Akhirnya uang delapan belas juta masuk ke rekeningku, di tambah lagi dua juta untuk keperluan bayi kasih, ah! rupanya orang kampung enak sekali di bohongi, kalau sejak awal Guntur menikah dengan Kasih bukan saja gaji Guntur yang aku kuasai, tapi harta kedua orang tua kasih pun bisa ku kuasai.
'Jangan lupa bude kirimkan foto anak Mbak Kasih Yo, Bibi dan paman menunggu.'
Pesan w******p dari keponakan orangtua Kasih mengiringi notifikasi m-banking ku.
Foto anak kasih? Aku mana punya, tapi gampang lah, bisa ku comot dari gambar google, toh Mbah google banyak foto bayi kembar.
Untuk sementara amanlah, yang penting orangtua nya Kasih jangan sampai datang ke kota.
Aku segera ke ATM untuk menarik sejumlah uangku, maksudku uang yang dikirim oleh orangtua kasih padaku, rencananya ku tarik delapan juta aja, bilang aja sama Guntur dan Syala kalau emasku laku hanya segitu, masa bodoh ah! Mustahil mereka tidak punya simpanan, toh selama ini makan hanya lauk tempe, tahu, toge, bayam kangkung.
Pasti Syala sedang berbohong, dia itu wanita licik, sok polos aja di depan Guntur, padahal aslinya hatinya buruk, aku sudah tidak sabar membuat skenario untuk mengusir si Syala dari rumah ini.
"Ibu hanya ada segini." Aku menyodorkan uang sebesar delapan juta pada Guntur.
"Terimakasih Bu, tapi ini berapa?" Guntur menerima uang yang ada di dalam kantong asoy, saat ini kami sedang di dalam ruangan tempat dimana kasih di rawat.
"Delapan juta." ucapku singkat, aku berusaha berakting senatural mungkin.
"Lho, Ibu gimana sih? Saya sudah bilang kalau totalnya delapan belas juta Bu." Syala berbicara setengah membentakku, berani sekali dia kepadaku, benar-benar si Syala ini.
"Gak ada uang segitu, masa delapan belas juta duit ibu semua Gun, ini istri kamu lho? lagipula mustahil kamu tidak punya tabungan, kamu PNS lho." Aku tidak mau kalah.
"Gimana caranya nabung Bu, kalau harus membayar itu ini setiap bulannya, Mas Guntur emang PNS Bu, tapi tidak punya jabatan, lagipula wajarlah kalau Ibu yang membiayai rumah sakit Kasih, diakan menantu Ibu, Ibu kan yang meminta Mas Guntur menikahi Kasih? Bukan meminta, lebih tepatnya memaksa." Syala terus menjawab, tidak ada hormat-hormatnya wanita ini padaku, ah! sejak kapan Syala seperti ini, harusnya dia jadi wanita cengeng, meratap karena suami menikah lagi, kok Syala jadi di luar ekspektasi.
Aku jadi bingung menghadapi menantu yang satu ini, di kerasi dia melawan, di lembutkan dia melunjak, menantu sialan!
Sedangkan Kasih, kulihat dia menangis sambil Firli terus menenangkan, kepalaku pun pusing mendengarnya.
"Diam lah Syala! Ibu bicara sama Guntur, bukan sama kamu, kok kamu yang heboh dengan biaya rumah sakit Kasih? Bikin tambah pusing." Ku tatap tajam Syala yang duduk di sebelah Guntur, dia diam tapi tidak ada raut ketakutan di wajahnya seperti dulu, Syala benar-benar sudah berubah.
"Bu, jangan bicara kasar pada Syala, di sini aku yang salah kok, sudah jangan ribut lagi, nanti aku cari pinjaman." Guntur meraih lengan Syala lalu mengelusnya, seperti menenangkan orang yang sedang bersedih.
Entah pelet apa yang di pakai oleh Syala sampai anakku jadi bucin begitu, heran.
"Baiknya kamu tenangkan si Kasih, dia lebih butuh kamu peluk dari wanita ini." Ucapku sinis sambil meninggalkan mereka yang duduk di sudut ruangan lalu berjalan menuju tempat tidur Kasih, jaraknya cuma lima langkah saja, Kasih pun pasti mendengar apa yang kami bicarakan.
"Ibu darimana dapat uang delapan juta itu? Jangan bilang kalau Ibu minjam dengan rentenir Budi lalu aku sebagai jaminannya." Firli nampak ketakutan, ternyata tadi dia bukan menenangkan Kasih, rupanya menguping pembicaraan kami.
"Jangan banyak tanya kamu, Ibu tidak sebodoh itu." Aku menggeser Firli agar menjauh, karena aku ingin duduk di dekat Kasih, menantu tersayang ku yang berasal dari kampung, dia adalah mesin pencetak uang ku yang baru, yang bisa ku andalkan, aku harus baik-baik dengannya.
"Kenapa masih menangis Kasih? Kamu masih sedih kehilangan bayi kamu?" Aku bicara lembut pada Kasih, mengusap kepalanya dan menghapus air matanya.
"Iya Bu, aku takut Mas Guntur akan menceraikan aku, aku sayang banget dengan Mas Guntur Bu, aku tidak mau kehilangannya." Kasih bicara pelan sekali, bahkan setengah berbisik.
Firli memutar bola matanya keatas, menandakan dia muak mendengar ucapan Kasih.
"Bu, aku sudah bilang berkali-kali pada Mbak Kasih kalau Mas Guntur gak mungkin menceraikan dia, tapi dia terus saja menangis seolah tidak percaya denganku." Firli bicara pelan juga, takut terdengar Syala dan Guntur yang masih ada di dalam ruangan ini.
"Aku pusing Bu, mending aku pulang, ada jadwal masuk kelas hari ini." Firli ingin beranjak dari hadapan aku dan Kasih. "Minta ongkos Bu, buat beli bensin dan jajan." Tangan Firli menadah padaku.
Ya aku terpaksa membuka dompet dan mengeluarkan uang berwarna merah selembar "Cepat cari suami kaya, biar Ibu gak pusing mikirin kamu." Aku melambaikan tangan mengiringi putri semata wayang ku, saat melewati Syala dan Guntur dia melengos menampakan wajah tidak sukanya.
"Bu, pujuk Mas Guntur ya jangan ceraikan aku, aku tidak mau pisah sama dia Bu, pasti Mas Guntur kecewa sama aku karena anakku tidak selamat." Kasih gadis kampung yang benar-benar polos, dia sepertinya begitu mencintai Guntur sampai sanggup menjadi istri kedua, sepertinya kesedihannya lebih dominan pada takut kehilangan Guntur dari pada kehilangan kedua putri kembarnya.
"Iya, kamu pasti gak bakal di ceraikan, asalkan kamu nurut sama ibu, gak bangkang, udah jangan sedih lagi, kamu terlihat jelek kalau nangis terus." Aku mencoba menghibur Kasih, membuat dirinya yakin bahwa Guntur tidak akan pernah menceraikannya.
"Bu, kalau orang tuaku di kampung tau kalau aku menjadi istri kedua mas Guntur pasti mereka akan marah, aku harus bagaimana Bu?" Rengeknya lagi.
Emang orangtua Kasih tidak tau kalau Guntur sudah punya istri, aku membohongi mereka kalau Guntur masih lajang, kalau aku jujur jelas orangtua Kasih akan menolak anaknya menikah dengan suami orang, namanya orang kampung sensitif terhadap hal demikian, aku beruntung mempunyai Guntur yang berwajah di atas rata-rata, membuat Kasih lupa daratan saat melihat Guntur, dia langsung terpesona dengan ketampanan Guntur.
"Kamu gak usah ngomong apa-apa sama mereka, kalau mereka nelpon biar ibu yang bicara, kamu tenang saja, gak usah takut, semua aman, saat ini yang perlu kamu lakukan adalah kamu harus nurut sama ibu, kita kerja sama untuk menyingkirkan wanita itu, kamu gak suka melihatnya kan?" Aku berusaha berbicara pelan pada Kasih, mendoktrin otak polosnya bahwa Syala adalah wanita yang harus di singkirkan.
Kasih mengangguk "Baik Bu."
Aku tersenyum simpul, kalau punya menantu yang dapat di kendalikan seperti ini pasti dunia aman.