Napas Ran tercekat saat Theo telah melepaskan gaunnya dan kini tubuh Ran hanya dibalut pakaian dalam berwarna coklat muda. Dia menutupi kedua dadanya dengan tangan, berharap dengan itu dapat sedikit mengurangi rasa malunya, tapi sialnya tidak.Setiap kulit Ran yang diterpa oleh cahaya lampu, Theo dapat melihatnya merona. Dia mengecup bahu Ran seringan bulu, kemudian menjauh. Ran menoleh dan menatap pada Theo dengan bingung. Pria itu duduk di atas ranjangnya yang luas, menatap ke arah Ran dengan pandangan bagai predator. “Bisa … bisakah kamu tidak melakukannya?” bisik Ran lirih. “Apa?” balas Theo. “Mengulur-ulur waktu.” “….” “Kamu membuatku merasa dipermainkan!” Theo tersenyum penuh arti. “Aku memang hendak bermain denganmu,” balasnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Dan sebelum Ran

