"Jangan berontak nanti sakit," ucap Davino seperti orang m***m seolah tak mau memberikan kesan menyakitkan pada Azzura, padahal dia sedang melakukan pemaksaan.
Azzura sudah jijik. Ia tak mau lagi Davino.
"Azzura tenang, Azzura. Aku gak mau nyakitin kamu."
Tak bisa lagi bagi Davino untuk mundur karena adek kecilnya yang di bawah sudah mengeras. Mencari tempat yang diimpikan.
Davino lalu membuka celananya dengan satu gerakan tangan karena satu tangan yang lain sibuk memegangi kedua tangan Azzura.
Pada saat itu, Azzura mengambil kesempatan. Ia berjuang melepaskan tangannya dan menyambar tumbler stainless yang berada di meja.
Dug!! Tumbler itu tak sampai penyok, tapi berhasil membuat Davino limbung. Dengan cepat, Azzura mendorong tubuh Davino sampai jatuh. Dan ia memutuskan untuk keluar dari apartemen Davino.
Azzura berlari keluar hanya menggunakan lingerie dan tanpa alas kaki.
"Azzura!" teriak Davino, tapi yang dipanggil telah pergi.
Davino berusaha bangkit meskipun kepalanya masih pening dan langkahnya limbung.
Sebelum keluar ia memakai pakaian dan mantel yang tergantung di destop dekat pintu keluar. Davino juga mengambil sebuah mantel yang baru ia lihat di destop itu.
"Ini pasti milik Azzura," dia menyusul Azzura untuk minta maaf.
Malam ini, Azzura tak boleh pergi ke mana-mana karena Azzura harus jadi miliknya.
Saat tiba di lobi apartemen, Davino melihat Azzura berdiri di luar, di bawah tetesan air hujan.
"Azzura," panggil Davino, "ayo, masuk sebelum hujan deras."
Mantel yang tadi Davino bawa langsung dipasangkan ke pundak Azzura.
"Dingin banget kan. Kamu juga gak pake sepatu. "
"Lepasin aku, Davino," ucap Azzura lemah, ia masih syok karena Davino akan memerkosanya.
"Maafin aku. Ayo, ngomong di dalam lagi," Davino merangkul pundak Azzura dengan kedua tangannya, tapi tubuh Azzura sama sekali tak bergeser.
"Jangan sentuh aku lagi, b******k!" ucap Azzura sambil melayangkan tinju tepat di dahi bawahnya.
Entah tinju itu sangat kuat atau Davino yang lemah, yang pasti Davino langsung tumbang. Dia pingsan.
Melihat Davino yang terkapar membuat Azzura merasa puas.
"Laki-laki, b******k! Tukang selingkuh, m***m, b******n!"
Itu pelajaran pantas untuk Davino. Pria yang selalu mengatakan menyayangi dan ingin melindunginya setiap hari, tapi nyatanya dia malah yang berniat memerkosanya.
Azzura melihat kakinya tanpa alas lalu berganti melihat sepatu Davino. Dibukanya sepatu itu dengan kasar untuk ia pakai. Ia tahu berada di sini tak akan aman lagi. Ia hanya akan mengikuti langkah kakinya pergi meninggalkan Davino yang terkapar di bawah rintikan hujan, menuju temannya, Mika, yang berada di gedung teater yang tak jauh dari sana.
***
Dua orang pria sedang beradu argumen di sebuah ruang wadrobe dan rias. Perdebatan itu menjadi tontonan beberapa orang yang ada di ruangan itu juga
"Kamu jahat Rumi sama aku dan sama seluruh pemain, serta kru teater," ucap seorang pria dalam bahasa Inggris.
"Jangan memutar balikan keadaan, kamu yang gak profesional nerima tawaran menjijikan itu satu jam sebelum tampil acara," tuding balik pria bernama Rumi.
"Ini masalah kesejahteraan semua tim, Rumi. Kamu egois. Aku cuma nambahin kamu buka baju, baju doang pas membungkuk memberi salam perpisahan. Itu doang bukan nyuruh telanjang atau bercocok tanama sama sesama jenis," bela Albert, sutradara yang merupakan warga asli London.
"Lu yakin yang nyuruh gue buka baju bukan lelaki?" tanya Rumi membalikkan keadaan.
Albert terdiam karena ia pun tak tahu siapa manusia misterius ini. Seorang kurir datang satu jam sebelum penampilan dimulai. Dia datang membawa bunga dan sebuah amplop dengan tulisan akan memberikan uang 3000 pound jika Rumi membuka bajunya saja saat salam perpisahan. Sebagai tanda dirinya tak berbohong di dalam amplop ada uang 500 pound , sisanya akan dibayar setelah acara.
"Gak tahu kan? Permintaan kayak gini itu sering dateng. Makanya pas dinyatakan lolos aku minta jangan ada adegan tambahan apapaun beberapa jam sebelum acara. Inget gak apa reaksi kamu waktu itu? Gak inget kan?"
"Kalau gitu jangan jadi pemain teater atau artis kalau nggak mau diminta yang aneh-aneh," Albert tidak terima alasan apapun dari Rumi karena harusnya Rumi profesional. Ini bukan hanya urusan Rumi, tapi juga urusan keuangan.
Setengah harga yang ditawarkan orang tersebut bisa membayar gedung teater yang mereka sewa dan sisanya bisa ditambahkan untuk pembayaran tim.
"Udah jangan diterusin lagi berantemnya," produser mereka tiba-tiba ikut melerai.
"Thomas, catat ini, jangan pernah kasih anak itu peran utama lagi, dia gak profesional."
"Kamu gak akan sanggup memberi aku peran apapun karena detik ini juga aku berhenti. Kamu cuma alasan bilang uang itu demi tim. Aku yakin kamu bakal makan tuh duit sendiri," bentak balik Rumi.
"Pergi sana ke negaramu sendiri. Menyesal aku ngasih peran utama ke orang Indonesia, kalian gak profesional!"
Rumi mencengkram kerah Albert, matanya marah membara, dia hedak meninju Albert, namun tertahan karena akal sehatnya masih ada.
Akhirnya, Rumi hanya melepas Albert, lalu ia pergi meninggalkan ruang rias itu.
***
Di bawah gerimis pertama di kota London, air mata pertama Azzura ikut turun karna patah hati. Selama tiga tahun ini, ia menaruh harapan dan cinta pada Davino, pacar pertama Azzura.
Bahkan bagi keluarga Azzura, Davino adalah sosok yang sempurna dari bibit, bebet, dan bobotnya untuk dijadikan suami. Dia adalah menantu idaman.
Davino adalah anak ketiga dari enam bersaudara keluarga Sutarmojo pengusaha timah dalam negeri.
Meskipun secara akademis dia terlambat karena tidak melanjutkan kuliah selepas SMA, tetapi Davino adalah salah satu calon penerus perusahaan timah itu.
Kekayaan tak penting bagi Azzura karena yang terpenting adalah sikap Davino itu sangat meratukan Azzura, dia pintar men-treatment Azura yang kaku dengan kata-kata luwesnya, dia juga pribadi yang sangat ceria, dia juga adalah orang yang tahan dengan sikap dingin Azzura.
Davino yang sempurna di mata Azura, kini sudah hancur saat Azzura berniat melangkah lebih serius dengan pria ini, keberuntungan kah atau ini adalah kemalangan?
"Hachim!" Azzura bersin.
Dinginnya kota London mulai menusuk-nusuk ke seluruh tubuh Azura, dia sudah berjalan hampir 1 km. Gedung serba guna yang ia tuju sudah terlihat, sebentar lagi ia bisa bertemu dengan Mika, tapi kenapa suasana di depan gedung terlihat sepi? Tidak ada kendaraan keluar masuk ataupun orang yang keluar, sepertinya acara sudah selesai.
Kaki Azura mulai pegal, kepalanya mulai pusing, langkahnya jadi tak seimbang, lalu tiba-tiba, bruk! Tubuhnya ambruk.
"Hai Nona? Kamu nggak apa-apa?" tanya seseorang tak lama setelah Azzura ambruk.
"Azzura? Kamu Azzura?" orang itu menyebutkan namanya. Kali ini pun orang itu berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Siapa kamu?" pertanyaan Azzura yang hanya keluar dalam hati karena ia sudah terlalu pusing.
Tak lama kemudian semuanya gelap.