2. Rencana Sempurna

846 Words
"Kalau kita nikah gimana kuliahku?" tanya Davino bimbang mendengar lamaran pernikahan dari Azzura. "Kamu gak cinta sama aku?" tanya Azzura sedih. "Gak mungkin aku gak cinta kamu, Zura. Hidup dan matiku semuanya buat kamu," ucap Davino penuh keyakinan. "Kalau gitu gak ada masalah kan buat kita nikah?" "Aku cuma khawatir pendidikanku. Kamu kan tahu, dulu pas aku muda malah sibuk balapan motor. Sekarang di usiaku yang 25 tahun aku baru mulai S1, ini juga atas dorongan dan motivasi kamu. Masa aku harus udahan kuliahnya?" "Aku gak minta kamu berhenti kuliah, Vin. Aku juga mau kamu melanjutkan kuliahmu setelah nikah." "Terus kamu?" "Tetep di Indonesia." "Kita long distance married, gitu?" Azzura mengangguk. "Boleh juga. Gak masalah asal aku nikah sama kamu," ucap Davino sambil mengecup bibir Azzura tanpa aba-aba. Azzura sedikit terkejut dengan tindakan Davino. "Sebentar," Azzura bangkit untuk mengambil kotak cincin yang sudah dia siapkan. "Harusnya aku yang beliin cincin dan siapin ini semua. Malah kamu yang ngelamar aku duluan. Maafin aku, Sayang" ucap Davino tulus. "Tinggal kamu atur lamaran kita nanti di Indonesia kalau kamu ngerasa bersalah," ucap Azzura sambil membuka kotak cincin itu. Ada dua cincin berbahan emas putih. Davino kemudian mengeluarkan cincin yang ukurannya kecil. Dipakaikanlah cincin itu ke jari manis kiri Azzura. Giliran Azzura yang mengeluarkan cincin milik Davino dan memakaikannya. Sayangnya cincin itu longgar di jari manis Davino. "Yah, longgar," Azzura tertawa, "maaf karena aku gak periksa ukuran tanganmu." Davino tersenyum lalu memindahkan cincin itu ke jari tengahnya, "sekarang sudah pas." Mereka bedua kemudian berpelukan. Saat melepaskan pelukan, Davino menahan wajah Azzura di keningnya. "Jangan lupa part terakhirnya," bisik Davino. "Jangan sampai mawar ini, lingerie ini," ucap Davino sambil menurunkan salah satu outernya, "wangi aroma therapy ini, sia-sia." Azzura tak berani menjawab apapun. Ini pertama kalinya, jadi sangat gugup. Merasa tidak mendapatkan penolakan, Davino melanjutkan aksinya. Ia mengecup pundak yang sudah tidak tertutupi outer. Wangi tubuh Azzura langsung membuat sesuatu di bawah sana berdiri. Davino lalu menghirupnya lebih dalam. Azzura memang luar biasa. Azzura merasakan geli yang tak membuat ia tertawa. Semua perlakuan Davino membuat dia melayang. Davino mendorong lembut tubuh Azzura ke kasur. Kelopak mawar yang dibentuk love itu sekarang sudah tidak karuan bentuknya. Entah kenapa, Davino mengambil segenggam dan menaburkannya ke atas wajah, leher dan tubuh Azzura. Lalu, ia ciumi perlahan kelopak bunga yang menempel di area wajah, leher dan d**a Azzura. "I love you, Davino," ucap Azzura spontan karena mendapat perlakuan yang luar biasa lembut, nyaman, nikmat dan romantis. Azzura tak pernah tahu bahwa foreplay seluar biasa ini. "I love you too, Azzura," merasa telah berhasil membuat Azzura mabuk kepayang. Davino melepaskan kaos dan celananya. "Tunggu," tahan Azzura. "Kenapa?" tanya Davino kaget. "Kondom," ucap Azzura sambil menunjuk tas di atas meja belajar Davino. "Oh, iya hampir lupa." Davino yang sudah bertelanjang d**a berjalan menuju meja belajar, lalu membuka pintu laci meja belajar itu. Terlihat berbagai jenis kondom ada di lemari itu. "Mau pakai yang mana?" Azzura duduk dan berjalan ke arah Davino, ia takut penglihatannya salah. Tak ada yang salah. Lemari itu memang berisi belasan kondom dengan berbagai merek dan rasa. Azzura mengambil satu kotak bertulisan rasa coklat. Dia membuka kotaknya, isinya tinggal dua dari tiga pcs. Dicampakanlah kotak itu, lalu dia ambil kotak lain dengan rasa stroberi. Kotak itu bahkan menyisakan satu dari empat isi penuhnya. "Apa rasa ini paling enak?" tanya Azzura. "Semua sama aja enak yang penting sama kamu!" Azzura menghembuskan napas panjang. Padahal kondom yang ia maksud tadi adalah kondom yang ia bawa dari Indonesia dan disimpan di atas meja belajar. Kesalahan pahaman ini membuka fakta baru tentang Davino yang tidak ia ketahui. Dengan kekuatan penuh ia melemparkan kotak kondom itu tepat di bawah mata Davino. "Aw!" pekik Davino karena terkejut. "Dasar cowok m***m! Udah berapa puluh kali lu HB sama orang?" Azzura marah! Dia berlari keluar kamar. Davino sadar kalau ia telah ketahuan. Disusulnya Azzura ke ruang depan. "Aku bisa jelasin." "Jelasin apa? Semua sudah ketahuan, Vino! Semua yang kamu katakan tentang cinta aku, tak bisa hidup tanpa aku, akan nunggu kamu sampai nikah, aku gak akan ngelakuin HB sama cewek lain, aku ingin inget kamu terus, semuanya sampah." "Enggak, itu cuma koleksi aku dari temen-temen," ucap Davino sambil memegang tangan Azzura. "Lepasin!" Azzura menghempaskan tangan sampai-sampai merubuhkan paper bag yang ada di meja. Isinya keluar semua. Azzura memungut isi paper bag itu. "Inikan baju aku yang ketinggalan pas aku sama Mama kamu nganter kamu pertama ke sini. Kok bisa ada di sini?" desak Azzura. "Gak tahu," jawab Davino cari aman. "Dipinjem si cewek tadi kan?" tanya Azzura. "Udah berapa kali sama cewek itu? Ngaku gak?" bentak Azzura. "Gak pernah Azzura," sampai akhir pun Davino tak mau mengaku. Azzura melempar baju itu ke lantai lalu menginjak-injaknya seperti orang kesetanan. "Aku jelasin semuanya. Kita masuk lagi ke kamar, yuk!" ucap Davino mencengkram tangan Azzura keras. Hal yang diinginkan Davino selama ini hanya tinggal selangkah lagi, ia tak mau kehilangan itu di depan mata. Ia harus mendapatkannya malam ini untuk mendapatkan Azzura seutuhnya. "Lepaskan aku Davino!" teriak Azzura. Davino tak mau dengar dia malah mendorong Azzura ke sofa. Menekan tubuh Azzura dengan tubuhnya yang kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD