Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang berdiri megah di tengah kawasan elite.
Allena terdiam.
Matanya menatap bangunan itu dari balik jendela mobil.
Rumah itu bukan sekadar besar.
Tapi seperti istana.
Dindingnya berwarna putih krem dengan pilar tinggi di depan pintu utama. Halaman depan dipenuhi taman rapi dengan bunga-bunga yang ditata seperti karya seni. Air mancur kecil berdiri di tengah, mengalirkan suara gemericik yang menenangkan.
Namun bagi Allena, semuanya terasa asing.
Sangat asing.
Ia menggenggam tali tasnya lebih erat.
"Sudah sampai."
Suara Gilberto terdengar lembut dari kursi depan.
Allena mengangguk pelan.
"Iya, Pak."
Tapi tubuhnya tidak langsung bergerak.
Ada sesuatu yang menahan langkahnya.
Perasaan campur aduk antara kagum, takut, dan rindu yang belum selesai.
Gilberto turun lebih dulu.
Ia membuka pintu belakang mobil untuk Allena dengan tenang.
"Silakan."
Allena menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar.
Begitu kakinya menginjak lantai, ia langsung merasakan udara yang berbeda.
Lebih dingin.
Lebih tenang.
Namun juga terasa lebih jauh.
Seolah dunia ini tidak mengenalnya.
Seorang pria paruh baya dan dua staf rumah langsung menyambut mereka.
Gilberto memberi isyarat kecil.
"Ini Allena."
"Dia akan tinggal sementara di sini dan membantu di rumah."
Para staf mengangguk sopan.
Allena ikut membungkuk kecil.
"Perkenalkan saya, Allena."
Suaranya terdengar sedikit gemetar.
Namun tetap jelas.
Gilberto memperhatikan reaksinya.
Ia tidak menyela.
Hanya tersenyum tipis.
Rumah itu kemudian terasa seperti mulai “hidup” untuk Allena.
Langkah pertama memasuki pintu utama membuatnya berhenti sejenak.
Lorong panjang dengan lantai marmer mengilap membentang di depannya.
Lampu gantung kristal di atas kepala memantulkan cahaya hangat yang membuat ruangan terlihat sangat mewah.
Allena menelan ludah.
Maharani pasti akan pingsan kalau melihat ini, batinnya tiba-tiba.
Pikiran itu membuatnya tersenyum kecil.
Namun senyum itu cepat hilang saat ia sadar…
Ia benar-benar sekarang ada di sini.
Bukan sebagai tamu.
Tapi sebagai pekerja.
Gilberto berjalan di sampingnya.
"Rumah ini cukup besar."
ucapnya santai.
"Jangan khawatir kalau kamu merasa asing."
Allena mengangguk.
"Saya… akan berusaha menyesuaikan diri, Pak."
"Itu yang saya harapkan."
Mereka melewati beberapa ruangan.
Ruang tamu.
Ruang keluarga.
Ruang makan yang bahkan bisa menampung lebih dari dua puluh orang.
Allena hanya bisa melihat semuanya dengan kagum yang tertahan.
Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.
"Pak…"
"Iya?"
"Anak Bapak…"
Allena ragu sejenak.
"Dia di mana sekarang?"
Gilberto tidak langsung menjawab.
Ia berhenti berjalan.
Lalu menoleh pelan.
"Dia di rumah ini."
Jantung Allena langsung berdetak lebih cepat.
"Oh…"
"Dia jarang keluar pagi hari."
lanjut Gilberto.
"Biasanya baru muncul siang atau sore."
Allena mengangguk pelan.
Ia tidak tahu kenapa, tapi nama “anaknya” Gilberto itu mulai terasa seperti sesuatu yang besar di kepalanya.
Seseorang yang belum ia kenal.
Tapi akan sangat berpengaruh dalam hidupnya.
Setelah berkeliling singkat, Gilberto memanggil salah satu staf rumah.
"Antarkan dia ke kamarnya."
"Baik, Tuan."
Seorang wanita muda kemudian mendekati Allena.
"Silakan ikut saya."
Allena menatap Gilberto.
"Terima kasih, Pak."
Gilberto mengangguk.
"Beristirahatlah dulu."
"Besok kamu mulai belajar rutinitas di sini."
Allena mengangguk.
Kemudian mengikuti staf tersebut menaiki tangga besar di sisi rumah.
Setiap langkah terasa seperti memasuki dunia yang semakin jauh dari hidupnya yang lama.
Di lantai dua, mereka melewati beberapa pintu kamar.
Sampai akhirnya berhenti di sebuah kamar sederhana namun elegan.
"Ini kamarmu."
kata staf itu.
Allena membuka pintu perlahan.
Ruangan itu tidak terlalu besar dibanding bagian rumah lainnya.
Tapi jauh lebih mewah dari apa pun yang pernah ia tempati.
Tempat tidur rapi.
Meja kecil.
Lemari kayu putih.
Dan jendela besar yang menghadap taman belakang.
Allena berdiri di ambang pintu cukup lama.
"Apa saya benar-benar pantas di sini?" gumamnya pelan.
Staf itu tersenyum kecil.
"Ini sudah diperintahkan Tuan Gilberto."
"Beristirahatlah."
Setelah itu wanita itu pergi.
Allena akhirnya masuk.
Menutup pintu perlahan di belakangnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan panti…
Ia benar-benar sendirian.
Ia duduk di tepi ranjang.
Menatap sekeliling kamar.
Sunyi.
Tidak ada suara anak-anak bermain.
Tidak ada Maharani yang berisik.
Tidak ada Adora yang memanggil namanya dari dapur.
Yang ada hanya dirinya.
Dan keheningan.
Allena membuka tasnya.
Mengeluarkan foto kecil dari panti.
Di foto itu, ia berdiri bersama Adora, Maharani, dan anak-anak lain.
Senyum mereka semua terlihat lebar.
Air mata Allena jatuh tanpa ia sadari.
"Aku benar-benar pergi…"
bisiknya.
Namun di tengah kesedihan itu, ia juga merasakan sesuatu yang lain.
Harapan.
Sementara itu di bagian lain rumah besar itu…
Di lantai bawah, sebuah pintu kamar besar tertutup rapat.
Suasana di dalamnya gelap.
Gorden tebal menutupi jendela.
Hanya cahaya dari lampu meja yang menyala redup.
Seorang pria duduk di depan meja kerja.
Laptop terbuka.
Dokumen berserakan.
Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit digulung di lengan.
Rambutnya acak namun tetap terlihat rapi.
Tatapannya tajam.
Fokus.
Dingin.
Dia Zacky Fernad.
Pria yang selama ini belum pernah benar-benar diperkenalkan pada Allena.
Zacky menghela napas pelan.
Tangannya mengetik cepat di keyboard.
Namun tiba-tiba…
Tok tok.
Pintu kamar diketuk.
Zacky tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
Baru kemudian ia berkata singkat.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Seorang asisten rumah tangga masuk perlahan.
"Maaf mengganggu, Tuan Zacky."
"Ada tamu baru di rumah."
Zacky tidak menoleh.
"Siapa?"
"Seorang gadis dari panti asuhan."
Tangan Zacky berhenti mengetik.
Hanya sesaat.
Lalu kembali bergerak.
"Untuk apa dia di sini?"
Asisten itu ragu.
"Katanya… bekerja di rumah ini atas perintah Tuan Gilberto."
Zacky akhirnya menoleh sedikit.
Matanya menyipit.
"Nama?"
"Asisten itu melihat catatan kecil."
"Allena."
Ruangan itu langsung sunyi.
Zacky mengulang pelan.
"Allena…"
Tidak ada ekspresi jelas di wajahnya.
Tapi ada sesuatu yang berubah.
Sedikit.
Hampir tidak terlihat.
"Abaikan dulu."
katanya dingin.
"Biarkan dia beradaptasi."
Asisten itu mengangguk.
"Baik, Tuan."
Lalu keluar dari ruangan.
Pintu tertutup kembali.
Zacky bersandar di kursi.
Matanya menatap kosong ke depan.
Allena.
Nama itu baru saja masuk ke dalam hidupnya.
Namun ia belum tahu…
bahwa nama itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar “pekerja baru” di rumahnya.
Sore harinya, Allena mulai mencoba mengenal rumah itu lebih jauh.
Seorang staf wanita mengajaknya ke dapur.
"Ini area kerja kamu nanti."
Allena mengangguk.
"Baik."
Ia melihat sekeliling.
Dapur itu sangat besar.
Peralatan lengkap.
Semuanya modern.
Berbeda jauh dengan dapur sederhana di panti.
"Apa yang harus saya lakukan pertama kali?"
tanya Allena.
Staf itu tersenyum.
"Mulai dari membantu mengatur jadwal makan Tuan muda."
"Dan memastikan beberapa kebutuhan rumahnya teratur."
Allena mengangguk lagi.
"Tuan muda…"
Ia mengulang pelan.
"Ya."
"Anak Tuan Gilberto."
Allena hanya mengangguk.
Namun di dalam hatinya, rasa penasaran itu semakin besar.
Malam mulai turun.
Rumah itu semakin sunyi.
Allena duduk di kamar sambil menulis sesuatu di buku catatannya.
Hari pertama di rumah baru.
Tangannya berhenti sejenak.
Ia menatap tulisan itu.
Lalu tersenyum kecil.
"Semoga aku bisa bertahan."
bisiknya pelan.
Di luar jendela, angin malam bergerak lembut.
Dan di lantai lain rumah itu, seorang pria bernama Zacky masih belum keluar dari kamarnya.
Namun takdir…
sudah mulai mempertemukan dua dunia yang sangat berbeda.
Allena.
Dan Zacky Fernad.