Dulu sekali, sempat bertekat tidak akan kembali ke tempat yang pernah menyimpan cerita luka dimasa lalu. Jelas, karena terlalu banyak cerita yang ada hingga seakan susah untuk menghapusnya.
Surabaya memberikan arti dan makna yang berbeda disetiap sudutnya. Berharap kenangan itu akan pudar dengan seiring berjalannya waktu hingga aku benar benar keluar dari lingkaran yang membelenggu.
Surabaya memberikan arti persahabatan yang mendalam seperti hubungan pertemananku dengan Wilda meski kita tidak ada hubungan darah sekalipun. Surabaya juga memberikan pukulan telak dan membuat hati dan perasaanku hancur tak tersisa, hingga mengingatnya saja membuatku sulit bernafas.
Wilda pernah mengatakan kalau aku harus keluar dari lingkaran tersebut, aku harus melawannya. Nihil, aku masih mengingatnya meski dalam sudut hatiku yang terkecil.
***
Kembali pada rutinitas setiap pagi dengan melewati padatnya jalanan Surabaya berbarengan dengan jam masuk kantor. Kemacetan disetiap persimpangan jalan sudah menjadi pemandangan yang lumrah terjadi ketika memasuki jam tertentu.
Hari ini menjadi hari pertama tanpa adanya Wilda, beruntung rekanku yang bernama mbak Laras cukup kooperatif selama aku berkerja diminggu pertama. Jadi kemungkinan masalah dengan rekan kerja dapat meminimalisir.
Pintu kantor staf terbuka dan menampilkan sosok yang baru pertama kali kulihat. Ia berjalan dengan angkuh melewati setiap pegawai yang dilewatinya, sedangkan dibelakangnya terdapat seorang wanita dengan pembawaan yang begitu seksi dibandingkan dengan pegawai wanita yang lain dalam ruangan ini. Lelaki tersebut memasuki ruangan yang selama satu mingguku bekerja belum pernah kutemui pemiliknya.
Ah, iya... Dia managerku...
Deru suara ketikan keyboard terdengar teratur disetiap penjuru, kami kembali bekerja dengan tugas masing masing. Tidak lama seorang wanita yang sempat menjadi buah bibir mbak Laras berada didepanku.
Dia Sari, sekretaris manager yang juga baru kutemui hari ini.
"kamu pegawai yang gantiin Wilda?" katanya yang jauh dari kata ramah.
"Iya benar" jawabku sesopan mungkin meskipun dari sisi usia sepertinya ia masih dibawahku.
"dipanggil Pak Tama tuh ke ruangannya" jelasnya sambil berlalu.
"oke" desisku pelan sambil melihatnya kembali ke meja sekretaris yang letaknya tepat didepan ruangan manager.
Aku dipersilahkan masuk begitu mengetuk dua kali pada sebuah pintu kaca semi transparan untuk memasuki ruangan didepanku.
Sebuah ruangan yang cukup nyaman dengan pendingin ruangan yang cukup rendah serta nuansa minimalis yang didominasi warna abu dan putih. Jelas sekali pemiliknya orang yang kaku dan dingin dari sekilas menilai ruangan kerjanya.
"Nadia, silahkan duduk" titahnya begitu menyadari keberadaanku.
Lima menit berlalu dengannya yang masih membaca sebuah dukumen, bisa ditebak itu adalah hard file cv lamaran kerja yang kukirimkan setelah mendapatkan info pekerjaan dari Wilda.
"kamu ada hubungan kerabat dengan Wilda?" tanya Pak Tama tanpa basa basi.
"heh? Eh... Maaf, saya mendapat informasi pekerjaan ini dari Wilda Pak. Kebetulan kami satu angkatan di kampus" jelasku sedikit kaget dan terbata dengan pertanyaannya.
"fresh graduate ya? Tapi pengalaman organisasi kamu boleh juga" katanya yang kujawab dengan anggukan kecil.
"public speaking kamu bagus berarti?" tanya Pak Tama dengan menutup dokumen dan melihat kearahku.
"lumayan Pak, kebetulan saya aktif di organisasi kemahasiswaan selama dua periode" jelasku mencoba bersikap santai meskipun degub jantungku diatas rata rata sejak memasuki ruangan ini.
"oke, mungkin suatu saat saya butuh bantuan kamu. Saya harap kamu siap" katanya sambil menautkan kedua tangan diatas meja.
"baik Pak" jawabku singkat.
"kamu bisa kembali bekerja. Sudah paham job desk kamu disini?" tanya Pak Tama kembali.
"sudah Pak, selama seminggu kemarin Wilda cukup menginstruksikan tugas saya selama bekerja disini" jelasku mantap.
"good... Semoga kamu segera beradaptasi dengan lingkungan kerja dan sekarang bisa kembali" tutupnya.
"terimakasih Pak, permisi" pamitku dan segera berdiri.
Ketika baru saja keluar dari ruangan Pak Tama, sambutan lirikan tajam dari Sari yang terlihat tidak suka. Entah apa yang salah denganku padahal baru pertama kalinya kami bertemu.
"diinterview sama Pak Tama?" tanya mbak Laras begitu menempati kubikel meja kerjaku.
"Iya mbak, awal pertama beliau bertemu dengan pegawainya yang baru kan?" ujarku membenarkan.
"Iya sih... Ohya, udah dijutekin sama Sari?" pertanyaan yang sudah terjadi sejak kemunculan Sari di kantor ini.
"itu anaknya emang gitu atau gimana ya? Padahal baru juga ketemu" tanyaku sedikit sebal.
"cuekin aja, emang modelannya begitu" tutur mbak Laras yang kujawab dengan mengendikkan bahu.
Aneh saja menurutku, pertama kali bertemu dan mendapat sapaan yang kurang menyenangkan dari sekretaris pak Bos. Semoga sikap menyebalkan Sari tidak akan menggangguku selama bekerja disini.
***
Satu bulan berlalu menjadi pekerja kantoran di kota Surabaya. Sejauh ini terlihat baik dengan tidak ada kesulitan yang berarti. Partner kerja satu divisi yang menyenangkan, minus Sari tentunya. Dengan mbak Laras yang menjadi teman baru yang cukup menghibur disela kepadatan deadline.
"Lo diet Nad?" tanya mbak Laras dengan membawakan pesananku ketika ia kembali dari jam makan siang.
"enggak mbak, terimakasih pesanannya" kataku sambil menerima sebuah sandwich dan satu botol jus buah.
"kerjaan bisa ditinggalin kali, kan masuk jam istirahat" sindirnya ketika melihatku masih fokus dengan ketikan keyboard ditangan.
"ini tadi Sari ngasih file yang harus diselesaikan sebelum jam dua. Ya kali sebanyak ini bisa selesai kalau gak dikebut" jelasku tanpa terlepas dari layar LCD.
"kok dia nyuruh kamu?" tanya mbak Laras kepo.
"diminta Pak Bos masa aku tolak?" jelasku kembali
"masa sih Sari bilang gitu?"
Kujawab dengan anggukan.
Jam istirahat siang usai dengan kembalinya karyawan lain. Kulihat Pak Tama keluar dari ruangannya dengan mencari sesuatu.
"ada yang lihat Sari?" tanya Pak Tama yang ditujukan kepada seluruh karyawan.
"belum kembali kayaknya Pak" sahut Mas Eko.
Ia berdecak kemudian mengambil ponsel barusaha menghubungi seseorang. Raut wajah yang kurang bersahabat membuat suasana kantor menjadi tegang.
"ada yang bisa ikut saya meeting untuk proyek kita selanjutnya?" tanya Pak Tama dengan nada kesal.
Semua terdiam tanpa menjawab.
"saya butuh asisten untuk meeting, Sari tidak dapat dihubungi. Urgen! Mana data yang saya minta belum tau sudah diselesaikan Sari atau belum" jelas Pak Tama meminta bantuan.
"sstt, data yang Lo kerjain bukan?" bisik mbak Laras kepadaku.
"heh?" aku terhentak.
"maaf Pak, itu Sari minta Nadia untuk edit data. Mungkin itu yang Bapak maksud" mbak Laras dengan lancangnya menjelaskan pada Pak Tama.
Pak Tama mengambil langkah lebar menuju meja kerjaku.
"permisi" katanya dan aku segera berdiri memberikan akses komputerku padanya.
"kenapa data ini bisa sama kamu? Sudah selesai?" tanya Pak Tama heran.
"hampir selesai Pak. Dan maaf, tadi Sari yang minta saya untuk mengerjakan atas perintah Bapak" jelasku berhati hati.
"apa? Dia bilang begitu" tanya Pak Tama tidak percaya.
"Iya Pak" jawabku membenarkan.
Pak Tama menghembuskan nafasnya kasar.
"sedikit banyak kamu sudah memahami isi file ini kan Nad?" tanya Pak Tama.
Aku mengangguk membenarkan.
"kamu bisa ikut saya untuk meeting?" pinta Pak Tama.
"baik Pak"
Duh, kenapa juga aku menyetujuinya.
"oke, kamu siap siap dengan membawa salinan file yang kamu kerjakan. Sepuluh menit lagi kita berangkat karena lokasinya cukup jauh" titahnya.
"baik Pak" jawabku kemudian menyiapkan file dan dokumen penunjang lainnya untuk dibawa ke tempat meeting.
***
Benar saja meeting kali ini cukup lama, awalnya aku hanya menjadi asisten dan notulen selama meeting berlangsung. Namun kehadiranku disana juga bertambah dengan menyajikan data dari file yang kukerjakan sejak tadi siang.
Tck, Sari benar benar mengerjaiku.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, setelah berpamitan dengan rekan bisnis Pak Tama kami kembali menuju mobil.
Perutku mulai tidak dapat berkompromi karena belum terisi makanan sejak jam makan siang tadi. Reflek meremas ujung kemejaku untuk menahan rasa nyeri.
"kamu kenapa?" tanya Pak Tama.
"bisa kita ke apotik atau minimarket terdekat Pak?" pintaku.
"kamu butuh sesuatu?" tanya Pak Tama memastikan.
"obat pereda asam lambung" jelasku.
"ya ampun kita belum makan. Gini saja, kita sekalian cari makan malam, asam lambung kamu pasti karena terlambat makan" kata Pak Tama yang tidak dapat kubantah.
Mobil yang kami tumpangi berhenti disalah satu restoran dengan menu masakan sunda. Kami menikmati makanan masing masing begitu pesanan diantar dengan sedikit diselingi obrolan meeting tadi.
***
Jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Keringat dingin disepanjang tubuh dengan kondisi perut yang tidak bersahabat. Entah karena memaksa makan dalam kondisi perut yang terlampau kosong tanpa makan siang atau karena menu sambal yang jadi pilihan menu makanan yang dipesan Pak Tama.
Mencari sebuah botol hijau dengan isi cairan berwarna putih dilaci samping tempat tidurku. Asam lambungku memang akan kambuh jika sudah seperti ini.
Setelah merasakan nyeri yang mulai berkurang kemudian membaringkan tubuh dengan harapan ketika bangun nyeri lambungku dapat segera hilang. Semoga saja...
.
.
.
To be continued