9. Dasar Orang Kampung!

1126 Words
POV Ibu Galuh. "Sial!" Aku melempar botol kecap ke dinding. "Awa Awa Ouu." Oceh Ayah Firli tidak jelas di kursi rodanya membuat amarahku semakin membumbung tinggi. Kenapa laki-laki ini tidak mati saja, menyusahkan! Emosiku kian tidak stabil mendapati telpon dari Guntur, dan yang lebih menambah emosi lagi saat Syala yang berbicara, menantu sialan itu benar-benar berani sekarang. Bisa-bisanya dia meminta biaya rumah sakit kepadaku, di sarankan nya pula menjual gelang emas ku, menantu biadab! Dia tidak tau betapa sulitnya aku mengumpulkan emas-emas ini, inipun aku dapatkan sebelum dia menjadi istri Guntur, setelah dia menjadi istri Guntur susah sekali minta uang sama si Guntur, uangnya di serahkan pada istrinya semua, apa tidak g****k anakku itu. Percuma saja punya anak yang jadi PNS tapi hidupku melarat juga, katanya kalau sudah PNS sudah jadi orang sugih, orang tua tidak melarat, ini apanya, mau makan enak aja harus minta dulu, mau makan daging harus bicara dulu pada menantu, kalau gak minta ya paling kencang di kasih makan tempe tahu dan sayur bayam. "Cepetan makannya Pak, di kunyah jangan di lepeh!" Aku menjejalkan bubur yang keluar dari mulut Ayah Guntur, kembali memasukan kedalam mulutnya. "In-no-nom nom." Ayah Guntur tidak mau menelan makanan yang aku suap kan, dia malah ngoceh tidak jelas sambil menyemburkan sisa makanan yang ada di dalam mulutnya. Pusing membereskan dapur yang kotor akibat daging yang membusuk dan sayur yang berserakan masih terasa berdenyut, di tambah di lagi telpon dari Guntur yang minta bayarkan biaya rumah sakit Kasih, belum lagi mengurus ayah Guntur yang stroke, ah! Rasanya semua bercampur aduk. Entah yang mana dulu yang ingin ku selesaikan. Ting! Sebuah pesan masuk kedalam ponselku, aku segera mengambilnya dan memeriksanya. Pesan dari Guntur, sebuah gambar kwitansi, ini pasti kerjaan Syala, dia yang berjanji mengirimkan pesan itu melalui w******p, setelah ku buka ku zoom bagian yang ada nominal duitnya. "Astaghfirullah." Aku mengurut d**a saat melihat angka yang ada dalam kwitansi tersebut, yang benar saja, delapan belas juta. Itu bukan uang yang kecil, darimana aku bisa mendapatkan uang itu. Tidak! Aku tidak ingin menjual emasku ini, niatnya mendapat menantu yang menurut dan bisa di kendalikan seperti Kasih, nyatanya uangku harus habis membayar biaya bersalinnya, Ah! Sial sial sial! "Owok wok." Oceh ayah Guntur berulang kali, entah apa yang ingin di ucapkannya aku tidak mengerti, selama ini Syala yang mengurusnya, jadi aku tidak terlalu paham apa yang di katakan oleh suamiku ini. "Sudahlah Pak, jangan bicara, Ibu tidak ngerti dengan ucapan Bapak, sebaiknya Bapak diam, tambah pusing." Aku segera mengelap mulut ayah Guntur dengan serbet, lalu mendorongnya masuk kedalam kamar. Aku menimbang-nimbang ponsel untuk menghubungi keluarga Kasih di kampung, setelah Kasih sampai kerumah ini hingga melahirkan aku belum mengabari kedua orang tuanya yang ada di kampung. Apa sebaiknya aku minta tolong sama orang tua kasih saja biaya rumah sakit anaknya, toh orang tua kasih banyak sawahnya otomatis banyak duitnya, ya dari pada gelang emasku ini yang di jual, aku tidak mau rugi. "Assalamu'alaikum besan, apa kabar." Sapaku melalui panggilan suara kepada besanku. "Wa'alaikum salam, kabar baik, bagaimana kabar Kasih, sejak kemarin kami menunggu dia nelpon tapi tidak kunjung di telpon juga, nomornya juga gak aktif, kami disini sangat khawatir." Oceh besanku di dalam panggilan suara. "Saya harap kabar ini tidak membuat besan terkejut, Kasih sudah melahirkan, anaknya kembar." "Alhamdulillah Masya Allah, aku senang banget mendengarnya, ternyata Kasih dan cucuku emang mau lahiran di kota, hebat mereka." Ibu Kasih terdengar bahagia sekali, dasar orang kampung, dia tidak tau kalau cucunya tidak selamat, dan dia tidak akan pernah tau itu, aku akan memanipulasi keadaan Kasih, membuat cerita kalau dia benar-benar bahagia di sini. "Kasih sudah melahirkan yo Bu? Bapak senang mendengarnya, Bapak ingin pergi menjenguk anak kita Bu." Terdengar Bapak Kasih ikut berbicara dengan istrinya di seberang sana. "Gimana to Pak, padi kita mau panen, kalau kita tinggal ke kota sawah terbengkalai, sapi kita siapa yang mau urus." Ibu Kasih menolak ajakan suaminya, syukurlah kalau mereka tidak pergi kesini untuk melihat Kasih, bisa gagal rencanaku. "Ibu Bapak Kasih, percayakan saja Kasih pada kami di sini, insyaallah Kasih akan baik-baik saja dan akan bahagia di sini, jangan khawatir." Aku segera mengambil alih pembicaraan mereka, tidak ingin di antara mereka mempunyai niat dan tekad yang kuat untuk datang kesini, bisa berabe urusannya. Orang tua Kasih adalah keluarga jauh dari suamiku, mereka tinggal di kampung satu tempat tinggal dengan suamiku, aku mengenal mereka sejak lama, saat aku sedang mengandung Firli, kami pulang kampung untuk melihat ibu mertuaku yang meninggal dunia, di sana perkenalan kami, dan saat itu Kasih masih kecil sekali. Sejak lama aku menjodohkan Kasih dengan Guntur, tapi Guntur tidak pernah mau mendengarkan ku, dia memilih wanita pujaan hatinya yaitu Syala, wanita yang sangat sulit di kendalikan, aku sama sekali tidak menyukai itu, tapi aku tidak punya alasan yang kuat untuk memisahkan mereka, akhirnya empat tahun mereka menikah aku menemukan titik kelemahan Syala, yaitu tidak kunjung hamil, dari situ aku bisa menghasut Guntur bahwa Syala mandul. Guntur seperti mata pisau, tumpul. Namun berkat kegigihan ku mengasahnya akhirnya dia tipis juga, Guntur akhirnya setuju menikah dengan Kasih dengan alasan ingin membuktikan bahwa siapa yang mandul diantara dirinya dan Syala. "Kami titip anak dan cucu kami ya Bu Galuh, cukuplah kami yang jadi orang kampung, jangan sampai anak cucu kami juga jadi orang kampung." Guyonan polos dari ibu Kasih membuat aku nyengir kuda. "Iya, tapi saya bisa minta bantu gak?" Aku mulai berbicara menjurus pada tujuanku. "Minta bantuan apa Bu Galuh, bicara saja." "Hem, begini Bu, karena bayinya kembar Kasih terpaksa melahirkan secara secar, biayanya mahal Bu sampai kami harus menguras tabungan untuk menyelamatkan Kasih dan anaknya, dan masih ada kekurangan yang harus di tutupi, jika tidak di lunasi Kasih tidak boleh di bawa pulang." Mudah dengan bahasa sederhana ini kedua orang tua Kasih mengerti dengan maksudku. "Duh, kasian nya, memangnya uang suami kasih tidak cukup, katanya PNS, masa biaya melahirkan istri gak ada, gaji PNS besar lho." Kritis juga mulut orang kampung ini ya, terpaksa aku harus mencari alasan lain biar dia percaya. "Sampai sekarang juga kami belum bisa melihat bayi Kasih Bu, mereka berdua harus masuk dalam inkubator karena terminum air ketuban, biaya inkubator itu mahal Bu, kalau kami tidak membayar bisa-bisa anak kasih akan di berikan pada orang kaya, orang yang sanggup membayar biaya inkubator itu Bu." Berdusta demi gelang emas, dari pada gelangku yang melayang demi membayar rumah sakit anak orang mendingan orangnya ku dustai, tapi ini demi kebaikan, demi anaknya, jadi menurutku tidak masalah dan tidak dosa. "Biayanya delapan belas juta Bu, tolonglah Bu, uang tabungan saya sudah terkuras untuk menyelamatkan Kasih, kini giliran Ibu yang berkorban demi cucu kita Bu, dari pada mereka di ambil orang, mereka lucu-lucu Bu." suaraku ku buat se-serak mungkin seolah-olah aku baru saja habis menangis. "Yo wes, nanti tak telpon lagi ya, soalnya mau rembuk dulu dengan Bapak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD