EPS. 13

1573 Words
Di dalam pesawat yang mereka tumpangi menuju Danau Toba, ada Elang yang sedang menyantap makan siang penuh khidmat. Menu makan siang yang ia pesan hanya; dua porsi semangkuk sup, segelas cokelat panas, dan segelas jus wortel. Elang sudah hampir menghabiskan separuh dari sup ayam yang ia pesan, namun milik Dara masih utuh. Suasana yang dingin seperti ini memang sangat cocok makan dan minum yang panas-panas. Perut Elang terasa hangat karena rempah-rempah yang menjadi kaldu dalam sup ayam tersebut. Ini kali pertama Elang mau makan makanan yang ada di pesawat. Karena selama ini, Elang tidak menyukai makanan apapun selain buatan Mami, tetapi akhirnya ia sadar kalau Mami tidak hidup untuk selamanya. Elang mencoba untuk mencicipi makanan yang ia suka, baik di restoran, pesawat, maupun tempat wisata. Di samping kanannya, tepat di ujung dekat jendela, ada Dara yang kelihatan sedang gelisah. Bahkan posisi sendok dan garpu pada mangkuk supnya tidak berpindah posisi sama sekali. Dara memukuli dahinya sendiri serta menggerutu kesal. Ia terus berganti-ganti posisi duduk, mencari posisi yang nyaman untuk pikirannya saat ini. Raut bingung serta kesal bercampur menjadi satu pada wajahnya. Sungguh, nafsu makan Elang seketika ruyam karena Dara. Ia mengelap bibirnya dengan serbet lalu menatap Dara tajam seperti biasanya. Dari tatapannya itu seolah-olah berkata, 'ada apa? Aneh banget sih!' Tanpa diminta bicara, Dara lebih dulu angkat bicara. Ia tahu tatapan itu adalah tatapan pertanyaan. "Aku lupa Bang." Elang tidak menjawab dan masih menatap Dara. Wajahnya yang datar berhasil membuat atmosfer di antara mereka terasa mencekam. "Aku lupa bawa jamu yang kemarin aku beli, Bang." Kali ini dahi Elang berkerut. "Jamu?" "Iya." Dara menunduk seraya memilin jari-jarinya sendiri. "Kemarin aku beli jamu kuat buat Abang. Tapi jamunya ketinggalan di bawah bantal. Jadi kek mana ini, Bang? Apa di sana ada jual jamu kuat?" Bibir Elang terangkat sebelah, terlihat seperti senyum merendahkan. "Jamu kuat? Hahaha ...." Elang tertawa sinis. "Kamu pikir saya sudi meniduri wanita sepertimu?" "Ke-kenapa Bang? Apa salahnya? Kan bulan madu proses pembuatan anak dengan cara yang romantis dari kedua belah pihak, kek gitu aku baca di internet." "Tapi sayangnya bulan madu kita beda. Saya tidak mau kalau nanti anak saya terlahir BODOH seperti kamu! Bahkan definisi bulan madu saja kamu mencarinya di internet!" Buliran bening itu terasa mengambang di pelupuk mata. Hati Dara kembali perih. Perkataan Elang begitu menyakiti hatinya. Untung saja, orang-orang yang berada di sekitar mereka sedang tertidur. "Aku bodoh ya, Bang?" Buliran bening itu mengalir dengan mulus. "Semua manusia kan punya kekurangan, Bang. Nggak ada yang sempurna." "Tapi kamu punya banyak kekurangan! Pemalas, ceroboh, bodoh, jorok, hampir semua yang buruk ada di kamu!" Elang mendekatkan wajahnya pada Dara. Jari telunjuknya terangkat ke arah depan wajah Dara. "Bahkan sampai sekarang, saya masih tidak mengerti, mengapa saya bisa menikah dengan wanita bodoh sepertimu! Camkan itu!" Perkataan Elang yang tidak bisa terkontrol, kembali berhasil menyayat-nyayat hati Dara, mungkin ini yang namanya luka tapi tidak berdarah. Dara tidak tahu harus berbuat apa agar Elang bisa berprilaku baik kepadanya. Segala cara sudah dicobanya, namun sikap Elang semakin hari semakin menyakitkan. Dara menunduk. Air matanya sudah membasahi baju yang ia kenakan. Satu tangannya menutup mulut agar orang-orang tidak mendengar kalau ia sedang menangis. Elang kasar, tapi Dara tidak bisa lepas darinya. Dara ceroboh, tapi Elang tidak bisa menceraikannya. Mereka saling terikat satu sama lain, namun keduanya tidak bisa memahami diri masing-masing. Berbeda dengan Elang yang masih menunjukan raut wajah kesal. Urat-urat di sekitar pelipis matanya menonjol. Kulit wajah Elang juga memerah tanda emosi. "Saya perintahkan jangan menangis!" Dara masih menangis, karena air mata jatuh begitu saja. "Saya ingatkan sekali lagi, berhenti menangis atau bulan madu ini batal!" Sontak, Dara langsung berhenti menangis agar Elang tidak memarahinya lagi. -00- Saat sampai di bandara Silangit-Siborongborong, Elang mempercepat langkahnya menuju area luar, sedangkan Dara—di belakangnya—sedang kesusahan membawa koper. Bayangkan saja, mereka hanya tiga hari di Danau Toba, namun perlengkapan Dara begitu banyak. Mulai dari koper, tas ransel, tas selempang, dan tas kecil tempat alat make up, sedangkan Elang hanya membawa satu tas ransel saja. Perbedaan yang sangat jauh berbeda. Langkah kaki Elang terhenti saat menyadari Dara tertinggal jauh di belakang. Lantas pria berkacamata itu, melihat arloji pada pergelangan tangannya. Sudah pukul 15.00, dan sesegera mungkin Elang harus cepat sampai di villa agar bisa mengerjakan semua pekerjaannya. Kecepatan Dara saat berjalan sekitar 1,5 km/jam—kalau dalam spedometer. Sangat lamban seperti siput. Elang menoleh ke belakang lalu menghampiri Dara. "Lama banget!" "Namanya berat Bang. Udah tau lama, bantuin kek," keluh Dara seraya mengusap keringat pada pelipis matanya. "Jangan manja! Lagian saya tidak ada suruh kamu bawa koper, tas ini, tas itu!" Elang kembali melangkah dan meninggalkan Dara. Sekitar jarak 2 meter dari Dara, Elang menoleh ke belakang. "Saya tunggu di halaman luar bandara!" Mendengar pernyataan itu membuat Dara menghela napas panjang. Ia menyesali kepergian kali ini membawa koper. Malah tidak ada petugas yang biasa membawakan barang-barang. Hari yang cukup menguji kesabaran. Di dalam kopernya yang besar itu, sedikit banyak ada bahan makanan untuk mereka. Dara menyadari, ini adalah momen mereka menghabiskan waktu berdua—full time—, jadi apa salahnya ia memasak untuk Elang. Membahagiakan suami adalah pahala untuk istri, bukan? "SEMANGAT!!" Dara mengulum senyum lebar dan kembali menarik kopernya. Sesampai di halaman depan bandara, ia melihat Elang sedang sibuk dengan ponselnya. Dara menghampiri Elang. Napasnya tersengal-sengal saking capek menyeret koper jumbo ini. "Aduh ... capek kali, Bang. Bantuin napa." "Udah jangan manja, ayo ke luar sana. Saya mau rental mobil." Sontak bola mata Dara melotot dengan sempurna. Baru saja ia menghirup udara segar di daerah Danau Toba, dan sekarang ia disuruh kembali berjalan seraya menyeret koper? What the hell! "Campakan aja aku Bang, campakan ke semak-semak. Biar dimakan ular aku," gerutu Dara kesal. "Lagian, baru aja aku bernapas udah Abang suruh jalan lagi. Kalo misalnya aku emak-emak bunteng, udah brojol anaknya gara-gara Abang." Baca: (Bunteng = hamil) Elang berdecak seraya menggelengkan kepala. "Enggak usah banyak komentar. Pusing saya dengar suara kamu. Ikuti aja aturannya." "Bah, macam anak pramuka aku." Dara membuang mukanya ke arah lain. Bibirnya tertekuk. "Ada pula bulan madu pake peraturan, macam maen monopoli aja." Tanpa menggubris kekesalan Dara, Elang memilih kembali melanjutkan tujuannya ke salah satu tempat rental mobil. Menurut Google Maps, ada rental mobil di sekitar daerah bandara. Dara yang sadar tidak ada suara tanggapan dari Elang segera menoleh ke arah kiri. Tenggorokannya tercekat sempurna ketika melihat Elang tega meninggalkannya sendirian di sini. "Bang Elang, woi!! Tunggu aku, Bang!" Dara melepas sepatu hak tinggi yang ia kenakan, lalu setengah berlari menyusul Elang meskipun kesusahan. "Mati kali aku punya suami kayak kau, bah." -00- Sebuah mobil keluarga terlihat memasuki perkarangan villa yang terletak tidak terlalu jauh dari Danau Toba, sehingga dari jendela kamar dapat melihat keindahan danau besar ini. Petugas yang menjaga villa milik keluarga Prasetya, membukakan pagar untuk Elang. Ia tersenyum semringah ketika Elang membuka kaca mobil. "Selamat datang Den Elang." "Makasih, Pak." Pria paruh baya itu kembali tersenyum seraya menunduk. Dara yang melihat itu ikut tersenyum, sekedar basa-basi kepada penjaga villa. Saat mobil sudah berhenti di halaman villa, Dara segera keluar. Ia berputar-putar seraya memejamkan mata. Udara di villa ini begitu segar dan dingin. "Bang Elang, ini villa siapa?" Elang yang sedang menurunkan barang bawaan Dara dari bagasi terpaksa menghentikan gerakannya. "Villa keluarga saya." Elang kembali melanjutkan aksinya. "Besar kali Bang!! Macam rumah kayak di film Cinderella." "Kampungan!" Elang mengambil tas ranselnya lalu masuk ke dalam villa. Sontak rasa kagum yang menjulur di hati dan raut wajah Dara hilang seketika. Bibirnya tertekuk kesal. Ia memandang Elang yang hampir ditelan pintu masuk. "Cakap kau itu Bang, cuma satu kata tapi menyelekit!" Dengan kesal Dara mengambil barang bawaannya yang diletakkan Elang di atas aspal yang basah. Ia berjalan dengan langkah yang berat. Hentakkan kakinya menggema saat memasuki pintu. Lagi-lagi Dara kembali kagum melihat isi yang ada di dalam villa ini. Ruang tamunya bernuansa retro, mungkin keseluruhan ruangan juga bernuansa retro featuring kalsik modern. "Abang di mana?!" teriak Dara menggelegar seantero villa. "Di lantai dua! Ohiya, tolong ambilkan handuk saya di walk in closet lantai bawah." "Di mana itu Bang? Kesasar pula aku nanti." "Dari posisi kamu berdiri, jalan terus sekitar dua meter, lalu belok kiri, nah ruangannya berada di paling ujung." Dara mengikuti petunjuk yang Elang katakan. Kini ia dapat melihat ruangan yang Elang maksud. Dara membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia langsung mengambil handuk yang berada didekatnya, karena jujur—bulu kuduk Dara merinding saat berada di ruangan ini. Ia berlari sekencang mungkin saat ada suara benturan dari arah dapur. Dara sudah tidak peduli lagi dengan barang bawaannya yang ia letakkan begitu saja di ruang tamu. Seketika langkah kaki Dara terhenti tepat di anak tangga pertama. Ia menoleh ke belakang, ternyata ada Bapak Penjaga yang sedang mengambil minum di dapur. "Ah ... kimaklah, nakut-nakutin aja bah." Kini Dara dapat berjalan dengan santai. Ia masuk ke dalam kamar—di mana pintunya terbuka lebar. "Bang Elang, di mana?" "Letakan saja handuknya di atas kasur." Dara menuruti perkataan Elang. Ia meletakkan handuk bercorak bunga matahari di atas kasur. Begitu juga dengan tubuhnya yang lelah. Dara ikut berbaring di atas kasur lalu memejamkan mata. "Capek kali bah." Ia merubah posisi tidurnya ke arah kanan, sontak bola mata Dara melotot dengan sempurna. "Mampos! Salah ambil handuk aku. Pura-pura tidur ajalah, biar nggak disuruh-suruh lagi aku." Dan saat Elang keluar dari kamar mandi, ia sudah melihat Dara tidur terlelap. Suara rintihan seperti kerbau terdengar menggema di dalam kamar. Dara benar-benar dicurigakan sebagai seorang wanita, karena karakternya sama sekali tidak menunjukkan kalau ia kalem seperti wanita kebanyakan. "Dasar, wanita selebor."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD