4 : Whats Up, London?

831 Words
* Aku melongo saat aku baru saja membuka pintu apartement yang akan kutempati ini. Sungguh, ini tempat yang menakjubkan, kurasa aku akan betah disini. Setelah mengunci pintu, akupun langsung menyeret koperku untuk memasuki apartement ini lebih dalam. Semua furniture disini tertata rapi, ruangan inipun bergaya modern dengan warna putih serta beberapa campuran warna hitam, membuat ruangan ini terlihat elegan. Black and white, I like it. Aku meninggalkan koperku dan aku langsung menghempaskan bokongku diatas sofa yang ada di ruangan yang kurasa adalah ruang tamu ini. Tempat ini tidak terlalu luas memang, tapi juga tidak kecil. Sangat pas kurasa untuk aku tinggal seorang diri disini. Kali ini saja, aku sangat berterima kasih pada daddy, sebab beliau yang memilih tempat ini, dan tempat ini sangat pas dengan seleraku. Tadinya aku khawatir, apartement yang akan kutempati kupikir tidak akan sesuai dengan seleraku, karena seperti yang kuketahui, selera daddy cukup kulot dan bertentangan dengan seleraku. But now, I can't believed this! This is so amazing, I love it so much and I love you, dad! Aku sangat menyukai tempat ini. Yeah, kurasa aku akan betah berada disini untuk beberapa bulan atau tahun kedepan, sampai waktu mengizinkanku kembali ke Indonesia. Oke, kurasa aku harus mensyukuri semua ini dan menjalaninya dengan baik. Akupun menghela napasku, kurentangkan kedua tanganku keatas, mencoba merenggangkan otot-ototku. Sungguh, perjalanan dari Jakarta kesini sangat membuatku lelah. Kurasa, berendam di bath tub yang berisi air panas dengan aromaterapi favoritku akan membuatku menjadi rileks kembali. Gezz, membayangkannya saja membuatku ingin cepat-cepat menuntaskan rasa penat ini. Aku pun kembali bangun dan mengambil koperku, kemudian menyeret nya pada sebuah pintu yang kurasa didalamnya terdapat sebuah kamar yang akan kunobatkan menjadi kamarku. Welcome London, aku akan hidup dengan baik disini. * Author Pria ini terus berpacu pada laptop didepannya. Ia mengamati grafik-grafik rumit yang ada di layar laptop itu. Entah yang keberapa kali ia menghela napasnya, sungguh ia memang mencoba fokus pada pekerjaannya, namun mengapa ia sama sekali tidak bisa fokus? Matanya kemudian terarah pada sebuah bingkai foto berukuran sedang yang ada di mejanya ini. Ia mengambil bingkai itu dan tersenyum simpul menatap wajah bahagia seorang wanita didalam foto itu. "You're look so beautiful, always, Melody...," gumamnya lirih dengan tatapan tidak lepas dari foto itu. Pria ini menghela napasnya, ia tidak tahu, entah mengapa ia selalu merindukan wanita itu, wanita yang kini sudah berbahagia dengan dunianya sendiri, wanita yang kini telah menemukan orang yang ia cintai, wanita yang kini sangat mustahil untuk menjadi miliknya. Sungguh sangat miris, karena ia masih saja mencintai wanita yang notabenenya adalah istri orang itu. "Do you know, Mel? I love you so much." Sebuah kata yang sangat sering ia ucapkan saat ia merasa rindu dengan sosok wanita itu. Lagi-lagi pria ini menghembuskan napas beratnya, apakah cinta memang seaneh ini? Hal itu yang terus berputar-putar didalam pikirannya. Ketukan pintu membuyarkan lamunan pria ini, ia menghembuskan napasnya kasar. "Masuk!" perintahnya dingin. Kemudian terlihat, Elizabeth-sekretarisnya membungkuk sopan. Pria ini hanya menganggukkan kepalanya. "Mr. Williams ingin menemui Anda," sahut Elizabeth tak ingin berbasa-basi. Pria ini sekali lagi menghembuskan napasnya, sungguh, ini hari yang sangat berat. "Persilahkan beliau masuk," ujarnya. Elizabeth membungkuk sopan lagi sebelum ia kemudian berjalan mundur beberapa langkah dan keluar dari ruangan atasannya ini. Tak lama kemudian, masuklah seorang pria yang cukup berumur, dengan jas hitamnya, ia mendekati pria yang berpacu pada laptop didepannya ini. "Ternyata putraku ini sekarang sangat hebat, sampai-sampai aku harus menunggu persetujuan untuk bisa bertemu dengan putraku sendiri," kekeh pria bernama John Williams ini. "Bukan begitu, Mickey?" ucap John lagi menggoda putranya ini. Mike menutup laptopnya, ia berdiri kemudian membungkuk hormat pada pria yang merupakan ayahnya tersebut. "Ada keperluan apa Anda menemui saya, Mr. Williams?" tanya Mike sopan. John tertawa renyah, sungguh ia merasa heran, mengapa putranya ini sangat datar dan dingin belakangan ini. John pun berjalan menuju sofa yang ada diruangan ini, ia menghempaskan bokongnya diatas sofa tersebut. "Well, daddy memang sengaja menemuimu, ada yang perlu daddy bicarakan," sahut John santai. "Duduklah, Mike. Apa kauhanya akan berdiri disana dan mendengarkan daddy bicara? Ada apa dengan putraku? Kemari lah, dan bicara dengan santai, tak perlu merasa sungkan," perintah John yang sedikit kesal melihat sikap dingin Mike. Memang sejak kembali dari Jakarta, sikap putra sulungnya ini menjadi aneh, ia lebih suka menyendiri dan ia menjadi dingin pada orang lain. Padahal dulu, John sangat mengenal bahwa putranya ini adalah sosok yang hangat dan ramah, sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat sekarang. Mike berjalan kearah ayahnya tersebut, ia ikut duduk dan memilih sofa yang ada diseberang John. "Apa soal pekerjaan? Dad, perihal industri kita yang adalah di Filipina, aku sudah menanganinya dan-" ucapan Mike terpotong karena John mengangkat tangan kanannya. John menatap Mike intens, "Apa kaupikir daddy kesini hanya untuk berbicara soal pekerjaan?" tanyanya. Mike mengernyit heran, "Tentu saja. Lalu untuk apa lagi? Daddy kesini sudah pasti karena ingin memantau apakah aku menjalankan perusahaan ini dengan baik, bukan? Karena sebagai pewaris Wil-" lagi-lagi ucapan Mike terhenti, sebab John kembali mengangkat tangan kanannya, John sungguh kesal dengan ocehan putranya yang terlalu rasional itu. "Bukan soal itu! Bisakah kau sedikit lebih rileks? Ada apa denganmu?" tanya John sarkas. Mike tetap pada ekspresi datarnya, "Aku baik-baik saja," jawabnya. Bohong? Tentu saja. John menghembuskan napas kasarnya, ia tahu, putranya ini tidak baik-baik saja, namun ia mengerti jika Mike tidak bisa membagi itu pada siapapun. Tapi, sungguh John merasa muak dengan tingkah aneh putranya ini. Ia sangat rindu dengan Mike yang dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD