EPS. 1

1844 Words
JAKARTA Elang yang sedang fokus pada layar monitor komputernya tiba-tiba dikejutkan oleh seorang wanita paruh baya. Wanita itu berjalan dengan langkah yang pelan sehingga Elang tidak dapat mendengar dentuman langkah pada lantai marmer ruangannya. Dengan senyuman yang mengembang, wanita paruh baya itu berteriak seakan-akan ada bencana alam yang telah melandanya. "Duaarr!!" Sontak yang dikejutkan langsung ikut berteriak. "DUUUARR!! Eh, duar! Eh apasih ...." Elang menunduk malu karena latahnya kembali mengulah. Ia membalikkan badan dan langsung memeluk wanita itu. "Ihh!! Mami jahil banget, untung Elang enggak kejang-kejang." Mami hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Elang tidak pernah berubah, meskipun sudah menginjak kepala tiga-tetapi pria ini masih saja manja kepada Mami. "Kamu ini, udah besar masih aja manja." "Isshh ... Elang, kan, masih anak bayinya Mami." Ia mengamit lengan Mami dan menuntun wanita itu menuju sofa tamu yang terletak pada sudut ruangan. Hal seperti ini selalu terjadi di dalam ruangan Elang, tepatnya saat jam makan siang. Pria ini tidak pernah ingin mencicipi masakan di kantin, karena menurutnya masakan Mami lebih sehat dan lezat. "Mana bekal, Elang?" Mami memberi tempat bekal tersebut. "Masak apa, Mam?" "Masakan kesukaanmu; tumis kangkung dan cumi goreng tepung." "Asiiikk ...!!" begitulah reaksi Elang saat dibawakan masakan kesukaannya. Mungkin semua orang juga seperti itu reaksinya. Dan satu hal lagi, ini hampir terjadi setiap hari. Mami terpaksa menyuapi Elang makan selagi pria itu sibuk pada I-padnya. Kasus-kasus setiap hari menghampirinya, jadi ia tidak punya waktu banyak untuk sekedar santai. Karena menyusun kerangka bukti lebih sulit daripada membuat skripsi, begitulah persepsi Elang. Suapan demi suapan sudah berlalu. Elang begitu lahap memakan masakan Mami. Bukankah hal seperti ini tidak wajar? Untuk seorang pria yang terkenal dingin dan angkuh pada siapa pun, namun memiliki sisi lain yang berbeda. Sisi lain yang tidak akan pernah ia perlihatkan pada siapapun kecuali Mami. Ada satu Email masuk dari salah satu rekannya, Wira. Itu Email mengenai kasus suap yang baru-baru ini menjadi viral di sosial media maupun pertelevisian. Kali ini Elang membela yang benar, namun ia memiliki persaingan yang ketat dengan Pengacara lawan. Mau tidak mau harus ada bukti yang kuat untuk mengalahkan Pengacara itu. Mami yang melihat raut wajah Elang berubah, langsung mengernyitkan dahinya. Elang selalu seperti ini kalau sudah ada kasus yang besar, ia lupa akan segalanya. Ini yang selalu ditakuti Mami jika kebiasaan buruk Elang masih terus berlanjut hingga ia lupa keadaan sekitar dan menjadi lajang tua-karena tidak berpikiran untuk menikah. Dulu, Elang sempat masuk rumah sakit gara-gara tidak makan seharian. Saat itu, ia menangani kasus pembunuhan yang menggegerkan Indonesia. Seharian penuh ia terus sibuk bekerja hingga larut malam, bahkan bekal yang dibawa Mami sama sekali tidak ia sentuh-dan kebetulan pada saat itu Mami juga ada keperluan lain. Hingga akhirnya ia harus diopname selama tiga hari, itupun masih saja sempat bekerja. "Lang, kamu itu harus segera menikah, Nak." Saat itu juga Elang mengalihkan wajahnya ke arah Mami. Dari dulu Elang tidak pernah suka jika Mami membahas soal pernikahan. Atau sejenis pertanyaan yang sama dari tahun ke tahun, contohnya; "Kamu kapan nikah?" "Mau dijodohkan aja, nggak?" dan masih banyak pertanyaan lagi. "Mam, pernikahan bukan prioritas utama aku saat ini." Mami menghela napas. Umur sudah berkepala tiga, dan pernikahan bukan prioritas utama? Mami tidak habis pikir dengan prinsip kehidupan Elang. Apalagi yang harus pria itu cari? Kekayaan? Sudah, bahkan udah punya rumah dan apartemen sendiri. Keberhasilan? Sudah, karena kepopuleritasannya dalam dunia hukum menjadikan Elang sosok yang dihormati. Hanya ada satu yang kurang dari Elang. Satu hal yang membuatnya tidak masuk kategori pria yang sempurna. Ya ... satu hal itu adalah seorang pendamping hidup. Elang tidak memiliki istri sampai sekarang karena satu kejadian tentang pengalaman buruk dua tahun yang lalu. "Kamu ini sudah 30 tahun, saat di mana kamu sudah seharusnya berumahtangga. Pria yang dikatakan sejati adalah pria yang bertanggungjawab atas keluarganya," nasihat Mami. Elang meletakkan I-padnya di atas meja kaca. Lalu ia mengambil posisi tiduran dengan kepala yang ia tompangkan pada paha Mami. "Mam, kalau aku nikah, nanti yang jaga Mami siapa?" Mami menggeleng lalu meletakkan tempat bekal di atas meja. Ia mengelus kepala Elang dengan penuh sayang. "Mami bukan anak kecil lagi, Lang." "Mami, kan, sering jatuh sakit. Terus kalau nanti Mami sakit, siapa yang jaga? Yang rawat Mami?" Elang terus mencoba untuk mengelak agar tidak menikah. "Dari tahun ke tahun kamu selalu mencari alasan yang sama." Mami menjitak kepala Elang. "Kalau seandainya Mami sakit, kan, nanti ada istri kamu yang jagain Mami." Elang menutup matanya sejenak. Ia terus mencoba mencari alasan agar Mami mengubah topik pembicaraan. Matanya kembali terbuka saat ada satu alasan yang terlintas. "Bagaimana dengan Luna, Mi? Aku sudah berjanji akan setia padanya." Elang tersenyum, sepertinya alasan ini berhasil. "Dengar Mami, kalau Luna pasti setuju dengan kamu yang akan menikah. Dia tidak mungkin bisa marah jika melihat orang yang ia cintai bahagia. Emangnya kamu mau enggak nikah sampai akhir hayat? Enggak mau ngerasain susah senangnya bangun rumahtangga? Apalagi pria dewasa seperti kamu, seharusnya sudah memiliki anak. Apa kamu tidak ingin memiliki keturunan yang nantinya bakal neruskan perusahaan kamu ini?" jeda tiga detik mengambil napas. "Jika seandainya Mami meninggal, terus yang jagain kamu siapa kalau bukan anak dan istrimu?" Elang bangkit dari tidurannya, lalu ia memeluk Mami erat. Kalau sudah seperti ini kejadiannya, Elang tidak ingin membuat Maminya sedih, apalagi sampai jatuh sakit seperti sebulan yang lalu. "Iya, Elang bakal nikah. Tapi ...," ucapnya menggantung. Dengan spontan, Mami melepaskan pelukan Elang dan menatap pria itu bingung. Melihat raut wajah Mami yang seperti itu berhasil membuat Elang tersenyum. "Tapi enggak ada yang mau nikah sama Elang ...," lanjutnya seraya tersenyum jahil. Kesal dipermainkan seperti itu, Mami mencubit pinggang berotot Elang berkali-kali hingga pria itu tertawa geli. "Kamu itu, suka banget jahilin Mami, ya ...." "Seriusan, Mami ...! Elang nggak ada pasangan buat dihalalin." "Mami ada. Kamu Mami jodohkan sama anak temennya Mami." Sontak bola mata hazel itu membulat sempurna. Bibirnya yang tipis terbuka lebar seakan terkejut atas pernyataan barusan. Perjodohan bukanlah solusi yang tepat. Apalagi Elang belum kenal sama sekali dengan perempuan yang akan dijodohkan dengannya. What the f**k! Tahun 2017 masih jaman jodoh-jodohan? Maki Elang dalam hatinya. "Enggak deh, Mi ... mending Elang cari sendiri aja." "Kali ini beda, Nak ... ini temen masa kecil kamu. Ingat dengan Dara, 'kan? Temen kamu yang di Medan dulu?" "Udah ah, nggak usah bahas itu. Elang lanjut kerja, ya, Mi." begitulah ucapan Elang untuk mengakhiri pembicaran mengenai wanita yang akan dijodohkan dengannya. "Kalau Mami mau pulang bilang, biar aku suruh Mang Jono antar Mami." Mami tersenyum lalu membereskan tempat bekal di atas meja kaca. Setelah semuanya beres, Mami menghampiri Elang dan mencium pipi pria itu penuh kelembutan. "Mama pulang dulu. Nggak usah diantar, Mami naik taksi aja, kasihan Mang Jono lagi makan siang." -00- Malam ini Elang singgah ke rumah Mami untuk menunaikan makan malam bersama. Di rumah besar ini hanya dihuni oleh tiga orang saja, yakni; Mami dan dua orang pembantu rumahtangga, sedangkan Elang tinggal di rumahnya sendiri. Kalau apartemennya sudah ia sewakan pada pasangan muda beberapa bulan yang lalu. Mami membalik sendok dan garpu-tanda sudah selesai makan-lalu mengelap bibirnya dengan tisu. "Gimana? Kamu mau, kan, dijodohkan dengan Dara?" "Nggak ada yang lain aja, Mam? Lagian Elang nggak tau gimana tingkah lakunya sekarang, mungkin dia udah jadi anak nakal." Mami membawa piring kotor ke dapur, lalu mencucinya. "Dia nggak mungkin nakal, Lang. Keluarganya itu keluarga terdidik, apalagi Ayahnya itu Polisi, nggak mungkin dia macam-macam," teriak Mami. "Dara tambah cantik lho, Lang. Katanya sih dia Putri Daerah di Medan. Cocoklah jadi istri kamu." Elang sedang bermain Gameboy-permainan yang sedang booming saat itu-bersama teman-temannya di sebuah taman komplek. Saat sedang asik bermain, dengan sadar ia mendengar suara teriakan anak perempuan. Sontak ia langsung menghadap ke belakang dan menolong anak perempuan yang sedang meringis kesakitan itu. Ia menuntun anak perempuan itu menuju kursi yang berada tidak jauh dari tempat kejadian, lalu disusul dengan sepeda bewarna ungu yang Elang parkirkan di sebelah anak perempuan itu. Ada bekas luka berdarah di lutut gadis kecil itu. Elang ikut meringis saat anak itu merasa nyeri pada lututnya. Dengan langkah seribu, ia mengambil botol air mineral dari dalam tasnya, lalu menyiram luka itu hingga bersih dari darah. Meski terasa semakin perih, setidaknya terhindar dari kuman yang berakibatkan inpeksi. "Udah, jangan kamu sentuh lukanya, entar inpeksi." Elang meniup luka gadis kecil itu hingga ia berhenti menangis. "Nama aku Elang," ucapnya seraya mengajak bersalaman. "Aku Dara." "Kamu sama siapa, kemari? Orangtua kamu mana?" Dara hanya melamun seraya memandang bola mata hazel Elang yang berbinar. Bola matanya begitu indah. Mungkin seperti ini takdir seorang anak blasteran, yap ..., Papa Elang keturunan German, sedangkan Maminya orang Jawa asli. "Dara? Kamu kenapa?" tanya Elang seraya memegang pundak gadis kecil itu. "Ha? Nggak pa-pa." Elang tersenyum. "Umur kamu berapa? Kalo aku 11 tahun." Dara menyingkap helaian rambutnya ke belakang kuping dan setelahnya ikut tersenyum. "Aku 9 tahun." Hening. "Jadi aku manggil kamu Abang aja, ya ...." -00- "Ayo! Semangat Dara, sedikit lagi kamu pasti bisa!" semangat Elang dengan bersorak dari arah belakang. Meskipun beberapa kali terjatuh, Elang tidak henti mencoba untuk membantu dan menyemangati Dara agar kembali mencoba. Karena suatu keberhasilan harus ada usaha yang besar. Hingga akhirnya usaha Dara membuahkan hasil. Ia berhasil meskipun masih sedikit kaku. "Bang Elang! Aku bisa, Bang!" dengan bangga Dara bersorak bahagia, tidak luput senyuman pun terukir manis di bibir Elang. Anak lelaki itu mengambil alih sepeda bewarna ungu milik Dara, lalu ia membonceng Dara mengelilingi taman komplek. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah danau kecil yang menjadi salah satu fasilitas komplek. Mereka duduk di sebuah batang pohon yang dijadikan sebagai tempat duduk umum. Keduanya saling diam dan memandang danau hijau itu. Hening untuk beberapa saat. "Kamu lucu, Dara." Sontak, gadis kecil itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Elang dengan rona pipi yang memerah. Ini kali pertama Dara merasakan kalau Elang sosok yang pantas untuk dikagumi. Detik pertama, detik kedua, hingga detik ketiga tiba-tiba mendarat satu kecupan pada pipi Dara-membuat gadis kecil itu menoleh. Elang baru saja mencium pipinya, dan Elang lelaki kedua yang pernah mencium Dara setelah Ayahnya. "Aku pulang, ya ... udah sore!" teriak Elang saat ia sudah berada sedikit jauh dari Dara yang masih termangu. Elang tersentak dari lamunannya saat Mami menciprat wajahnya dengan air. Tentu saja Elang salah tingkah, terutama saat melihat ekspresi Mami yang menerka-nerka. "Hayo lho ... kamu habis mikir apa? Segala senyum-senyum enggak jelas," tuding Mami dengan senyum jahilnya. Lagi-lagi Mami sukses membuat Elang semakin salah tingkah. Rona merah sudah menjamur di kedua pipi Elang, sungguh ... ini pertama kalinya Elang melakukan hal bodoh seperti ini. Apalagi sampai memikirkan Dara. "Udah, ah. Elang pulang dulu, Mami emang ngeselin ...," gerutunya lalu menyalim Mami-yang dibalas dengan senyum kemenangan. "Kamu udah kaya bocah labil, suka melamun. Jangan bilang kamu lagi lamunin Dara, ya?" Dengan sigap Elang langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali, hingga membuat Mami semakin curiga dengan gerak-gerik anaknya. "Ingat, ya, Mi! Perjodohan ini, itu semua demi Mami. Dan sampai kapan, pun, aku tetap cintanya sama Luna, bukan dengan wanita lain." "Hush! Kamu ini ... yaudah, sana pulang." Mami mengantar Elang sampai depan pintu utama. Setelah melihat Elang sudah berada di dalam mobil dan hendak pergi, Mami kembali berteriak, "Hati-hati di jalan, Nak!!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD