Mata Jendela Emosi

1189 Words

“Evan, Kakak ….” Ran tidak mampu berkata-kata. Dia tidak menyangka kalau Evan akan menyadari ini lebih awal. Ya, Ran sepenuhnya sadar bahwa dia tidak bisa membohongi Evan selamanya. Namun kalau harus mengungkapkannya secepat ini, jujur saja Ran belum siap. Dia mengulum senyum seraya menghela napas panjang. Kemudian menunduk menatap makanannya, merutuki dirinya sendiri di dalam. “Bodohnya Kakak mengira bahwa kamu tidak akan tahu.” “….” “Kamu sudah dewasa. Kamu pasti mengerti apa yang terjadi sejak awal. Maafkan Kakak yang tidak menjelaskan apa pun pada kamu sampai seperti ini.” “Iya, aku mengerti.” Evan mengangguk. Dia telah memahami keputusan kakaknya. Namun bohong kalau Evan tidak merasa sedih karena itu. Di dunia in, bagi Evan, Ran adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Semen

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD