"Dasar wanita sinting!" ucap Rumi sambil tertawa melihat Azzura yang menggerak-gerakkan tubuhnya di lantai dansa XOYO, salah satu klub malam paling terkenal di Shoreditch. Acara malam ini adalah traktiran karena telah membantu Rumi menagih uang.
Alih-alih sexy, gerakan Azzura di lantai dansa itu malah aneh. Mirip orang yang sedang senam tapi gerakannya lebay.
"Itulah kekurangannya," komentar Rumi.
Gin & tonic yang ia sesap berhasil membuat malam yang dingin menjadi panas. Lampu strobo berwarna biru dan ungu menyala bergantian, menyinari wajahnya yang dipenuhi tawa lepas. Rambutnya yang panjang berayun seirama dengan gerakannya, seolah-olah mengikuti alunan musik elektronik yang menggetarkan ruangan.
Hati Rumi tiba-tiba mencelos, "Azzura, kenapa kamu tiba-tiba muncul?"
Hampir sebelas tahun hilang kabar, wanita ini muncul dengan tragis, di bawah gerimis dengan badan yang mengigil demam, dan seperti biasa merepotkan dirinya.
Tapi, kalau dipikir-pikir pertemuannya dengan Azzura memang selalu tragis. Saat di SMA pun dulu begitu. Anak ini pingsan di tengah porseni, saat jalan santai. Membuat Rumi yang sedang bertugas menjadi palang merah remaja menggendongnya ke tenda PMR yang jaraknya 500 meter dari tempat dia pingsan.
"Apa lagi yang sekarang akan kamu lakukan? Lebih baik kamu segera pergi dari hidupku jika tidak pasti hidupku akan kacau balau lagi seperti dulu," racau Rumi.
Rumi meneguk shirley temple, minuman non alkohol dengan campuran grenadine, ginger ale, dan sentuhan jeruk nipis.
DJ menaikkan tempo, Azzura mengangkat tangannya ke udara, berputar dengan bebas, mengabaikan segalanya. Tawa kecilnya terdengar di antara dentuman musik, sebuah ekspresi kebahagiaan yang murni. Wajahnya bercahaya, bukan hanya oleh kilauan lampu, tetapi oleh semangat hidup yang terpancar dari dalam dirinya.
"Hei, ayo menari," ajak Azzura dengan lambaian tangan.
Rumi melambaikan tangannya, sebuah tanda penolakan. Meskipun dia tinggal di sini, tapi Rumi tidak masuk bar dan minum. Dia hanya sibuk bekerja paruh waktu dan latihan teater.
Azzura merapat ke meja, ia telah kehabisan gin & tonic miliknya dan meminum botol bir yang dia pesan.
Azzura menari lagi. Kali ini hanya di samping meja. Energinya sudah habis setelah satu jam menari.
Tiba-tiba, meja mereka dihampiri oleh dua orang wanita lokal usia tiga puluhan. Mereka meminta bergabung bersamam Rumi.
"Hi, tampan kami boleh di sini?" tanya wanita berambut merah.
Wanita itu begitu agresif, dia langsung bersadar di lengan Rumi yang sedang direbarkan di sandaran sofa.
Wanita berambut pendek tak kalah agresif, dia duduk begitu dekat dengan Rumi.
"Kami siap loh bermain bersama-sama, berempat sama wanita itu. Kami yakin kamu roar!" ucap wanita berambut pendek sambil mengelus wajah Rumi.
Mendapat perlakuan itu, tentu saja Rumi langsung beringsut ditempat.
Azzura yang baru berbalik ke arah meja melihat pemandangan ini dan langsung mendekat ke arah mereka.
"Heh!" ucap Azzura sambil menarik rambut wantia berambut pendek.
"Ngapain gangguin cowok orang?" bentak Azzura garang.
"Hei, lepasin dia!" teriak wanita berambut merah.
"Diam kau jalang!" teriak balik Azzura sambil menyiramkan bir miliknya yang baru diteguk beberapa kali.
Wanita itu menjerit panik
"Ah, sial! Aku menghabiskan birku," ucap Azzura teler.
"Kalian haus kasih sayang?" ucap Azzura pada si rambut pendek.
Tanpa ampun wanita rambut pendek itu dijambak dan disiram sisa minuman Rumi.
Keributan ini mulai menarik perhatian pengunjung lain, termasuk teman-teman dua wanita ini. Namun, sebelum itu terjadi Rumi langsung bangkit, membawa barang milik mereka bedua dan menyeret Azzura keluar bar.
"Ah, sial. Musik dan birku," ucap Azzura sepanjang trotoar.
Azzura yang masih sangat mabuk melihat sepanjang jalan Shoreditch menjadi lebih menawan.
"Brick Lane," ucap Azzura yang ia maksud adalah jalan yang dipenuhi dengan mural seni jalanan mengagumkan, karya seniman lokal dan internasional.
"Fotokan aku di sini, kapan lagi aku ke London sebebas ini," ucap Azzura sempoyongan.
Rumi memoto Azzura yang sedang berpose.
"Ayo kita pulang," ucap Rumi setelah melihat taksi lewat.
Mereka kemudian kembali ke rumah susun kumuh Rumi.
"Gara-gara sebotol minuman, aku jalan sempoyongan," nyanyi Azzura dengan suara fals.
"Ini sangat berat!" ucap Rumi sambil memapah Azzura ke lantai empat.
Saat pintu dibuka tubuh Azzura dan Rumi ambruk di lantai.
"Ah, emang kamu selalu begini Azzura," ucap Rumi kesal.
Rumi tak memedulikan Azzura, ia lebih memilih membuka sepatu dan mantelnya.
"Aku selalu apa?" tanya Azzura tiba-tiba bangkit.
Azzura kemudian berdiri. Berjalan mendekati Rumi sambil membuka sepatu, mantel dengan gerakan sexy, ia lalu melempar syalnya kasar, menyibakan rambutnya dengan b*******h.
"Kamu! Apa bagimu aku itu lelucon?" tanya Azzura serius.
Rumi perlahan berjalan mundur, mulai was-was dengan kelakuan Azzura.
"Kamu bilang cinta mati, tapi nyatanya selingkuh. Kamu bilang aku paling dinanti, tapi nyatanya kamu cuma ingin menikmati."
"Kamu berpuisi?" tanya Rumi menahan tawa.
"Diam kamu! Ini kan yang kamu mau?" Azzura melepas kaos panjangnyanya.
Rumi kaget dan takut melihat Azzura polos, tapi ternyata dia masih menggunakan sebuah koas pendek.
"Kaos?" Azzura sendiri binging kenapa dia menggunakan dua kaos.
Alasannya karena suhu London semakin dingin dan dia tak kuat dingin.
"Sebentar," ucap Azzura.
Sekali lagi ia berusaha melepas kaosnya. Kali ini agak susah karena kaosnya ketat.
"Jangan, Azzura," ucap Rumi.
Tapi, Azzura tidak peduli dan melepaskan kaos pendek itu.
Rumi hampir memalingkan muka, tapi tak jadi karena masih tersisa tanktop hitam.
"Ah, sial! Bodo amat," ucap Azzura yang tiba-tiba berlari dan melompat ke tubuh Rumi.