Sisi Lain Analis

1035 Words
Sebagai seorang teman, Metya tidak bermaksud membuat hubungan Analis dan Berin kian canggung. Ia sengaja membuat mereka bertemu saat jam makan siang tanpa menyebutkan bahwa Berin ikut makan siang kepada Analis—dan begitu sebaliknya kepada Berin. Metya hanya ingin pertemanan mereka utuh lagi. Rasanya akan sangat aneh jika tidak ada salah satu di antara mereka tidak ikut. Soal pergi ke Bali juga, Metya dan yang lainnya dengan kompak meminta maaf kepada Berin. Mereka ingin mengajak Berin saat itu, tetapi perempuan itu tidak pernah mengangkat telepon atau membalas chat teman-temannya setelah ada kejadian Analia mengakui bahwa dirinya adalah istri Doma yang sebenarnya. Saat Berin membalas chat mereka pada akhirnya, Metya, Analis dan kedua teman mereka yang lain telah sampai di Bali. Metya merasa tidak enak. Metya takut saja kalau Berin sampai memiliki pemikiran bahwa mereka berada di pihak Analis, padahal itu sama sekali tidak benar. Metya tidak pernah menyalahkan Berin. Begitu pun dengan yang lain. Atau bisa jadi, itu perasangka Berin sendiri, makanya Berin sempat menjauhi teman-temannya? "Kalau lo jadi Analis gimana, Met?" tanya Ilana, kebetulan, ia dan Metya sedang bersama menuju pulang ke rumah. Keberadaan kantor tempat Ilana bekerja tidak jauh dari gedung perkantoran Metya. Arah mereka pulang sama, mereka pun tinggal di kompleks yang sama. Jadi hal begini sudah tidak aneh lagi. Ia dan Metya sering pulang bersama jika salah satunya sedang malas membawa kendaraan. "Gue aja bingung." Metya mengomel. Sepasang mata cokelat bening Metya tertuju lurus ke jalanan yang penuh kendaraan. Berjajar tidak rapi, membunyikan klakson seperti orang buta, padahal lampu lalu-lintas jelas sekali masih berwarna merah. "Iya, sih..." Ilana bergumam, ia sama serba salahnya. "Di satu sisi Berin temen, tapi satu sisi lagi, yang ditaksir Berin itu suami sendiri. Gue yakin Analis waktu mau ngomong Doma itu suaminya, pasti mikir berkali-kali." Metya mengangguk, menyetujui kata-kata Ilana. "Nah, itu, Na." Walau—amit-amit, ya. Jangan sampai Metya mengalami hal yang sama. Tapi ia seperti bisa merasakan apa yang dirasakan Analis. Sebagai seorang teman sekaligus seorang istri Doma, Analis pasti sudah dibuat pusing lebih dulu—kala tahu temannya menyukai suaminya sendiri. Kalau diberitahu pasti menyakitkan, kalau tidak diberitahu, takut Berin semakin bablas dan tidak terkendali. Iya, sih, Doma tampan. Metya mengakui itu. Biarpun cuma bertemu sekali dan menyapa sekadarnya, Metya jadi paham kenapa Berin menyukai lelaki itu. Walau gosip yang beredar Doma itu irit bicara, mungkin saja karena Doma pendiam, dingin, menjadi daya tarik tersendiri di mata banyak perempuan. Apa Metya salah satunya? Oh, tentu tidak. Metya akan lebuh menyukai lelaki yang biasa-biasa saja. Yang kalau sedih ya sedih, kalau sedang bahagia ya tertawa. Lelaki dingin tidak se-menggemaskan itu! "Sampai kapan mereka berdua gitu ya, Met?" tanya Ilana menoleh ke samping. "Tadi aja, mereka banyak diem. Kita jadi ikutan canggung. Itu bukan gaya kita banget nggak, sih?" "Iya lah." Metya menyetujuinya. "Kita berlima aja ramenya ngalahin pasar ikan!" Iya, benar kata Ilana. Mereka jadi ikut canggung dan banyak diam karena Analis mau pun Berin tidak mau bertegur sapa selama makan siang. Dalam hati Metya, ia merutuki idenya sendiri. Ia pikir dengan mempertemukan keduanya, hubungan Analis dan Berin akan membaik. Namun rupanya tidak. Baik Analis dan Berin, dua-duanya tidak ada yang mau mengalah. *** Ada-ada saja permintaan Analis yang diminta kepada Doma. Padahal Doma sudah mengiakan ajakan kencan perempuan itu. Tapi yang diminta Analis justru membuat Doma menggelengkan kepalanya heran. Ada mobil di rumah, kenapa harus pergi kencan dengan menggunakan angkutan umum? Salah satunya pergi dengan bus. Astaga. Bahkan membayangkan dirinya berdesakan dengan para penumpang di dalam bus sudah membuat d**a Doma sangat sesak. Tidak. Itu konyol. Mereka memiliki kendaraan pribadi, untuk apa naik bus lagi? Kalau pun mobilnya sedang dalam perbaikan, Doma akan memilih pergi menggunakan taksi saja. Paling tidak, Doma tidak perlu berdesak-desakkan dengan banyak penumpang. Apa lagi sampai berdiri. Tidak. "Paaak," rengek Analis di belakang. Doma mengangkat sebelah tangannya ke udara sebagai isyarat tidak. Lelaki itu berjalan santai menuju dapur, sama sekali tidak menghiraukan rengekkan Analis yang semakin menjadi-jadi. Entah karena memang berubah setelah lama tinggal di Inggris, atau ini adalah sisi lain yang baru Doma ketahui setelah keduanya lebih dekat. Analis sangat manja. Terlebih ketika mereka sedang berdua saja. "Kita pergi, tapi bawa mobil." Doma mengatakannya sambil menuang air panas ke dalam cangkirnya. "Perginya ke mana?" tanya Analis. Bibirnya mengerucut. "Jangan bilang perginya ke mal, nonton, makan, terus pulang!" Doma menoleh ke Analis sepintas. "Apa lagi?" tanyanya, ia bersedekap. "Bukannya orang-orang kencan di negara kita kayak gitu, ya?" "Itu monoton banget, Pak!" protes Analis. "Kalau gitu kamu maunya gimana?" Doma pasrah. Ia menyerahkan acara kencan mereka kepada Analis saja. "Kita pergi honeymoon aja gimana, Pak? Nggak perlu jauh-jauh. Di Bali aja nggak apa-apa kok." Doma nyaris menyemburkan kopinya. Tadi mengajaknya kencan. Sekarang minta pergi honeymoon. Doma jadi sakit kepala rasanya. Ada saja permintaan Analis. Terlarang Doma tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepala perempuan itu. "Nggak bisa." Doma segera menolaknya. "Kamu juga habis dari sana kan. Ngapain lagi mau ke Bali?" "Saya bilang kan honeymoon," jawab Analis. "Kemaren kan sama temen-temen saya. Itu pun nggak sesuai jadwal pulangnya karena Bapak sakit!" Doma meletakkan cangkirnya ke atas meja dapur. "Nggak ada yang nyuruh kamu pulang." Analis mengentakkan kakinya kesal. "Saya pulang karena saya khawatir, tahu! Udah gitu, Pak Doma waktu sakit ditemani sama Berin! Siapa yang nggak tambah kesal. Dikira saya nggak kepikiran terus kali." "Berin?" sahut Doma mengerutkan dahi. Sontak, Analis membungkam bibirnya sendiri. Barusan ia keceplosan menyebut nama Berin. Astaga! Doma, kan..., tidak tahu kalau orang yang mengantarnya pulang sewaktu pingsan di mobil itu Berin. Tahunya hanya diantar orang, tapi tidak tahu nenahu siapa orangnya. Analis juga tidak berniat mengatakannya. "An..." Analis mengentakkan kakinya lagi. "Tahu, ah! Saya jadi kesal lagi, kan! Udah ah, nggak usah pergi aja kita. Keburu nggak mood saya." Analis mengomel, kemudian meninggalkan Doma sendirian dengan banyak pertanyaan di dalam kepalanya. "An," panggil Doma, ia meninggalkan kopinya yang bahkan masih banyak. Ia mengejar Analis yang pergi menaiki anak tangga. Langkahnya sengaja dipercepat agar Doma tidak bisa mengejarnya. Sungguh! Analis sangat kesal setiap kali mengingatnya. Walau Berin menemani Doma saat sakit di luar kamar, tetap saja Analis kesal bukan main. Istri mana yang tidak kepikiran jika ada perempuan lain yang menyukai suaminya, sih? Apa lagi kalau perempuan itu begitu semangat mengejar cinta suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD