Shanna turun dari Helikopter yang membawa nya terbang menuju wilayah yang tidak terjangkau oleh kendaraan roda empat.
Tangannya bergerak membuka mantel cokelat yang di kenakan nya karena cuaca di daerah itu ternyata sedang panas. Dia merapihkan kaos putih polos dengan celana jeans panjang yang di pakainya agar terlihat rapi.
"Jadi ada bandara disini, tapi kendaraan roda empat tidak bisa menjangkau tempat ini. Hm, aneh." komentar Raphael saat dia baru menginjakan kaki nya di lapangan kosong itu
"Ini bandara pribadi, Raphael. Hanya pesawat milik pribadi atau heli seperti ini yang menggunakan tempat ini." sahut Alea
Ucapan nya membuat Shanna menatap adik dari Annie itu dengan tatapan geli.
'Mungkin Alea akan lebih pintar dari Annie.' pikirnya
Raphael mengangguk mengerti. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar nya.
Kegiatan ketiga nya terinterupsi ketika terdengar suara Heli lain yang mendekat. Heli itu berisi Annie, Rico, David dan Dionald.
"Astaga. Jika bisa memilih sepertinya aku akan memilih memakai motor. Aku mabuk udara." keluh Malvin. Dia berkali kali berjongkok menahan mual yang menderita nya.
"Kau harus terbiasa, Malvin. Kakek tidak akan membiarkan keluarga Legiond memakai motor. Kau tidak lupa kan jika dulu Kakek hampir terbunuh karena dijerat oleh rantai saat sedang mengendarai motor?" nasihat Alea
Shanna membawa Raphael, Alea dan Malvin menjauh dari area itu karena Heli kedua akan segera mendarat. Helikopter berkapasitas 10 orang itu hanya diisi setengah nya. Sementara setengah lagi diisi oleh barang barang khusus acara amal.
Pembicaraan terhenti sampai Annie, David dan Dionald keluar dari Heli dan berjalan mendekat pada Shanna.
"Alea benar, Malvin. Kakek melarang kita memakai motor karena berbagai pertimbangan. Bukan tidak mungkin jika ada orang yang akan berusaha menculik atau bahkan membunuh seorang Legiond demi sebuah harta. Kita harus berhati hati setiap saat. Bukan begitu, Annie?" ujar Shanna pada Annie
Annie termanggu sejenak sebelum akhirnya mengangguk membenarkan ucapan Shanna. Dia dan Dion mengerti jika Shanna jelas menyindir nya.
Tanpa diketahui siapapun, Shanna tersenyum miring dan merasa sedikit puas ketika melihat wajah pucat Annie.
"Kak Annie? Kakak juga mabuk udara seperti Malvin?" tanya Alea khawatir
"Tidak mungkin. Aku sering bepergian keluar negeri memakai pesawat atau Heli. Kau mengejek ku?" ketus Annie
Alea menipiskan bibirnya dan beringsut mendekat pada Shanna. Dia tidak dekat dengan Annie yang seorang kakak kandung. Ayah dan Ibu nya lebih memilih menjadikan Annie sebagai anak kesayangan dan mengacuhkan Alea selaku anak kedua.
Sementara Shanna menatap Annie geli. Sejak kemarin jelas sekali Annie berusaha menghindari nya dan bahkan terlihat sangat ketakutan ketika Shanna mengajaknya berbicara.
Padahal Shanna hanya akan sedikit menyindirnya. Tidak akan terang terangan mengatakan pada semua orang jika Annie hendak membunuhnya.
Lihat betapa baiknya seorang Shannaya Audrey Legiond.
Satu cup coffee yang Annie berikan juga masih Shanna simpan di dalam lab lebih tepatnya. Dia mengirimkan nya untuk di tes apa saja yang terkandung dalam sebuah Mocca itu. Rekaman cctv ketika Annie memberikan cup itu pun tersimpan dengan apik di dalam laptop milik Jiro Tanaka, satu satunya orang yang bukan bagian keluarga Legiond, tapi merupakan orang yang di segani oleh semua anggota keluarga Legiond.
Annie atau siapapun itu jelas tidak akan bisa mengusiknya.
Kedua hal itu bisa di pakai jika suatu hari nanti Shanna bosan dan menginginkan sedikit hiburan.
"Selamat siang, para Tuan dan Nona Legiond. Saya Efendy, orang kepercayaan Tuan Alexander Legiond di tempat ini. Mari, saya antar menuju acara amal berlangsung. Anggota keluarga Legiond yang lain sudah menunggu." ujar seorang laki laki berpakaian rapi
Shanna dan yang lainnya berjalan mengikuti pria bernama Efendy itu.
"Maaf karena harus berjalan kaki. Tuan Alexander yang meminta saya untuk membawa kalian berjalan." ujar Efendy ketika mendengar Annie yang berkali kali mengeluh dengan kondisi jalanan yang jauh dari kata mulus
"Aku memakai celana putih dan sepatu putih. Keduanya menjadi kotor karena harus melewati jalanan yang seperti ini." keluh Annie
"Jika tahu apa yang aku lalui adalah jalanan seperti ini, aku tidak akan pergi. Lebih baik aku menikmati waktu luang ku dengan belanja atau merawat diriku sendiri." lanjutnya
"Maaf ya, Nona Annie. Tapi sebagai orang yang lahir di tempat ini sejak dulu, daerah ini terpencil dan memang kurang di perhatikan oleh pemerintah. Karena itu di daerah ini menjadi tujuan pertama acara amal yang di lakukan keluarga Legiond berlangsung." sahut Efendy
"Jika ini daerah yang elite, Kakek tidak akan menargetkan daerah ini untuk acara amal, Annie." ujar David dengan seulas senyuman lembut nya
Raphael dan Malvin tertawa kecil sebelum akhirnya mempercepat langkah mereka mendahului Annie yang kini tertinggal menjadi yang paling belakang bersama dengan Dion.
"Harus jauh jauh. Nanti kita tertular virus kebodohan nya." bisik Raphael pada Malvin yang langsung terkikik geli
Alea yang mendengar bisikan Raphael langsung melayangkan pukulan kecil di dahi Raphael dan Malvin.
♾♾♾♾
"Shannaya!" panggil seseorang
Shanna yang sedang membagikan makanan dan pakaian pada orang orang yang membutuhkan langsung menolehkan kepalanya. Dia menemukan seorang pria muda berjas putih bersih lengkap dengan stetoskop yang masih menggantung di lehernya.
"Kak Jeff? Kakak disini juga?" tanya Shanna
Jeffrey mengangguk dan tersenyum "Aku kan bagian dari tenaga medis yang menjadi tangan kanan The Legiond. Jadi acara amal seperti ini tentu saja tidak bisa aku lewatkan." sahut nya
Shanna mengangguk mengerti. Perhatian nya kembali pada pakaian dan makanan yang sedang di bagikan nya.
Jeffrey menipiskan bibirnya sebelum akhirnya mendekat pada Shanna dan membisikan nya.
"Jika ini sudah selesai, aku harap kita bisa bertemu. Ada yang harus aku bicarakan dan sepertinya ini penting untuk mu." bisik Jeffrey
Shanna mengerutkan dahinya dan mengangguk setuju. Dari nada bicaranya, Shanna tahu jika apa yang akan Jeffrey bicarakan mungkin saja memang penting.
Hingga beberapa jam kemudian, semua orang beristirahat. Acara sudah berlangsung selama 6 jam dan banyak hal yang mereka dapatkan dari orang orang yang hidup dalam keterbatasan.
Tadinya Shanna hendak kembali duduk dan mendengarkan cerita dari seorang wanita paruh baya tentang keadaan daerah yang tidak berubah walaupun seorang pejabat daerah sudah berganti beberapa kali.
Tapi dia ingat jika dia mempunyai jamji dengan Jeffrey.
Karena itu Shanna beranjak dari duduknya setelah sebelumnya meminta izin pada Ayah dan ibu nya yang masih mengobrol.
"Kak Jeff?" panggil Shanna ketika menemukan seorang dokter muda itu sedang meminum air mineral nya
"Masuklah." sahut Jeff sambil membuka jas dokter kebanggaan nya
Shanna menatap tenda yang menjadi basecamp tenaga medis sebelum akhirnya memasuki tempat itu. Dia langsung duduk di kursi tepat di samping Jeff.
"Ada apa?" tanya Shanna
Jeff terlihat memastikan keadaan sekitar sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya pada Shanna.
"Dua hari yang lalu, aku mendengar Dionald sedang marah marah di telfon. Entah apa yang dia bicarakan yang jelas dia terlihat mengumpati seseorang dengan sebutan bodoh, menyebut nama mu dan membicarakan sesuatu tentang seberapa banyak membubuhkan benda itu." jawab Jeff setengah berbisik
"Entah dia sedang berbicara dengan siapa, dan membicarakan apa tapi yang jelas dia terlihat sangat marah. Aku membicarakan ini dengan mu karena seperti nya ini tentang mu." lanjut Jeff
Shanna terdiam dan berfikir "Yakin jika itu dua hari yang lalu?"
Jeffrey menyahutinya dengan anggukan yakin.
"Jika begitu, sepertinya aku tahu apa yang dia bicarakan dan dengan siapa dia berbicara." sahut Shanna
"Berpura pura lah jika kak Jeff tidak mengetahui hal ini. Dionald jauh lebih berbahaya ketika dia sedang emosi seperti itu." lanjut Shanna
Jeff tersenyum tipis "Tapi jika dia bertindak lebih jauh, aku jelas tidak bisa diam, Shanna. Ada yang salah dalam diri Dionald. Entah apa. Yang jelas dia bisa saja mencelakaimu nanti."
"Itu juga berlaku padamu." sahut Shanna
"Tak apa. Dionald tidak akan bisa mengancam ku. Karena keluargaku juga tidak kalah dari keluarga Legiond." canda Jeffrey
Shanna tertawa pelan dan mengangguk.
"Dionald bekerja di rumah sakit milik keluarga mu. Biarpun Legiond menjadi investor, tapi keluarga kak Jeff jelas memiliki kendali penuh disana." balas Shanna
Jeff dan Shanna mengalihkan pandangan mereka ketika mendengar suara tawa yang memekakan telinga.
Annie sedang berfoto dengan anak anak.
"Apa yang dia lakukan?" gumam Jeffrey
"Feeds IG. Dia membutuhkan itu untuk membangun image Ibu Peri dalam karir nya." sahut Shanna datar
"Ah benar. Padahal dari yang aku dengar, Annie terlihat menyesal datang ke tempat ini." ujar Jeffrey
♾♾♾♾
Hari hari berganti minggu.
Dan minggu akan segera berubah menjadi satu bulan dengan cepatnya.
Shanna dan acara amalnya berlangsung dengan baik di setiap tempat yang di kunjungi nya.
Semua berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan yang tidak pernah orang orang pelosok itu dapatkan.
Selama itu juga Shanna dan Jeffrey memperhatikan gerak gerik Annie dan Dionald.
"Tidak ada yang aneh." ujar Jeff pada Shanna. Keduanya baru saja selesai menghabiskan hari dengan acara amal.
"Entahlah. Mungkin memang hanya kita yang berlebihan." sahut Shanna sekenanya
Jeff menghembuskan nafasnya dan mengangguk dengan berat hati.
"Sudah hampir 10 hari aku meninggalkan perusahaan. Paman Tanaka tidak mengontak ku, berarti tidak ada masalah yang terjadi." gumam Shanna
"Baguslah." komentar Jeff
"Itu tanda nya kau meninggalkan perusahaan di tangan yang tepat." lanjut Jeff
"Paman Tanaka sudah bekerja disana sejak umurnya baru 20 tahun. Seingatku, jika tidak salah sebelumnya ayah dari Paman Tanaka bekerja untuk kakek ku." gumam Shanna
"Ahh, dia dan ayahnya sudah bekerja lebih dari 30 tahun di perusahaan mu. Pantas saja tidak ada seorang pun anggota Legiond yang berani mengusiknya. Bahkan tante Jemma yang menyebalkan sekalipun." sahut Jeffrey
Shanna tersenyum tipis dan mengangguk.
"Beberapa hari yang lalu, sepertinya Paman Tanaka sedang mempertimbangkan untuk keluar dari The Legiond. Tapi karena keadaan yang diluar kendali membuatnya memilih untuk tinggal." ujar Shanna
Jeffrey hendak membuka mulutnya ketika terdengar suara panggilan nyaring yang memanggil nama nya.
"JEFFREY, KEADAAN DARURAT! SEORANG WARGA TIBA TIBA KEJANG DAN DETAK JANTUNG NYA BERDETAK TERLALU CEPAT!"
Jeffrey langsung berdiri dan mengenakan jas dokternya. Tangannya mengambil stetoskop dengan cepat dan meninggalkan Shanna seorang diri di dalam tenda.
Tanpa dia tahu jika rencana seseorang berjalan dengan lancar karena kepergian Jeffrey.
Karena nyata nya, beberapa menit setelah kepergian Jeffrey, seorang pria berpakaian serba hitam datang ke dalam tenda dan bergerak mengunci leher Shanna dengan erat.
Shanna tersentak kecil. Tangannya bergerak mencengkram tangan yang mengunci pergerakan leher nya dan mencakar nya saat merasa jika tangan itu mulai mencekik nya.
"Diamlah. Jadilah anak baik seperti biasa dan tidurlah dengan tenang." bisik seseorang serba hitam itu sebelum akhirnya menyuntikkan sebuah jarum berisi cairan bius
Yang langsung membuat tubuh Shanna lemas tidak bertenaga.
Sebelum mata nya tertutup rapat, Shanna melihat jika orang itu membuka masker dan topi hitam yang di gunakan nya.
'Dionald.'
Ya. Orang itu adalah Dionald.
Pengetahuan nya sebagai seorang Dokter membuatnya bisa melumpuhkan Shanna dengan mudah.
Setelah memastikan jika Shanna sudah kehilangan kesadaran, Dionald langsung menggendongnya dan berjalan menerobos ilalang dan pepohonan di belakang tenda basecamp.
Tubuh Shanna yang ramping dan ringan semakin memudahkan tugasnya untuk membawa Shanna menjauh dari tempat itu.
Hutan, ilalang dan keadaan sekitar yang gelap karena hari sudah menjelang malam membuat Dionald merasa jika Dewi Fortuna telah benar benar berada di pihaknya.
"Sudah?" bisik Annie ketika melihat Dionald membawa tubuh Shanna memasuki wilayah Helipad
Ya, dia membawa Shanna menuju tempat mendarat Helikopter.
"Sudah. Kau lihat? Inilah pentingnya menjadi pintar. Aku bisa dengan mudah menyingkirkan Jeffrey hanya dengan mencelakai satu orang." sahut Dionald
Annie mencebikkan bibirnya dan menatap Dionald tajam.
"Sekarang dimana para bawahan mu itu?" tanya Annie
Tepat setelah Annie bertanya seperti itu, sebuah Helikopter terbang mendekat dan benda itu semakin lama terbang semakin rendah.
Dionald tersenyum miring. Netra nya mengikuti Heli berukuran sedang itu hingga berhasil mendarat sempurna.
Sementara Annie menatap Heli itu dengan kening berkerut "Hei, kau tidak memakai Heli milik Legiond kan? Jangan sampai nantinya rencana ini malah membuat kita dalam bahaya."
Dionald tertawa meremehkan sambil menatap Annie dengan sorot merendahkan "Aku tidak seboros dirimu, Annie. Uang yang di berikan Shanna setiap bulan nya bisa untuk membeli satu Heli. Dan itu milik ku!"
Annie mendengus kesal dan menendang tulang kering Dionald.
"Jika bukan karena ambisi ku, aku tidak ingin terus menerus dipanggil bodoh olehmu!" desis Annie
Dionald mengangkat kedua bahu nya tidak peduli. Dia berjalan cepat menuju Heli dan langsung menyerahkan tubuh Shanna pada bawahan nya.
"Bawa dia. Aku sudah memberi titik koordinat rumah yang kalian tuju pada pilot. Tunggu aku disana. Aku akan segera menyusul setelah ini selesai." perintah Dionald yang diangguki oleh ketiga bawahan nya
Dionald kembali memundurkan tubuhnya. Menjauh dari Heli yang akan kembali terbang menjauh menuju sebuah rumah kosong yang terasingkan.
"Kita tidak ikut pergi bersama mereka? Sekedar untuk memastikan jika mereka melakukan tugas mereka dengan baik." tanya Annie
"Tidak perlu. Mereka pelayan yang setia. Lagipula jika kita pergi, orang akan mencurigai hilang nya Shanna dan berujung menyangkut paut kan kejadian ini dengan kita." jawab Dionald
"Ayo kembali. Kita harus memastikan rencana kita berjalan dengan sempurna." lanjut Dionald sambil berjalan kembali menuju base camp amal The Legiond
Annie menatap Heli yang sudah terbang menjauh, sebelum akhirnya berbalik dan ikut berjalan di belakang Dionald.