HARI YANG MENGHARUKAN

1402 Words
Hari yang sejak seminggu terakhir berusaha dihindari oleh Allena. Bukan karena ia tidak ingin pergi. Bukan karena ia menolak kesempatan yang diberikan Gilberto. Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun hidupnya, ia harus meninggalkan Panti Asuhan Mega Ceria. Rumah yang selama ini menjadi seluruh dunianya. Sejak subuh, Allena sudah terbangun. Padahal semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Tas sederhana berwarna biru tua sudah tersusun rapi di samping ranjang. Isinya tidak banyak. Beberapa stel pakaian. Buku catatan kesayangannya. Foto bersama penghuni panti yang dicetak beberapa tahun lalu. Dan sebuah Al-Qur'an kecil pemberian Adora saat ulang tahunnya yang ketujuh belas. Allena menatap kamar itu cukup lama. Kamar sederhana yang ditempatinya bersama Maharani selama bertahun-tahun. Dindingnya penuh tempelan gambar buatan anak-anak panti. Ada pula beberapa tulisan motivasi yang sengaja ditempel Maharani secara asal-asalan. Biasanya tulisan itu membuatnya tertawa. Namun pagi ini justru membuat dadanya terasa sesak. "Jangan nangis." Suara Maharani terdengar dari atas ranjang. Allena menoleh. Sahabatnya itu ternyata sudah bangun. Mata Maharani tampak sembab. Jelas ia juga menangis diam-diam semalaman. "Aku belum nangis." bohong Allena. Maharani mendengus. "Pembohong." Mereka saling menatap beberapa detik. Lalu tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang terasa pahit karena sama-sama tahu bahwa hari ini akan berbeda. Hari ini tidak ada lagi rutinitas seperti biasanya. Tidak ada lagi Allena yang membangunkan Maharani setiap pagi. Tidak ada lagi mereka yang berebut kamar mandi. Tidak ada lagi obrolan sebelum tidur hingga larut malam. Untuk pertama kalinya sejak kecil, mereka akan berpisah. "Aku bakal kangen." ucap Maharani pelan. Allena langsung memeluk sahabatnya erat. "Aku juga." Tidak ada yang berkata apa-apa lagi. Karena terkadang perasaan terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata. --- Setelah sarapan, seluruh penghuni panti berkumpul di aula. Awalnya Adora hanya ingin membuat acara perpisahan sederhana. Namun anak-anak panti diam-diam menyiapkan sesuatu. Begitu Allena memasuki aula, puluhan suara langsung terdengar bersamaan. "Selamat untuk Kak Allena!" Allena terkejut. Matanya membesar. Di depan aula terdapat spanduk buatan tangan yang ditulis dengan huruf berwarna-warni. SEMANGAT KAK ALLENA! JANGAN LUPA KAMI! Beberapa huruf terlihat miring. Sebagian lainnya bahkan hampir tidak terbaca. Namun justru itulah yang membuatnya terasa istimewa. Karena semua dibuat oleh anak-anak. Dengan tulus. Tanpa diminta. Dan penuh kasih sayang. Allena langsung menutup mulutnya. Air mata mulai memenuhi matanya. "Ini apa?" Seorang anak perempuan kecil berlari menghampirinya. "Kami bikin semalaman." "Kakak suka?" Allena langsung memeluk anak itu. "Suka sekali." Anak-anak lain ikut mendekat. Ada yang memberikan gambar. Ada yang memberikan surat. Ada yang memberikan gantungan kunci sederhana hasil kerajinan tangan mereka. Bahkan ada seorang anak laki-laki yang memberikan sebuah pensil. "Aku nggak punya hadiah lain." katanya malu-malu. Allena menerima pensil itu dengan kedua tangan. "Ini hadiah yang sangat berharga." Anak itu langsung tersenyum bangga. Sementara air mata Allena akhirnya jatuh. Satu demi satu. Tanpa bisa ditahan lagi. --- Acara perpisahan berlangsung sederhana. Tidak ada kemewahan. Tidak ada dekorasi mahal. Hanya aula kecil yang dipenuhi cinta dan kehangatan. Adora berdiri di depan. Memandang Allena dengan tatapan seorang ibu yang akan melepas anaknya. "Delapan belas tahun lalu." ucapnya perlahan. "Seorang bayi kecil ditemukan di depan gerbang panti ini." Suasana langsung hening. Allena menunduk. Ia tahu cerita itu. Tetapi setiap mendengarnya, hatinya selalu bergetar. "Bayi itu tumbuh menjadi gadis yang baik." lanjut Adora. "Gadis yang selalu membantu orang lain." "Gadis yang selalu mendahulukan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri." Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. "Hari ini gadis itu akan melangkah menuju masa depannya." "Tidak sebagai anak yang ditinggalkan." "Tetapi sebagai anak yang dicintai begitu banyak orang." Tangisan mulai terdengar dari berbagai sudut aula. Termasuk Maharani yang bahkan sudah menangis sejak lima menit lalu. Allena sendiri sudah tidak mampu menahan air matanya. Ia menangis sambil tersenyum. Karena untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu. Mungkin ia memang tidak memiliki keluarga kandung. Tetapi ia tidak pernah benar-benar sendirian. --- Sekitar pukul sembilan pagi, mobil yang dikirim keluarga Fernad tiba. Gilberto turun sendiri menyambutnya. Pria itu sengaja datang langsung karena ingin menghormati momen penting tersebut. Ketika melihat suasana haru di aula, ia hanya tersenyum memahami. Perpisahan memang tidak pernah mudah. Terutama bagi seseorang yang tumbuh di satu tempat selama bertahun-tahun. Setelah berpamitan kepada seluruh penghuni panti, akhirnya tiba saat yang paling sulit. Allena berdiri di depan gerbang Mega Ceria. Gerbang yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak bayi. Tangannya menggenggam erat tas sederhana miliknya. Anak-anak berjejer di sepanjang jalan. Sebagian menangis. Sebagian berusaha tersenyum. "Kak Allena!" teriak seorang anak kecil. "Kalau sukses jangan lupa pulang!" Allena tertawa di tengah tangisnya. "Iya." "Kakak janji." "Kakak harus sering datang!" "Iya." "Harus video call!" "Iya." "Harus bawa oleh-oleh!" Semua orang langsung tertawa. Bahkan di tengah suasana haru, tingkah polos anak-anak tetap berhasil mencairkan keadaan. Akhirnya, setelah memeluk Adora dan Maharani untuk terakhir kalinya pagi itu, Allena masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil mulai bergerak meninggalkan panti. Dari balik jendela, ia masih melihat anak-anak melambaikan tangan. Semakin jauh. Semakin kecil. Hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Saat itulah air mata kembali jatuh. Bukan tangisan kesedihan. Melainkan tangisan seseorang yang sedang meninggalkan rumah untuk pertama kalinya. --- Perjalanan menuju kediaman keluarga Fernad memakan waktu hampir tiga jam. Awalnya suasana di dalam mobil cukup hening. Allena masih sibuk menenangkan perasaannya. Sementara Gilberto membiarkannya menikmati kesunyian itu. Baru sekitar tiga puluh menit kemudian pria tersebut membuka percakapan. "Kamu akan merindukan mereka." ucapnya. Allena tersenyum tipis. "Sangat." Gilberto mengangguk. "Saya mengerti." "Karena saya juga pernah meninggalkan rumah." Allena menoleh. "Benarkah?" "Tentu." Gilberto tersenyum kecil. "Kamu pikir saya lahir langsung menjadi pengusaha?" Pertanyaan itu membuat Allena tertawa pelan. "Tidak, Pak." "Saya dulu sama seperti kebanyakan orang." Pria itu mulai bercerita. Tentang masa mudanya. Tentang bagaimana ia memulai usaha dari nol. Tentang berbagai kegagalan yang pernah dialami. Tentang hutang. Tentang kerugian. Tentang rasa takut. Dan tentang keberanian untuk mencoba lagi. Allena mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia baru menyadari bahwa di balik kesuksesan seseorang terdapat perjalanan panjang yang tidak terlihat. "Saya pernah gagal tiga kali." kata Gilberto. "Tiga kali?" "Ya." "Usaha pertama bangkrut." "Usaha kedua juga." "Usaha ketiga hampir membuat saya kehilangan semuanya." Allena membulatkan mata. Sulit membayangkan pria sukses di hadapannya pernah mengalami hal-hal seperti itu. "Lalu bagaimana Bapak bangkit?" Gilberto tersenyum. "Saya belajar." "Belajar?" "Ya." "Seseorang yang berhenti belajar akan tertinggal." Kalimat itu langsung tersimpan di benak Allena. --- Perjalanan berlanjut. Pemandangan kota perlahan berganti. Gedung-gedung semakin tinggi. Jalanan semakin ramai. Sesekali Gilberto kembali bercerita. Kali ini tentang dunia kuliah. "Saat kuliah." katanya. "Saya tidak memiliki banyak uang." Allena tampak terkejut. "Serius?" "Sangat serius." "Saya bekerja sambilan." "Membagikan brosur." "Menjadi penjaga toko." "Bahkan pernah membersihkan gudang." Allena tidak menyangka. Pria yang kini memiliki kekayaan luar biasa ternyata pernah menjalani kehidupan yang sederhana. "Kenapa Bapak tetap kuliah?" tanya Allena. Gilberto menatap keluar jendela. "Lingkungan bisa mengubah hidup." "Dan pendidikan memperluas lingkungan." Allena mengernyit. Belum sepenuhnya memahami maksudnya. Gilberto tersenyum. "Ketika kamu kuliah." "Kamu akan bertemu banyak orang." "Banyak pemikiran." "Banyak kesempatan." "Itulah yang mengubah masa depan." Allena mengangguk perlahan. Ia mulai mengerti. Selama ini ia berpikir kuliah hanya soal mendapatkan gelar. Namun ternyata lebih dari itu. Kuliah adalah kesempatan untuk tumbuh. Untuk belajar. Untuk mengenal dunia yang lebih luas. --- Dua jam berlalu tanpa terasa. Sepanjang perjalanan, Gilberto terus berbagi pengalaman hidup. Tentang kerja keras. Tentang integritas. Tentang pentingnya menjaga kejujuran meski tidak ada yang melihat. Bahkan tentang bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat. "Kesuksesan tidak membuat seseorang menjadi lebih tinggi." ucap Gilberto. "Justru semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tanggung jawabnya." Allena mengangguk setuju. Ia menyukai cara pria itu berpikir. Mungkin itulah alasan mengapa yayasan yang dibangunnya mampu membantu begitu banyak orang. Menjelang akhir perjalanan, Gilberto menatap Allena. "Ada satu hal yang ingin saya ingatkan." "Apa itu, Pak?" "Jangan pernah merasa rendah diri." Allena terdiam. "Saya tahu kamu berasal dari panti." "Tapi itu bukan kekurangan." "Itu bagian dari perjalanan hidupmu." Suara pria itu terdengar hangat. "Kamu tidak lebih rendah dari siapa pun." "Dan tidak lebih tinggi dari siapa pun." "Kamu hanya perlu menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri." Mata Allena kembali terasa panas. Karena selama ini, jauh di dalam hatinya, ia memang sering merasa berbeda. Merasa kurang. Merasa tidak seberuntung orang lain. Namun kata-kata itu perlahan menghapus sebagian ketakutannya. Tiga jam setelah meninggalkan Mega Ceria, mobil akhirnya memasuki kawasan perumahan elite yang belum pernah dilihat Allena sebelumnya. Gerbang besar terbuka perlahan. Mobil melaju masuk. Dan untuk pertama kalinya, Allena melihat dunia baru yang akan menjadi bagian dari hidupnya mulai hari ini. Dunia yang sama sekali berbeda dari Panti Asuhan Mega Ceria. Dan tanpa ia sadari, di balik salah satu jendela rumah megah itu, takdir perlahan sedang menyiapkan pertemuan pertamanya dengan Zacky Fernad.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD