"Shannaya, kau baik baik saja? Bagaimana perasaan mu? Bisa beritahu kami semua, siapa yang menculikmu? Kau tahu siapa yang memiliki pulau itu?" tanya Ryan
Rachell dengan cepat membungkam mulut suami nya, "Dia baru saja tersadar. Bisa tanyakan hal itu nanti?"
Shanna tertawa pelan melihat interaksi orang tua nya. Tangannya yang diinfus menggenggam tangan kedua orang tua nya dengan erat.
"Aku tak apa. Hanya perlu sedikit waktu untuk pulih. Dan tentang pulau itu... Aku tidak tahu siapa pemilik nya. Aku juga tidak tahu siapa yang menculik ku." sahut Shanna
Dia tersenyum tipis setelah mengatakan nya. Matanya mengerjap penuh arti pada Dionald dan Annie yang berada di ruang rawatnya.
"Benar? Kau tidak tahu siapa pemilik pulau ataupun penculik mu?" tanya Ryan
Shanna tersenyum dan menggeleng.
Bagi semua orang, Shanna yang kembali hidup dari kematian nya adalah sebuah keajaiban. Tapi bagi Shanna... Hal ini menandakan jika Shanna harus memenuhi tekad nya.
Dia harus membalas semua perlakuan Annie dan Dionald yang sudah membuatnya menderita.
Belum lagi sang Iblis yang belum menampilkan kembali wajahnya pada Shanna.
'Sulit aku percaya jika itu terjadi dalam kurun waktu 5 hari sejak tubuhku ditemukan. Rasanya aku hanya pergi sebentar. Berbincang dengan Iblis itu pun tidak lebih dari 5 menit rasanya.' pikir Shanna
"Permisi?" suara serak dan dalam seorang pria membuat semua orang menoleh
Pria itu memasuki ruang VVIP milik Shanna dengan seulas senyuman dan sebuah bucket bunga besar di genggaman nya.
"Aku dengar Shannaya sedang sakit. Jadi aku kemari." ujar pria itu
Hening sejenak.
"Ah, sepertinya aku telat memperkenalkan diri. Aku Damian Harold, teman dekat Shannaya." ucap Damian dengan senyuman penuh arti ketika tatapan nya bertemu dengan netra Shanna
"Masuklah. Shanna memang sedang sakit." sahut Rachell sambil tersenyum
"HAROLD?! JANGAN BILANG KAU ADALAH PEMILIK SEKALIGUS CEO HAROLD GROUP YANG TIDAK SUKA TEREKSPOS MEDIA?!" pekik Annie heboh
Dia bergerak cepat mendekati Damian dan langsung menjabat tangan nya dengan penuh semangat.
"Aku Annie. Anastasya Legiond, model yang berada di naungan perusahaan mu!"
Damian menaikan satu alisnya dan mengangguk, "Ah, aku tidak tahu jika ada talent di agensi ku yang seorang Legiond." sahutnya singkat
Damian segera beranjak menjauh dari Annie dan mendekati Shanna. Dia tersenyum penuh arti ketika melihat Shanna yang menatapnya dengan raut terkejut.
"Sudah ku bilang jika aku pasti datang, kan?" ujar Damian dengan nada rendah
Sementara Shanna terdiam. Dia jelas mengenal wajah itu walaupun tanpa sepasang tanduk dan sayap yang menjadi pelengkap nya ketika pertama kali bertemu.
"Mama, Papa dan yang lainnya. Bisa tinggalkan aku berdua dengan Damian? Ada sesuatu yang ingin kami bahas secara privasi." pinta Shanna
Semuanya mengangguk mengerti. Sebagian langsung keluar dari ruangan dan sebagian lainnya berpamitan pada Shanna karena harus kembali pada kesibukan masing masing.
"Kakak, jangan terlalu memaksakan diri. Kakak tidak tahu betapa khawatirnya aku saat melihat kakak terbaring dengan alat alat itu, kan? Jadi tolong jangan berada dalam keadaan itu lagi walau hanya sekali." ujar Raphael sambil memegang tangan kakak nya dengan erat
"Aku mengerti. Pergilah, Alea dan Malvin sudah menunggu mu. Kalian harus kembali sekolah." sahut Shanna
Raphael mendengus pelan sebelum akhirnya menatap Damian dengan tatapan menilai, "Tolong jaga kakak ku ya!" ujarnya pada Damian
Damian tertawa kecil dan mengangguk, "Tentu. Shanna akan aman bersama ku. Tidak akan ada yang bisa menyakiti nya selama aku ada disisinya."
Raphael tersentak kecil sebelum akhirnya tertawa.
"Dari perkataan mu sepertinya hubungan kalian sangat serius. Baiklah, aku tidak mau dewasa terlalu awal, jadi aku harus pergi. Sampai jumpa!" seru Raphael sebelum akhirnya keluar dari kamar rawat Shanna
Shanna menatap kepergian Raphael hingga tubuh adiknya itu terhalang oleh pintu. Dia tersenyum tipis sebelum akhirnya menatap Damian yang duduk di sisi kanan nya dengan wajah bertanya.
"Aku yakin jika aku adalah sebuah gambaran asli dari apa yang ada di pikiranmu." ujar Damian ketika Shanna menatapnya seakan memastikan sesuatu
"Kau tahu isi pikiranku?" tanya Shanna
"Tentu. Kau lupa jika aku Iblis? Tapi sebenarnya pertanyaan itu tergambar di wajahmu, Shannaya." jawab Damian
Shanna tersenyum tipis dan menghela nafasnya, "Sulit ku percaya jika aku benar benar kembali hidup."
"Seorang tenaga medis memberitahu ku jika suatu kemustahilan karena aku dapat kembali hidup setelah sekian lama nya berada di bawah air." lanjut Shanna
Damian tersenyum, "Itu karena aku melindungimu, Shannaya. Aku juga yang menuntun tim khusus mu untuk menemukanmu di dalam air."
Shanna mengangguk pelan. Dia jelas mengetahui jika dapat bertahan di bawah air dengan rentan waktu 6 jam tanpa bantuan tabung oksigen sangatlah mustahil.
"Jadi ada campur tangan mu, ya?" gumam Shanna
"Ya. Beruntunglah sungai itu bersih dan jernih, Shannaya. Karena itu memudahkan mereka untuk menemukanmu." sahut Damian
Hening sejenak. Shanna terlihat sibuk dengan pikirannya sementara Damian justru terang terangan melihat Shanna dengan penuh ketertarikan.
"Kenapa kau tidak jujur? Kau jelas tahu siapa pemilik pulau dan orang menculik mu, kan? Kedua nya jelas adalah orang yang sama." ujar Damian
Shanna tersenyum tipis, "Dengan begitu permainan akan berakhir bahkan sebelum aku memulainya, Damian. Tunggu aku pulih seutuhnya dan aku akan memulai permainan nya."
♾♾♾♾
"Kau yakin akan menjaga Shanna?" tanya Ryan sambil menatap Damian tidak percaya
"Tentu, Tuan. Aku menawarkan diri untuk menjaga Shannaya. Dengan keadaan Shanna yang lemah, bukan nya itu berarti peluang si penculik untuk menculiknya semakin besar?" sahut Damian
"Lagipula, seseorang yang menculiknya pastilah sangat pandai dan hati hati. Dia bahkan bisa menculik Shannaya di tempat yang ramai." lanjut Damian
Ryan menghela nafasnya dan mengangguk dengan berat hati, "Maaf jika aku merepotkan. Tapi aku harus mengurus dua perusahaan sekaligus. The Legiond dan Legiond Tech tidak bisa bekerja sendiri tanpa seorang pemimpin."
Damian tersenyum dan mengangguk. Dia melambaikan tangannya pada Ryan yang sudah berjalan menjauh dari ruangan VVIP milik Shannaya.
Hari sudah malam.
Hal itu yang memutuskan Damian untuk menjaga Shanna.
Lagipula kontrak nya dengan Shanna membuat nya harus menjadikan Shanna sebagai prioritas.
Nyawa Shannaya adalah nyawa nya juga.
Damian kembali masuk ke dalam ruangan. Dia menutup gorden dan duduk di samping Shannaya.
Hingga tak lama kemudian, terdengar suara pintu di buka. Jeffrey berdiri disana dengan wajah terkejut ketika melihat Damian dengan pakaian serba hitam nya.
"Astaga. Sekilas aku kira, aku melihat sosok Malaikat kematian." gumamnya pelan
Dia masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan pelan.
"Kau yang menunggu Shanna? Aku kira Shanna akan ditinggalkan sendiri." ujar Jeffrey
Damian mengangguk, "Tadinya iya. Tapi aku menawarkan diri pada Tuan Ryan untuk menjaga nya."
Jeffrey mengangguk kecil dan menghampiri Shanna. Dia memakai stetoskop nya untuk mendengar detak jantung Shanna dan mencatatnya disebuah kertas. Begitupun dengan cairan infus yang dia periksa.
"Kau pasti dipercayai oleh Tuan Ryan. Biasanya dia tidak mau menitipkan Shanna pada sembarang orang." sahut Jeff
"Baiklah. Aku titip dia ya! Tadinya aku akan meminta seorang perawat untuk menjaga nya. Tapi karena ada kau, aku tidak perlu meminta seorang perawat tambahan. Jika ada keadaan darurat, tombol darurat ada di samping mu." lanjut Jeff sambil kembali keluar ruangan
Damian menatap tombol emergency itu dengan hampa sebelum akhirnya tertawa pelan, "Sepertinya tombol itu tidak akan di perlukan." gumamnya
Dia sibuk menatapi Shanna yang tertidur, sebelum akhirnya Shanna melenguh pelan dan membuka matanya.
"Sudah malam?" gumam Shanna sambil mengerjapkan matanya
"Hm." sahut Damian
Shanna terbatuk kecil. Dia tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar sahutan itu.
"Aku kira aku sendirian." gumam Shanna
Dia mendudukkan tubuhnya dan meringis pelan ketika luka tembak di bahunya berdenyut nyeri.
"Luka mu masih basah. Obat dari rumah sakit mungkin memerlukan banyak waktu untuk menyembuhkannya." ujar Damian sambil membantu Shanna untuk duduk sempurna
Damian menatap Shanna yang masih meringis sambil memegang bahunya sendiri.
Dia menipiskan bibirnya dan tersenyum, "Ingin aku sembuhkan? Aku mungkin bisa membuatnya menghilang tanpa berbekas."
"Kau yakin? Rasanya luka tembak ini akan meninggalkan bekas cacat di bahu ku. Aku ingat Greyson memiliki luka bekas tembakan ketika bertugas di bagian lengan. Dia bilang luka nya tidak hilang dengan sempurna." elak Shanna
Damian berdiri dari duduknya. Dia mendekatkan wajahnya pada Shanna yang terduduk diatas kasurnya.
Dia tersenyum ketika melihat Shanna sedikit memundurkan tubuhnya saat merasakan jika jarak antara wajahnya dengan Damian terlalu dekat.
"Tenanglah, aku akan menyembuhkan mu." gumam Damian dengan suara serak
"Kau yakin kau tidak bermaksud m***m?" sarkas Shanna
"Apa wajahku terlihat begitu?" balas Damian
"Sedikit."
"Diamlah dan jangan bergerak." ujar Damian
Shanna menatap Damian yang semakin mendekatkan wajah padanya. Netra tajam nya dengan jelas dapat melihat jika kedua mata Damian terlihat terpaku pada bibirnya.
Shanna langsung menutup kedua matanya ketika Damian mencium bibirnya.
Tangannya tanpa sadar terangkat mencengkram bahu Damian. Dapat dia rasakan jika kedua tangan Damian merengkuh pinggang nya. Menarik tubuhnya agar semakin mendekat tanpa menyisakan jarak diantara keduanya.
Tanpa Shanna sadari, Damian menggigit sudut bibirnya sendiri sebelum menempelkan bibirnya dan bibir Shanna, membiarkan darah keluar dari sana. Darah itu nanti nya yang akan menyembuhkan Shanna.
'Darah ini bisa menyembuhkan dan membunuh. Tapi kali ini aku membutuhkan nya untuk menyembuhkan Shannaya.' pikir Damian
'A-apa ini?'
'Tubuhku... Berada di luar kendali. Seharusnya aku menghindar bahkan mendorongnya keluar jendela jika perlu! Tapi ada apa dengan ku?!' batin Shanna
Dia kembali membuka kedua matanya ketika merasa jika Damian menghentikan panggutannya.
"Tolong, jangan memberontak. Aku akan menyembuhkan mu." bisik Damian dengan suara seraknya. Dia bahkan berbisik tanpa memberi jarak diantara keduanya.
Mendengar itu, Shanna kembali memejamkan kedua matanya. Tangannya berpindah memeluk leher Damian.
'ADA APA DENGAN TUBUHKU?!' teriak Shanna dalam hatinya
'Untuk pertama kalinya, tubuhku bergerak tanpa kendaliku...' lanjut Shanna
Perlahan, Shanna dapat merasakan jika rasa linu di bahunya sedikit berkurang.
Samar samar, dia dapat melihat jika Damian memberikan jarak diantara wajahnya sebelum akhirnya tersenyum.
"Tidurlah. Kau akan sembuh esok pagi."
Bisikan itulah yang Shanna dengar, sebelum akhirnya... Kedua matanya terpejam erat seiringan dengan pelukan pada leher Damian yang terlepas.
Menyisakan Damian yang terdiam memandang mata terpejam itu dengan Shanna berada dalam dekapannya.
"Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Damian
:: Author Note::
Aaaaaaaaaaaaa /screaming inside
Diantara semua author note punya ku, kayaknya author note yang ini yang paling gak penting T^T
UDAH KLIK LOVE KAN?! Hehe, ngegas :(
Klik love nya, juseyo~