08. Mencium Ezra

1094 Words
Bianca menelan ludah kala tangannya sudah bersentuhan dengan kulit tubuh Ezra yang hangat. Saat itu, kesadarannya kembali secara tiba-tiba dan buru-buru Bianca menjauh, menggelengkan kepalanya cepat. Tidak! Ia tidak boleh memiliki pikiran yang aneh, tugasnya di sini hanya untuk mengecup bibir Ezra. Dan semuanya, harus dilakukan sekarang juga. Bianca mendekat, pelan sekali, lalu menatap Ezra ragu. Sesaat ia memejamkan mata, untuk menenangkan diri. Ini pertama kalinya bagi Bianca mencium orang yang cukup asing baginya dan ini pertama kalinya ia memanfaatkan kemampuan yang ia miliki untuk melihat masalalu dari seorang laki-laki yang bukan miliknya. Dan tentu saja, terasa sangat amat mendebarkan. Terlebih mungkin laki-laki ini akan menjadi ayah tiri Bianca. Wajah keduanya sudah mendekat, Bianca terus mendorong diri untuk mendekat hingga bibirnya dan bibir Ezra bertemu. Ya, bibir mereka bertemu sekarang. Bianca memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mendapatkan kilasan yang biasanya ia temui saat mencium seseorang. Kilasan masalalu yang bisa membuatnya tahu semua hal tentang sosok yang tengah ia cium. Sedetik, dua detik, tiga detik. Kenapa kilasan itu tidak datang juga di dalam pengelihatannya. Bianca menjauhkan diri sesaat. Ia bingung, cemas dan frustasi. Menyugar rambut sebelum melirik ke segala penjuru, Bianca pun mendapati sebuah kemungkinan. Tidak. Tidak mungkinkan kalau kemampuannya hilang? Tidak mungkin itu terjadi, bagaimana bisa? Kenapa kemampuannya tidak bekerja seperti yang seharusnya?! Kenapa juga harus tidak berfungsi di saat ini sih? Aaargh.... Bianca berjalan bolak-balik dengan wajah tak karuan, pikirannya kosong, sembari mengigiti kuku ibu jari tangannya, Bianca berhenti, kemudian memperhatikan Ezra yang masih terlelap. Apa ada sebuah kemungkinan jika ... Ezra mempunyai satu kekuatan yang mungkin ... bisa menutup pengelihatan Bianca? Ah, ini semua membuat kepala Bianca hampir pecah. Sekali lagi! Ya, sekali lagi! Bianca harus kembali mencium Ezra sekali lagi! Apa dia tak akan bangun? Peduli setan! Mau Ezra bangun atau tidak, yang jelas, Bianca tak boleh berhenti di sini. Ia harus terus maju dan menemui kebenarannya. "Kadung basah. Aku akan coba sekali lagi," ujar Bianca pelan. Kembali Bianca mendekat pada Ezra. Hembusan napas lelaki itu bisa Bianca rasakan sebelum kemudian bibir mereka saling bertemu. Mengeluarkan kemampuan menciumnya dengan lembut dan pelan, Bianca mulai menikmati, sembari sesekali memfokuskam diri pada apa yang ia cari sebelum kemudian, tubuhnya terdorong dan tersungkur di lantai. "Kamu udah gila?" Bianca menemui Ezra yang sudah terbangun dan kini duduk di atas pembaringan dengan wajah syok. "Apa yang kamu lakukan, Bianca?!" tanya Ezra dingin. Bianca diam, bingung, apa yang harus ia katakan pada Ezra? "Sekali lagi, apa yang kamu lakukan, Bianca?" "Gu-gue, cuma ... gueee." Bianca terbata, kata-kata hilang dari dalam kepala. Dan ia tak bisa mengelak. "Kenapa kamu masih ada di di sini, di rumah saya? Kamu enggak pulang dari tadi?" Ezra menyingkap selimut dan keluar dari pembaringan. "Jawab saya, Bianca." "Gue cuma—" "Saya tahu kamu murahan, tapi saya enggak tahu kalau kamu sebinal dan semenjijikan ini. Saya enggak tahu kalau kamu semurah ini. Maaf, saya enggak tidur sama sembarang cewek, apalagi bekasan." Kening Bianca mengerut. Bekasan? Bahkan Bianca masih perawan sampai sekarang! "Jangan sembarangan ya!" Karena marah dan tersinggung, Bianca melupakan kegugupan tadi. "Gue cium lo bukan karena gue mau." "So what? Tell me." "Gue kayak gini karena gue harus tahu lo siapa!" "Dengan mencium saya diam-diam begitu? Enggak masuk akal, Bianca." Karena Ezra tidak tahu kemampuannya. Wajar kalau Ezra merasa ini semua tidak masuk akal. "Lo enggak akan ngerti." "Karena kamu enggak menjelaskan." Bianca mengembuskan napas. "Gue pergi sekarang." "Siapa yang ngijinin kamu pergi setelah melecehkan saya seperti ini?" Langkah Bianca terhenti kala Ezra menahan tangannya. "Gue enggak maksud buat ngelecehin lo!" Saat berbalik, tubuh Bianca merinding karena posisinya dan Ezra terlalu dekat, benar-benar dekat. Bagaimana Ezra tidak mengenakan pakaian dan tatapannya tiba-tiba membuat jantung Bianca berdetak cepat. "Lalu, kenapa kamu cium saya? Suka kamu sama saya?" "ENGGAK!" Bianca menjawab cepat. Ezra adalah calon papa tirinya. Bianca tak mungkin macam-macam pada lelaki yang Moma cinta. "JANGAN GEER! GUE CUMA HARUS TAHU LO GIMANA." "Dengan cara mencium saya?" ARRRRGH! Kepala Bianca tak bisa berpikir dengan jernih. Sungguh, melihat Ezra membuatnya gila! Tak bisa mencegah diri, Bianca menjinjitkan kaki lalu mencium calon papa tirinya. Memaksakan meski lelaki itu menolak. Sampai keduanya terjatuh di atas pembaringan. Sedang di sisi lain, mendapati keagresifan Bianca, Ezra mencoba menyadarkan diri untuk tidak terbuai. Karena bagaimana pun, ia hanya seorang laki-laki biasa, penuh nafsu, gairah, apalagi mendapati pancingan sehebat ini. Namun ... kembali pada kalimat menuju akhir. Ezra hanya laki-laki biasa. Saat akhirnya ia merasakan Bianca semakin hebat dalam mengendalikan ciuman, pikiran Ezra terhenti di sana, yang ia tahu, ia mengikuti irama dari pertemuan bibir mereka yang panas. Kulit terbuka Ezra Bianca sentuh lembut dan elus di sela-sela ciuman. Mata Bianca terbuka sesaat kala Ezra juga membalas apa yang tengah ia lakukan. Sebelum dengan bodoh, Bianca menikmati. Merasakan manis bibir laki-laki di hadapannya dengan pikiran kosong. Dengan tangan yang terus saling menyusuri tubuh satu sama lain. Bianca memanas, melenguh, nyaman dan menggairahkan. Tapi bahkan di saat seperti itu pun, Bianca ... tak bisa melihat kilasan apa-apa dari masalalu Ezra. Dan Bianca sadar kalau ini harus dihentikan. Jadi tanpa kata, Bianca berdiri lalu menampar Ezra sekenanya. "Cowok Dajjal lo, bisa-bisanya balas nyium gue!" Ezra memegangi pipi, terbangun duduk di atas pembaringan, ia menarik rambutnya, gila, ia memang pantas mendapatkan tamparan itu, seharusnya ia mendorong Bianca tadi, bukan menikmatinya. sialan! Ezra menatap ke arah pintu kamarnya cepat, hanya untuk mendapati Bianca yang berlari terbirit-b***t. ^^^^^^^^^ "Kenapa lo baru balik? Gue nungguin lo dari tadi. Moma juga sempet nanya lo udah balik atau belum." "Gue harus nunggu situasi sebelum cium Mas Ezra." "Dan gimana? Lo cium dia? Lo berhasil?" tanya Kimi penasaran. Bianca memejamkan mata rapat sebelum kemudian menganggukan kepala. "Oh my God, Bianca! Lo cium calon Papa tiri lo dan itu gila. Gimana kalau Moma tahu anjir, pasti Moma bakalan sakit hati banget." "Gue ketahuan." "What?" Kimi berkata cukup keras dengan wajah syok. "Gue ketahuan Kimi." "Mas Ezra tahu lo cium dia tadi?" Dengan lemah, Bianca mengangguk dan menutup wajahnya. Ini benar-benar di luar prediksinya. "Ah Bianca, kacau lo! Bener-bener kacau." "Gue enggak tahu sekarang bakalan gimana. Gue takut Mas Ezra ngaduin semua ke Moma. Dibanding siapapun yang pernah menyakiti Moma di dunia ini, rasa sakit yang gue berikan pasti yang paling parah." "Pasti Bi, pasti!" Kimi mendesahkan napas berat. "Terus lo lihat apa? Lo sempet lihat sesuatu kan pas kalian ciuman tadi?" "Nah itu dia." "Apa Bi?" "Anehnya, gue enggak bisa lihat apapun dari Mas Ezra meski, gue udah cium dia dua kali! Beneran dua kali. Dari cium cuma nempel bibir aja sampai ciuman yang cukup agresif." Dan Kimi pun melongo bingung. Ia yakin, ini adalah awal dari kehancuran hidup Bianca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD