Suara mesin helikopter terdengar nyaring. Wajar saja, mengingat jika ini keadaan darurat dan bertujuan untuk mencari seseorang yang penting bagi kelangsungan The Legiond, pencarian itu melibatkan 5 Helikopter dengan masing masing berisi 8 orang dalam setiap heli nya.
Mereka mendekati sebuah pulau kosong tak berpenghuni milik pribadi.
Tak lama kemudian, semua heli itu turun bergantian di sebuah lapang luas.
Ryan yang pertama turun dari Heli nya menatap sekitar dengan harap harap cemas.
"Semuanya! Telusuri tempat ini! Sebagian tim menyelam ke dalam air! Temukan atau tidak kembali sebelum menghasilkan titik terang!" seru Greyson, orang kepercayaan Mr. Christ
Para tim khusus itu berseru semangat. Mereka langsung berpencar ke seluruh sisi dari pulau itu.
Sementara Ryan, Mr. Christ dan Jiro Tanaka mencari ke tempat lain.
Mereka menyusuri jembatan panjang yang menjadi akses diatas sungai besar itu.
Ryan menatap sungai itu dari atas.
Perasaan nya semakin buruk ketik mengetahui jika jarak antara jembatan dengan sungai itu ternyata sekitar 30 meter.
Tidak terbayang di kepalanya jika Shanna melompat dari sana.
"Kemana sebenarnya Shannaya..." gumam Ryan
Dia menatap satu tim yang sedang memakai perlengkapan renang. Mereka akan menyelam ke dasar sungai besar itu untuk mencari sesuatu.
Tentu saja Ryan berharap agar Shanna tidak berada di dasar sungai.
"Tenanglah, Tuan. Nona Shanna pasti akan baik baik saja." ujar Jiro menenangkan
Sementara Mr. Christ sibuk pada earphone yang di pakai nya untuk menerima laporan dari anak buahnya.
"Aku bermimpi... Shanna kita berada di tempat yang gelap dan dingin. Dia kesakitan dan kelelahan."
"Apa Shanna ada di bawah sana?" gumam Ryan sambil menatap aliran air di bawahnya
Jiro Tanaka menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin, Tuan. Nona Shanna tidak mungkin ada di bawah sana. Terlalu berbahaya."
Hening sejenak.
Mereka hanya mendengar seruan perintah dari Greyson yang memberi instruksi pada pasukannya. Mereka akan menyelam ke sungai besar itu.
"Ada sesuatu! Anggotaku bilang ada sebuah rumah besar disini!" seru Mr. Christ
Seruan nya membuat Ryan dan Jiro bertukar tatap. Mereka mengikuti Christ yang berlari menuju rumah yang di maksud oleh anggota tim khusus nya.
Mereka berlari cukup jauh hingga menemukan rumah yang di maksud oleh Christ.
"Tuan, rumah ini terlihat terawat. Hanya saja salah satu anggota kami menemukan sesuatu yang mengejutkan di tempat ini." lapor salah seorang anggota tim
Christ mengerutkan dahinya bingung. Dia melangkah masuk diikuti Ryan dan Jiro.
Mereka berjalan menyusuri tangga menuju ke lantai dua. Antensi Ryan teralih pada sebuah kamar yang berukuran luas yang pintu nya terbuka lebar.
Dia memasuki kamar itu sambil mengamati isi ruangan nya. Tatapan nya berhenti pada sebuah kursi kayu yang hancur dengan tali tambang berukuran sedang berada tak jauh dari kursi itu.
"Penculikan?" tanya Ryan
Dia berjalan keluar kamar ketika mendengar jika Christ dan Jiro mengajaknya kembali turun ke lantai satu.
Dapat Ryan dengar jika salah seorang anggota tim khusus itu berseru kencang. Mengabarkan jika ada satu ruangan yang di penuhi dengan darah.
Jantungnya berdetak kencang. Pikirannya di penuhi dengan hal hal buruk yang menyeramkan tentang Shanna.
"Tenang kan dirimu, Tuan. Tolong tetap percaya jika Nona Shanna akan baik baik saja." ujar Jiro
Ryan tersenyum tipis dan mengangguk.
Mereka berjalan cepat menyusul Christ yang sudah memasuki ruangan itu.
"Bukan. Bukan Nona Shanna, tapi orang lain. Keadaan nya kritis, tapi mungkin masih ada harapan jika ditolong." ujar Christ ketika Ryan dan Jiro memasuki kamar mandi yang beraroma anyir darah
"Dia bukan bagian dari misi. Keputusan nya tergantung padamu, Tuan Ryan." lanjut Christ
Ryan terdiam sejenak. Dia mengamati seorang perempuan yang mungkin usia nya di bawah Shanna terbujur kaku di dalam sebuah bathub. Air nya sudah berubah warna menjadi merah pekat.
Dia tahu jika Christ mengisyaratkan jika keputusan untuk menolong atau membiarkan perempuan ini berada di tangannya.
"Tolong dia. Ada seorang medis kan di setiap heli? Bawa dia pergi ke rumah sakit." ujar Ryan pada akhirnya
"Kalian dengar? Tolong dia. Pergilah kembali ke kota dan bawa dia ke rumah sakit." perintah Christ
7 orang tim khusus itu mengangguk mengerti. Mereka langsung mengangkat tubuh gadis itu. Mereka terkesiap ketika melihat jika ada bekas sayatan di bagian tubuh dan tangan perempuan itu yang tidak tertutup tank top.
"Monster. Yang melakukan ini pasti seorang monster." gumam salah satu dari mereka
Mereka langsung menidurkan perempuan itu di tandu dan membawa nya ke dalam helikopter untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Sementara Ryan kembali didera panik yang hebat.
"Bagaimana dengan anak ku?!" seru nya panik
"Dugaan jika Nona Shanna di culik semakin kuat. Tapi mengapa tidak ada telfon dari si penculik untuk meminta tebusan?" tanya Christ
"Itu berarti si penculik bukan mengincar uang atau tebusan. Dia menginginkan hal yang lain." sahut Jiro
Ryan menggeram kesal. Tangannya mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Tuan? Tuan Christ? Alpha disini! Kami menemukan Nona Shanna, ganti!"
"Saya ulangi, Tim Alpha berhasil menemukan Nona Shanna, ganti."
Ryan mengangkat kepalanya yang tertunduk ketika mendengar suara dari walkie talkie yang di pegang Christ.
"Baik, kami segera kesana! Jika Nona Shanna dalam keadaan darurat dan membutuhkan tim medis, segera berikan pelayanan terbaik!" sahut Christ
Dia menatap Ryan dengan seulas senyuman, "Saya tahu jika Nona Shanna pasti akan segera di temukan."
♾♾♾♾
"Keadaan nya kritis. Sudah dua hari sejak tubuhnya ditemukan. Tapi tidak ada perkembangan. Peluangnya untuk sadar sangat kecil. Keadaan nya bahkan semakin hari, semakin menurun." jelas Dokter Jeffrey pada Rachell dan Ryan selaku orang tua dari Shanna
Rachell menggelengkan kepalanya kuat.
"Tidak mungkin. Anak ku harus sadar dan kembali sehat!" tegasnya. Air mata nya turun melihat Shanna yang terbaring tidak berdaya dengan alat alat rumah sakit yang menompang kehidupannya.
Seakan akan, jika alat itu dilepas, maka kehidupan yang ada dalam diri Shanna juga terlepas.
Namun sayang nya, hal tersebut adalah sebuah fakta.
Sore harinya, keluarga besar Legiond berbondong bondong memasuki ruang rawat VVIP milik Shanna. Mereka bergantian membisikan kata kata yang dianggap akan menjadi yang terakhir.
"Shanna, maaf jika selama kamu hidup Mama dan Papa bukanlah orang tua yang baik. Sesungguhnya kami berat melepaskan semua alat itu. Tapi kami juga tidak ingin kamu tertahan lebih lama dengan rasa sakit. Kami memutuskan melepasmu, Shanna. Terimakasih karena selama hidupmu, kau selalu membuat Mama dan Papa bangga memiliki anak sepertimu."
Rachell menangis setelah mengucapkan nya. Dia berlari keluar dari ruangan dan disusul oleh Ryan yang sama sama tidak bisa melihat kepergian Shanna.
Sementara di dalam ruangan, semua anggota keluarga Legiond bergantian membisikan kata kata pada Shanna.
Hingga tiba saat nya giliran Annie dan Dionald.
Keduanya memasang wajah sedih dan menangis terisak dengan berlebihan. Seakan akan sangat berat melihat kepergian Shanna untuk selama nya. Padahal hubungan mereka sangat renggang.
Bahkan mereka berdua sangat mengharapkan kematian Shanna.
Ketika semua anggota keluarga Legiond pergi keluar, Annie menghentikan tangisan palsu nya. Dia tersenyum sinis sambil mendekat pada Shanna yang terbaring.
"Kenapa lama sekali hanya menunggu mu untuk mati?" bisik nya
Dionald tertawa pelan. Tidak ingin tawa bahagia nya terdengar keluar ruangan ketika melihat wajah pucat Shanna.
"Matilah, Shanna. The Legiond akan berada dalam genggaman ku. Akan aku buat Ayah, Ibu dan adik adik mu menderita setelah kepergian mu." bisik Dionald
Setelah mengucap kan itu, keduanya kembali berpura pura menangis dan keluar ruangan.
Di luar, seorang Dokter sudah siap untuk memasuki ruangan Shanna. Dia hendak melepas alat penompang kehidupan Shanna.
Begitu melihat Dionald dan Annie sudah selesai berbicara dengan Shanna, sang Dokter memasuki ruangan.
Dia menatap wajah pucat Shanna dan menghela nafas berat.
Yang hendak dia lepas alat penompang hidup nya adalah Shannaya. Adik kelas nya yang sangat akrab dengan nya.
Dengan perlahan, Jeffrey melepas beberapa alat yang menjadi alasan Shanna bisa tetap hidup.
Dan terakhir, dia melepas alat bantu pernafasan yang menutup mulut dan hidung Shanna.
Hingga sesaat kemudian, sebuah alat berbunyi nyaring dengan garis lurus yang terdapat di monitornya.
Bersamaan dengan mulut sang Dokter yang mengabarkan waktu kematian seorang Shannaya Audrey Legiond.
Rachell menutup mulutnya. Berusaha untuk tidak menangis histeris menatap tubuh anaknya yang terbaring tanpa nyawa.
Ketika beberapa perawat hendak menutup wajah Shanna dengan selimut, sesuatu terjadi.
Tubuh Shanna kejang dengan detak jantung yang perlahan mulai kembali terasa.
Jeffrey bergerak cepat menempelkan stetoskop pada d**a Shanna. Dia menyesuaikan detak jantung Shanna dengan detik jam tangan yang dia kenakan.
"90, 91, 92." gumam Jeffrey
Dia melepaskan stetoskopnya dan tersenyum.
"Sebuah keajaiban. Shanna kembali." ujarnya dengan senyuman hangat
Membuat sebagian besar keluarga Legiond tersenyum bahagia sambil mengucap syukur.
Sementara Annie dan Dionald menatap tubuh Shanna yang terbaring dengan perasaan marah. Baru saja mereka hendak berpesta diatas pemakaman Shanna.
Tapi kini mereka justru harus menelan bulat bulat rencana itu.
Shannaya Audrey Legiond, kembali bangkit dari kematian.