Sakit Demam Sungguhan?

1304 Words
Waktu menunjukkan jam 04.39 pagi, Velgard tidak bisa melanjutkan tidurnya dikarenakan kejadian sebelumnya terus dirinya pikirkan. Velgard masih memikirkan mengenai apa yang menimpa mereka, ia dan Bevrlyne melihat sebuah kota yang begitu indah di mana di planet bumi ini jelas tidak akan ada. Kota El Dorado sendiri mungkin masih biasa apabila dibandingkan dengan kemegahan kota yang mereka lihat sebelumnya. Tapi ada hal aneh yang terus mengganggu dirinya, yaitu mengenai Bevrlyne yang mengaku melihat seekor monster yang hendak menyerang mereka. Bahkan Bevrlyne sendiri sempat terkena serangan monster itu sebelum mereka terlempar lalu keadaan kembali normal. Pada saat itulah, lamunannya langsung dibuyarkan oleh suara Bevrlyne yang berteriak-teriak tak jelas. Velgard langsung mengangkat wajah lalu menoleh ke arah di mana Bevrlyne berada. Velgard langsung turun dari rajangnya lalu menghampiri adiknya itu. Ketika sudah berada tepat di sampingnya, Velgard sadar bahwa Bevrlyne sedang mengigau, sepertinya ia mengalami mimpi yang buruk lagi. Bevrlyne tampak bernapas cepat, keringat membasahi wajahnya seolah ia sudah berlari begitu jauh dalam waktu yang lama. “Astaga, kenapa kau selalu mimpi buruk? Huh, tapi mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa mengentikan mimpiku.” Velgard bergumam pelan. Ia hendak menyeka keringat Bevrlyne, tapi ketika telapak tangannya menyentuh kening adiknya itu, terasa suhu panasnya begitu tinggi. “Oh my god, Bev, kau panas sekali.” Velgard langsung beranjak berdiri. “Tunggu sebentar, aku akan membawa kompres untukmu. Kau pasti demam tinggi.” Velgard segera membawa air, handuk dan es batu, ia berniat merawat Bevrlyne yang sepertinya mengalami demam diakibatkan oleh apa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. “Tenanglah, kau akan baik-baik saja.” Ketika Velgard membersihkan keringat pada tubuh Bevrlyne, adiknya itu tampak tak breaksi, masih memejamkan mata dengan mulut mengigau, tapi ketika ia mulai mengompres keningnya, Bevrlyne langsung bangun. “Itu dingin, apa yang kau lakukan?” gumamnya agak serak. Melihat itu, Velgard tak menyangka bahwa kondisi Bevrlyne lebih lemah dari yang dirinya perkirakan. “Kau sudah bangun rupanya.” Velgard tak langsung menjawab. “Tubuhmu panas, sepertinya kau mengalami demam sungguhan.” Velgard langsung memberi tahu kondisi tubuh Bevrlyne saat ini. Ia berucap pelan. “Aku demam?” Bevrlyne bergumam sambil menyentuh keningnya sendiri dengan tangan kanan, ia memeriksa keadaanya berusaha memastikan apakah yang Velgard katakan memang benar atau tidak. “Ya. Apalagi sepertinya kau mimpi buruk lagi.” Velgard menambahkan, pada saat yang sama Bevrlyne merasakan memang keningnya terasa panas. Ia tak menyangka bahwa ini terjadi. “Aku memang panas, tapi aku tidak demam.” Ia menggeleng pelan lalu menurunkan tangannya sebelum kemudian menoleh memandang Velgard. “Tidak demam apanya? Sudah jelas itu demam.” Velgard menyangkal perkataan Bevrlyne yang tidak mau mengakui. “Aku baik-baik saja, jangan menempelkan es ke keningku, itu tak nyaman.” Bevrlyne menegaskan, ia tampak benar-benar tidak suka ketika dirinya diberi suhu dingin pada keningnya. Velgard tentu tak setuju dan tak mau mendengarkan ucapan Bevrlyne. Mana mungkin ia mengabaikannya ketika adiknya demam? “Kau harus dirawat, jangan menolak kebaikanku.” Velgard bersikukuh tapi Bevrlyne juga keras kepala, ia terus melawan sehingga kejadian itu berlangsung hingga pagi menjelang. Velgard duduk di lantai karena lelah menghadapi Bevrlyne yang keras kepala tak mau dirawat. Sampai saat ini Bevrlyne masih belum beranjak dari tempatnya, ia mengalami demam akibat serangan yang terjadi. Adiknya itu tampak sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya, Velgard hanya bisa merapikan selimut Bevrlyne lalu berjalan menuju jendela. “Padahal niatnya kita mau bersandiwara untuk membuat Bev sakit, tapi dia malah sakit sungguhan.” Velgard bergumam sambil memandang adiknya yang masih memejamkan mata di sana. “Vel! Bev! Kalian sudah bangun?!” seru Caitlin di bawah sana. Barulah Velgard sadar bahwa aktivitasnya sudah berlangsung cukup lama sampai pagi menjelang. Mendengar seruan ibu mereka yang jelas berseru untuk membangunkan mereka dari tidur, Velgard tentu langsung harus memberi tahu ibunya bahwa Bevrlyne sedang sakit. “Aku sudah bangun!” seru Velgard menjawab seruan itu dengan seruan juga yang tak kalah kerasnya. “Bagus, segera mandi sana, hari ini kita harus bergegas!” Ibunya membalas dari bawah sana. “Mom, sepertinya Bev sakit!” seru Velgard sengaja berteriak di dalam kamar agar ibunya segera mendekat. “Apa?!” Terdengar suara Caitlin yang terkejut saat mendengar apa yang Velgard katakan. Tak lama terdengar suara langkah kaki yang tergesa lalu setelahnya pintu kamar dibuka keras membuat Velgard terlonjak karena tak menyangka bahwa ibunya akan membanting pintu sekeras itu. “Apa maksudmu Bev sakit?” tanya Caitlin ketika masuk ke dalam kamar. Velgard menunjuk ke arah Bevrlyne yang terbaring di atas ranjangnya dengan berbalut selimut. “Dia berkeringat dan suhu tubuhnya tinggi, dia demam.” Velgard memberi tahu. Sementara Caitlin berlari menuju ranjang Bevrlyne. “Oh, sayangku.” Caitlin langsung membelai lalu mengecup kening Bevrlyne. Atas apa yang ian lakukan, ia tahu bahwa Bevrlyne memang mengalami panas tubuh yang tinggi, tentu sudah dipastikan bahwa putrinya itu sedang sakit. “Mom.” Bevrlyne membuka matanya lalu tersenyum memandang ibunya ada di sana. Ia tampak lemas seperti sebelumnya. “Kau kenapa bisa tiba-tiba sakit? Tubuhmu sangat panas.” Caitlin tampak tak tega melihat Bevrlyne yang lemah seperti ini. “Demam bisa datang kapan saja, bukan?” balas Velgard. Ia tampak biasa saja menanggapinya. Masalahnya, meski terlihat lemah seperti itu, tadi ia sempat melihat dan mengalami ketika Bevrlyne berusaha keras melawan tidak mau dikompres keningnya. Caitlin menoleh pada Velgard dengan ekspresi tak senang akibat melihat seolah Velgard tak memedulikan dan tak mengurus Bevrlyne dengan baik. “Kalau kau tahu adikmu sakit, kenapa tidak membawa apa pun untuk mendinginkan keningnya?” tanya Caitlin tampak agak marah karena ia melihat seolah Bevrlyne dibiarkan begitu saja oleh Velgard. “Sudah kulakukan.” Velgard menunjuk es batu dalam plastik beserta handuk yang ada di lantai. Caitlin menunjuk benda yang berada di bawah kakinya itu. “Dia melempar semuanya lalu memarahiku karena itu membuatnya kedinginan.” Ia menjelaskan apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Caitlin sudah tak bisa menyalahkan Velgard karena putranya itu sudah berbuat yang semestinya. Sebaliknya, Caitlin berpaling lalu memandang wajah putrinya itu. “Sayang, kau harus dikompres.” Ia bergumam halus. Tapi Bevrlyne memggeleng menolak. “Aku baik-baik saja, aku tidak mau benda dingin menempel di keningku.” Bevrlyne tampak keras kepala tidak ingin dikompres. “Sudah kukatakan.” Velgard bergumam. “Bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Ayo aku akan menggendongmu.” Caitlin yang mengabaikan Velgard segera menawarkan. Hal itu membuat Velgard menggaruk kepalanya, ibunya bersikap berlebihan. “Mom, kau berlebihan, ini bukan pertama kalinya Bev terkena demam.” Velgard langsung menegur saat mendengar itu. “Kenapa kau tidak segera mandi sana!” Caitlin langsung mengusir Velgard di sana. “Ya sudah. Aku pergi.” Karena Velgard tak ingin mengganggu adegan anak dan ibu itu, maka ia segera meninggalkan kamar. Lagi pula ia memang harus mandi karena sebentar lagi ia harus berangkat sekolah. “Sayang, kau harus diobati.” “Aku baik-baik saja. Besok juga keadaanku akan lebih baik. Tidak sampai harus ke rumah sakit.” *** Akhirnya, pagi itu Velgard sarapan sendirian karena ibunya sedang bersama dengan Bevrlyne. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa bulan ia kembali melakukan aktivitasnya seorang diri. Bisa dikatakan bahwa Bevrlyne lebih sering sakit daripada dirinya, untungnya Bevrlyne tidak pernah mengalami sakit serius, hanya sebatas demam, pilek atau batuk saja. Meski begitu, perilaku ibu mereka akan selalu brlebihan apabila salah satu dari mereka sakit. Velgard memaklumi dan senang akan ibunya yang selalu memberi perhatian di tengah sibuknya pekerjaan yang dijalani. Saat ini, Velgard menyelesaikan sarapannya, ia sudah membawa tas yang berisi segala hal yang diperlukan. “Bev! Mom! Aku berangkat!” seru Velgard yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari kedua wanita yang masih ada di lantai atas itu. Hari ini ia mesti sekolah, ia harus menemui Jace untuk meminta informasi lebih mengenai pengguna kekuatan dari sekolah Easterwod. Meski agak susah, membuang waktu dan banyak kendala lain, ia akan berusaha mencoba mencari tahu mengenai keberadaan pengguna kekuatan itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD