Sister be like

1116 Words
Pagi ini adalah hari pertama untuk memulai suasana yang baru. Aku diterima sebagai karyawan yang akan menggantikan posisi Wilda di kantor, dan itu pertanda bahwa akhirnya aku harus kembali ke kota Surabaya. Tidak membutuhkan waktu yang sulit untuk meyakinkan Ayah dan Ibu untuk kembali ke Surabaya yang tentu berbeda status dari yang dulu sebagai seorang mahasiswa dan kini menjadi wanita kantoran. Sejujurnya yang sedikit menyulitkan adalah saat adikku Nabila yang merengek ingin mengikutiku pindah ke Surabaya. Setelah sesi wawancara waktu itu bisa dibilang cukup lancar meskipun awalnya didera rasa gugup karena seorang wanita yang menjabat sebagai kepala HRD terkesan jauh dari sikap ramah. Namun itu hanya terjadi beberapa menit karena setelah itu Ibu kepala HRD tersebut mulai tertarik dengan jawabanku yang interaktif atas pertanyaan yang dilontarkannya. Jam delapan kurang lima belas menit sampai di area perkantoran. Dari arah lobi namaku dipanggil nyaring hingga menimbulkan perhatian dari beberapa pekerja yang baru masuk, jelas pelakunya adalah sahabatku Wilda. Dia masih ada disini hingga seminggu kedepan hingga masa kerjanya habis. Dari waktu tersebut akan kumanfaatkan untuk menanyakan tugas apa saja yang akan aku gantikan darinya. "tadi bareng Gue kan enak, gak perlu nunggu bis umum" ujar Wilda ketika kami mulai mengantri didepan pintu lift. "arah tempat tinggal kita kan gak searah Wil, putar balik makin lama sampainya" jawabku sama seperti saat Wilda mengajakku berangkat kerja bersama. "btw, Gue deg degan nih masuk hari pertama" lanjutku. "santai aja, ntar Lo ke HRD dulu konfirmasi kehadiran pertama. Selanjutnya nanti akan diarahkan ke ruangan accounting untuk dikenalkan pada pegawai" tutur Wilda "yes, miss..." jawabku mantap. Hari pertama terbilang cukup normal untuk ukuranku yang baru pertama kali bekerja kantoran. Wilda dengan sigap mengajariku tentang tugas tugasnya selama ini dan memberikan room tour ketika jam istirahat berlangsung. "penghuni lantai ini baik baik Nad, jadi Lo dibawa santai aja" ujar mbak Laras salah satu pegawai yang cukup friendly. Aku mengangguk sambil tersenyum. "cuma satu aja sih yang judesnya minta disianida" katanya kembali. Mataku terbelalak dan melihat Wilda penuh tanya. "itu si nona sekretaris" jawab mbak Laras seakan mengerti tanda tanyaku. Ohya, hari ini Pak Manager masih dalam kunjungannya ke luar negeri bersama sekretarisnya sejak dua hari yang lalu. "gak usah diambil hati kalau si Sari nanti ngomongnya nyelekit" ujar Wilda. "segitunya emang?" tanyaku pada Wilda. "pokoknya sikap dan omongannya si Sari gak perlu dimasukin hati, oke?" ujar Wilda penuh penekanan. Aku hanya mengangguk mengiyakannya. *** Sore harinya Wilda tetap memaksa untuk mengantarkanku pulang. Beruntung kali ini ia mengendarai mobil sendiri tanpa ditemani suaminya. "kosan Lo jauh banget dari kantor Nad" kata Wilda begitu kami sampai di kosanku. "dekat sebenarnya, cuma kejebak macet dan tidak searah dengan apartemen kamu jadinya kelihatan jauh" jelasku padanya. "iya juga sih... Kapan kapan nginep sama Gue dong" pintanya. "Wil, Lo lupa sekarang sudah punya suami yang notabenya istri Pak dosen Rakasatya? Malu Gue kalau keseringan kesana" tolakku merasa tidak enak pada suaminya, walaubagaimanapun status Pak Satya pernah menjadi dosen dikampus kami. "ya nanti kalau suami Gue ada dinas luar kota kan bisa Nad. Bosen di rumah sendirian, belum nanti kalau udah bener bener resign dari kantor" keluhnya. "nikmatin program hamilnya, dijaga baik baik" saranku padanya. Kami hening beberapa saat, pembahasan kehamilan masih menjadi tema yang tabu untuk dilanjutkan. "emmm... Lo baik baik aja kan Nad?" Wilda membuka suara kembali. "baik, kenapa?" tanyaku mencoba senormal mungkin. "Gue sempat khawatir sama keadaan Lo setelah kejadian itu" kata Wilda perlahan. Aku tersenyum getir, "seperti yang selalu Lo bilang berkali kali, live show must go on" kataku kembali berusaha setenang mungkin. "iya, tetap aja Gue masih khawatir" Wilda melihatku sekilas. "Lo terlalu baik buat jadi sahabat Gue" kataku sambil melihat kearahnya. "lebih dari itu semua, Gue sudah menganggap Lo sebagai saudara Nad. Apapun yang sudah terjadi dan yang akan terjadi nantinya, Gue harap Lo masih mau berbagi duka dengan Gue" ucapnya yang terdengar sangat tulus. Tanpa menjawab pernyataannya kemudian aku memeluk Wilda. "makasih Wil... Makasih banget sudah jadi seseorang yang selalu ada buat Gue. Gue gak bisa bayangin jika waktu itu gak ada Lo disisi Gue," kata tertahan yang belum sempat kuucapkan setelah kejadian itu. "Iya sama sama. Gue akan selalu ada buat Lo, walaupun Gue udah menikahpun ikatan pertemanan kita tetap sama" ujar Wilda sambil menepuk punggungku pelan. *** Satu minggu berlalu, itu pertanda menjadi hari terakhir Wilda di kantor ini. Sore harinya ia mengadakan acara makan disalah satu restoran steak langganan kami dengan mengundang staf accounting minus Pak manager beserta sekretarisnya dalam perjalanan dinasnya. "kita harus sering hangout meskipun Lo udah cabut dari kantor Wil" kata mbak Laras menginterupsi. Wilda hanya menjawab dengan menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O karena mulutnya penuh dengan potongan daging steak. "kita juga ya Wil" sahut seorang laki laki disamping mbak Laras. "enak aja, Lo gak usah ikut ikutan ya... Ini urusan antar wanita" mbak Laras tidak setuju. "ngalah aja sama Laras, sebelum ditelan hidup hidup Lo" ujar laki laki lain di ujung meja. Entah kenapa aku belum menghafal satu persatu nama laki laki yang berada satu staf denganku, padahal jumlahnya tidak mendominasi distaf kami. "Nad, kalau Lo butuh apa apa atau ada hal yang tidak Lo mengerti bisa minta tolong sama mbak Laras" ujar Wilda ketika kami sudah menyelesaikan makanan masing masing dan diganti dengan mengobrol sebelum pulang. "Lo tenang aja Wil, serahkan Nadia sama Gue. Akan Gue jaga dengan aman" sahut mbak Laras yang tempat duduknya berdekatan dengan aku dan Wilda. "eh, Wilda kasih sepatah dua kata dong" kata laki laki disebalah mbak Laras menginterupsi. Wilda berdiri dari tempat duduknya dan tidak lama ia membuka suara dengan menceritakan kenyamanannya selama bekerja. Suasana menjadi hening hingga ada rasa haru menyeruak sepanjang Wilda menyebutkan satu persatu nama anggota staf yang hadir disini untuk mengucapkan rasa terimakasih. Hampir lima belas menit berlalu Wilda berbicara dan kami saling berpamitan karena hari mulai memasuki malam. "Lo harus sering sering ngunjungin Gue Nad, jangan jadi alasan kosan Lo gak searah sama apartemen Gue ya" jelasnya ketika kami berdua paling akhir keluar dari restoran setelah Wilda menyelesaikan bill pesanan. "Iya, Gue usahain weekend kita bisa ketemu" jawabku. "Gue bakal kangen lagi" rengeknya. "ya ampun, Gue masih di Surabaya Wilda" ingatku padanya. "gak bisa Gue bayangin kehidupan setelah keluar dari kerja kantoran, boring banget pasti" keluhnya kembali. "jangan gitu, fokus sama tujuan Lo. Segera ngelahirin ponakan yang lucu lucu" ucapku. Wilda mengangguk. "inget ya... Apapun yang terjadi selalu kabarin Gue" Wilda mengingatkan lagi. Kali ini aku yang mengangguk. Kami berpisah didepan area parkir restoran setelah sebelumnya menolak untuk diantarkan pulang oleh Wilda, sahabatku yang keras kepala namun sangat pengertian. Hubungan pertemanan kami mungkin melebihi ikatan persaudaraan meskipun tidak berasal dari darah yang sama. Juga menjadi salah satu kebahagiaanku dapat dipertemukan Tuhan dengannya, she is Wilda. . . . To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD