9. Bayaran

854 Words
Di malam yang tenang di pinggiran kota London, dua orang berjalan berdampingan di sepanjang trotoar yang basah oleh gerimis yang baru saja reda. Lampu jalan memancarkan cahaya kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti langkah mereka. Sejak tadi pandangan mata Azzura tercuri oleh poster-poster yang terpasang di halte, tembok, pagar dan beberapa tempat lainnya. Namun, langkah kaki Rumi yang panjang-panjang dan cepat membuat Azzura tak sempat membacanya. Kesal, ia mulai kesal. Lalu dengan cepat menarik salah satu poster yang tertempel di pagar sebuah bangunan. "Ternyata benar, ini wajahmu," ucap Azzura spontan. "Kamu seorang pemain teater? Dan menjadi pemeran utamanya?" tanya Azzura antusias "Ya," jawab Rumi tak terlalu bangga. Azzura juga tak peduli dan terus membaca tulisannya. "Loh, waktu dan tempatnya, berarti ini teater yang kemarin di tonton Mika?" tanya Azzura pada diri sendiri. "Hei, tunggu. Kamu kemarin pentas di gedung xxx jam sembilan malam?" tanya Azzura dengan suara yang cukup tinggi karena Rumi sudah berjalan cukup jauh. Rumi tiba-tiba berhenti dan masuk ke teras sebuah gedung tua. "Hei!" panggil Azzura sekali lagi. Azzura menatap wajah Rumi yang fokus menatap sesuatu. Kini, pandangan Azzura beralih ke hal yang Rumi pandang juga. Sebuah lorong tangga kecil menuju basement. Lorong tangga itu terlihat curam, sempit, menakutkan dan kumuh. Tembok pada bagian luar mengelupas, banyak coretan dan sedikit berlumut. Tak ada penerangan di sepanjang tangga, kecuali lampu kecil di ujung tangga. "Kita akan turun ke bawah?" tanya Azzura dengan ekspresi ngeri. "Kenapa? Kalau gak berani tunggu di sini aja," ucap Rumi serius. Lalu, Rumi turun perlahan di tangga yang cukup licin itu. Azzura menatap ke sana ke mari. Jalanan sepi, tak ada gawai atau apapun. Dan dia juga penasaran dengan apa yang mau Rumi lakukan. "Tunggu," ucap Azzura kemudian membuntut Rumi. Di balik pintu itu ada sebuah aula kecil yang dipenuhi dengan dinding cermin. Ini merupakan studio untuk latihan teater. "Rumi, what are you doing here?" tanya Thomas. "Tentu aja ngambil bayaranku, apalagi memangnya?" tantang Rumi. "Bukannya kamu udah gak butuh kami, ngapain minta-minta duit kami?" "Eh, Thomas. Aku emang udah gak butuh teater bodoh, ini. Tapi, aku mau minta honor. Itu beda urusan, ya! Itu hakku karena sudah bekerja keras dan sudah menarik penonton dengan wajah dan penampilanku." "Kalau aku gak ngasih, kamu bisa apa orang Indonesia di sini?" "Wah, rasis banget nih bule!" ucap Rumi dengan bahasa Indonesia. "Jadi uangmu ada di dia?" tanya Azzura semangat. Rumi heran tapi tetap menjawab pertanyaan Azzura dengan mengangguk. "Berapa?" "Enam ratus pound," "Hei, bayar uang dia kalau enggak aku tuntutan kamu!' Azzura maju dengan penuh semangat. "Tuntut? Bisa apa orang Indonesia macam kalian di negeri kami?" "Bisa jadi peran utama di teatermu, kamu gak ingat?" bentak Azzura balik sambil memberikan poster ke perut Thomas. "Kamu pikir kalau bukan karena wajah ini teatermu bakal ada yang nonton?" tambah Azzura sangar sambil menunjuk wajah Rumi. Rumi langsung berpose kalau wajahnya adalah ciptaan Tuhan yang indah. "Dasar makhluk kecil!' umpat Thomas. "Akan kulaporkan juga karena masalah rasisme," ancam Azzura. "Gak ada uang, pergi sana!" usir Thomas. "Aku bisa menutup teatermu dengan mudah. Kamu tahu, temanku adalah anak pemilik Citycore Bank. Tahu kan bank itu? Dia nonton teatermu cuma karena tahu ada Rumi main. Teater di dalam basement ini bukan apa-apa kalau bukan dia pemeran utamanya. Cepat bayar! Dan teatermu akan baik-baik saja," bentak Azzura. "Ada apa ini?" tanya Albert keluar dari pintu ujung ruangan. "Rumi meminta uangnya!" jawab Thomas. Albert tersenyum kecut mendengar ucapan Thomas. "Hei, mana hpmu?" bisik Azzura melihat Albert dan Thomas sedang berdiskusi. "Hp?" "Ia, buka istagram, cepat!" Meskipun tidak mengerti dengan permintaan Azzura, Rumi tetap membuka istagram dan memberikannya pada Azzura. "Hei-hei, kalau kalian enggak mau kasih juga uang dia, coba sini lihat ini," Azzura menunjukan layar gawai. "Ini istagramku dengan 1jt followers. Akan kuviralkan teater ini ke seluruh Indonesia tau kan netizen Indonesia yang kata kalian kecil itu adalah pusat alogaritma dunia. Teater ini bisa dihujat satu dunia. Kalau nggak percaya, baca riset itu." ucap Azzura mengintimidasi. Azzura mulai mengambil video Albert dan Thomas. Albert yang melihat Azzura justru tertarik menjadikan Azzura salah satu talent. "Berikan bayarannya dia," ucap Albert seolah dia bosnya. "Bukan kita udah menentukan tidak akan membayar Rumi?" bantah Thomas bisik-bisik. "Mau gimana lagi itu kan haknya dia," ujar Albert sok bijak. "Hei, pesuruh, dengar ucapan bosmu," pancing Azzura agar mereka berselisih. Wajah Thomas masam mendengar ucapan Azzura, "transfer sendiri uangnya kan ada di rekeningmu." Thomas malah duduk di kursinya. "Akan kutransfer nanti. Pulanglah dulu," ucap Albert m "Kami tunggu di sini sampai kau selesai mengirim uangnya," tolak Azzura. Mau tak mau Albert membuka gawai dan mengirimakan uang pada rekening Rumi. "Sudah ditransfer," jawab Albert sambil menunjukan buktinya. Rumi lalu mengecek mutasi rekeningnya dan melihat ada uang masuk. "Ayo, uangnya sudah masuk," ajak Rumi ke Azzura. Saat mereka berdua hendak pergi, Albert mengehentikan Azzura dengan memberikan kartu nama di depannya. "Jika kamu tertarik bermain teater boleh mendaftar di sini. sebentar lagi akan ada audisi dan kurasa pemeran wanita utamanya sangat cocok denganmu," ucap Albert panjang lebar. Azzura menatap kartu nama yang diberikan Albert dengan rendah. "Kamu pikir aku ini apa? " ucap Azzura lalu pergi menyusul Rumi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD