Terbangun oleh sesuatu yang menyentuh lehernya, Ran membuka mata dan mengerjap melihat rambut hitam lembut yang menyambut pandangannya dan menggelitik dagunya. Suara-suara kecupan samar juga terdengar di telinga. “Ngh. Menjauhlah …!” Ran mengerang pelan, suaranya terdengar serak karena efek bangun tidur. Theo pun menjauh dan menatap Ran dengan senyuman di bibir. “Apa aku seburuk itu semalam sehingga kamu bisa kembali ke sini dan memilih tidur di kamarmu sendiri ketimbang terbangun di dalam pelukan suamimu yang tampan?” Ran menyengir dan memberikan tepukan pelan pada bahu Theo yang telah berbalut kemeja putih, yang menandakan kalau dia tengah bersiap-siap pergi bekerja. “Kamu seharusnya melihat perjuanganku semalam untuk sampai ke sini,” sahut Ran diikuti kekehan geli. “Sayang sekali a

