Kita Kencan, Yuk?

1035 Words
Analis memutuskan pulang lebih dulu menggunakan taksi. Ia hanya ingin berbaring di ranjang dan mengurung diri di kamar saja. Suasana hati Analis berubah muram setelah bertemu dengan Berin saat makan siang tadi. Teman-temannya sengaja merahasiakan dari Analis jika ada Berin di sana. Berin pun sama halnya. Perempuan itu tidak tahu akan ada Analis. Yang satu temannya, satu lagi suaminya. Mau dipaksa bagaimanapun, Analis tidak bisa tidak curiga. Apa lagi ia teringat dengan cerita ketiga temannya mengenai usaha Berin agar bisa mendekati Doma—sebelum Berin tahu bahwa Analis-lah istri lelaki yang disukai Berin. Analis berbaring di ranjang. Masih mengenakan pakaian kerjanya, belum menghapus make up di wajahnya. Analis sungguh malas melakukan apa pun saat ini. Ia sedang memikirkan cara bagaimana agar terlihat biasa saja sewaktu dirinya bertemu Berin. Di kepala Analis justru muncul dugaan, "Jangan-jangan Berin masih sering membuntuti suaminya walau sudah tahu kalau istri Doma adalah dirinya?" Kepala Analis bergerak ke kanan ke kiri. Kedua mata Analis menatap ke langit-langit kamar. Sejujurnya ia merasa sikapnya keterlaluan kepada Berin. Seharusnya ia percaya pada temannya. Bisa saja Berin sungguhan melepaskan Doma walau tidak ingin. "Mana mungkin gue merebut suami temen sendiri?" Kata-kata Berin masih terngiang di telinga Analis. Seharusnya sudah cukup membuatnya yakin. Tapi tidak bisa. Atau Analis saja yang berlebihan ya? *** Doma terbiasa mendengar Analis banyak bicara dan menggodanya. Ah, tidak. Maksud Doma, menggoda ala Analis adalah menggagunya ketika mengerjakan apa pun. Entah sedang membuat kopi, Analis tiba-tiba datang kemudian memeluknya begitu erat sampai Doma kesulitan bergerak. Sore tadi, Analis izin pulang lebih dulu dan beralasan tidak enak badan. Doma menawarkan untuk mengantar Analis pulang, tetapi perempuan itu menolaknya. Istrinya mengatakan akan pulang sendiri menggunakan taksi saja. Malas berdebat, Doma hanya mengiakan saja. Ia bisa melihat dan menanyai Analis saat di rumah saja. Ketika Doma sampai di rumah, ia bertanya kepada Mbok tentang istrinya. Mbok bilang kalau Analis memang pulang lebih awal dari biasanya. Tapi tidak keluar sama sekali sejak tadi. Mbok sempat pergi ke kamar dan mengetuk pintu. Namun Analis tidak kunjung memberi respons. Mbok pikir Analis sedang tidur karena tidak enak badan. "Makasih, Mbok," ujar Doma sebelum berjalan ke arah tangga. Beberapa hari terakhir, Doma melihat Analis agak berubah. Analis murung, istrinya sering terlihat melamun seolah sedang memikirkan sesuatu, tapi entah itu apa. Doma ingin bertanya, namun, apa Analis mau menjawab semua pertanyaannya? Mengingat hubungan mereka dulu-dulu sangat canggung. Apa Analis akan nyaman menceritakan masalahnya kepada Doma? Doma mengangguk kecil. Ia menemukan jawabannya sendiri. Ia tidak akan tahu kalau Doma tidak mau mencobanya. Lagi pula Analis tipikal orang yang tidak bisa menyimpan rahasia. Walau bukan bercerita kepadanya, yang Doma tahu, Analis memiliki banyak teman dekat. Pintu kamar terbuka, Analis sedang tiduran memunggungi pintu. Setengah badannya ditutupi selimut tebal. Kalau Doma tidak salah, Analis masih mengenakan pakaian kerjanya. Doma menggelengkan kepalanya pelan. Ia menutup pintu lebih dulu sebelum menghampiri istrinya yang sedang berbaring. Setelah meletakkan tasnya ke atas meja, melepas sepatu dan kaus kakinya, Doma menarik setengah badannya mendekati Analis—yang mungkin saja sedang tidur. Doma meletakkan punggung tangannya ke kening Analis, memeriksa suhu tubuh istrinya. "Pak." Doma sama sekali tidak terkejut sewaktu Analis membalikkan badannya hendak protes. "Iya, nggak panas." Sebelah alis perempuan itu terangkat. Bibirnya mengerucut lucu. "Sejak kapan Pak Doma masuk kamar? Kenapa nggak ketuk pintu dulu?" "Kenapa saya harus ketuk pintu dulu? Ini, kan, kamar saya, An." Analis merapatkan bibirnya. Ia baru ingat kalau kamar yang ia tempati sekarang adalah kamar Doma. Bukan miliknya. Kamar Analis berada di samping kamar lelaki itu persis. Doma menyunggingkan senyum tipis. "Saya bercanda, ini juga kamar kamu sekarang." Seketika ekspresi wajah Analis berubah sebal. Tapi walau begitu, ia segera membawa dirinya untuk memeluk suaminya. Ia ingin menghirup aroma tubuh Doma yang wangi juga menenangkannya. Doma membalas pelukan Analis. Menepuk puncak kepala istrinya lembut. "Apa yang sakit?" tanya Doma, masih memeluk Analis. "Nggak ada, saya cuma pusing aja," jawab Analis. Analis tidak bohong. Ia merasakan pusing di kepalanya. Mungkin karena ada banyak yang sedang Analis pikirkan sampai kepalanya mau pecah rasanya. "Kamu udah makan sama minum obat belum?" Doma mengurai pelukannya. "Saya cuma sakit kepala. Jangan coba-coba paksa saya minum obat kalau nggak mau dengar saya nangis!" ancam Analis, kemudian menghambur ke pelukan lelaki itu lagi. "Padahal nelan obat itu gampang, An," gumam Doma. "Gampang menurut Bapak. Buat saya itu susah," dumel Analis. "Lebih susah dari ngerjain tugas kuliah saya dulu!" Hampir saja Doma terbahak mendengarnya. Bagaimana bisa Analis menyamakan minum obat dengan mengerjakan tugas kuliah? Rasa-rasanya Analis terdengar sombong. Atau memang istrinya terlalu pintar selama kuliah dulu? "Pokoknya saya nggak mau minum obat! Cukup kemaren aja saya nelan obat. Nggak mau lagi!" Analis menggelengkan kepalanya dengan tegas. Doma hanya manggut-manggut. Selain mengiakan, ia tidak ingin memaksa Analis. Dari luarnya saja Analis kelihatan pemberani, tapi begitu dihadapkan dengan obat, jenis obat apa pun, Analis langsung menciut. Analis akan menangis mirip anak kecil setiap kali akan meminum obatnya. Sungguh. Doma baru tahu kalau Analis tidak bisa menelan obat. Kalau bukan karena Doma merawat saat Analis diserempet motor kemarin, mungkin sampai hati ini ia tidak tahu kalau istrinya kesusahan menelan obat. "Pak, kencan, yuk?" Doma mengerutkan dahi. "Kamu lagi sakit. Kapan-kapan aja." Analis siap merengek. Ia mengapit lengan Doma. "Saya udah sembuh, Pak! Yuk?" "Tiba-tiba banget?" gumam Doma. "Bukan tiba-tiba. Udah dari dulu saya pengin ajak Pak Doma kencan. Tapi saya tahu, Pak Doma dari dulu nggak akan mau!" "Memangnya saya bilang saya mau juga sekarang?" "Paaaak!" rengek Analis sebal. "Saya di sini. Kenapa kamu panggil saya terus? Saya nggak ke mana-mana, lho." Analis mengerucutkan bibir. "Bilang iya dulu kenapa sih. Toh, kencannya nggak sekarang. Nanti setelah saya sembuh sakitnya kan bisa." "Mau kencan ke mana sih memangnya?" tanya Doma. Kepala Analis berangkat. Ia sedang memikirkan ke mana mereka akan pergi berkencan. "Kamu sendiri aja nggak bisa jawab, An," ejek Doma. "Tunggu dulu. Saya lagi mikir, Pak," ujar Analis. "Ya udah, kamu mikir aja ke mana kita pergi kencan," sahut Doma. "Pak Doma nggak mau bantuin saya cari tempat kencan?" Doma melirik Analis dengan dahi mengernyit. "Untuk apa? Kan, kamu yang minta. Saya nggak," tambahnya. Astaga! Menyebalkan sekali suaminya ini. Padahal hanya diminta mencari tempat untuk kencan mereka. Apa susahnya ikut mencari tempat-tempat bagus di internet. Pasti mereka akan menemukan banyak rekomendasi tempat yang bagus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD