngambek. Doma menggelengkan kepalanya pelan. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dan memfokuskan diri untuk bekerja lagi. Soal Analis, Doma akan membicarakannya di rumah saja. Siapa tahu saat pulang nanti, Analis sudah tidak uring-uringan lagi. *** Langkah Analis berhenti sebelum mendekat ke meja yang telah dipesan teman-temannya. Ada satu sosok yang membuatnya ragu untuk bergabung. Namun, begitu Analis hendak memutar badan dan meninggalkan restoran, Ilana sudah lebih dulu menemukan keberadaannya. Ilana mengangkat sebelah tangannya ke udara, perempuan itu menyapa Analis dengan suara yang agak melengking. Sontak saja tiga temannya yang lain ikut menengok juga. Analis terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi. Tidak mungkin ia pergi begitu saja hanya karena ada Berin di sana. Suasana agak canggung begitu Analis berada di tengah-tengah mereka. Analis meletakkan tasnya ke atas meja. Dan sial, tersisa satu kursi kosong—di samping kursi yang Berin duduki. Belum pernah Analis merasa secanggung ini saat bersama teman-temannya. Walau ia dan Berin dikenal paling pendiam di antara mereka berlima, tapi selalu saja akan ada bahan yang membuat Analis dan Berin banyak bicara sampai lupa waktu. "Diem-diem aja kayak lagi musuhan," celetuk Metya. Otomatis mendapat pelototan mata dari teman-temannya. "Pesen makanan dulu, deh. Lo berdua mau makan apa?" tanyanya kepada Berin dan Analis. Analis mendorong buku menu di depannya. "Aku minum aja deh, Met." "Nggak mau makan sekalian?" tawar Metya. Analis menggelengkan kepala. "Oh." Metya manggut-manggut. "Lo, Ber?" Metya berpindah ke Berin. "Kayak biasanya aja," jawab Berin. "Oke." Metya mengacungkan ibu jarinya. Pelayan yang mencatat pesanan mereka segera pergi. Meninggalkan Analis dan keempat temannya. Metya melirik Analis dan Berin bergantian. Sejujurnya ia bingung harus menggunakan cara apa agar dua temannya ini berbaikan lagi. Berin memang salah karena telah berani menyukai lelaki yang telah beristri. Akan tetapi, Berin tidak tahu menahu kalau lelaki itu ternyata suami temannya sendiri. Kalau Berin tahu, kondisinya akan beda lagi. "Gue nggak tahan lagi lihat lo berdua canggung begini!" semprot Metya. "Kalau ada masalah di antara kita atau kalian berdua, seharusnya diomongin berdua. Enaknya gimana, salahnya di mana, jangan ragu untuk minta maaf. Sekarang kalian berdua diem-dieman begini, kita bertiga bingung mau ngajak ngobrol kalian kayak gimana." Ilana menyahut, "Makanya kita bertiga sengaja ngundang lo berdua makan siang bareng. Kita udah temenan lama. Dan kita sepakat kalau ada masalah di antara kita, harus diselesaikan secepatnya. Ini udah lebih seminggu kalian musuhan." "Gue nggak merasa kita musuhan," jawab Berin. "Gue cuma merasa kecewa aja. Kenapa kalian pergi ke Bali nggak ngajak gue? Apa kalian nggak anggap gue temen kalian lagi, ya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD