Rumah Sakit

1179 Words
Ran tersadar dari pingsannya karena sentuhan mengganggu yang terasa di lehernya. Dia lantas membuka mata, kemudian langsung dihadapkan oleh sosok yang sangat tidak dia duga akan dia lihat di sana. “Kamu …?” lirih Ran dengan suara serak. Dia berdeham dan mengernyit pelan karena rasa sakit di kepalanya dan penglihatannya yang sesaat terasa berputar. Theo menyentuh kepala Ran dan memberikannya sedikit pijitan di sana. “Jangan bangun dulu, kamu masih belum baik-baik saja.” “Apa yang terjadi?” tanya Ran dengan mata yang terpejam. “Kamu pingsan,” jawab Theo sembari melepas handuk basah yang dia gunakan untuk mengelap keringat Ran yang bercucuran sedari tadi. “Dokter bilang kamu demam.” Ran terkejut, tapi untuk menunjukkannya saja dia tidak kuasa. Kemudian ingatannya kembali ke café dan dia mengerang di dalam. Ran ingat pada gelas dan guci mahal yang telah dia pecahkan. Dia juga teringat pada kerumunan orang-orang, tapi saat itu kepalanya terlalu pusing dan tubuhnya terlalu lemas, sehingga dia pun jatuh pingsan sepenuhnya. Sekarang, Ran menduga bahwa dia tengah berada di rumah sakit. Seumur-umur Ran belum pernah dirawat di rumah sakit. Biayanya pasti mahal. Memikirkan itu, Ran langsung membuka matanya dan menatap ke arah pria di hadapannya. Ran mencoba untuk bangkit. “Aku harus pergi!” Theo mendorong bahunya dengan lembut, tapi karena tubuh Ran yang memang lemas, dia langsung kembali terjatuh ke ranjangnya. “Siapa bilang kamu bisa pergi?” kata Theo. “Tapi biaya—“ “Aku sudah membayar di muka semua biayanya. Setidaknya kamu harus menghargai uangku dengan diam di sini sampai sembuh.” Ran membelalak. Ketegangan di wajahnya dan ucapan Theo itu membuat kepalanya semakin berdenyut sakit. “Tidak seharusnya kamu melakukan itu,” kata Ran, dengan napas panas yang berembus ke luar dari hidungnya. Theo melipat tangannya di d**a, menatap Ran angkuh. “Akan lebih baik kalau kamu berucap terima kasih, Gadis Kecil.” Ran tidak suka dengan panggilan itu. “Aku bukan gadis kecil! Dan aku akan mengganti biayanya nanti.” “Dengan apa?” dengus Theo dingin. Ran dibuat semakin tersulut. “Tentu saja dengan uang!” “Termasuk guci seharga dua puluh juta yang kamu pecahkan di restoranku itu?” Mata Ran langsung membelalak lebar. “Du-dua puluh juta?!” serunya hampir terlonjak kaget. “Ah!” lalu kembali jatuh ke bantalnya saat kepala dan otot-ototnya yang lemas memberontak sakit. “Hm,” sahut Theo dengan tenang. “Itu kalau kamu berniat mengganti rugi dengan uang,” lanjutnya. Ran mengernyit. “Maksudmu?” “Lamaranku dua hari lalu masih berlaku, Ran,” jawab Theo. Ran hampir berdecih dengan tidak sopan, tatapan dan ekspresi wajahnya berubah dingin. “Aku lebih suka mengganti rugi dengan uang.” Theo tersenyum miring. “Oh ya? Kalau begitu, aku akan membiarkan sekretarisku memberitahumu berapa jumlah yang harus kau ganti,” ucapnya. Ran menelan ludahnya susah payah. “Be-berapa?” tanyanya gugup. Theo mengedikkan bahu tak acuh. “Mungkin sekitar lima puluh.” “Lima puluh … juta?” Ran berkata hati-hati. Theo terkekeh melihatnya. “Yang pasti bukan lima puluh ribu, Ran.” Untuk sesaat tatapan Ran berubah kosong membayangkan dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Tapi itu lebih baik dari pada harus menikahi pria semacam Theo ini dan dipermainkan olehnya. Harga diri Ran terlalu tinggi untuk itu. “Akan aku ganti,” ucapnya kemudian dengan nada penuh percaya diri. Theo lagi-lagi tersenyum melihat kegigihannya. “Kamu benar. Sepertinya permasalahan ini tidak akan menyenangkan kalau dapat diselesaikan dengan mudah,” gumam Theo, yang membuat kening Ran mengernyit. “Apa katamu?” Theo menggeleng. “Tidak ada.” Ran langsung mengalihkan pandangnya lagi. “Kalau begitu, kamu bisa keluar,” kata Ran. “Baiklah, aku akan memanggil Dokter.” Dan beberapa saat kemudian, Dokter datang, memeriksa keadaan Ran. Setelahnya, Ran kembali jatuh tertidur. Hari sudah larut malam. Theo saat itu seharusnya pulang sementara Ran di sini tertidur pulas dan istirahat. Namun, alih-alih melakukannya Theo justru terdiam di sana, bermain dengan ponsel di tangannya, sejenak mengabaikan laptop yang menyala di hadapannya. “Tuan, saya sudah memberi tahu adik Nona Ran, sebentar lagi dia akan sampai di sini,” lapor supir sekaligus orang kepercayaan Theo. Theo mengangguk padanya, lalu memberikan gestur tangan menyuruh pria itu pergi. Setelah itu, dia melempar ponselnya ke sofa dan melangkah menghampiri Ran. Tidak disangkanya bahwa ternyata gadis itu sudah terbangun. “Kenapa masih di sini?” suara Ran terdengar lemah, tapi nada dingin dan keras kepalanya tidak hilang. Theo benar-benar menyukai hal itu. Penolakan Ran justru membuatnya semakin bersemangat. Entah bersemangat untuk apa. Mungkin itulah alasannya tidak meninggalkan tempat ini sedari tadi di saat pekerjaannya sudah menumpuk di kantor, tugas-tugas lain yang ayahnya berikan padanya. “Aku tidak mungkin meninggalkan calon istriku yang tengah sakit sendirian,” kata Theo dengan senyum manis yang justru di mata Ran tampak sebaliknya. Ran mengalihkan tatapannya dengan malas, rasa pusing di kepalanya sudah tidak separah tadi setelah dokter memberikannya obat. Respon gadis itu hanya dibalas dengan senyuman semakin lebar oleh Theo. Dia kemudian bangkit, mengambil makanan yang sebelumnya diantarkan oleh suster, beserta beberapa butir obat yang harus Ran minum. Ran menatap Theo yang kembali duduk di sampingnya dengan nampan makanan. Ran menunggu pria itu memberikan nampan tersebut padanya, tapi Theo tidak kunjung melakukannya. “Ayo bangun! Kamu harus makan malam dan minum obat.” Ran mengernyit. “Kenapa?” tanyanya bingung. Theo mengangkat sebelah alisnya. “Apa?” “Kenapa Tuan melakukan ini?” Theo menjawab dengan tenang, “Karena kamu calon istriku. Sudah seharusnya aku melakukan ini, bukan?” Ran bangkit dari tidurnya dan menepis tangan Theo yang tengah memegang nampan. “Tidak ada yang akan menjadi istri Tuan di sini. Tidak perlu repot-repot, jawabanku masih sama seperti sebelumnya.” Theo menghela napas, lalu meletakkan nampan itu ke atas ranjang. “Ran,” katanya. Jantung Ran berdetak kencang, hanya dengan pria ini menyebut namanya seperti itu. Tapi Ran segera menyadarkan dirinya. “Tuan bisa pergi. Aku akan mengurus diriku sendiri, termasuk biaya rumah sakitnya.” Walau Ran tidak tahu apa dia bisa membayar biaya perawatannya di rumah sakit ini, karena melihat dari kamarnya saja yang jelas merupakan kamar VIP. Tapi nanti, sesaat setelah Theo pergi, Ran harus segera berkemas dan juga pergi dari tempat ini. “Aku yakin adik kamu pasti akan sangat berterima kasih padaku sekarang,” ucap Theo. Ran terbelalak. “Evan tidak …!” “Kakak!” Theo memberikan Ran senyuman tipis. Evan ada di pintu, menatap Ran dengan cemas. Dia langsung mendekat dan mendorong Theo menjauh. Ran menahan senyumannya kala Theo hampir saja terjungkal ke belakang karena dorongan Evan itu. Mungkin Theo berpikir bahwa Evan adalah remaja yang dengan mudah ditaklukkan tidak seperti kakaknya, tapi Theo salah. “Apa yang sudah kamu lakukan ke Kakak?!” seru pemuda itu, menatap penuh permusuhan ke arah Theo, alih-alih mengucapkan terima kasih seperti yang Theo duga. Benar ‘kan, seperti yang Ran bilang. Dan karena sikap Evan yang jauh dari dugaannya tersebut, Theo menatap tidak percaya. Oh, sekarang masalahnya bertambah. Dia tidak hanya harus menaklukkan Ran yang keras kepala, tapi juga adiknya yang super protektif.   *** [to be continued]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD