5. Sebuah Tantangan

1091 Words
Chapter 5 Tantangan Paginya setelah membersihkan diri Nichole segera pergi ke ruang makan di mana seperti biasanya setiap hari seluruh anggota keluarganya akan berkumpul di sana untuk menikmati sarapan mereka juga makan malam yang hangat. “Selamat pagi, Mom,” sapa Nichole pada ibunya yang berada di sana dan hanya bersama pelayan. Ayah dan kedua adiknya mungkin masih berada di kamar. Margaretha Elingthon, ibu Nichole yang sedang mengawasi pelayan menata peralatan makan tersenyum kepada putrinya semata wayangnya yang masih mengenakan setelan piyamanya. “Apa rencanamu hari ini, Sayang?” tanya wanita yang berprofesi sebagai wakil komisaris di departemen kepolisian New York. Nichole menarik sebuah kursi kemudian duduk dan bibirnya menyunggingkan senyum. “Kurasa hari ini akan cerah, tapi aku ingin bermalas-malasan di kamarku." Setidaknya sampai hari senin ia masih memiliki waktu untuk memutar otaknya, memikirkan cara mendekati Oleg Rumanov, mengakrabinya meskipun terdengar sangat mustahil. "Sayang sekali," kata Margaretha, "Kau sudah lama tidak berjumpa dengan teman-temanmu di sini, kenapa tidak menjumpai mereka?" Ibunya pasti akan terkejut jika tahu ia telah menjumpai teman-temannya begitu mendarat dari pesawat kemarin. "Aku akan berada di New York untuk waktu yang cukup lama, tidak perlu terburu-buru." “Kudengar kau sudah setuju untuk kuliah di Columbia University," kata Margaretha seraya menatap putrinya dengan serius. Sepertinya misi yang diberikan kakeknya sifatnya sangat rahasia sehingga ibunya pun tidak mengetahuinya. “Ya. Aku sudah setuju," jawab Nichole. Margaretha menuangkan s**u di gelas dan meletakannya di depan Nichole. “Sukurlah, aku lega mendengarnya karena kau tidak menentang keinginan kakekmu. Percayalah, kakekmu melakukannya demi kebaikanmu." Nichole mengangguk tanpa menyahut sambil mengambil sosis lalu meletakkan di piringnya. Ibunya tidak tahu jika kakeknya itu tidak seperti yang dipikirkan ibunya, juga dirinya yang tidak seperti yang ibunya duga. Ia tidak akan membuang waktu berlama-lama di New York dan ibunya mungkin akan kecewa dengan keputusannya nanti. “Sayang sekali kau kebebasan dengan terus tinggal di Cambridge,” celetuk Miller Elingthon, adik pertamanya yang berusia Tujuh belas tahun yang datang dengan membawa ransel yang kelihatannya cukup berat. Nichole memutar bola matanya dengan malas. “Urus saja sekolahmu agar kau tidak remedial lagi di kelas matematika,” ejek Nichole pada Miller yang pernah mendapatkan nilai lima di ujian matematika. “Lihat saja aku akan mendapat nilai terbaik di kelulusanku nanti dan kau haru mengakui kehebatanku,” kata Miller seraya meletakkan ranselnya di kursi seberang Nichole. Kejadian itu sudah berlalu lima tahun lebih, tetapi Nichole masih menjadikannya senjata untuk mengejek adiknya dan hal itu selalu membuat Nichole merasa mendapatkan satu poin di atas Miller saat mereka saling mengejek. Nichole mengedikkan bahunya. “Aku akan memberikan gelang Cartier jika kau mendapatkan nilai matematika terbaik, tidak perlu menjadi lulusan terbaik,” katanya dengan nada mengejek. “Aku tidak yakin bisa mendapatkan nilai sempurna di ujian matematika,” kata Miller seraya mengambil dua potong roti lalu duduk. “Aku lebih tidak yakin padamu,” ejek Nichole. Adiknya tidak menyukai matematika, mustahil mendapatkan nilai matematika tertinggi. Tetapi, adiknya cukup baik di mata pelajaran lain sehingga Miller bisa saja mendapatkan lulusan terbaik dengan mengandalkan pelajaran lain. “Aku sangat senang karena kau sudah setuju untuk menlajutkan studi di sini,” kata Margaretha lalu menarik kursi di sebelah Nichole. Ibunya pasti akan kecewa jika tahu kebenarannya, batin Nichole sambil mengambil sebuah telur goreng lalu menempatkan di piringnya. “Ada banyak universitas bergengsi di sini,” kata Margaretha sambil duduk. Ibunya benar ada banyak universitas bergengsi di New York, tetapi kehidupan di Cambridge yang tenang lebih menarik. Dan yang pasti karena Cambridge adalah universitas terbaik nomor satu di dunia saat ini sehingga Nichole hanya menginginkan melanjutkan studinya di sana. Apa ibunya tidak mengerti betapa sulitnya masuk ke universitas itu? “Seharusnya kauau bisa kembali ke Cambridge kalau kau bisa meyakinkan kakekmu,” kata ayahnya yang datang bersama adik keduanya yang berusia tujuh tahun. Nichole menyeringai. “Yeah, tapi aku tidak berhasil meyakinkannya.” “Kalau tidak begini apa kau akan pulang?” tanya ayahnya sembari menarik kursi untuk Jonathan lalu menarik kursi untuk dirinya dan duduk. Sebenarnya Nichole berniat untuk tidak ada rencana untuk pulang ke New York sama sekali sampai program Pascasarjana nya selesai lalu melanjutkan pendidikan Juris Doctor di Amerika. Bukan tidak merindukan keluarga. Lagi pula orang tua dan kedua adiknya menghadiri wisuda kelulusannya di Cambridge, sudah cukup untuk melepaskan rindu walaupun mereka hanya beberapa hari. Nichole berdehem pelan. “Tentu saja aku akan sering pulang. Sayangnya aku sudah kehilangan kesempatan untuk kembali ke Cambridge." David menatap Nichole dengan tenang dan Nichole yakin jika ayahnya sebenarnya mengetahui sesuatu yang ia sembunyikan kerana ayahnya adalah orang yang sangat jeli di balik sikap tenangnya dan itu adalah salah satu hal yang membuat dirinya ingin menjadi seperti David Elingthon, ayahnya yang merupakan pengacara dengan sepak terjangnya diakui di Amerika. “Jika kau ingin kau masih bisa kembali ke Cambridge," kata David sembari mengelus kepala Nichole. “David, kau terlalu memanjakannya,” kata Margaretha sembari menatap suaminya dengan tatapan kesal. Di keluarganya selain ayahnya yang sangat memanjakan Nichole, kakeknya juga sangat memanjakannya. Hanya saja kedua pria itu berada di bawah kendali istri mereka, ayahnya yang ada di bawah kendali ibunya dan kakeknya yang berada di bawah kendali neneknya. Ibunya sudah sering membujuknya untuk kuliah di New York dan sekarang mendengar jika dirinya sudah setuju untuk kuliah di New York pasti ibunya itu sangat senang dan akan kecewa jika kali ini ia hanya akan menjadi mahasiswa gadungan di Columbia University. Sepertinya dengan mengorbankan sedikit waktunya untuk membantu kakeknya tidak akan membuatnya rugi, batin Nichole karena apa yang telah keluarganya berikan keluarganya padanya sangat banyak. Kasih sayang yang tidak terhingga dan meteri yang cukup adalah kebahagiaan yang tiada duanya sehingga menerima misi penting itu sebagai salah satu tantangan dalam hidupnya bukanlah hal yang buruk. Tiba-tiba ponsel Nichole berbunyi panggilan masuk dan Nichole segera mengalihkan perhatiannya pada ponselnya. Nichole tersenyum karena panggillan itu dari Harvey dan sangat menantikannya dari kemarin. “Hai," sapa Harvey. "Hai," balas Nichole seraya meninggalkan kursi dan berjalan ke arah ruang keluarga. "Kuharap aku tidak mengganggu tidurmu.” Nichole berdehem. "Aku terbiasa bangun pagi, jangan khawatir." "Baiklah kalau begitu. Omong-omong, apa kau sibuk hari ini?" Nichole tersenyum lalu menjilat bibirnya. "Yeah, kurasa akan menjadi sibuk. Ada apa?” “Kapten basketku berulang tahun dan aku bermaksud mengajakmu pergi, jika kau ada waktu.” Nichole mematung beberapa detik, hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Harvey mengajaknya ke pesta ulang tahun kaptennya? "Oh, ya? Kapan? Maksudku agar aku bisa mengatur jadwalku," kata Nichole berpura-pura menjadi orang yang sibuk. Tidak mungkin mengatakan jika hari ini ia tidak memiliki kesibukan di New York, itu tidak keren. "Malam ini," jawab Harvey. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD