8. Biaya Rumah Sakit.

1076 Words
"Permisi, Mas atau Mbak silahkan selesai kan administrasi rumah sakit barulah pasien boleh di bawa pulang." Salah satu perawat muncul di pintu mengalihkan fokus pembicaraan kami. "Baik Sus, terimakasih!" Setelah mendapatkan jawaban, suster itu langsung meninggalkan kami. "Sya, Mas mau administrasi dulu ya." Aku meminta izin pada Syala. "Baik Mas, oh ya, Kasih punya asuransi kesehatan? Kalau gak pakai ansuransi biaya rumah sakit mahal sekali? Apalagi melahirkan secar, iyakan Mas?" ucap Syala lembut dan mesra sekali, tapi berhasil menciptakan gemuruh di dalam d**a, gemuruh di sertai dengan rasa cemas. Karena buru-buru aku sampai tidak memikirkan masalah biaya rumah sakit, tentu saja Kasih tidak memiliki asuransi, dia wanita dari kampung, orang pelosok, mana peduli dengan asuransi kesehatan. Aku menelan Saliva beberapa kali, tabungan tentu aku tidak miliki, semua uang habis buat cicilan dan belanja dapur serta untuk berobat bapak, di tambah pula biaya kuliah Firli, belum lagi ibu yang selalu minta uang untuk keperluannya yang kadang nominalnya di luar nalar. Bagaimana ini. "Kenapa Mas? Ayo, biar aku temani ke administrasi." Syala menarik ku. "Firli, jaga kasih, aku dan mas kamu mau ke administrasi dulu, mau nanya biaya rumah sakit." ucap Syala kepada Firli, tanpa menunggu jawaban Syala langsung menarik tanganku menuju ke administrasi rumah sakit ini. "Total semuanya ada di kwitansi Pak, Bapak bisa lihat total amount di sudut kanan Bapak paling bawah." ucap petugas administrasi setelah memberikan kwitansi kepadaku. Tanganku agak bergetar karena nominal yang ada di kwitansi itu cukup besar, delapan belas juta rupiah, dari mana aku mendapatkan uang segitu besarnya, selama ini gaji ku habis untuk menghidupi keluarga, sedikitpun tidak bisa menyisihkan uang untuk menabung, yang ada setiap bulan kurang dan Syala yang selalu menutupi uang belanja kami. "Kenapa Mas?" Syala melemparkan pertanyaan di situasi genting seperti ini membuat otakku semakin kerja berat, tapi aku tidak bisa menyalahkan Syala, dia tidak tau apa-apa soal ini. "Biaya rumah sakitnya besar juga Sya, Mas tidak punya uang sebanyak itu." Ucapku pelan sambil menyodorkan kwitansi kepada Syala. "Kamu gak punya simpanan Mas?" tanya Syala. Aku menggeleng lemah, "Uang sudah ku berikan pada kamu semua." "Tapi Mas uang itu juga gak cukup, malahan kekurangannya harus aku yang menutupi sana sini, sebaiknya kamu tanya ibu, ku lihat ibu menggunakan gelang emas." Syala memberikan saran. Tapi aku menggeleng, mana mungkin ibu mau menjual gelang emasnya untuk menutupi biaya rumah sakit Kasih. "Ibu gak akan mau Sya, gimana kalau uang kamu saja yang aku pinjam, nanti kalau sudah ada uang pasti aku ganti." Urusan uang Syala lebih gampang di banding ibuku, aku yakin dia punya tabungan, meskipun aku belum tau darimana penghasilan Syala, yang jelas saat aku tidak sengaja mengintip m-banking di ponselnya uangnya mencapai sepuluh juta. "Uangku? Yang benar saja kamu Mas? Yang suruh kamu kawin itu bukan aku Mas, tapi ibu kamu, pinta saja sama dia, pasti dia kasih, secara kan Kasih menantu idamannya, menantu kesayangannya." ucap Syala panjang lebar membuat aku tidak bisa membantah. Ah! Aku terlihat seperti laki-laki yang tak tau malu di skak mat oleh istriku sendiri. "Ayo Mas telpon ibu." Sekali lagi Syala memintaku menelpon ibu. Di depan Syala aku seperti di hipnotis, mengikuti saja apa yang di ucapkan olehnya, tanganku segera merogoh ponsel yang ada di saku lalu menekan nomor ibu. "Halo Gun." Terdengar suara ibu menyambut panggilan suaraku di seberang sana. "Bu, kami sedang di rumah sakit." "Iya ibu tau, cepat pulang, ibu tadi lupa minta uang belanja dapur." Aku jadi bingung mau bicara apa dengan ibu, mau mulai dari mana aku juga bingung, tidak terbiasa minta bantuan ibu, biasanya apa-apa Syala, angsuran mobil telat ngadunya sama Syala, kurang apapun minta tambahkan sama dia, tidak pernah sama ibu. "Bu, anu." "Anu apa Gun?" "Sini Mas, biar aku yang bicara." Syala merebut ponsel di tanganku. "Bu, Mas Guntur tidak punya uang untuk membayar rumah sakit Kasih, menantu kesayangan ibu, Ibu kan punya tabungan gelang emas, ibu bisa jual untuk membantu biaya rumah sakit Kasih, kalau gak bisa ya terpaksa Kasih tidak bisa pulang." Syala yang menggantikan ku berbicara, sudah terbayang bagaimana ekspresi ibu di seberang sana, dia pasti syok kalau aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit, atau paling tidak dia akan menyalahkan aku dan Syala karena tidak punya tabungan. "Lho kok ibu jadi sasarannya, kamu yang pegang uang Guntur, toh tiap bulan uang gaji kamu yang pegang." Suara ibu samar-samar dapat kudengar. "Sekarang gak lagi Bu, uang mas Guntur sudah habis, lagipula kedepannya bukan aku yang pegang, terserah ibu sih, kalau ibu tidak mau mau bayar uang rumah sakit ini menantu kesayangan ibu tidak bisa pulang, keputusan ada di tanganku ibu." "Kamu ini sukanya mengancam ya, ya sudah berapa total biayanya." "Delapan belas juta Bu, sepertinya gelang ibu tidak cukup, harus di tambah anting dan kalung juga." ucap Syala lagi sudah pasti membuat ibu kepanasan di sana, berapa tahun ibu mengumpulkan emas-emasnya, namun harus berakhir di jual untuk membiayai rumah sakit menantu kesayangannya. "Kamu meras ibu Syala?" "Bukan aku Bu, tapi itu dari rumah sakit, kalau ibu tidak percaya nanti aku kirim foto kwitansinya, sekarang ya Bu kirim uangnya, biar prosesnya cepat di sini." Syala melemparkan senyum padaku, tidak ada beban lagi dia bicara pada ibu. Aku bernafas sesak setiap kali Syala berbicara pada ibu, habislah aku setelah ini, selain dari Kasih yang tantrum, ibu juga pasti akan memarahiku habis-habisan. Aku tidak pernah membayangkan jika akan seperti ini akhirnya, andaikan aku tidak neko-neko, tidak mengikuti saran ibu pasti aku tidak mengalami situasi rumit seperti ini, ah! Semua ini berawal dari ibu. "Mas, kita masuk aja dulu yuk kedalam, ibu pasti butuh proses mengumpulkan uang sebanyak delapan belas juta, dari pada di sini bengong mending kita hibur Kasih, dia pasti sedang sedih karena anaknya tidak selamat." Kasih mengembalikan ponsel ku kembali ke tanganku, aku masih terheran-heran dengan sikap Kasih, kok bisa dia setegar itu menghadapi situasi seperti ini, aku jadi takut, takut di balik sikap tenangnya dia menyimpan dendam yang membara untuk keluarga ini. Apa sebaiknya ku ceraikan saja Dia? Tapi cintaku pada Syala begitu besar, dia wanita yang cantik yang belum pernah aku temui tandingannya di dunia ini, Selain dari cantik dia juga penurut dan baik sehingga sangat mudah di kendalikan, sifat nya yang manja membuat aku mencintainya berkali-kali lipat, selain dari itu dia sangat pandai melayani aku di ranjang, entah darimana asal fantasinya, usianya yang muda bisa membuat aku tergila-gila jika tidak berjumpa dengannya sehari saja. Tidak! Aku tidak bisa melepaskan Syala, kelemahannya hanya satu yaitu tidak bisa melahirkan anak, sedangkan kelebihannya banyak sekali, aku tidak akan melepaskannya sampai kapanpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD